
“Tidak satupun dari kami mengetahuinya.” Chitra Anggini menggeleng lemah. “Tujuan kami pergi ke tempat itu adalah untuk mengumpulkan keterangan, dan sekaligus untuk mencuri sebuah senjata pusaka.”
Mantingan menatap Chitra Anggini dengan pandangan yang sulit diartikan. “Lembah Balian pastinya menyimpan banyak senjata pusaka. Untuk itulah ada seribu prajurit Koying yang berjaga di sana.”
“Dan mengalahkan mereka adalah hal yang mudah bagi kami,” timpal Chitra Anggini.
“Dan mungkin tidak akan mudah jika diriku turut menjaga tempat itu.”
Chitra Anggini memberi tatapan menusuk ke sepasang mata Mantingan, lalu berkata lambat dengan penuh penekanan, “Jadi dikau hendak memerangi diriku yang telah jauh-jauh ke Suvarnabhumi hanya untukmu?”
Maka begitulah kemudian Mantingan membalas pula dengan suara lambat tetapi penuh penekanan, “Daku tidak akan pernah ragu memerangi siapa pun yang berani mengusik orang-orang yang kusayangi.”
***
MANTINGAN membuka matanya, yang seketika itu pula kembali ditutup kembali. Cahaya matahari menerpa matanya secara langsung. Mungkin matahari pula yang telah membuat matanya kembali terbuka.
Mantingan bangkit duduk sebelum sekali lagi membuka matanya. Setelah melihat segala sesuatu yang tersaji di depan matanya, Mantingan tidak bisa menahan diri untuk menggosok matanya.
“Lembah Balian?!”
Mantingan terkejut bukan main. Sungguhlah yang ia lihat saat ini adalah pemandangan kamar yang pernah ditempatinya sewaktu masih tinggal di Lembah Balian. Mantingan mencoba menampar pipinya, dan itu terasa cukup menyakitkan. Ini sama sekali bukan mimpi!
Mantingan lekas mengedarkan pandang ke sekitar untuk menemukan pedangnya. Namun, tidak satupun pedangnya terlihat di ruangan itu. Hanya ada bundelannya di sudut ruangan yang berdekatan dengan ranjang. Dengan hanya meninggalkan bundelannya tanpa persenjataan apa pun, Mantingan dapat dengan jelas mengetahui maksud dari perbuatan seperti ini!
Mantingan segera bangkit dari ranjangnya dan berkelebat ke arah pintu yang sama sekali tidak terkunci. Namun tepat setelah dirinya membuka pintu dan hendak kembali berkelebat untuk meninjau Lembah Balian dari kejauhan, tetiba saja sebilah pedang melintang tepat di depan lehernya. Mantingan menoleh ke samping, lantas menemukan Chitra Anggini yang sedang bersandar di tembok dengan sebelah tangannya memegangi pedang.
“Dikau tidak boleh pergi ke mana-mana.” Perempuan muda itu berkata tanpa menoleh. “Kembalilah ke kamarmu.”
Mantingan sama sekali tidak takut. “Apa yang kalian lakukan di Lembah Balian?”
__ADS_1
Kini Chitra Anggini menoleh ke arahnya. “Kami hampir belum melakukan apa pun sejak tiba malam tadi. Sebentar lagi, kami akan menari. Daku ditugaskan untuk menjagamu agar tidak ke mana-mana.”
“Kalian hendak mencuri pusaka!” Mantingan menggeram. Tangan kanannya bergerak untuk memapas pedang yang tengah melintang di depan lehernya itu. Namun, pergerakannya terhenti di pertengahan, ia menyadari sesuatu. Lengan kanannya itu memang dapat diangkat, tetapi jari-jemarinya sama sekali tidak dapat digerakkan. Bahkan Mantingan telah kehilangan indera perabaannya atas lengan tiruan itu, terasa seperti kembali buntung!
“Dikau ....”
“Kakakku juga telah menotok aliran tenaga dalammu, dengan pula memasang mantra sihir tingkat tinggi untuk menjaga totokan itu agar tidak terlepas.” Chitra Anggini menatapnya tajam. “Kembali ke kamarmu. Jika dikau melawan, daku tidak akan ragu memisahkan kepalamu dengan pedang ini.”
Mantingan hanya menggeleng pelan sambil tertawa kecil. Namun sesaat kemudian, pedang di tangan Chitra Anggini itu telah berpindah ke tangan Mantingan. Kini justru pemuda itulah yang menodongkan pedang ke leher jenjang milik Chitra Anggini.
“Sekarang daku tidak bermain-main lagi,” kata Mantingan tajam. Mudah baginya untuk melepas totokan penghambat tenaga dalam yang diberikan oleh Kartika, setelah berhasil dengan sangat mudah pula menghancurkan mantra sihir yang dipasang untuk melindungi totokan itu. “Kita sudah bersepakat sebelumnya.”
Chitra Anggini menatapnya dengan nyalang. Tiada ketakutan yang tampak di matanya barang sedikitpun. Perempuan itu maju selangkah, sengaja menempelkan bilah pedang tersebut ke lehernya. “Jika dikau berniat untuk menawanku, maka kupastikan bahwa leherku ini akan tertembus pedang itu sebelum dikau berhasil melakukannya.”
