
BAYANGAN yang ternyata merupakan sesosok pria tua itu terengah-engah ketika sampai di dekat mereka.
Mantingan memperhatikan rupa kakek itu dari atas sampai bawah. Dia membawa sebuah kelewang pendek berkilauan. Sebuah kain panjang semacam selendang terlilit di pinggangnya. Pakaian yang dikenakannya tergolong amat ringkas, hanya bercawat saja, tampak sekali bahwa kakek itu begitu terburu-buru untuk datang ke pantai ini. Wajahnya yang telah keriput dimakan usia itu kelihatan merah padam, menunjukkan bahwa dirinya memang sedang amat sangat marah.
“Dasar orang-orang Javadvipa tidak tahu diri! Matilah kalian!”
Tanpa berbasa-basi lebih banyak lagi, pria tua itu mulai mengayunkan kelewangnya dengan membabi-buta sambil terus mengumpat dengan bahasa yang sungguh tidak dapat Mantingan kenali.
Disebabkan oleh karena pria tua itu turut menyerang dirinya pula, Mantingan memilih untuk segera menjauh dari keenam orang lelaki bersenjata kelewang yang nyata-nyatanya merupakan penyamun itu, tentu saja dengan harapan agar pria tua itu berhenti menyerangnya dan memilih untuk menyerang mereka saja.
Namun pada kenyataannya, Mantingan justru menjadi pihak satu-satunya yang diserang. Kakek itu terus mengejarnya dengan ayunan-ayunan kelewang yang berbahaya. Mantingan segera menyadari bahwa dirinya telah membuat perhitungan yang sangat keliru, sebab tentunya kakek itu akan memilih untuk menyerang dirinya yang hanya seorang diri dan dengan cacat tangan, ketimbang harus menyerang enam penyamun haus darah yang bersenjatakan kelewang itu.
Mantingan terus melangkah mundur, tetapi tidak sedikitpun dirinya berkelebat atau barang sekadar menggunakan ilmu meringankan tubuh, sebab betapa mata orang-orang persilatan amatlah jeli untuk dapat melihat seorang pendekar yang meskipun sedang menyamar sebagai orang awam tiada berkepandaian silat sama sekali.
Maka meskipun sedang berada dalam keadaan yang sungguh membahayakan nyawanya, Mantingan berpantang untuk menggunakan ilmu-ilmu persilatan, setidak-tidaknya sampai ia benar-benar mengerti aturan persilatan tak tertulis di Suvarnadvipa.
“Bapak, tenanglah!” Mantingan berkata sambil melangkah mundur. “Sahaya bukan bagian dari penyamun-penyamun itu!”
Pria tua itu berhenti pada akhirnya, akan tetapi matanya masih menyiratkan kewaspadaan tinggi. “Lalu mengapa dikau berbicara seperti orang Javadvipa?”
“Karena memanglah sahaya orang Javadvipa, Bapak.” Mantingan berkata dengan tenang, sebelum berseru keras-keras, “awas di belakang, Bapak!”
Pria tua itu tidak menoleh ke arah belakangnya meski telah diperingati seperti itu, akan tetapi dirinya telah tahu betul bahwa enam penyamun tadi telah menyerangnya dari belakang! Maka bergulinglah dia ke muka secepat dan sejauh mungkin hingga bahkan melewati Mantingan di depannya.
__ADS_1
Mantingan yang telah kepalang tanggung berada dalam kedudukan berbahaya itu segera menarik pedang di pinggangnya untuk menangkis kelewang yang diayunkan musuh. Meskipun sungguh tidak terbiasa memainkan pedang dengan tangan kiri, Mantingan berhasil membuat kelewang lawan itu enyah.
Penyamun lain turut menyerang, yang dengan cukup mudah pula semua serangan ditangkis oleh Mantingan. Enam penyamun itu telah melancarkan serangan berganti-gantian, tetapi tidak satupun serangan tersebut mendarat di tubuh Mantingan.
Enam penyamun itu kemudian memutuskan untuk melompat mundur, mengambil jarak aman dengan Mantingan.
“Dia pendekar?!” Salah seorang penyamun bertanya dengan napas satu-dua.
“Bukan, telah kurasakan tidak ada tenaga dalam sama sekali padanya!” Si ketua membalas dengan cepat. “Dia adalah prajurit terampil! Kita mundur sekarang, kembali lagi kapan-kapan saja! Ayo!”
Enam penyamun itu berlari kecil meninggalkan Mantingan setelah meludah ke pasir pantai. Pria tua di belakang Mantingan berniat mengejar, tetapi Mantingan segera menahannya untuk tidak melakukan hal itu.
