Sang Musafir

Sang Musafir
Kelinci Hutan yang Menggemaskan


__ADS_3

“Daging rusa sepertinya lezat untuk makan malam, Mantingan.”


BIDADARI SUNGAI Utara memandangi rusa yang lari menjauh. Gadis itu menghela napas dan menggeleng pelan.


“Bukankah kita masih memiliki dendeng dari Nenek Genih?”


“Dendeng adalah daging kering. Rasa dagingnya kurang. Bayangkan saja jika kau berhasil menangkap seekor rusa saja, kita akan makan daging segar yang empuk lagi manis. Tidak seperti dendeng yang keras, hambar, bahkan terasa pahit.”


Mantingan tersenyum canggung, andai saja dirinya dapat memasak dendeng dengan benar maka mungkin saja dendeng itu akan jadi empuk, segar, lagi manis.


“Saudari Sungai, aku tidak suka memburu hewan di hutan yang bukan hewan ternak. Tetapi jika kau menginginkan daging segar, aku bisa mencarikan kelinci hutan, janganlah rusa.”


“Jangan kelinci! Apa kau sudah gila?!”


Reaksi dari Bidadari Sungai Utara itu membuat Mantingan mengernyitkan dahinya. Memangnya, apa yang salah dengan kelinci hutan? Bukankah daging kelinci sama manis dan gurihnya seperti daging rusa?


Tatapan Mantingan membuat Bidadari Sungai Utara mengemukakan alasannya, “Maaf jika kau tersinggung, tetapi seharusnya kau tahu bahwa hewan menggemaskan seperti kelinci bukanlah hewan yang pantas dimakan.”


Mendengar hal itu dahi Mantingan semakin berkerut. Kebingungan. Sejak kapan kelinci hutan adalah hewan yang menggemaskan? Belum pernahkah Bidadari Sungai Utara dikejar-kejar kelinci hutan yang ganas? Mantingan pernah merasakannya, di mana ia berlari kencang dikejar kelinci hutan besar yang entah lapar atau hanya jahil. Sungguh itu mengerikan.


“Bagaimana bisa kelinci hutan kaukata menggemaskan?”


“Memangnya rusa hutan terlihat menggemaskan bagimu? Mengapa kau tidak mau memburunya?”


Mantingan menghela napas panjang. “Kalau begitu, tidak ada hewan yang akan kita buru.”


“Ya, tapi kau harus membelikanku banyak daging ketika mampir di kedai makan.”


Mantingan tersenyum kecut. Tidak ada pilihan lain baginya jikalau Bidadari Sungai Utara sudah berkata seperti itu. Ah, bukan, lebih tepatnya adalah jikalau wanita sudah berkata seperti itu.

__ADS_1


***


PETIR MENYAMBAR. Hujan yang dikhawatirkan akhirnya tiba pula. Dengan kilatan dan gemuruh petir yang datang dan pergi. Mantingan membenarkan posisi caping di kepalanya, sedangkan Bidadari Sungai Utara mengangkat daun pisang lebar untuk melindungi tubuhnya dari air hujan.


Rindangnya pepohonan sedikit membantu dengan menghalau air hujan yang turun bagai ribuan panah di medan pertempuran itu. Mantingan hanya bisa menghela napas saat pakaiannya mulai basah, tidak bisa dihindari. Sedangkan Bidadari Sungai Utara menggigil ngeri ketika kilat petir menerangi langit untuk sesaat, orang akan melihatnya menggigil karena dinginnya hujan, padahal dinginnya hujan tidak mampu mengalahkan jubah pemberian Kenanga yang dipakai Bidadari Sungai Utara.


Beruntungnya, saat kumpulan awan hitam-kelabu itu sampai di sana, angin mereda. Di sanalah mega-mega hitam menurunkan seluruh airnya, sedang di tempat lain ia hanya berlalu membawa angin kencang tanpa banyak menumpahkan rintik air. Meski begitu, sesekali petir tetap menyambar.


Mantingan masih berjalan sedikit di depan Bidadari Sungai Utara. Harus menggunakan sedikit ilmu meringankan tubuh agar tidak tergelincir di tanah atau batu yang basah. Namun Bidadari Sungai Utara masih tetap tergelincir beberapa kali walaupun telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh.


Gadis itu mengatakan bahwa dirinya tidak terbiasa menggunakan ilmu meringankan tubuh di saat-saat seperti ini, ia hanya menggunakannya di latihan tanding saja, dan memang ilmu meringankan tubuh yang ia kuasai dikhususkan untuk menghadapi pertarungan.


Sudah berkali-kali Bidadari Sungai Utara terpeleset dan terjatuh, berkali-kali pula gadis itu mengaduh atau menjerit kesakitan, sekaligus berkali-kali pula Mantingan membantunya untuk kembali bangkit. Seperti yang baru saja terjadi.


“Maaf, aku terlalu merepotkanmu.” Bidadari Sungai Utara tertawa canggung saat Mantingan menarik dua tangannya.


