Sang Musafir

Sang Musafir
Penyerbuan dari Daratan; Penyerangan Para Pengungsi


__ADS_3

Dapatkah kiranya mereka menjadi sebuah hikayat kepahlawanan yang bukan saja dikumandangkan di Perguruan Angin Putih, melainkan pula di seluruh Tarumanagara pada masa mendatang?


Lihatlah bagaimana jubah mereka yang awalnya berwarna putih bagaikan mega-mega itu telah berubah menjadi merah pekat bagaikan senjakala sehabis diguyur hujan deras. Lihatlah bagaimana mereka berdiri tegar menyampir pedang, meski harapan untuk dapat menang sangatlah kecil.


Mantingan ingat ucapan Kiai Guru Kedai selanjutnya, yang langsung segera membuatnya mengharu-biru:


“Sehebat-hebatnya seorang pahlawan adalah dia yang tetap berjuang keras meski kekalahan telah terpampang jelas di ambang pintu.”


***


TIBALAH ratusan bayangan hitam berkelebatan keluar dari dalam hutan. Melenting-lenting pada atap-atap bangunan di pelabuhan. Sang hulubalang memberi tanda bagi pasukannya untuk bersiap, sekaligus memberi tanda bagi Bajing untuk memasang Lontar Sihir.


Aksara-aksara bercahaya menyebar di sekitar penginapan. Betapa Mantingan mengetahui bahwa aksara-aksara itu berasal dari mantra sihir penjebak yang dinyalakan oleh Bajing.


Sehingga ketika kelebatan-kelebatan bayangan hitam yang muncul dari dalam hutan itu masuk ke dalam lingkaran mantra, tubuh mereka serasa ditindih suatu benda besar. Mereka tidak lagi dapat bergerak dengan begitu leluasa.


"Serang menggunakan senjata lempar!" Hulubalang berteriak nyaring. "Jangan biarkan satupun dari mereka lolos dari kematian!"


Para pendekar dari pasukan topeng putih mulai melemparkan senjata-senjata terbang berupa pisau dan jarum ke arah musuh di bawah. Kedudukan mereka di atas memberikan keleluasaan untuk melempar senjata-senjata terbang.


Bajing di lantai bawah penginapan pula memasang beberapa mantra sihir penyerang. Dalam seketika, seluruh pasukan musuh yang berada di dalam lingkaran sihir seketika kehilangan nyawanya. Namun segera digantikan lagi oleh musuh-musuh yang bagai tiada habisnya berdatangan.


"Mantra penjebak telah habis!" Bajing mengirim bisikan angin kepada seluruh pendekar di atap penginapan, termasuk pula Mantingan. "Daku akan memasang mantra pelindung, kalian semua bersiaplah untuk menghadap pertempuran jarak dekat!"


Mantingan pun tiada berdiam diri. Kedudukan mereka semakin mendesak!


Mantingan mengentak kakinya. Membawa tubuhnya terbang beberapa depa di atas atap penginapan. Dari dalam pundi-pundinya, Mantingan melesatkan puluhan jarum beracun ke arah pasukan musuh.


Hulubalang memandangi Mantingan dengan tatapan penuh arti. Di dalam aliran putih, menggunakan jarum beracun merupakan hal yang tabu sekalipun tidak dilarang. Dirinya hanya bisa menghela napas dan menyadari bahwa mereka tidak memiliki banyak pilihan.


Tubuh Mantingan turun perlahan hingga akhirnya menginjak permukaan atap penginapan. Ia tersenyum canggung di balik topengnya karena menyadari tatapan sang hulubalang.


Namun, Mantingan kembali melenting ke udara. Kali ini jauh lebih tinggi lagi. Segera ia melesatkan jarum-jarum beracun dari dalam kantung penyimpanannya. Tidak hanya sepuluh-duapuluh jarum saja yang dilesatkannya, melainkan ratusan sekaligus!


Apa yang Mantingan lakukan itu membuat sang hulubalang berdecak kagum. Dibutuhkan keahlian tinggi untuk melesatkan ratusan jarum dalam waktu yang amat sangat singkat secara bersamaan, dan dibutuhkan latihan yang teramat panjang untuk membuat ratusan batang jarum itu menancap tepat pada sasaran. Sesuatu yang bahkan dirinya sendiri—sebagai pendekar yang telah menelan asin dunia persilatan berpuluh-puluh tahun lamanya—tidak bisa melakukannya.


Mantingan membuat tubuhnya menjadi jauh lebih ringan ketimbang sehelai kapas. Sehingga sebelum menyentuh permukaan genting, ia masih bisa melesatkan belasan pisau terbang ke arah musuh-musuhnya di bawah.


Dari semua yang dilesatkannya, baik itu merupakan jarum beracun maupun pisau terbang, yang tidak menancap pada sasaran masihlah dalam jumlah yang dapat dihitung dengan jari sebelah tangan.


