Sang Musafir

Sang Musafir
Bayaran Bukan untuk Pengobatan Saja


__ADS_3

“Tanyakan saja, Kana.”


Kana memgalihkan pandang pada Sasmita. “Mengapakah Kakak harus mengobati Kakak Jaya? Penyakit apakah yang diderita Kakak Jaya?”


SEBELUM BISA menjawab pertanyaan Kana, Bidadari Sungai Utara telah melirik Mantingan terlebih dahulu. Mantingan menggeleng pelan, secara tidak langsung mengisyaratkan untuk tidak memberitahukan penyakit yang dideritanya. Bidadari Sungai Utara mengangguk pelan, tanda setuju.


“Dia tidak menderita penyakit berat. Hanya saja keletihan, karena terlalu banyak bekerja.” Menjawab Bidadari Sungai Utara. “Tidak akan berakibat buruk, hanya butuh sedikit istirahat saja.”


“Aku akan merawat Kakak Jaya sampai sembuh!” sahut Kina, yang beruntungnya tidak menyebut panggilan khasnya saat menyebut Mantingan.


“Kakak ini memang bekerja terlalu banyak, Kakak Tabib Sasmita. Saat aku ingin membantunya, dia menolak dengan menyuruhku tidur.”


Mantingan tersedak ludahnya sendiri, namun seakan tidak ada yang peduli.


“Apakah dia bekerja di malam hari?”


“Benar.”


Bidadari Sungai Utara menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak kesal. “Kana, Kina, dengar ini. Di malam hari, keadaan tubuh manusia akan melemah setelah dipakai bekerja seharian penuh. Jika dipaksakan, maka akan berakibat buruk bagi tubuh. Orang-orang yang seperti ini biasanya tidak menyayangi diri sendiri.”


“Aku masih di sini dan mendengar kalian.” Mantingan memasang wajah masam.


“Kalau dikau mendengar, maka jangan ulangi lagi di lain waktu,” imbuh Bidadari Sungai Utara. “Sekalipun tubuhmu kuat, bekerja di larut malam tetaplah tidak baik.”


“Dengarkan itu, Kakak!” Kina menggerutu. “Jika Kakak sakit, siapa yang akan menjaga kami?”


“Tentu saja aku.” Bidadari Sungai Utara tersenyum lebar. “Aku dan Kakak Jaya telah mengadakan perjanjian. Perjanjian itu membuatku harus menjaga Kakak Jaya, dan menjaga kalian sama saja menjaga Kakak Jaya.”


“Apakah dikau menerimanya?” Kini Mantingan yang bertanya heran.


Bidadari Sungai Utara mengangguk pelan sebagai jawaban. Tiba-tiba saja Kana menyahuti, “Kapankah kita akan makan kudapannya? Perutku sudah lapar.”


***

__ADS_1


“Terima kasih sudah menyempatkan diri datang dan bermain dengan anak-anak, walau engkau terlalu berharga untuk dapat dilihat tanpa cadar. Ini bayaranmu."


MANTINGAN MENYERAHKAN menunjukkan tiga keping emas yang ada di tangannya. Di teras rumah itu. Saat bintang-bintang tidak menunjukkan dirinya, bersembunyi di balik awan. Suasana sepi dan sunyi, desa telah terlelap menjelang tengah malam.


“Saudara, ini terlalu banyak. Biaya untuk pengobatan pagi tadi hanya sebesar sepuluh perak.”


“Kalau begitu, ambillah sekeping emas untuk hari ini.”


“Baiklah, tetapi sekeping uang emas ini juga untuk membayar pengobatan di hari esok.”


“Besok daku akan tetap membayar. Apa pun katamu.” Mantingan meraih tangan kanan Bidadari Sungai Utara, lalu meletakkan sekeping emas itu di telapaknya. “Ini bukan hanya untuk pengobatan saja. Saudari telah membantuku dengan membahagiakan Kana dan Kina. Sampai-sampai, sekarang mereka terlelap puas saking lelahnya."


“Saudara Jaya, soal itu aku justru merasa bersalah.” Bidadari Sungai Utara hendak mengembalikan uang di tangannya itu.


“Tidak. Saudari tidak perlu merasa bersalah. Justru sebaliknya, Saudari harus merasa senang. Karena mereka juga senang.” Mantingan menggeleng pelan. “Mereka berdua memiliki nasib yang malang, Saudari. Kedua orangtua mereka merupakan korban perang, tewas. Hanya mereka yang selamat. Sampai aku menemukan mereka dalam keadaan yang menyedihkan. Mereka tinggal di kamar yang lembab dan kotor, dengan sedikit makanan dan ketakutan akan kematian yang datang menjemput. Tidur pulas setelah keceriaan adalah anugerah bagi mereka. Percayalah, apa yang telah diperbuat Saudari jauh lebih berharga ketimbang sekeping emas.”