“Tidak apa, ini pasti sakit.” Mantingan memberi senyum di bawah capingnya.


“Kalau kita bergerak dengan kecepatan tinggi dengan melenting-lenting di atas pepohonan, apakah itu tidak lebih baik bagimu?” Mantingan berpikir bahwa sebaiknya mereka bergerak di atas ketimbang bergerak di bawah yang medan jalannya licin. Walau itu sangat menguras tenaga, setidaknya Bidadari Sungai Utara tidak perlu jatuh-jatuh lagi.


Bidadari Sungai Utara menggeleng. “Aku memiliki pengalaman buruk melenting-lenting saat hujan tengah turun. Saat itu, aku jatuh dan tidak bisa bangkit hampir dua pekan lamanya.”


Mantingan tersenyum ngeri. Dua pekan tidak bisa bangkit? Itu bagai sangat mengerikan baginya yang suka berpetualang.


“Tapi setidaknya saat aku berbaring di atas ranjang, kekasihku terus menjaga aku di samping. Kalau kau mau menjagaku saat aku sakit, maka marilah kita melenting-lenting di atas pohon.” Bidadari Sungai Utara menunjukkan senyum manisnya.


Mantingan semakin tersenyum ngeri, lantas ia menggelengkan kepala berkali-kali. Pikiran yang buruk, perjalanan mereka bisa tersendat dan bahaya besar bisa menghampiri mereka jikalau Bidadari Sungai Utara terbaring tanpa bisa bangkit dua pekan lamanya.


“Ada baiknya kita menunggu hujan reda saja, tapi sebelum itu aku akan mencari gua atau pohon besar yang rindang.” Mantingan berbalik, hendak melesat pergi, namun Bidadari Sungai Utara meraih lengannya.

__ADS_1


“Kau mau meninggalkanku ... lagi?” katanya.


“Hanya sebentar.” Tanpa banyak bicara Mantingan mengeluarkan selembar lontar, menekuknya hingga bercahaya. Mantingan menyempatkan waktu untuk memanterai beberapa Lontar Sihir di rumah Nenek Genih, termasuk di antaranya adalah Lontar Cahaya. “Saudari pegang ini, setidaknya suasana tidak akan terlalu menakutkan. Jikalau ada sesuatu, lemparkan ke atas dengan tenaga dalam. Lontar ini akan meledak dan memancarkan cahaya terang kalau dialirkan banyak tenaga dalam. Pastikan lontar ini sudah berada di atas sebelum meledak, yang itu berarti Saudari harus melemparnya sesaat setelah dialiri tenaga dalam.”


Mantingan menjelaskannya dengan jelas dan dengan kalimat yang seperlunya, sehingga Bidadari Sungai Utara hanya bisa mengangguk seperti anak kecil yang patuh pada ibunya.


“Sekarang aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik.” Mantingan menunjukkan senyum perpisahan sebelum tubuhnya menghilang dari pandangan. Begitu cepatnya Mantingan menghilang, sehingga Bidadari Sungai Utara terlambat melihat ke arah mana pemuda itu pergi.


***


MANTINGAN KEMBALI. Berbarengan dengan petir yang menyambar, sehingga kehadirannya membuat Bidadari Sungai Utara berteriak ketakutan. Mantingan menatap gadis itu dengan bingung, sedang yang ditatap itu balik menatap sosok Mantingan.


“Ah, ternyata itu kau Mantingan! Aku kira siapa.” Bidadari Sungai Utara mengelus dadanya.


Mantingan berdeham beberapa kali sebelum berkata, “Aku sudah menemukan tempat teduh di sekitar sini, ayo ikuti aku pelan-pelan.”


Kilat sekali lagi menyambar, hujan semakin deras. Daun pisang yang dipegang Bidadari Sungai Utara sebagai payung tidak lagi mampu menahan gempuran air, beruntungnya jubah pemberian Kenanga kedap air. Namun, tetap saja bagian yang harus dilindungi adalah kepala, sedang kepala Bidadari Sungai Utara sama sekali tidak terlindungi.


“Capingku cukup lebar untuk Saudari.” Mantingan melepas dan mengulurkan caping itu pada Bidadari Sungai Utara.


“Bagaimana dengan dirimu sendiri?”


“Aku sudah biasa dengan hujan.” Mantingan tetap menjulurkan capingnya hingga Bidadari Sungai Utara dengan berat hati menerimanya.


“Akan kubantu Saudari berjalan, hujan deras membuat tanah semakin licin.”


___


catatan:

__ADS_1


Maaf kemarin tidak update, hujan badai melanda Kota Depok. Mengakibatkan pohon-pohon besar rubuh menimpa rumah dan jalanan. Di tempatku sendiri hampir seluruh pohon pisang ambruk. Pohon buluh yang tidak kokoh pun patah jatuh, menimpa tanah. Lampu padam, saat itulah baterai habis.


__ADS_2