
“Bukankah aku telah berkata tadi bahwa aku ingin mati di tanganmu dan bukannya di ujung pedang dari istana yang jelas-jelas bukan milikmu?”
CHITRA Anggini mengibaskan lengannya sambil tertawa pelan. Jika dirinya memilih untuk dibunuh oleh Mantingan, pastilah sudah memperkirakan bahwa maut kematian berada tepat di depan matanya, tetapi bagaimanakah sikapnya masih sebegitu santai hingga bahkan dapat tertawa dengan sangat ringan? Apa yang salah dengan isi kepala gadis itu?
Pada akhirnya, Mantingan memilih untuk tidak membalas dengan perkataan apa pun. Dirinya sadar bahwa keinginan Chitra Anggini itu akan sulit diubah, tetapi dirinya pun pula sadar kekuatan yang dimiliknya saat ini jauh melampaui gadis itu.
Jangankan untuk melumpuhkan tanpa membunuhnya, bahkan untuk melumpuhkan tanpa menyakitinya pun adalah sesuatu yang mudah bagi Mantingan. Jadi sebenarnya, persoalan ini tidak patut dipermasalahkan sama sekali.
Kiai Guru Kedai pernah berkata kepadanya:
“Berhati-hatilah dengan persoalan yang tampak besar dan berat tetapi sebenarnyalah kecil dan ringan. Jika tidak, sangat mungkin bila dikau hanya berjalan memutar tergesa-gesa tanpa pernah menemukan jalan keluar.”
Setelah seluruh tamu perhelatan telah memilih senjata mereka masing-masing, dengan sebagiannya memilih untuk bertarung dengan tangan kosong, petugas perhelatan mengarahkan mereka untuk berkumpul di lapangan besar yang juga berada di dalam Halaman Seribu Rumah Istana.
Setiap pasangan berdiri berhadap-hadapan. Matahari baru saja terbit, sehingga bayangan tubuh mereka memanjang di atas rerumputan hijau tipis yang masih berselimutkan embun.
Mantingan dan Chitra Anggini pun begitu rupa. Berdiri tegap saling berhadap-hadapan. Saling menatap tajam langsung pada mata lawannya. Angin dingin membelai mereka dengan begitu lembut, tetapi suasana sangat mencekam!
“Aku tidak akan menahan diri, jadi kuharap kamu juga seperti itu.” Chitra Anggini berkata.
Mantingan hanya tersenyum tanpa membalas. Jika dirinya tidak menahan diri nanti, maka mungkin saja Halaman Seribu Rumah Istana akan hancur dengan beratus-ratus pendekar harus menanggung kematian. Bagaimanakah Mantingan tiada tidak membatasi dirinya sendiri untuk melawan Chitra Anggini yang jelas saja memiliki kemampuan jauh lebih rendah daripadanya?
Mantingan memilih untuk diam dapat dianggap sebagai tindakan yang tepat. Betapa pun jika dirinya berkata dengan seterang-terangnya, bahwa ia akan tetap menahan kekuatan agar tidak melukai Chitra Anggini, bisa jadi perempuan itu akan bertarung dengan segenap kegilaannya agar Mantingan mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya.
Lagi pula, bukankah gadis itu memang sudah gila dengan meminta Mantingan membunuh dirinya?
__ADS_1
“Sebelum pertarungan benar-benar dimulai, kami memberi waktu selama beberapa kepada Tuan dan Puan untuk berbicara dengan pasangannya dan memutuskan yang terbaik.” Suara halus dari perempuan pembawa perhelatan itu muncul kembali.
“Tahukah dirimu mana yang terbaik, Mantingan?” tanya Chitra Anggini kemudian.
Mantingan mengangguk dan memutuskan untuk menjawab, “Ya, aku tahu.”
Mereka saling bertatap-tatapan untuk sesaat. Mencoba mencari arti dari tatapan satu sama lain. Begitu rupa, begitu tajam, dan begitu lekat, tetapi tidak begitu lengah sehingga mereka dapat langsung bergerak ketika suara canang menggema kesunyian!
Chitra Anggini menyerang dengan sangat bersemangat. Tanpa ragu sama sekali. Hampir-hampir terlihat gegabah. Telapak tangannya menjulur ke depan, menyasar tepat menuju dada Mantingan yang terbuka pertahanannya.
Namun, Mantingan pula tidak akan membiarkan dirinya terluka begitu saja akibat serangan Chitra Anggini sekalipun ia tidak pula berniat melukai perempuan itu. Maka begitulah kemudian Mantingan berkelebat ke belakang dengan kecepatan yang mengimbangi gerak Chitra Anggini.
