
Sudah barang tentu Mantingan menyadari Dara yang semakin mendekat padanya. Mantingan juga tahu alasan apa yang membuat Dara berperilaku seperti itu. Di tempat ia berjalan saat ini adalah daerah terdalam hutan. Bisa dibilang, inilah jantung hutan. Pohon-pohon terlihat mengerikan, bagaikan hantu besar yang bisa meniban makhluk di bawahnya hingga gepeng setipis daun. Suara-suara di jantung hutan ini cukup mengerikan juga, terlebih pada suara teriakan monyet yang membuat Dara was-was jika terdapat monyet di sekitarnya.
Jika saja Mantingan tidak pernah berhasil menundukkan ketakutannya dan membangkitkan keberaniannya, maka Mantingan akan berpikir seribu kali untuk berada di tempat sedalam ini. Tetapi Mantingan tidaklah seperti dulu lagi, bukan lagi Mantingan pengecut yang selalu cari aman saja. Bagi Mantingan, tempat mengerikan ini adalah sumber pencaharian Kembangmas. Semakin mengerikan hutannya, semakin bertambah kemungkinan Kembangmas berada.
“Mantingan ....” Dara memanggil dengan suara hampir tidak terdengar.
“Ya, ada apa?”
“Antarkan daku sampai kota, ya? Nanti akan daku balas kebaikanmu. Aku janji!”
Mantingan mengangguk pelan. Jika memang itu yang terbaik, maka ia tidak keberatan melakukannya. Tetapi Mantingan lupa membawa peta, atau sekadar melihat peta. Kota di manakah yang paling dekat setelah bertemu jalan di luar hutan ini?
Karena itu Mantingan bertanya, “Apakah Nyai tahu kota paling terdekat dari sini?”
Dara berpikir sebentar lalu mengangguk. “Ada, Mantingan. Bukan kota besar, tapi tidak mengapalah. Dan berhenti memanggil aku dengan sebutan itu, panggil daku sesuai namanya.”
Mantingan tersenyum, kembali ia berkata, “Bagaimanakah kau bisa berlari sampai sejauh ini tadi malam?”
“Aku sendiri tidak tahu.” Dara menghela napas, kembali mendekat pada Mantingan saat mendengar suara kera. “Tetapi saat itu aku berada dalam kondisi hidup-mati, sehingga tidak sadar bisa berjalan sampai sejauh ini, bahkan tidak sadar menemukan tempat dirimu. Apakah kau tahu bagaimana perasaanku saat aku menemukan setitik cahaya api? Aku seakan menemukan seorang manusia terakhir yang bisa membantuku. Dan saat aku mengendap-endap, untuk memastikan tenda-tendamu itu bukan tempat pemburu, aku malah menemukan dirimu tepat di bawahku. Saking terkejutnya, aku terjatuh dan lupa memasang ilmu meringankan tubuh. Syukurlah kau ternyata sudah sakti, dapat melindungi diriku dari kematian.”
“Aku hanya balas kebaikanmu saja.” Mantingan tersenyum hangat, yang bagi Dara senyuman itu lebih menghangatkan ketimbang mentari pagi.
Terpana Dara melihat Mantingan yang seperti itu. Walau Mantingan tidak berkulit putih bersinar, akan tetapi kulitnya yang sawo matang itu lebih menarik baginya. Dipadukan dengan senyuman hangat, hampir sempurna. Sayang sekali keterpanaan itu harus terhenti akibat kaki Dara tersandung batang pohon.
__ADS_1
Mantingan yang sudah menjadi pendekar itu dapat melihat gerakan jatuh Dara dengan tayangan lambat. Sangat bisa jika ia mau menolongnya, sayang sekali Mantingan tidak mau. Tak mau menyinggung Dara, atau dianggap melecehkan.
Jatuhlah Dara tanpa ada yang menahannya. Mantingan menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat Dara menolak bantuannya.
“Mengapa kau tidak menolongku?” Dara berkata dengan raut wajah heran, sedikit kesal ia berkata itu.
“Aku khawatir kau tersinggung nantinya ....”
“Mantingan! Apakah orang akan tersinggung jika dia senang mendapat bantuan?”
“Seharusnya tidak, Dara.” Mantingan tersenyum canggung. “Tetapi bagiku, wanita sulit dimengerti.”
Dara menatap Mantingan tercengang.