Bidadari Sungai Utara mengernyitkan dahi. “Jadi, mereka bukan adik-adikmu, Saudara?”


Bidadari Sungai Utara mengambil pertimbangan. Setelah lama berpikir, pada akhirnya ia menerima uang yang diberikan Mantingan. Dan kemudian berkata, “Jika tidak keberatan, aku akan sering main ke sini.”


“Daku malah berterimakasih.” Mantingan menunduk dan menjura, salam khas seorang pendekar. Bidadari Sungai Utara balas menjura.


“Tapi saat itu terjadi,” kata Bidadari Sungai Utara. “Daku tidak mau menerima bayaran.”


Setelah berbasa-basi beberapa saat, Bidadari Sungai Utara berpamitan padanya. Mantingan berkata akan mengantar Bidadari Sungai Utara sampai pintu gerbang, maka berjalanlah mereka melewati halaman, hingga sampai di depan pintu gerbang.


“Esok hari, mohonlah Saudara kembali datang ke Toko Obat Wira. Daku akan mencoba ramuan lain untuk Saudara minum, dan semoga saja berhasil menekan Racun Tidak Bernama. Ingatlah untuk tidak menggunakan banyak tenaga dalam.”


“Baiklah, sampai jumpa esok hari.”


***


PADA PAGI itu, Mantingan tidak langsung pergi ke Toko Obat Wira seperti yang ia lakukan kemarin. Pagi buta, Mantingan membangunkan Kana lebih dini. Anak lelaki itu tidak menolak, justru senang ketika Mantingan membangunkannya lebih awal.

__ADS_1


Mantingan mengajak Mantingan ke halaman rumah. Saat itu langit masih remang-remang jingga.


“Kita akan berkebun, mulai pagi ini.” Mantingan menunjuk dua pacul di sudut teras rumah. “Kali ini, aku tidak akan lagi menggunakan tenaga dalam. Mungkin pekerjaan hari ini baru akan selesai di malam hari.”


“Itu bukan masalah.” Kana bergerak mengambil dua pacul yang dilihatnya. “Ini seperti kembali ke rumah lama. Di rumahku dulu, halaman belakang dimanfaatkan untuk kebun. Aku yang membajak tanahnya, dari yang keras menjadi sehalus nasi jagung.”


“Jangan mengada-ngada. Buktikan jikalau kamu memang bisa.”


Dengan senyum bangga, Kana memangguli paculnya di pundak. Memberikan satu pacul yang tersisa kepada Mantingan. “Kakak yang seharusnya tidak meremehkanku.”


Mantingan hanya bisa menggeleng pelan saat bocah itu berjalan mendahuluinya dengan dada membusung.


Mereka memulai pekerjaannya. Dimulai dari yang terujung hingga yang menengah. Mereka bekerja sedemikian keras tanpa satupun dari keduanya yang menggunakan tenaga dalam. Tanah yang awalnya rata itu menjelma menjadi gundukan-gundukan menjajar. Mereka terus memacul dan memacul.


Begitulah terus sampai tengah hari tiba. Mantingan memberikan waktu istirahat, menunggu matahari sedikit lengser ke barat. Kana tampaknya sudah sangat kelelahan, sehingga dengan senang hati menyambut waktu istirahat dengan merebah di atas dipan.


Sedangkan Mantingan, pemuda itu memilih pergi ke Toko Obat Wira untuk bertemu Bidadari Sungai Utara serta mendapatkan pengobatan. Setelah mandi, bergegaslah ia berangkat.


***


MANTINGAN MENDAPAT kesan yang buruk saat mencicipi obat pemberian Bidadari Sungai Utara. Rasanya sangat pahit dan masam. Berbeda dengan obat yang kemarin ia minum, rasanya tidak terlalu pahit. Bidadari Sungai Utara yang melihat itu hanya bisa mengatakan bahwa hal itu adalah wajar.


“Obat ini mengandung apa saja?”


“Dikau akan menyesal jika mengetahuinya.”


Karena Mantingan tidak mau menyesal, maka ia memilih untuk tidak mengetahuinya. Asalkan ramuan itu memberi dampak yang menyehatkan, Mantingan merasa tidak perlu memikirkan rasanya.


“Berapa yang harus kubayar?” katanya kemudian.


“Satu keping emas.”


Mantingan dengan enteng mengeluarkan sekeping emas dari dalam pundi-pundinya, meletakkan di atas meja pengobatan.

__ADS_1


__ADS_2