
Hingga dari dalam hutan yang di sebelah kiri mereka, muncullah sesosok lelaki berjubah kuning panjang yang melangkah dengan cepatnya. Wajahnya tertutup tudung lebar dari jubahnya itu, sehingga jelas kehadirannya itu mengherankan seluruh pengungsi yang tersisa. Sungguh tiada dapat mereka kenali.
Namun siapa pun bisa menebak, bahwa kehadirannya itu pastilah berkaitan dengan cahaya terang di langit yang sekarang mulai memudar sinarnya.
Hingga sampailah lelaki itu membuka tudungnya. Wajahnya terbias matahari senjakala yang kejinggaan. Dara membeliakkan mata sebab merasa telah mengenalinya.
“Pendekar Lontar Bercahaya!”
***
MUSUH-musuh berkelebatan mendaki bangunan penginapan ketika Mantingan bersama yang lainnya menerjunkan diri dari atap penginapan, sehingga sangat mudah baginya untuk membabat pendekar-pendekar itu dan mengirimnya kembali jatuh ke tanah.
Senjakala semakin meremang. Kini semuanya tampak menjadi bayangan hitam berlatarkan langit senjakala yang kejinggaan. Suatu waktu yang sebenarnya amat sangat pantang bagi pendekar melakukan sebuah pertarungan, apalagi pertempuran besar!
Tetapi pertempuran semacam ini memang telah tidak dapat dihentikan lagi. Sekalipun hari telah menjadi senjakala, Mantingan tidak memiliki pilihan lain selain untuk menghadapi mereka dengan segenap kemampuannya.
Kini tanpa Lontar Sihir, Mantingan masih bisa mengandalkan keahliannya dalam memainkan seni berpedang. Maka dirapalkannya Jurus Tarian Seribu Pedang yang amat cocok untuk menghadapi banyak lawan.
Di bawah cahaya keremangan, pedang Mantingan seolah berganda-ganda menjadi seribu bagian. Tentu saja Mantingan tidak benar-benar memperbanyak pedangnya menjadi seribu, melainkan hanya memperbanyak bayangannya saja.
Ia menggerakkan sebatang pedangnya dengan kecepatan yang teramat sangat tinggi, sehingga bayangan pedangnya itu tampak pecah menjadi seribu bayang.
Jurus Tarian Seribu Pedang mampu mengecoh penglihatan musuh. Yang seolah tampak sedang menghadapi seribu pedang, sebenarnyalah hanya menghadapi sebatang pedang saja dengan arah serangan yang tiada akan diduga-duga.
Dalam waktu yang singkat, Mantingan berhasil membunuh puluhan musuh yang berkelebatan di udara, sebelum akhirnya menjejakkan kakinya di atas tanah dengan begitu ringannya bagai sehelai kapas kering terbuai angin.
Begitu melihat Mantingan telah tiba di atas tanah, pendekar-pendekar musuh bukannya mundur melainkan justru menyerbunya bagaikan sekumpulan lebah marah karena telah dirusak sarangnya.
__ADS_1
Mantingan kembali memainkan Jurus Tarian Seribu Pedang dan dengan sangat mudah dan cepat membunuh seluruh pendekar musuh dalam jarak satu tombak di sekitarnya.
Berbeda dengan pertarungannya melawan empat orang pendekar yang mengganggu Bidadari Sungai Utara di lantai dasar penginapan ketika itu, kali ini Mantingan tidak membutuhkan banyak tenaga dan waktu untuk melayangkan ratusan nyawa para pendekar musuh.
Pedang Kiai Kedai ada di genggamannya, ketujuh cakranya terisi penuh oleh tenaga dalam, ditambah pula dengan Jurus Tarian Seribu Pedang yang amat sangat mematikan.
Andaikata tidak ada pendekar-pendekar kawan di sekitarnya yang juga sedang bertempur, maka Mantingan tiada segan mengeluarkan nafsu pembunuhnya yang dahsyat itu. Jelas saja dengan nafsu pembunuh tersebut, ia dapat membabat habis musuh-musuhnya seperti membabat semak belukar saja.
Mantingan terus melesak maju secara perlahan-lahan. Tidak mudah baginya untuk bergerak leluasa sebab pasukan musuh menyerangnya dari segala macam arah.
Kendati ia pernah menghadapi saat-saat seperti ini ketika bertempur melawan Perkumpulan Pengemis Laut sendirian, tetapi kali ini yang dihadapinya adalah pendekar-pendekar dari jaringan bawah tanah yang tentunya tidak segan-segan mengorbankan dirinya.
Para pendekar dari Perkumpulan Pengemis Laut yang bergolongan hitam itu masih memikirkan masa depannya, maka secara serta merta membuat mereka ragu mengambil langkah berani dalam pertempuran, berbanding terbalik dengan pendekar-pendekar dari Kelompok Pedang Intan yang merupakan jaringan bawah tanah. Mereka sama sekali tidak memikirkan masa depan di telaga persilatan maupun dunia awam, sebab semua harapan masa depan mereka tertumpu pada kelompok mereka. Apa pun jua akan mereka lakukan, berikan, dan korbankan demi kelompoknya. Jika mereka hanya diminta untuk mengambil langkah berani dalam pertempuran, maka dengan senang hati mereka akan mengambil langkah gila.
