
“Apa setiap acara lelang memang seramai ini, Kak Maman?” Kina bertanya sambil menarik lengan jubah Mantingan. Mantingan mengernyitkan dahi sebab melihat raut wajah anak itu yang menyimpan sedikit rasa takut.
“Tidak selalu, Kina. Bahkan ada lelang yang hanya dihadiri satu-dua orang karena tidak menarik.” Mantingan menjawab, lalu balik bertanya, “apakah ada sesuatu hal yang engkau khawatirkan, Kina?”
***
KINA mengangkat bahunya sambil memandang ke sekitar. “Dalam keramaian seperti ini, kita tidak benar-benar tahu apakah semua orang berniat baik dengan kita atau tidak. Kita tidak tahu apakah jika salah satu dari mereka ternyata adalah seorang pendekar kuat yang menyimpan pisau-pisau beracun. Bisa saja keramaian yang tampak menggembirakan ini menyimpan marabahaya yang besar.”
Mendengar itu, Mantingan tersenyum sedih. Bukan seharusnya anak seusia Kina begitu memikirkan ancaman bahaya di tempat yang semestinya membuat dia senang.
“Kina sama sekali tidak perlu memikirkan hal itu.” Mantingan menggeleng pelan. “Jikalau marabahaya datang, diriku akan melindungi kalian semua, termasuk Kina.”
“Tetapi, bagaimanakah jika Kak Maman yang justru celaka karena melindungi kami?”
Menghadapi pertanyaan seperti itu, senyum Mantingan semakin tampak sedih. Namun dengan rasa percaya diri, ia menjawab, “Ah, Kina terlalu meragukanku. Pernahkah aku kalah dalam pertarungan?”
Kina tampak menahan tawa. “Kak Maman sombong sekali.”
“He? Bukankah itu memang kenyataannya?” Mantingan melebarkan senyum.
“Baiklah, Kina menyerah. Kak Maman memang yang terhebat di antara semua pendekar. Bagaimana bisa Kina menjadi khawatir selama masih berada di dekat Kak Maman?”
“Engkau kurang dekat denganku. Kemarilah, biar aku bisa lebih melindungimu.”
“Tidak mau!” Kina memeluk lengan Bidadari Sungai Utara sambil menjulurkan lidah. “Kakak Sasmita juga bisa melindungiku. Dan lagi pula Kak Sasmita beraroma wangi, sedangkan Kak Maman beraroma seperti kerbau yang belum pernah mandi seumur hidupnya!”
Mantingan terbatuk-batuk akibat perkataan itu. Ia sama sekali tidak menduga sebelumnya, bahwa Kina dapat pula berkata seperti itu.
“Wah, Kina. Itu merupakan sebuah pujian untukku.” Bidadari Sungai Utara mengelus kepala Kina dengan tatapan mengejek ke arah Mantingan.
Pemuda itu tersenyum pahit. Mungkin mulai hari esok, ia harus lebih sering mandi.
__ADS_1
***
“Mengapakah kita harus berjalan-jalan lagi, Kakanda? Daku ingin pulang, kitab-kitab ini sungguh menggoda untuk kubaca segera.”
KANA mengeluh. Setelah berhasil membujuk Mantingan untuk membelikannya dua kitab sastra, dia menjadi sangat tidak sabar untuk kembali ke penginapan dan membacanya. Namun, Mantingan menolak untuk permintaannya kali ini.
“Engkau telah mendapatkan dua karya sastra, tiga kitab ilmu silat, dan seperangkat pisau lempar, sedangkan Kina masih belum mendapatkan apa pun. Kita akan tetap mengunjungi lelang-lelang kecil atau toko-toko yang masih buka. Jika engkau ingin kembali, maka pergilah sendirian.”
Kana memanyunkan bibir. Setelah peristiwa penyerangan pelabuhan tujuh hari yang lalu, anak itu tidak berani pergi terlalu jauh dari Mantingan. Hanya dengan bersama pemuda itu, Kana merasa aman.
“Mana berani daku.” Kana memutuskan untuk berterus terang, sebab akan amat sangat sia-sia jika dirinya mencoba berbohong di depan Mantingan. “Tetapi mungkin saja diriku akan tertarik pada beberapa kudapan.”
“Engkau bisa membelinya dengan uangmu sendiri, bukan?”
Kana kembali tersenyum pahit. Memang benar bahwa untuk sekadar kudapan yang hanya berharga beberapa keping perak, dia masih dapat membelinya.
