
Malam ini saya berada di dekat persimpangan. Memanfaatkan hari raya tahun baru, saya memang memutuskan untuk keluar rumah. Ini sesekali saja.
Suasana tergolong ramai. Pedagang-pedagang kacang dan jagung berhenti di pinggir jalan, meskipun tampaknya anak muda tidak lagi berselera pada kudapan lokal seperti itu. Pinggiran jalan dipenuhi muda-mudi berpasangan kendati tidak dalam ikatan sah. Beberapa polisi dan DisHub menjaga agar kerumunan tidak sampai menutupi jalan. Kilatan kembang api terlihat dari kejauhan, yang lambat laun disusul oleh suara letusan.
Saya lihat ponsel saya. Jam masih menunjukkan 23:50.
“Sepuluh menit lagi.” Saya bergumam pada diri sendiri. Ya, memang tiada seorang pun yang dapat saya ajak bicara.
Kerumunan semakin bertambah. Lagi-lagi yang datang adalah muda-mudi berpasangan kendati tidak dalam hubungan yang sah. Aparat mulai bekerja ekstra.
Saya dengar suara terompet dan letusan kembang api. Entah itu dari kejauhan, atau dari dekat. Saya kembali melihat ponsel saya. Jam menunjukkan 23:57.
“Tiga menit lagi.”
Jalanan mulai sepi oleh lalu-lintas kendaraan bermotor, sebab hampir semuanya telah merapat ke pinggir jalan untuk melihat pertunjukkan kembang api.
Tetiba saya mendengar suara keras. Bukan letusan. Ini jelas suara manusia. Astaga, sebegitunyakah saya terkejut mendengar suara manusia setelah berbulan-bulan hanya diam di rumah menulis Sang Musafir?
“Satu menit menuju 2022!” sahut suara keras yang agaknya berasal dari speaker.
Hitungan mundur dimulai. Arah pandang seluruh orang di sana tertuju pada satu tempat, yaitu langit. Termasuk saya. Saya memandangi langit. Menunggu pertunjukan kembang api yang biasanya amat sangat menakjubkan.
“Sepuluh ... sembilan ... delapan ... tujuh ... enam ... empat ....”
Sungguh saya akui saat itu jantung saya berdetak sedikit lebih kencang dari biasanya. Saya sungguh berharap, malam ini akan ada sedikit hiburan untuk menyenangkan saya.
“... tiga ... dua ... satu!”
__ADS_1
Terompet ditiup keras. Letusan kembang api terdengar dari kejauhan. Musik energik dinyalakan. Tetapi tatapan orang-orang masih berharap, karena bukan itulah yang mereka tunggu.
Pertunjukkan kembang api tidak pula muncul di persimpangan itu. Yang ada justru di kejauhan sana. Mungkin di persimpangan lain.
Orang-orang masih menunggu. Dan saya pun sedikit menunggu. Sampai akhirnya, terdengarlah suara keras yang berasal dari speaker.
“Halo semuanya, maaf! Maaf! Petasan tidak nyala! Sumbu putus di dalam!”
Muda-mudi di sana menyumpah serapah. Menyadari bahwa tidak akan ada kembang api malam ini di persimpangan itu. Dan mereka telah melewati tahun baru tanpa kembang api.
Saya hendak langsung pergi dari tempat itu. Jika ditanya apakah kecewa, maka jelas saya kecewa. Tetapi tidak sampai menyumpah serapah seperti muda-mudi itu.
Namun ketika saya beranjak berdiri, saya menahan langkah. Saya melihat anak-anak yang datang bersama orang
tuanya. Mereka tampak bertanya-tanya pada orangtuanya, kapan dimulai petasannya? Bakal sekeren apa?
Anak-anak itu akan kecewa. Dan kekecewaan itu akan diingat mereka untuk waktu puluhan tahun lamanya. Sebab tahun baru adalah salah satu momen yang paling sulit dilupakan oleh anak-anak.
Maka saya menarik napas panjang. Saya tidak mau mereka kecewa. Mereka tidak menyumpah serapah. Mereka bersama keluarganya, dan bukan bersama dengan pasangan yang tidak sah. Mereka anak-anak baik dan keluarga baik, jangan sampai mereka kecewa.
Maka diam-diam, saya keluarkan beberapa lontar dari balik kantung sweater saya. Lalu masuk ke dalam kerumunan muda-mudi untuk menyamarkan diri.
Setelah merasa telah tersamarkan, saya melemparkan seluruh lontar di tangan saya itu ke atas. Dengan kecepatan yang sangat tinggi tentunya, sehingga akan tampak sebagai kelebatan semata oleh mata orang awam.
Ketika lontar-lontar itu sampai di udara, terciptalah sebuah pemandangan spektakuler. Lontar-lontar tersebut meledak menjadi ribuan butir cahaya putih yang melayang-layang bagai kunang-kunang.
Saya lesatkan lagi beberapa lontar yang tersisa di dalam kantung sweater saya, selagi orang-orang masih terkejut. Seluruh lontar itu meledak, menjadi ratusan cahaya berbentuk bunga yang perlahan melayang turun ke bawah.
__ADS_1
Itu mungkin sudah cukup menakjubkan. Orang-orang terpukau sampai tidak dapat berkata-kata. Tetapi bagi saya, ini masih belum cukup.
Sekuat tenaga, saya lesatkan sebuah lontar ke langit. Saya menunggu lontar itu benar-benar menyentuh awan sebelum nantinya meledak menjadi sebuah pemandangan apik.
Ternyata, tidak dibutuhkan waktu yang lama. Ujung bibir saya tertarik ke atas. Saya tersenyum.
Sebuah bulan terang benderang di atas langit yang berawan. Tampak dengan wujudnya yang sangat besar. Orang-orang terpukau bukan main, sebab mereka tidak melihat bulan itu barusan sebab langit tertutup awan, dan mereka pun tidak pernah melihat bulan sebesar itu sebelumnya!
Saya berjalan menjauh dari kerumunan yang mulai bersorak sorai. Saya masih mempertahankan senyum.
Agaknya, saya memang jarang mendapat hiburan dari orang lain. Tetapi saya senang karena sering memberi hiburan kepada orang lain. Bukankah akan berbahagia pula melihat orang lain berbahagia karena kehadiran kita?
Meskipun pekerjaan saya dipandang setengah mata saja oleh orang awam. Apalah jadi penulis yang hanya bisa bercocot saja? Apalah menjadi penulis yang memiliki masa depan suram?
Kendati demikian, saya tetap senang menjadi penulis. Itu disebabkan oleh kalian semua, yang bahkan tetap membaca tulisan tidak penting seperti ini.
Untuk kalian, saya ingin mengucapkan selamat tahun baru 2022!
Sekiranya telah 8 bulan saya menulis di NovelToon. Ada dari kalian yang telah menemani sejak awal, dan ada pula yang baru bergabung—tapi itu tidak mengapa. Dan jika hingga 2022 kalian masih menemani, itu sangat bagus sekali!
Terima kasih telah selalu memberikan dukungan pada karya ini. Kalian tidak akan mudah saya lupakan ....
Dengan bergantinya 2021 menjadi 2022, bakti saya pada Sang Musafir di tahun ini telah usai.
Di tahun ini, mungkin saya akan mempublikasikan karya baru atau menulis seri selanjutnya dari Sang Musafir.
Namun untuk seri ini, mungkin tidak akan tamat dalam waktu dekat.
__ADS_1
Selamat membaca episode-episode selanjutnya!