Sang Musafir

Sang Musafir
Pencarian Putri Paman Bala


__ADS_3

MANTINGAN MEMASANG kembali bundelan berisi belanjaan dan sekaligus bundelan berisi barang bawaannya, sehingga ada dia bundelan yang membebani punggungnya. Namun ketika memanfaatkan Ilmu meringankan tubuh, itu terasa seperti mengangkat sehelai kapas saja. Mantingan menyoren Pedang Kiai Kedai di samping pinggangnya. Dipakailah caping. Maka siaplah.


Paman Bala hanya membawa satu kantung pundi kecil, Mantingan melihat Paman Bala memasukkan beberapa keropak Lontar Sihir dan uang ke dalamnya. Sedangkan sebuah golok panjang tersarung di pinggangnya. Untuk bagian kepala, Paman bala mengenakan destar merah dengan corak burung bangau. Seorang ahli sihir barang tentu mengetahui bahwa destar yang dipakai Paman Bala bukanlah destar biasa.


“Apakah ada Lontar Sihir yang kaubutuhkan lagi, Pahlawan Man?”


“Aku rasa tidak ada, Paman Bala. Aku membawa banyak Lontar Penyerang dan Lontar Penjebak." Mantingan menggeleng pelan.


Paman Bala mengangguk, namun ia berkata, “Aku harap engkau tetap berhati-hati, Pahlawan Man. Pasar Layar Malaya bukanlah pasar persilatan biasa, banyak sekali pendekar dari jaringan rahasia yang mondar-mandir di sepanjang jalan pasar, bahkan mereka sering muncul di jalan-jalan sempit sekalipun. Kita harus tetap berwaspada, karena kemungkinan terburuk pun tetap dapat terjadi di sini."


Mantingan mengangguk paham. “Aku akan tetap menyiagakan pedangku, Paman.”


Paman Bala mengangguk. “Kita berdoa saja yang terbaik, Pahlawan Man.”


Mereka keluar dari ruangan pembuatan lontar. Sebelum benar-benar berangkat, terlebih dahulu Paman Bala berpamitan dengan istrinya, tetapi tidak memberitahu tujuan kepergiannya yang sebenarnya. Jangan sampai istrinya itu menjadi panik dan bertindak di luar dugaan.


Setelah itu, Paman Bala dan Mantingan saling berpandangan sekilas sebelum mengangguk. Seolah-olah telah menyepakati sesuatu yang tak perlu terucapkan bibir.


Mereka melesat cepat meninggalkan toko. Sedangkan untuk toko sendiri tentu tidak asal ditinggalkan Paman Bala, telah lebih dahulu ia mengutus anak buahnya untuk menjaga toko dan melayani pembeli.


Mantingan dan Paman Bala melenting di antara atap-atap bangunan pasar. Mereka adalah salah satu dari banyaknya pendekar yang melenting di atap. Kecepatan mereka tak kasat mata, sehingga manusia biasa hanya melihat mereka sebagai kelebatan bayangan kabur belaka.

__ADS_1


Paman Bala menjadi kelebatan bayang warna hitam, disebabkan oleh pakaiannya yang berwarna hitam pula. Sedangkan Mantingan melesat menjadi bayangan putih, pakaian yang dipakainya adalah pakaian berwarna putih.


Dari atas sana, Mantingan cukup kagum melihat pemandangan Pasar Layar Malaya yang begitu indah dan teratur. Dipadukan dengan pemandangan pendekar-pendekar saling berkelebatan di atap bangunan tanpa satupun yang bertabrakan.


Sepertinya keberadaan pendekar yang melenting-lenting di atap bangunan telah menjadi rahasia umum. Beberapa toko yang tidak ingin atap bangunannya rusak karena pijakan seorang pendekar telah menciptakan jalur khusus yang dapat dipijak pendekar. Walau sebenarnya hanya pendekar dengan ilmu meringankan tubuh tinggi saja yang dapat melenting ringan, sama saja berarti dengan ilmu meringankan tubuh itu para pendekar tidak akan menggores permukaan atap sedikitpun.


Tak hanya itu, di atap-atap juga ditempel selebaran dari toko di bawahnya untuk menawarkan barang dagangannya kepada pendekar yang melintasi atap. Luar biasa.


Namun cukup sudah mengagumi Pasar Layar Malaya yang indah dan teratur ini, Mantingan tetap harus memikirkan Bidadari Sungai Utara serta anak Paman Bala yang hingga kini masih belum ditemukan.