Keadaan itulah yang Mantingan hadapi saat ini. Musuh-musuhnya sungguhan seperti orang gila yang dapat menguasai tenaga dalam.
Seorang pendekar melayang ke arahnya dengan mengangkat pedang setinggi-tingginya. Mantingan langsung bersiap untuk membunuhnya dengan satu tusukan mematikan tepat di jantung.
Akan tetapi tiada diduganya bahwa sebilah pedang menembus tubuh pendekar itu dari belakang. Pedang itu terus melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Mantingan.
Mata Mantingan bergerak cepat untuk melihat sekelilingnya dan menyusun rencana dalam waktu yang teramat sangat singkat. Ia menemukan bahwa pedang yang sedang meluncur ke arahnya itu benar-benar tidak dapat dihindari, sebab pendekar yang telah tertembus pedang itu masih saja melayang ke arahnya yang dapat menyerang hampir ke segala tempat di sekitarnya. Mantingan harus menangkisnya.
Akan tetapi jikalau pedang itu ditangkis, boleh jadi ia tidak memiliki waktu untuk menangkis serangan dari pendekar yang berada tepat di belakang pedang itu.
Mantingan tidak memiliki waktu lebih banyak lagi untuk berpikir. Pedang yang melesat itu ditangkisnya secepat mungkin sebelum secepat mungkin pula ia melentingkan tubuh ke belakang.
Pendekar itu terus mengejar Mantingan dan mengayunkan pedang dengan segenap sisa tenaga dalamnya. Beruntunglah pedang itu hanya membabat udara kosong, sekira-kiranya dalam jarak satu jengkal saja dari dada Mantingan. Serangan tersebut merupakan upaya terakhirnya sebelum melayang jatuh tanpa nyawa.
__ADS_1
Mantingan mengira bahwa hal itu hanya terjadi satu kali saja dan berkemungkinan merupakan sesuatu yang tidak disengaja.
Sebab memang sulit masuk di akal jika salah seorang pendekar dari jaringan bawah mengorbankan temannya sendiri yang biasanya dirasa bagaikan lebih erat daripada saudara kandung, untuk menyerang musuh secara sembunyi-sembunyi. Dalam dunia persilatan, tindakan seperti itu dinilai sebagai langkah seorang pengecut. Namun nyatanya, serangan seperti itu terjadi kembali.
Bahkan kali ini, Mantingan menghadapi dua serangan seperti itu sekaligus dalam satu waktu. Jika dirinya menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya, maka ia hanya akan mampu menangkis salah satu serangan saja dan mati seketika pada serangan kedua.
Betapa maut amat dekat dengannya saat ini!
Ketika dua pedang intan meluncur ke arahnya, Mantingan kembali mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat untuk membuat suatu gerakan menangkis.
Namun tidak seperti sebelumnya, ia tidak membuang dua pedang itu sembarangan, melainkan memutarbalikkannya kepada dua pendekar yang melayang di belakang pedang itu. Dengan telak mengenai dada mereka masing-masing.
Setelah dua kali tertembus pedang, dua pendekar itu tidak lagi mampu melanjutkan perjalanannya untuk membunuh Mantingan. Nyawa mereka keburu melayang sebelum bisa mencapai tubuh pemuda itu.
Melihat apa yang baru saja diperbuat Mantingan, pendekar-pendekar musuh menjadi masam wajahnya. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa Mantingan dapat melakukan hal seperti itu.
Memutarbalikkan senjata seberat pedang bukanlah suatu pekerjaan mudah. Biasanya, hanya pendekar ahli berusia parobaya yang dapat melakukan hal semacam itu. Sedangkan mereka jelas-jelas melihat bahwa Mantingan masih berusia sangat muda.
Bahkan di antaranya menduga bahwa Mantingan sebenarnya merupakan pendekar tua yang melakoni ilmu hitam untuk memasukkan jiwanya ke dalam tubuh manusia muda.
Mantingan tidak akan menunggu sampai mereka menghabiskan keheranannya, ia kembali bergerak menyerang. Senjakala semakin meremang, dan pertempuran sebaiknya diselesaikan secepat mungkin sebelum keremangan itu mengecohkan mata.
Setelah merasa bahwa dirinya telah berada cukup jauh dari pasukan kawan, Mantingan segera melepaskan nafsu pembunuhnya. Seketika udara menjadi dingin dan memberatkan napas siapa pun yang merasakannya.
Pendekar-pendekar di sekitaran Mantingan serentak membungkuk meskipun itu di luar kehendak mereka sama sekali. Sebuah batu besar seolah menimpa punggung mereka.
Dan yang berada paling dekat dengan Mantingan mendapatkan perasaan yang jauh lebih buruk lagi. Tubuh mereka bergetar hebat. Pandangan mata hanya berani diarahkan ke tanah. Mereka mengumpat keras, sebab merasakan sesosok makhluk besar yang buas sedang menatap mereka tanpa busana.
__ADS_1