Sang Musafir

Sang Musafir
Sampai di Kota


__ADS_3

SETELAH SATU hari lamanya mereka berjalan tanpa banyak berhenti, mereka tiba di kota dekat pelabuhan. Selama satu hari itu, mereka tidak tidur, bahkan istirahat hanya diberi jatah waktu sepeminuman teh saja. Bidadari Sungai Utara terlihat mengantuk berat, maka dari itu Mantingan memutuskan untuk singgah dan menyewa kamar.


Sebelum masuk ke dalam kota, Mantingan memikul bundelan Bidadari Sungai Utara. Sehingga saat ini, ada dua bundelan di punggungnya. Ia melakukan itu bukan tanpa alasan. Pakaian yang saat ini dipakai Bidadari Sungai Utara masih tergolong cukup bersih, sedangkan pakaian yang Mantingan pakai sudah kumal oleh noda tanah. Dengan Bidadari Sungai Utara berjalan tanpa membawa barang bawaan sedikitpun, maka Mantingan yang memikul semua barang bawaan akan terlihat seperti budak.


“Man, kau yakin melakukan ini?” Bidadari Sungai Utara memandanginya khawatir.


Mantingan mengangguk dan tersenyum. “Dengan begini, tidak banyak orang yang cukup berani bersinggungan dengan Saudari. Bukankah itu baik?”


“Tapi tidak baik untukmu ....”


“Sudah, lupakan saja. Tetep berjalan, kali berjalanlah di depanku.” Mantingan memberi perintah yang gelagatnya tidak mau menerima bantahan lagi.


Baginya keselamatan Bidadari Sungai Utara lebih penting dari masalah rasa malu, karena rasa malu tidak seberharga nyawa. Bahkan harga diri pun Mantingan rela korbankan.


Bidadari Sungai Utara hanya bisa menuruti perintah Mantingan. Bagaimanapun juga merasa tidak enak hati karena pengorbanan Mantingan terlalu besar. Andai saja Bidadari Sungai Utara tahu bahwa saat ini Mantingan mengidap racun berbahaya yang bersarang di tubuhnya, entah reaksi seperti apa yang akan ia tunjukkan.


Tembok kota sudah terlihat dari jauh. Dirasa tembok itu sepertinya sudah dekat, namun ternyata masih jauh. Semakin mendekati tembok, maka mereka akan diperlihatkan gardu-gardu penjagaan di pinggiran jalan. Beberapa kali bahkan berpapasan dengan menara tinggi yang digunakan sebagai pemantauan jarak jauh. Itu semua menandakan bahwa kota yang akan Mantingan sambangi kali ini adalah kota penting bagi Taruma.


“Kemungkinan akan ada banyak pendekar di sini.” Mantingan berkata pelan pada Bidadari Sungai Utara. “Mohon untuk tidak berbuat sesuatu yang akan memancing perhatian. Dan tetaplah jaga wajah Saudari dari penglihatan siapa pun.”


“Perintahmu akan kulaksanakan, Mantingan.”


Mantingan mengangguk puas. “Kita akan menyewa kamar di penginapan yang tidak terlalu ramai. Saudari bisa beristirahat dengan tenang dan mendapatkan makanan layak.”


Namun selanjutnya, terdengar helaan napas dari Bidadari Sungai Utara. Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang pahit. “Sampai kapankah kita akan seperti ini, Mantingan?”

__ADS_1


“Secepatnya, Saudari.” Mantingan menatap hamparan luasnya langit biru. “Ini tidak akan lama. Semuanya akan baik-baik saja. Kau akan kembali ke Champa, secepatnya.”


“Apakah itu berarti baik bagiku?”


Mantingan mengernyit bingung, tetapi cepat-cepat ia menjawab, “Itu berarti baik bagimu.”


“Kalau bersamamu aku selalu aman, untuk apakah aku kembali ke Champa?”


“Tanah Javadvipa terlalu berbahaya bagimu. Kau harus ke Champa. Yang akan menjagamu adalah kekasihmu, bukan aku.”


“Aku berencana memutuskan hubungan dengannya.”


Kerutan di dahi Mantingan semakin bertambah. “Apa maksud Saudari?”


“Seperti yang kaubilang, Mantingan ....” Bidadari Sungai Utara tertawa getir. “Pendekar seperti diriku terlalu bermain-main dengan cinta. Aku tidak ingin darah kekasihku tumpah karenaku. Aku juga tidak siap menerima kenyataan itu.”


