
TARIAN akan segera dimulai. Terlihat lima puluh penari berbaris di pinggir lapangan, hanya butuh satu langkah bagi mereka untuk masuk ke gelanggang menari. Salah satu di antara mereka adalah Chitra Anggini, yang kejelitaannya terasa telah menandingi penari-penari lain di sekitarnya. Namun, Kartika tidak terlihat ada di dalam barisan. Hanya mengawasi dari kejauhan sambil bersedekap.
Mantingan sungguh tidak mengetahui tarian semacam apakah yang akan mereka mainkan. Mungkinkah Tarian Daun Jatuh yang kata-katanya menyimpan ilmu persilatan tinggi itu? Ataukah tarian lainnya yang tidak terlalu berharga?
Mantingan terus menunggu.
Di kejauhan sana, Chitra Anggini terlihat menoleh ke sekitar. Agaknya sedang mencari keberadaan Mantingan. Seharusnya pemuda itu akan terlihat mencolok dengan pakaiannya yang serba putih. Sungguh tidak menyadari bahwa Mantingan sedang duduk di atas sebatang pohon di antara lebatnya pepohonan, sehingga memang sedikit banyak menyamarkan keberadaannya.
Mantingan mengirim bisikan angin, yang pula melesat secepat angin, hingga sampai di telinga Chitra Anggini. Perempuan itu menoleh, langsung dapat menemukan keberadaannya dengan mudah dan cepat. Mantingan membalas tatapannya itu dengan lambaian tangan.
Chitra Anggini tampak membuka mulut beberapa kali, tetapi Mantingan tidak dapat mengerti artinya. Meskipun amat sangat mudah baginya untuk mengerti kalimat yang hendak diucapkan Chitra Anggini dengan menggunakan kemampuan membaca pertanda, tetapi Mantingan sama sekali tidak berselera untuk menggunakannya.
Pemuda itu kemudian menarik napas panjang. Jika Chitra Anggini adalah Bidadari Sungai Utara, maka mereka dapat berbicara tanpa perlu membuka mulut. Tidaklah dengan ilmu membisik sukma. Tidak pula dengan bahasa sandi. Melainkan dengan tatapan mata. Cukup saling bersitatap, maka perbincangan sepanjang apa pun dapat terjadi tanpa menimbulkan suara barang sekecil apa pun.
Berbicara melalui tatap mata tentulah bukan suatu ilmu silat. Siapa pun boleh melakukannya, tetapi bukan hal mudah untuk mengusainya.
Satu-satunya yang diperlukan untuk melangsungkan percakapan melalui tatapan mata ialah kedekatan hubungan. Sungguh, sehebat apa pun seseorang menguasai ilmu menafsirkan pandangan mata seseorang, tetap tidak akan mampu memberlangsungkan perbincangan dalam tatap mata tanpa memiliki hubungan erat dengan orang yang hendak diajak berbicara.
Sedangkan antara Mantingan dengan Bidadari Sungai Utara boleh dikata memiliki hubungan yang jauh lebih dekat daripada dekat. Bercakap-cakap lewat tatap mata bukanlah hal yang sama sekali sulit bagi mereka.
Meskipun Mantingan dan Bidadari Sungai Utara hampir tidak pernah melalui pertarungan antara hidup-mati bersama, tetapi segala macam drama yang begitu mengharu-biru telah mereka lalui bersama. Drama yang tidak semestinya dirasakan oleh pendekar. Betapa hal itu telah membuat hubungan mereka jauh lebih erat ketimbang erat. Mengalahkan hubungan sepasang pendekar yang telah melalui banyak pertarungan hidup-mati bersama.
__ADS_1
“Jangan sekarang.” Mantingan bergumam kepada dirinya sendiri ketika terlintas wajah Bidadari Sungai Utara yang menatapnya dengan penuh cinta. Kini baru disadarinya, seluruh tatapan Bidadari Sungai Utara kepadanya adalah tatapan cinta tulus, yang sayangnya tidak terbalaskan dengan baik.
Kini menyesal pun tiada guna, jadi Mantingan tidak ingin menangis lagi.
Seorang pendekar memang tidak dilarang menangis. Siapa pun boleh menangis. Tetapi seorang pendekar dilarang keras untuk berlarut-larut dalam kesedihan maupun kesenangan.