Mantingan kembali mendarat di atas genting penginapan. Tepat di samping bapak hulubalang. Namun agaknya, ia tidak akan melenting lagi ke udara untuk mengirimkan jarum maupun pisau terbang.

__ADS_1


“Senjata lemparku habis ...,” gumamnya pelan, seolah pada diri sendiri, tetapi sebenarnyalah gumaman itu juga dimaksudkan untuk mengabarkan pemimpin pasukan di sebelahnya.


“MANTRA PELINDUNG HABIS!” Bajing berteriak melalui bisikan angin yang menyeruak. “Akan kupasang Lontar Sihir Penyerang ke tengah-tengah mereka. Bapak Hulubalang, kumohon bawalah pasukan untuk maju menyerang!”


Mantingan mengembuskan napas panjang. Betapa ia tahu bahwa Bajing akan mengorbankan dirinya demi memasang mantra penyerang yang tersisa ke tengah-tengah pasukan musuh!


Dari atap penginapan, dapat terlihat bagaimana Bajing menerobos masuk ke dalam lautan pendekar musuh. Tangan kanannya masih memegang pedang, sedang tangan kirinya memegang Lontar Sihir untuk dilesatkan.


Lajunya teramat cepat, dan musuh yang menyerangnya telah begitu banyak. Pedang di sebelah tangannya itu tidak lagi mampu menangkis semua serangan musuh. Tubuhnya penuh dengan luka-luka sabetan pedang. Bersimbah darah. Namun Bajing tidak berhenti, sebab hanya kematian saja yang mampu menghentikannya!


Terdengar pekik kematian begitu mantra sihir merajam ratusan pendekar dari Kelompok Pedang Intan di bawah penginapan. Di waktu yang benar-benar hampir bersamaan, pendekar-pendekar di pinggiran genting mulai menerjunkan diri ke bawah dengan pedang terhunus! Menukik bagaikan elang yang telah menemukan mangsanya!


Barisan di belakang mereka pun mengikuti. Seolah mereka akan terjun di atas telaga segar dan bukannya lautan musuh yang menggila, langkah mereka begitu ringan saat hendak menerjunkan diri. Mungkin saja pengorbanan yang Bajing berikan akan membuat mereka merasa sangat malu jika tidak berbuat sedemikian pula.


Tangan Mantingan menggapai gagang pedangnya, namun tidak sampai menariknya. Dilirik hulubalang di sebelahnya sambil mengangguk pelan seolah bersepakat. Lalu melesatlah mereka berdua ke udara dengan pedang menantang!


***


SATU-satunya yang Dara cemaskan saat ini adalah keselamatan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara. Perempuan itu mengetahui seberapa penting dan genting peran kedua muda-mudi itu bagi tanah airnya masing-masing. Seharusnyalah mereka berdua yang mengungsi, dan bukan dirinya!


Dara sebenarnya telah jauh-jauh hari menyiapkan rencana untuk menghadapi kejadian seperti ini, tetapi segalanya menjadi berantakan ketika dia dan para pengawalnya buncah.


Saat ini dirinya dan para pengawalnya masih berjalan di antara ratusan pengungsi lainnya. Mereka bergerak di atas jalan yang mengarah ke tenggara, di sanalah terdapat kota kecil berjarak paling dekat dengan pelabuhan.


Mereka tidak menggunakan jalan utama, sebab telah jelas bahwa jalan itu berkemungkinan akan digunakan musuh jika mereka menyerang dari daratan.


Dara hanya membawa seluruh pedati beserta kerbaunya saja, namun tidak dengan kereta kudanya, sehingga saat ini dia berjalan kaki bersama para pengungsi lain. Dua pengawal memayunginya dari belakang.


Perjalanan mereka bukankah sesuatu yang sunyi dan sepi. Justru sebaliknya, perjalanan mereka penuh dengan hiruk-pikuk. Anak kecil menangis kencang. Perempuan-perempuan pun demikian. Lelaki mendumal dan mengeluh tiada hentinya.


Dara tidak merasa terganggu, sebab betapa pun hal itu adalah wajar bagi mereka. Semua yang ada di sini tentu memiliki kepentingannya masing-masing di pelabuhan itu. Ketika tanda bahaya dibunyikan, tidak banyak dari mereka yang berhasil menyelamatkan kepentingan-kepentingan itu.


Beruntunglah Dara menyewa banyak pengawal dan pendekar bayaran dalam perjalanannya, sehingga hampir seluruh barang lelangnya terselamatkan.


Namun kini, perasaan Dara adalah yang paling lebih gusar di antara yang lainnya. Andaikata seluruh barang lelangnya ditukar dengan keselamatan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara, maka dengan amat sangat rela dia menyerahkannya. Tetapi perempuan itu tahu, bahwa hal seperti itu mustahil sekali dapat terjadi.


Ketika muncul keinginan untuk kembali ke pelabuhan dan membantu Mantingan, Dara hanya bisa segera mengurungkannya. Sebab dia tahu betapa tindakan itu hanya akan membebani Mantingan saja.