“Tidak perlu mengejar mereka, Bapak.” Mantingan menolehkan wajah ke arah orang itu dengan senyum samar. “Jika Bapak mengejar mereka, maka daku sungguh tidak dapat membantu, mengingat dengan keadaanku yang seperti ini.”
“Ah, Anak ini pastinya adalah pemuda yang disebut-sebut oleh cucuku! Maafkanlah diriku yang tidak tahu diri ini langsung menyerangmu tanpa bertanya-tanya terlebih dahulu. Namaku adalah Tapa Balian, orang-orang biasa memanggilku Paman Balian, seorang penempa besi dari Lembah Balian.” Orang tua itu berkata dengan penuh keprihatinan. “Engkau telah menyelamatkan cucuku dan diriku sekalian, datanglah ke rumahku untuk kujamu dengan pantas.”
Mantingan berpikir beberapa saat. Mempertimbangkan beberapa hal. Sebelum menjawab dengan hormat, “Bapak, daku adalah orang asing dari Javadvipa yang terdampar di pantai ini, Bapak bisa memanggilku dengan sebutan Mantingan. Akan menjadi sesuatu yang sangat merepotkan bagi Bapak jikalau harus menampung orang asing seperti diriku.”
“Ah, bukanlah itu menjadi sebuah permasalahan. Justru menjadi kehormatan besar bagiku dapat menyambut orang Javadvipa yang datang dengan ramah ke pulau ini. Marilah, Anak Mantingan, tidak perlu engkau merasa sungkan!”
Orang tua yang menyebut dirinya sebagai Tapa Balian itu melangkah terlebih dahulu, seolah tiada mau menerima penolakan lagi. Mantingan pun tersenyum dan mengikutinya dari belakang.
“Di Suvarnadvipa bagian timur sedang banyak penyamun yang menghuni, Anak,” kata Tapa Balian kembali mengawali pembicaraan mereka. “Sungguh daku merasa malu pada diri sendiri dan dan pada orang-orang di pulau ini. Pendatang baru bukannya disambut dengan bunga dan manisan, justru dengan kelewang dan makian. Maafkanlah, tetapi memang sedang seperti ini keadaannya.”
__ADS_1
“Sungguh diriku merasa sangat tidak enak jikalau Bapak meminta maaf sampai seperti ini. Keadaan di Javadvipa pun hampir tidak ada ubahnya.” Mantingan berkata dengan perasaan yang benar-benar sedang merasa tidak enak.
“Ah, ya. Kudengar Tarumanagara di Javadvipa telah menuntaskan para pemberontak yang mengacau. Disebutkan bahwa seorang yang dijuluki sebagai Mantingan telah menjadi pahlawan besar bagi Tarumanagara setelah sepak terjangnya dalam membasmi pemberontak.” Tapa Balian menoleh pada Mantingan. “Apakah pahlawan itu adalah dirimu?”
Mantingan tersenyum canggung dan menjawab tanpa berbohong, “Cukup banyak nama Mantingan di Javadvipa, Bapak Balian.”
“Jadi, Pahlawan Man itu adalah salah satu orang dari banyaknya orang yang bernama Mantingan?”
Mantingan menganggukkan kepalanya pelan.
“Jikalau begitu, sayang sekali. Sebagai seorang pahlawan, namanya telah begitu umum, belum lagi pastinya akan sangat banyak nama Mantingan ke depannya.” Tapa Balian manggut-manggut. “Memangnya di Javadvipa, apa arti nama Mantingan?”
“Mantingan berati bantingan, Bapak.” Mantingan menjawab.
“Ah, ya. Daku tahu kata itu, orang Javadvipa yang memesan logam kepadaku sering berkata ‘bantingan’ pada senjatanya, yang dapat pula berarti sebagai ‘benturan’.”
Mantingan mengerutkan dahinya. Tidakkah kata “bantingan” merupakan sebuah kata yang telah begitu umum sehingga rasa-rasanya tidak perlu dibincangkan?
“Apakah bahasa di sini berbeda dengan bahasa Melayu, Bapak?” Mantingan memutuskan untuk bertanya ketimbang harus menyimpan rasa penasarannya, tanpa mengetahui kapan rasa itu akan tertuntaskan.
“Di Suvarnabhumi, bahasa Melayu yang digunakan cukup berbeda dengan yang ada di Javadvipa,” kata Tapa Balian tanpa menunjukkan keberatan sedikitpun untuk menjelaskan panjang lebar kepada Mantingan.
__ADS_1