Sang Musafir

Sang Musafir
Tak Saling Memiliki


__ADS_3

SETELAH mendengar hal itu, tetiba saja Mantingan merasa tidak aman berada di Padepokan Angin Putih yang sedang ia singgahi saat ini.


Jika Perguruan Angin Putih sedang mencari dirinya, bukankah itu berarti seluruh Padepokan Angin Putih pula turut mencarinya?


Seolah menyadari perubahan pada raut wajah Mantingan, tetua padepokan lekas berkata, “Tetapi Adik Man tidak perlu khawatir, daku akan merahasiakan kedatanganmu di padepokan ini.”


Tetua itu kemudian mengenalkan dirinya sendiri sebagai Dharma. Pada masa lalu, ia merupakan Pasukan Topeng Putih sebelum diangkat sebagai tetua untuk memimpin salah satu padepokan.


Tentulah Mantingan tidak perlu mengenalkan dirinya lagi pada Dharma sebab segala sesuatu tentangnya telah tersebar luas di telaga persilatan.


“Jika kabar burung yang kudengar tidak salah, maka dikau juga sedang membawa Bidadari Sungai Utara dalam perjalananmu.” Dharma berujar dengan suara yang sangat kecil hingga hampir-hampir tak dapat terdengar.


Mantingan memilih untuk tidak berbohong, “Benar, Tetua. Kawan seperjalanan yang tadi kumaksudkan adalah Bidadari Sungai Utara.”


“Putri itu ... ah, maksudku gadis itu mengapa berada di Javadvipa?” Bibir Dharma tampak bergetar saat dia hampir saja mengungkapkan jati diri Bidadari Sungai Utara di hadapan Mantingan, padahal Rama telah memerintahkannya dengan jelas untuk tidak mengungkapkan hal itu itu.


“Putri Pham Lien diculik dari Champa, Tetua. Untuk lebih jelasnya, daku merasa tidak perlu diceritakan.” Mantingan tersenyum tipis, secara tidak langsung perkataannya itu menunjukkan bahwa ia telah mengetahui jati diri Bidadari Sungai Utara.


Dharma terdiam beberapa lama. Menebak-nebak tentang siapa yang menculik Bidadari Sungai Utara kembali ke Javadvipa, sekaligus menebak-nebak tentang bagaimana Mantingan bisa mengetahui jati diri gadis itu sebagai putri Kerajaan Champa.


Namun, setelah beberapa lama dan tidak menemukan jawaban yang masuk akal, Dharma berhenti memikirkannya. Mantingan pasti sudah memberitahunya sejak awal jika hal itu memang harus diketahuinya. Jika pemuda itu tidak memberitahunya, maka sebaiknya tak perlu mencari tahu.


“Adik Man, dikau dan Bidadari Sungai Utara pastinya lelah dan lapar, daku harus menyiapkan kamar dan makanan hangat untuk kalian. Tetapi, berapa kamar yang kalian butuhkan?”

__ADS_1


Mantingan mengetahui Dharma berpikir bahwa dirinya dan Bidadari Sungai Utara memiliki hubungan khusus sehingga bertanya seperti itu. Meskipun pikirannya memang benar, tetapi keputusan Mantingan berbeda.


“Jika Tetua tidak keberatan, kami membutuhkan dua kamar.”


Dharma menganggukkan kepalanya sekali sebelum memerintahkan salah satu penjaga di sana untuk menyiapkan dua kamar tamu. Sedangkan itu, dirinya melanjutkan perbincangan dengan Mantingan sambil minum teh.


***


“Dua kamar?”


BIDADARI Sungai Utara mengerutkan dahi setelah mendengar penjelasan dari Mantingan bahwa mereka akan tidur di dua kamar yang terpisah. Setelah semua kejadian yang telah mereka lalui di Penginapan Cakar Merah sebelumnya, akan terasa sangat wajar jika gadis itu bertanya sedemikian.


“Ya,” jawab Mantingan sebelum berdeham beberapa kali. “Sasmita, tiada satupun di antara kita yang saling memiliki, semestinya kita sadari hal ini sejak awal. Dikau adalah kepunyaan pria lain yang bukan daku. Maka segala sesuatu yang telah kita lakukan saat itu adalah dosa yang mesti kubayar di kemudian saat. Lebih baik, kita tidak perlu meneruskannya dan menambah penderitaan.”


“Mantingan, andai saja sewaktu itu daku lebih bersikeras lagi tinggal di Javadvipa, maka mungkin saja ....”


“Perlukah tindakan itu disesali?” Mantingan memotong saat gadis itu tampak tidak mampu melanjutkan perkataannya.


Bidadari Sungai Utara kembali terdiam. Lidahnya menjadi kelu, bagai baru saja memakan buah mahoni. Apakah lagi kiranya yang dapat ia balas? Mantingan telah mengatakan suatu kebenaran kepadanya, maka menyanggahnya adalah tindakan yang sama sekali salah.


Namun tanpa terduga, dengan hujan tiada; angin pun tiada, pemuda itu tiba-tiba saja memeluknya. Tidaklah terlalu erat, tetapi hangat sekali. Bagai tersiram sinar matahari pagi yang selalu mesti menumbuhkan harapan bagi tunas-tunas tanaman baru. Selembut sutra yang ditenun tangan ahli.


“Tidurlah, barangkali perjalanan kita masih panjang. Jangan sampai dikau kelelahan.”

__ADS_1


Pemuda itu melepas pelukan. Bidadari Sungai Utara memandanginya lamat-lamat, teramat lamat, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarnya.


Mantingan pun memasuki kamarnya. Namun, dirinya sama sekali tidak dapat tertidur atau bahkan sekadar berusaha untuk merebahkan diri di atas kasur. Terduduk saja ia di atas kursi, memandangi dinding kamar dengan tatapan kosong, pikirannya terbenam amat jauh bagai tiada lagi yang dapat lebih jauh daripada itu.


***


PADA dini pagi, ketika bahkan hari masih belum dapat disebut terang tanah, Mantingan menemui Dharma dan menyampaikan maksudnya untuk melanjutkan perjalanan. Ia menambahkan pada pria paruh baya itu untuk tidak membocorkan kabar tentang kedatangannya di padepokan ini.


Tetua Padepokan Angin Putih itu langsung menawarinya dengan kuda-kuda tercepat yang dia miliki. Pikirnya, ketimbang Mantingan dan Bidadari Sungai Utara harus berbagi tempat duduk di atas punggung seekor kerbau yang jalannya lambat, lebih baik menunggangi dua kuda yang jalannya cepat.


Namun, Mantingan menolaknya dengan sopan dan berkata jujur bahwa Munding adalah hewan siluman yang memiliki kemampuan terbang.


“Hewan siluman yang dapat terbang? Adik Man, apakah dikau masih memercayai perkara dongeng seperti itu?” Tentulah Dharma tidak bisa untuk tak berpikir bahwa Mantingan sedang berbual dengannya.


“Tetua tidak akan percaya sampai melihatnya sendiri.” Mantingan tersenyum sebelum mengajak Dharma untuk mengunjungi Munding yang sedang tertidur di halaman padepokan.


___


catatan:


Wahai! Saya kembali lagi setelah sekian lama menghilang hampir tanpa kabar. Pekerjaan saya baru benar-benar selesai pada malam tahun baru, tetapi saya mengambil sedikit waktu rehat dengan tidak ngapa-ngapain selama 3 hari ini. Sekarang, waktunya untuk kembali produktif.


Jika sudah lupa dengan alurnya, silakan baca ulang atau diskusi dengan saya di kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2