“Ah, lemah sekali diriku ini.” Dara mendesah pelan. “Andaikan saja selama tiga tahun terakhir ini aku tidak bermalas-malasan, mungkin aku dapat mengumpulkan uang yang cukup untuk menyewa sebuah perguruan tingkat menengah.”


Dara sadar bahwa dirinya tidak cukup berbakat dalam bidang seni beladiri. Bakatnya adalah mengumpulkan uang banyak. Dan seandainya ia memiliki seribu Batu saat ini, sudah barang tentu memiliki kemampuan untuk menyewa perguruan besar guna membantu Mantingan di pelabuhan.

__ADS_1


Perempuan itu bertanya-tanya dalam benaknya, tentang apakah kiranya penyamun-penyamun laut itu berhasil menerobos masuk hingga ke pelabuhan? Mungkin itu tidak berbahaya, sebab dirinya mengetahui bahwa Mantingan sebenarnya memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan mereka semua. Akan tetapi, bagaimanakah jikalau datang pula serangan dari daratan?


Hal inilah yang sedari tadi perempuan itu pusingkan. Kiranya jikalau hal itu sampai terjadi, sedang pasukan dari Padepokan Angin Putih telah terpusat akan serangan di lautan, maka dampaknya akan amat sangat mengerikan bagi mereka. Sesuatu yang bahkan Dara sendiri tidak berani membayangkannya.


“PENYERBU! LARI SEMUANYA!”


Teriakan itu melengking tinggi tatkala Dara masih tenggelam dalam pemikirannya. Namun agaknya memang bukan Dara saja yang terkejut hingga tersentak, melainkan pula seluruh pengungsi yang ada di jalanan itu!


Seketika keadaan menjadi kacau balau. Kebuncahan terjadi di segala tempat. Para pengungsi tidak tahu dari manakah musuh menyerang, dan ke arah manakah semestinya mereka berlari untuk menyelamatkan diri.


Pengawal-pengawal Dara menghunus pedang dan merapatkan diri di sekitarnya. Mereka berniat membawa Dara masuk ke dalam hutan, tetapi sepertinya hal itu telah terlambat.


Dari hutan di sebelah kiri mereka, menyeruaklah kelebatan-kelebatan hitam yang tak terhitung lagi jumlahnya. Jerit kematian melengking tinggi bersamaan dengan terpeciknya darah segar. Puluhan pengungsi terbaring di tanah dengan luka sabetan yang melintang panjang di badannya dalam waktu sekejap mata saja!


Dara telah menjadi buncah bukan main. Musuh yang menyerbu sungguh tidak pandang bulu dalam membunuh orang. Tua, muda, pria, wanita, semuanya dibunuh tanpa ampun.


Para pengawal Dara telah memberikan perlawanan yang teramat sengit. Kendati telah berhasil mengamankan nyawa Dara, tetapi siapa pun yang melihat mereka tentunya tidak perlu pikir panjang untuk mengetahui bahwa pendekar-pendekar tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.


Ketika semuanya telah kehilangan harapan dan berputus asa, tiba-tiba saja menyala terang secercah cahaya di langit senja yang keremangan. Dari cahaya itu, melesatlah ratusan garis-garis cahaya lain, yang jika diperhatikan maka masing-masingnya akan membentuk suatu aksara tertentu.


Garis-garis cahaya itu menghantam seluruh kelebatan bayangan hitam yang sedang membantai para pengungsi, yang dalam seketika langsung membunuh mereka dengan luka bakar parah.


Garis-garis cahaya pula melesat menuju dalam hutan. Berakhir pada jatuhnya sosok-sosok pendekar yang bersembunyi di dalam rindangnya pepohonan.


Orang manapun yang ada di sana merasa terkejut bukan alang kepalang. Tidak saja masih tak percaya akan terbunuhnya sanak keluarga mereka dalam penyerbuan, akan tetapi pula kepada cahaya terang di langit yang telah membuat penyerbuan itu berhenti.


Hingga dari dalam hutan yang di sebelah kiri mereka, muncullah sesosok lelaki berjubah kuning panjang yang melangkah dengan cepatnya. Wajahnya tertutup tudung lebar dari jubahnya itu, sehingga jelas kehadirannya itu mengherankan seluruh pengungsi yang tersisa. Sungguh tiada dapat mereka kenali.


Namun siapa pun bisa menebak, bahwa kehadirannya itu pastilah berkaitan dengan cahaya terang di langit yang sekarang mulai memudar sinarnya.


Hingga sampailah lelaki itu membuka tudungnya. Wajahnya terbias matahari senjakala yang kejinggaan. Dara membeliakkan mata sebab merasa telah mengenalinya.


“Pendekar Lontar Bercahaya!”


___


catatan:


Seni Bela Diri Sejati di kedailakon.blogspot.com telah mencapai bagian keempat. Baca sekarang hanya dengan browser!


__ADS_1


__ADS_2