Mantingan justru tersenyum samar. Dirinya mengatakan itu sebab telah mengetahui bahwa Kana membawa beberapa keping emas di dalam kantung pakaiannya.
“Carilah sesuatu, Kina. Engkau pasti akan menjumpai suatu hal yang setidak-tidaknya mampu menarik sedikit perhatianmu.”
Kina menggeleng. “Kina juga tidak mau terlalu merepotkan Kakak Maman.”
“Apalah yang kaukatakan, Adinda.” Kana menyergah. “Lihatlah diriku yang sudah menghabiskan uang Kakanda sebanyak tiga ratus keping emas, tetapi dirinya sama sekali tidak terlihat kerepotan.”
Mantingan menggelengkan kepalanya pelan. Tiga ratus keping emas bukanlah sesuatu yang kecil. Andaikata tidak ada keuntungan besar yang ia raih pelelangan Lontar Sihir Cahaya, sudah sangat mungkin bahwa dirinya akan sangat kerepotan dengan permintaan Kana.
Dari pelelangan 1.000 Lontar Sihir Cahaya, Mantingan memperoleh keuntungan sembilan Batu yang setara dengan 9.000 keping emas. Meskipun seharusnya Mantingan hanya bisa mendapatkan keuntungan setinggi delapan Batu saja, akan tetapi Dara memberikannya hadiah satu Batu lagi sebab harga Lontar Sihir Cahaya melonjak hingga dua kali lipat saat dilelang.
Ketika semua Lontar Sihir Cahaya buatannya habis terlelang, Mantingan hampir tidak percaya akan hal itu.
“Nah, coba kita berkunjung ke toko itu!”
__ADS_1
Kina menunjuk sebuah toko di kejauhan sana dengan semangat. Mantingan menyipitkan mata untuk dapat melihat toko itu lebih jelas lagi.
“Toko dongeng?” Dahi Mantingan berkerut heran.
“Ya!” Kina menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Akan lebih mengasyikkan jika Kakak Sasmita membacakan kisah dongeng malam-malam begini!” Kina lalu menatap Bidadari Sungai Utara dengan pandangan berbinar-binar. “Apakah Kak Sasmita bersudi diri membacakan Kina dongeng baru?”
Bidadari Sungai Utara tertawa pelan sebelum menganggukkan kepalanya. “Marilah kita berkunjung ke toko itu, Mantingan.”
Mantingan pula menganggukkan kepalanya. Dari tengah jalanan, mereka bergerak menepi. Orang-orang sampai berhenti berjalan barang sejenak guna sekadar membuka jalan untuk mereka.
Seorang wanita tua menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah di bibir keriputnya. “Wahai, Anak-Anakku. Hendak melihat-lihat?”
Mantingan tersenyum dan menjawab, “Benar, Ibu. Dongeng apakah yang kiranya paling bagus di sini?”
Sebelum menjawab, sang wanita tua melirik Kina tanpa melunturkan senyumannya barang sedikitpun. “Anak cantik, ceritakan kepadaku dongeng seperti apakah yang membuatmu tidur dengan nyenyak dan gembira?”
“Dongeng tentang pangeran yang mencari tumbuhan obat untuk menyelamatkan putri yang sakit-sakitan, Nek. Kina sangat suka dengan dongeng semacam itu.” Kina menjawab dengan sangat cepat, seolah telah menyiapkan jawaban itu jauh-jauh hari.
Sang nenek tertawa geli. “Hihihihi, kisah tentang percintaan, ya?”
“Tidak, bukan seperti itu yang Kina mau. Jikalau memang harus percintaan, maka tokoh di dongeng itu akan menikah dan bahagia buat selama-lamanya pada akhir kisah!”
“Ah, mana ada jika bahagia buat selamanya. Tetapi wanita tua ini memiliki kisah tentang seorang pengembara muda yang mencari sebuah bunga langka untuk diberikannya kepada seorang ratu yang telah menugaskannya. Apakah Anak mau cerita seperti itu?”
Mantingan membeliakkan matanya. Sejuta kata ingin dikeluarkannya, tetapi mengapa bibirnya terasa dijepit?
“Tetapi bagaimanakah akhir kisahnya? Apakah mereka akan menikah dan bahagia selamanya?”
“Sayang sekali, akhir kisahnya belum kutulis. Dan bukankah akan amat sangat tidak menyenangkan jika kuberitahu akhir kisahnya?”
Dalam tatapan penuh arti, wanita tua penjual kisah dongeng itu melirik Mantingan yang masih tergugu dalam kebisuan.
__ADS_1