Mantingan melirik Paman Bala di sebelahnya, terlihat mimik wajah pria paruh baya itu semakin tidak bagus. Mantingan memahami betapa sebenarnya Paman Bala sangat mengkhawatirkan putrinya, tetapi tetap menjaga sikap di depan Mantingan.


Sambil terus melenting di antara atap-atap toko, Mantingan berkata pada Paman Bala di sebelahnya, “Paman, lebih baik kita menyebar."


“Tidak.” Mantingan menunjukkan senyumnya. “Yang terpenting saat ini adalah secepatnya menemukan putri Paman Bala, maka kita harus menyebar.”


Paman Bala kemudian mengangguk. “Aku ke sisi utara dan timur, Pahlawan Man ke sisi selatan dan barat. Jikalau putriku ditemukan atau tidak ditemukan, berkumpullah di tengah pasar. Di sana terdapat taman kecil.”


“Baiklah, sampai jumpa Paman.”


Keduanya berpisah. Mantingan berbelok ke kiri, menghadap ke arah selatan pasar, sedangkan Paman Bala berbelok ke arah sebaliknya.

__ADS_1


Mantingan menyisir mulai dari tepian pasar. Ia hinggap di atap-atap toko bangunan atau berjalan lambat di atasnya, melihati satu per satu pengunjung pasar. Mencari orang berwajah mirip dengan putri Paman Bala.


Mantingan berjalan dalam senyap, ilmu meringankan tubuh yang dikuasai olehnya bukanlah ilmu rendahan. Saat ia melangkah pada setiap genting toko, tidak ada suara yang ditimbulkannya selain suara gesekan udara. Maka jarang orang yang mau memperhatikan Mantingan, lagi pula memang sudah sangat biasa pendekar berjalan-jalan di atas atap.


Mantingan menggunakan Lontar Sihir Penggelap di bawah capingnya, agar bayang-bayang caping semakin bertambah hitam pekat untuk menyamarkan wajahnya. Menurut penuturan Paman Bala, banyak jaringan rahasia yang wara-wiri di sekitar jalanan pasar. Bukan tidak mungkin mereka mengenal Mantingan.


Memang sesekali ada yang menatap Mantingan setajam pisau. Tentu Mantingan tidak bersikap bodoh dengan menatap orang yang menatapnya. Jika ia melakukan hal itu, sama saja mencari permusuhan. Pendekar adalah orang yang mencari kematian terhormat lewat pertarungan, mereka tidak akan segan menyerang Mantingan jika dirinya melakukan hal itu.


Sehingga tiadalah yang menyerang Mantingan walau sangat menginginkannya sekalipun. Mereka bisa melihat Mantingan adalah pendekar yang kuat, melawan Mantingan sama saja mengantar nyawa, sedang mereka masih belum mau mati di sana. Maka saat Mantingan pergi berlalu, tidak ada yang berusaha menghentikannya.


Mantingan masih terus berkeliling, tak jarang pergi turun ke bawah untuk menelusuri lorong-lorong pasar. Tak jarang pula harus menembus kerumunan pembeli dan segala hiruk-pikuk yang diciptakan.


Dari pinggiran Mantingan bergerak sedikit ke tengah. Kini melambatkan kecepatan jalan, memastikan tidak satupun yang terlewat dari pandangannya.


Sungguh Mantingan tidak mengetahui secara pasti seluk beluk pasar ini, sehingga pencariannya berjalan sangat lambat ketimbang Paman Bala di sebelah utara sana. Mantingan juga tidak mengerti bagaimana putri Paman Bala tidak cepat-cepat kembali, tidak mengerti juga mengapa Paman Bala terkesan begitu terburu-buru melakukan pencarian.


Namun setelah beberapa lama Mantingan menjelajahi pasar, dirinya kemudian paham akan keputusan Paman Bala.


Semakin ke dalam Pasar Layar Malaya, suasana memang semakin sepi oleh pengunjung, tetapi banyak dibangun bangunan-bangunan besar. Anehnya, bangunan-bangunan itu tidak terlihat seperti menjual sesuatupun.


Mantingan paham, bahwa jalur perlintasan yang menghubungkan bangunan-bangunan besar itu satu sama lain sebenarnyalah terletak di bawah tanah. Mantingan dapat merasakan aura tenaga dalam yang mengalir di bawah tanah.

__ADS_1


Memang keberadaan tenaga dalam di bawah tanah bukan sesuatu yang bisa mengejutkan, tetapi dalam jumlah sebanyak itu ... Mantingan ragu itu bukan berasal dari alam melainkan dari banyaknya pendekar ahli di bawah sana.


__ADS_2