“Siapa bilang aku tidak ingin pergi dari pulau ini, Mantingan? Dan siapakah pula yang berkata aku tidak mau pergi ke Champa? Meskipun Champa bukanlah tanah kelahiranku, tetapi aku dibesarkan dan dihidupkan di sana. Anggaplah aku hanya ingin pulang ke rumah.”


“Saudari, saat pertama kali bertemu denganku, kau tidak mengatakan hal itu. Kau menyatakan bahwa satu-satunya alasan untuk pulang adalah demi kekasihmu!”


“Lalu apakah kau menyesal sudah mengantarku sampai sini?” Bidadari Sungai Utara mengeraskan suaranya. “Jika kau menyesal, tinggalkan aku sekarang juga!”


Mantingan mengatur api amarah yang masih terus berkobar di dalam kepalanya. Bukan hanya dirinya yang merasa marah, kecewa, dan merasa dibohongi; Bidadari Sungai Utara juga merasakan itu.


Namun, sudah banyak yang Mantingan korbankan untuk Bidadari Sungai Utara. Bukan hanya uang, raganya telah dikorbankan. Mantingan tak tahu, apakah racun di dalam tubuhnya ini akan membuat ajalnya datang lebih cepat atau tidak. Sedangkan, apa yang telah dikorbankan Bidadari Sungai Utara? Jangankan berkorban untuk Mantingan, berkorban untuk dirinya sendiri pun tidak banyak ia berikan.

__ADS_1


Tapi tetap saja. Mantingan menelan semua kenyataan pahit itu. Di dalam kepalanya saat ini, hanya tertoreh satu kalimat tegas: Bidadari Sungai Utara harus pulang dengan selamat.


“Aku tidak pernah menyesal.”


“Aku juga.” Bidadari Sungai Utara mengeluarkan suara menantang. “Aku tidak akan menyesal jika kau meninggalkanku di sini.”


“Aku tidak akan melakukan hal itu.”


“Tapi aku bisa pergi darimu, kapanpun aku mau.”


“Kalau kaupergi, kau akan kembali.”


“Kembali kepadamu? Sekali aku sudah pergi darimu, tiada pernah sudi aku kembali padamu.”


Mantingan hanya bisa tersenyum tipis. Mengelus dadanya yang sekarang terasa sangat lapang. Mantingan memilih diam sambil berjalan. Bidadari Sungai Utara yang sedang berkobar api amarahnya itu, pula tidak membuka suara lagi, hanya diam dan berjalan cepat.


Setelah sampai di depan gerbang, petugas meminta tanda pengenal Mantingan dan Bidadari Sungai Utara.


Mantingan menunjukkan tanda pengenalnya dan berkata bahwa ia adalah orang suruhan. Sedangkan Bidadari Sungai Utara dikenalkan olehnya sebagai orang dari pulau seberang yang sedang melancong, sehingga belum memiliki tanda pengenal. Penjaga itu tidak menaruh curiga dan membiarkan mereka berdua masuk.


Mantingan beratnya tentang arah menuju penginapan pada penduduk sekitar, yang langsung menyebutkan semua penginapan dari harga termurah sampai yang termahal. Tentu saja Mantingan memilih penginapan termahal. Di penginapan mahal, tidak akan banyak pendekar yang berani memata-matai mereka.


Bidadari Sungai Utara tidak membuka suara. Sedikitpun tidak. Sejak percakapan tadi, ia tidak lagi membuka mulutnya untuk berbicara. Bahkan ketika mereka telah sampai di penginapan pun, gadis itu tetap diam. Masuk ke dalam kamar sewaannya, mengunci diri rapat-rapat.


Mantingan hanya bisa menggeleng pelan. Kali ini Mantingan merasakan perasaan tidak enak. Pada bagian leher dan dadanya, tiba-tiba saja terserang rasa nyeri yang luar biasa. Dadanya penuh sesak. Seolah kaki gajah penuh paku sedang menginjaknya dan terus menginjaknya.

__ADS_1


Cepat-cepat ia membuka pintu kamar di sebelah kamar Bidadari Sungai Utara. Pandangannya buram. Kini rasa nyeri di dadanya mulai menjalar hampir ke seluruh bagian tubuh.


__ADS_2