Kiai Guru Kedai pernah berkata:
“Segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. Mungkin dikau bosan mendengar kalimat tersebut, tetapi itulah kebenarannya. Jika dikau senang, jangan berlebihan; jika dikau sedih, jangan berlebihan pula. Senang dan sedih akan datang silih berganti. Bagai angin, dua hal itu boleh jadi hanya bersemilir pelan, tetapi boleh jadi pula bertiup teramat kencang. Jika dikau tidak dapat berpegang teguh pada takaran keseimbangan, maka dikau akan terpapas oleh angin itu, dibawa pergi entah ke mana.”
Namun, di sisi lain Mantingan pun mengetahui bahwa percintaan selalu memiliki urusan yang berlarut-larut, lebih-lebih urusan patah hati. Bertentangan dengan hakikat dunia persilatan yang selalu menyelesaikan segala sesuatu dengan secepat-cepatnya tanpa berlarut-larut.
Maka benarlah jika para Pemangku Langit yang tidak dapat terkalahkan dalam urusan pertarungan itu hanya dapat dikalahkan dalam urusan percintaan.
Lima puluh penari itu mulai masuk ke dalam gelanggang menari. Melangkahi celupak-celupak. Lantas berjalan beriringan ke tengah lapangan. Gelang-gelang di kaki mereka bergemerincing, mengiringi langkah.
Mantingan membetulkan bentuk duduknya, ketika tetiba saja pohon yang ditumpanginya itu bergerak-gerak. Ia terdiam sebentar dan memandang ke sekeliling. Nyatanya, pohon-pohon di sekelilingnya pun turut melambai-lambai bagai diterpa angin kencang.
Tiada angin, tiada gempa, lantas apa yang membuat pohon-pohon ini bergerak sedemikian rupa?
Mantingan was-was. Tentu dirinya tidak sampai berpikir tentang makhluk halus yang terkadang sering bersembunyi di balik pohon. Yang dipikirkan olehnya sekarang ini hanyalah marabahaya, yang datang dari para pendekar pengendali sihir. Mantingan lekas mengambil ancang-ancang.
__ADS_1
Namun sesaat sebelum dirinya berkelebat, suatu keanehan terjadi lagi. Gerakannya terpaksa ditahan.
Dedaunan di pohon-pohon itu secara ajaib tercabut dari tangkainya. Memang tidak sampai membuat pohon menjadi gundul, tetapi jumlahnya cukup banyak sebab dedaunan datang pula dari arah hutan.
Dedaunan itu terbang ke arah gelanggang menari, tepatnya ke arah lima puluh penari yang telah berbaris di sana. Berpusar di udara dengan jarak lima depa dari permukaan tanah. Angin puyuh bagai sedang menggerakkan mereka. Seluruh pasang mata yang ada di sana memandang pusaran dedaunan itu dengan takjub.
Termasuk pula Mantingan. Ternganga. Hampir-hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bibirnya bergetar, seperti hendak mengucapkan sesuatu. Pastinya kalimat penuh ketakjuban!
Pusaran daun itu semakin membesar. Hanya satu-dua daun yang diambil dari setiap pohon, tetapi dengan jumlah pohon yang teramat sangat banyak. Di hutan sana, tidak terhitung lagi berapa jumlah pohonnya. Maka jumlah dedaunan yang ada di pusaran itu pula tidak dapat terkirakan. Ratusan, atau ribuan, atau bahkan jutaan. Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.
Mantingan tetap diam di tempatnya meski dengan tubuh membeku. Matanya terus memandang ke arah jutaan dedaunan yang terus berputar di udara. Mulutnya sempurna terbuka. Takjub.
Namun suara canang memecah keterkaguman seluruh penonton. Berikutnya terdengar suara wanita melantunkan kalimat penyambutan.
“Para penonton yang terhormat, perhatikanlah baik-baik apa yang akan kami sajikan kepada kalian semua: Tarian Daun Jatuh!”
Mantingan sempurna membeku. Napasnya tertahan. Bahkan jantungnya pun serasa berhenti sejenak.
Bukankah Tarian Daun Jatuh yang pernah ia saksikan di tengah belantara sewaktu berhadapan dengan Pendekar Kelewang Berdarah itu sama sekali tidak tampak seperti ini? Tiada sekumpulan besar dedaunan yang berpusar di udara. Tiada tatap takjub dari penontonnya. Hanya saja tariannya memang mirip dengan permainan berpedang, tetapi itu tidak akan mampu membuat setiap pasang mata yang melihatnya menjadi takjub.
Kelima puluh penari itu mulai menangkupkan kedua telapak tangan mereka di atas kepala. Lalu bergumam, “Om.” Luar biasa. Itu adalah kata yang dianggap paling suci di atas segala kata!
__ADS_1