Dirinya menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, sehingga gerakan seluruh pendekar yang ada di sekitarnya dapat terpantau dengan teramat baik meski tidak melihatnya langsung menggunakan mata. Dengan begitu, dirinya dapat bergerak mundur tanpa khawatir akan menabrak siapa pun!
Mantingan terus bergerak mundur dan hanya membawa Chitra Anggini berputar-putar di Halaman Seribu Rumah Istana. Dirinya tidak membalas dengan serangan, melainkan hanya senyuman tipis belaka. Bahkan tangannya masih tersilang di belakang punggung tanpa pernah bergerak selama pertarungan itu berlangsung!
Chitra Anggini yang agaknya mulai kesal itu menyampaikan pesan dalam tatapan matanya selagi kedua tangannya masih gencar mengirim serangan, ‘Keluarkanlah kekuatanmu! Seranglah diriku!’
Mantingan tidak membalas apa pun. Pandangan matanya tidak dapat diartikan menjadi apa pun pula, hanya menyimpan ketiadaan tetapi tidak jua dapat dikatakan kosong!
Dengan kekesalan yang semakin bertambah, Chitra Anggini kembali berkata dalam tatapan matanya, ‘Seranglah diriku segera. Mereka memperhatikan kita!’
Maka ketika itu pula, Mantingan mulai menggerakkan tangannya yang sedari tadi diam saja. Namun betapa pun, ia hanya menggerakkan sebelah tangannya untuk meladeni serangan Chitra Anggini yang datang bertubi-tubi. Bagi dirinya, itu lebih dari cukup.
Setelah Mantingan memutuskan untuk balas menyerang dan menangkis, maka dalam waktu singkat telah berlangsung lebih dari seratus pertukaran serangan di antara keduanya. Itu telah cukup untuk menyatakan diri tidak akan membunuh pasangannya dan menolak jabatan penting yang ditawarkan istana.
__ADS_1
Mantingan segera memberi tanda pada Chitra Anggini untuk mencukupkan serangannya, tetapi gadis itu tidak juga berhenti. Justru saat itulah serangannya semakin menjadi-jadi!
Mantingan segera melempar tatapan mata yang mengandung pesan, ‘Cukuplah! Akut tidak akan membunuhmu.’
Chitra Anggini membalas dalam tatapannya pula, ‘Kalau begitu, biarlah aku yang membunuhmu!’
Tepat setelah menyampaikan balasannya, Chitra Anggini mengirim sebuah serangan pamungkas yang menyasar langsung ke arah dada Mantingan dengan kecepatan yang berkali-kali lipat lebih tinggi ketimbang sebelumnya!
Jika serangan itu tidak ditangkis atau dihindari, maka telah menjadi ketetapan bila seisi dada pemuda itu hancur semua!
Mantingan segera menggerakkan satu tangannya yang tersisa, yakni tangan kirinya, untuk membantu lengan kanannya menangkis serangan maut itu!
Saat serangan Chitra Anggini dan tangkisan Mantingan bertemu, sebuah suara besar yang mirip seperti ledakan muncul memekakkan telinga dengan dahsyatnya!
Kedua muda-mudi itu saling terempas mundur sejauh beberapa depa ke belakang tepat setelah benturan. Gelombang kejut yang dihasilkan oleh pertukaran serangan itu masih menyisakan angin segar yang memainkan rambut mereka.
Mantingan memincingkan mata dengan kedua tangannya bergemetaran. Pertukaran serangan semacam apakah kiranya yang baru saja terjadi? Ia sama sekali tidak menduga bahwa Chitra Anggini memiliki kekuatan sebesar itu! Sungguh sepasang tangannya terasa kebas!
“Sepertinya aku telah meremehkanmu, Chitra.” Mantingan tersenyum tipis. “Tetapi cukupkanlah sampai di sini. Kita telah mencapai pertukaran serangan keseratus. Aku tidak akan membunuhmu.”
Chitra Anggini kembali memasang kuda-kuda, seolah tidak mengindahkan permintaan tersebut. Namun sebelum dirinya benar-benar bergerak menyerang, terlebih dahulu dia bertanya, “Bukankah yang terbaik bagimu adalah membunuhku?”
“Tidak. Jika aku membunuhmu, maka dapat saja akibat yang ditimbulkan justru buruk. Hal itu mungkin tidak selaras dengan perencanaan yang telah disusun perempuan hitam itu.”
Chitra Anggini seketika diam tak bergerak. Dari tampang wajahnya yang mengerut, agaknya gadis itu telah mendapati keraguan dalam benaknya untuk menyerang Mantingan. Bukankah hal tersebut hanya akan berujung pada kesia-siaan belaka?
__ADS_1