Setengah hari berlalu sudah semenjak keberangkatan Mantingan dan Dara dari kawasan perkemahan. Kini mereka telah dapat melihat jalan di depannya. Dara menatap Mantingan agak tidak enak, karena merasa merepotkan Mantingan selama berada di dalam hutan tadi, ia sendiri sebenarnya tidak mau merepotkan Mantingan lebih jauh lagi.
“Mantingan, mungkin cukup sampai di tepi jalan itu saja kau mengantarku.”
Mantingan tidak menjawab, tetapi tatapan matanya terlihat sangat tajam. Dahinya mengerut. Sudah sedari tadi Mantingan merasa terdapat hal aneh di pinggiran hutan ini. Ia memasang mata dan telinganya, berharap mendengar sesuatu yang dapat memberinya suatu kejelasan.
Persangkaan Dara terhadap sikap Mantingan sangat berbeda. Ia justru menganggap Mantingan sudah sangat tidak suka kepadanya, hingga menjawab pun enggan. Dara merasa bersalah, setengah hari telah sangat merepotkan Mantingan. Padahal tidak biasanya ia merasa bersalah telah merepotkan seseorang. Malah, sepanjang harinya, ia selalu merepotkan pelayannya untuk menyiapkan segala keperluannya. Entah mengapa kini, ia merasa sangat bersalah telah merepotkan seorang Mantingan, walau hanya setengah dari sehari.
“Baiklah, Mantingan, sampai jumpa!”
__ADS_1
Tergesa-gesa Dara ingin berlari jauh-jauh dari Mantingan, tetapi tangannya telah lebih dulu ditangkap dan dipegang kuat-kuat oleh Mantingan. Dara menoleh kepada Mantingan dengan tatapan penuh tanda tanya. Berprasangka nyatanya tidaklah terlalu baik.
“Tunggu dulu.” Mantingan mendekatkan jari telunjuk pada bibirnya. “Bersiaga.”
Meskipun terlihat sebagai perempuan yang lemah dan membutuhkan bantuan, Dara tetaplah seorang pendekar. Sebagaimana seorang pendekar, ia mengerti bagaimana bersikap, karena bahaya bisa datang kapan saja tanpa bisa ditebak. Dara meneliti pohon-pohon di sekitarnya, memastikan tidak ada yang bersembunyi di sana. Tidak beruntungnya, Dara tak membawa senjata apa pun. Karena pengejarannya pada malam itu pun tidak diduga-duga, tidak sempat ia membawa senjata.
Dara tetap pasang kuda-kuda dan sikap silat, bersiap-siap untuk bertarung tangan kosong. Setiap pendekar biasanya dibekali oleh ilmu tangan kosong.
Mantingan memunggungi Dara. Jika pertarungan terjadi dengan pengeroyokan, maka posisi saling memunggungi seperti inilah yang terbaik menghadapi penyerang. Mantingan telah mendengar beberapa kelebatan-kelebatan angin, orang yang datang tidak hanya satu.
Mantingan meraba hulu pedangnya, bersiap menarik dalam menghadapi serangan kecepatan tinggi. Tapi tidak akan ia tarik sebelum musuh cukup berbahaya kala menyerang.
“Apakah yang akan kita hadapi, Mantingan?” bisik Dara.
“Banyak orang. Tahan diri. Upayakan kedamaian.” Mantingan berkata singkat, tetap mengawasi sekitarnya.
Mantingan masih terus meneliti setiap pepohonan dari yang terdekat hingga terjauh darinya. Pernah sekali ia melihat kelebatan bayangan hitam, tetapi bayangan itu kembali menghilang di salah satu pohon besar.
“Ada satu di depanku,” sahut Dara.
Mantingan melihat kelebatan bayangan lagi, yang juga bersembunyi di balik pohon besar. Lalu satu lagi, lagi, dan lagi. Hingga terhitung lebih dari lima pendekar yang mengepung mereka.
Hingga satu bayangan melesat cepat langsung ke arah Mantingan. Tak kalah cepatnya, Mantingan menarik keluar bilah pedangnya. Pendekar yang menyerang Mantingan itu pula mengeluarkan pedang. Disabetkan dua pedang itu kuat-kuat, yang hasil membentur satu sama lain, menciptakan percikan api dan suara denting yang memekakkan telinga.
__ADS_1
Tetapi kekuatan Mantingan lebih besar dari penyerangnya itu, hingga pedang lawannya itu patah dan tubuhnya terjatuh ke samping Mantingan akibat gertakan kuat terhadap seluruh badannya. Mantingan dengan tak kasat mata menjulurkan lengan, menotok jalan darah pendekar penyerangnya.