Mantingan kembali membuat gerakan yang teramat sangat cepat; secepat pikiran. Pedang di tangan kanannya itu menampel leher Chitra Anggini, membuat perempuan itu seketika mematung.
“Dikau diam saja di sini, daku akan berbincang sedikit dengan kakakmu.” Mantingan menurunkan pedangnya dari leher Chitra Anggini. Air wajahnya masih menunjukkan bahwa dirinya sedang bersungguh-sungguh.
“Jika dikau berani mencelakainya, maka daku bersumpah akan memburumu sampai akhir hayat!” Chitra Anggini buru-buru memberi ancaman ketika melihat Mantingan membalikkan badan.
Mantingan membalas, “Maka akan kupastikan perburuanmu berakhir dengan cepat.”
Pemuda itu tidak menunggu tanggapan dari Chitra Anggini, dirinya segera berkelebat pergi.
***
LEMBAH Balian diapit oleh dua bukit berukuran sedang. Tempat tinggal Tapa Balian terletak di bukit sebelah barat, sedangkan penempaannya berada di bukit sebelah timur. Dua bangunan itu terpisah dengan rentang jarak yang terlampau cukup jauh. Jika itu manusia biasa, maka orang itu membutuhkan waktu setidaknya sepeminuman teh untuk menuruni bukit yang satu dan mendaki bukit yang satu lagi. Namun bagi pendekar, hanya diperlukan satu entakan kaki untuk dapat berkelebat ke bukit sebelah.
Dari ketinggian di tepi bukit, Mantingan bisa melihat belasan hingga puluhan pedati rombongan pemain wayang di kaki bukit. Ia pula melihat bangunan-bangunan serta tenda-tenda besar yang didirikan mengelilingi Lembah Balian, pastilah itu merupakan perkemahan untuk menampung seribu prajurit dari Kerajaan Koying.
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mantingan segera berkelebat turun ke arah pedati-pedati milik rombongan pemain wayang. Tentu maksud dan tujuannya adalah menemui Kartika dan mencoba berbincang-bincang untuk mencari jalan keluar secara damai-damai. Betapa pun, Mantingan tidak akan membiarkan mereka mencuri senjata pusaka di Lembah Balian begitu saja.
Dirinya mendarat sempurna di atas tanah ketika beberapa wanita wayang sedang berjalan di dekatnya. Untuk alasan yang sungguh tidak Mantingan ketahui, mereka tertawa-tawa kecil sambil memandanginya.
“Tunggu sebentar!” Mantingan menahan mereka dengan setengah membentak.
Wanita-wanita itu menghentikan langkah. Namun, mereka sama sekali tidak terlihat takut saat dibentak seperti itu. Justru tawaan mereka semakin menjadi-jadi.
“Ada sesuatukah yang ingin dikau tanyakan, wahai lelaki yang bernama Mantingan?” Salah seorang dari mereka berkata setelah berhasil menahan tawanya.
“Di mana Kartika?”
“Oh, kakak kami ... dia ada di pedati yang berwarna merah.”
Mantingan mematung sejenak di tempatnya. Bagaimanakah tidak begitu? Semula ia menyangka bahwa kedatangannya akan disambut oleh lesatan jarum-jarum beracun dan dedaunan terbang yang ketajamannya telah melebihi ketajaman pedang. Dirinya sungguh tidak mengira bahwa kedatangannya justru disambut dengan tawaan. Dugaannya sama sekali salah.
Namun, pada akhirnya Mantingan pergi dari sana setelah perempuan-perempuan itu pergi meninggalkannya pula dengan iringan suara tawa geli. Mantingan tidak sempat memikirkan penyebab mengapa mereka menertawainya seperti itu. Saat ini, yang dipikirkannya hanyalah untuk menemui Kartika barang secepat mungkin. Ia baru teringat pula bahwa Munding Caraka, kerbaunya, belum ditemukan sampai sekarang. Kecemasan Mantingan sungguh berlipat ganda.
Setelah beberapa saat berkeliling dengan berkelebat, Mantingan menemukan pedati berwarna merah di dekat pintu masuk ke Lembah Balian. Di antara semua pedati yang ada di rombongan penari wayang itu, pedati ini menjadi satu-satunya yang berwarna merah, dan agaknya memang sengaja diwarnai seperti itu agar seluruh penari wayang dapat dengan mudah menemukan Kartika.
Mantingan berdiri di hadapan pedati dengan pedang terbuka yang masih tergenggam erat di tangan kanannya. Di dalam bilik pedati itu, Kartika menoleh ke arahnya.
“Mantingan, adakah sesuatu yang dikau butuhkan?” Wanita itu bertanya tenang.
“Daku ingin meminta dikau dan seluruh rombongan untuk membatalkan niat kalian mencuri senjata pusaka di Lembah Balian.” Mantingan berkata tajam.
Kartika tampak menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum melangkah keluar dari dalam pedati itu. Tepat ketika kakinya menginjak tanah, Kartika kembali berkata, “Kuharap dikau bersedia membicarakan ini secara damai. Ikutlah denganku.”
Mantingan menganggukkan kepalanya. Memanglah perundingan damai yang diharapkannya, ketimbang mesti mengayunkan pedang yang selalu saja berujung pada pertumpahan darah.
__ADS_1