
TIADA SEORANG pendekar pun yang terlihat di lorong gelap itu. Hanya ada sejumlah serangga saja yang bersarang di sana tanpa ada yang mau repot-repot mengusirnya. Namun biar begitu, lorong buntu yang terlihat kosong itu sebenarnyalah memiliki beberapa pintu yang menempel pada dua sisi temboknya.
Paman Bala terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam lorong buntu itu. Setiap ia bersisian dengan salah satu pintu yang menempel di dinding lorong, Paman Bala selalu menyempatkan diri untuk berhenti sejenak. Berhentinya adalah untuk memastikan keberadaan putrinya yang dapat ia ketahui dari Lontar Sihir yang ia bawa. Setelah dipastikan tidak ada, maka ia kembali melanjutkan langkah kakinya. Itu terjadi dengan sangat singkat namun bertahap.
Begitulah seterusnya Paman Bala melakukan hal yang sama, hingga ia berhenti untuk waktu yang lama pada pintu terakhir.
Paman menunjukkan mantra di lontarnya yang bercahaya kuning. Tanda menunjukkan reaksi.
“Inilah toko yang akan kita kunjungi, Ratna. Apa pun yang akan aku beli di dalamnya, aku minta kau jaga sikap. Aku akan menotok syaraf wanita yang akan dibeli, kau jangan berontak atau mencoba menolongnya." Paman Bala masih menganggap bahwa setiap suara yang dihasilkannya selalu diawasi pendekar lain, maka meskipun di lorong sepi ini ia tetap melaksanakan penyamaran.
Paman Bala melihat ke sekitarnya. Masih bersuasana sepi, dan seolah jauh dari peradaban. Setelah itu, tanpa ragu lagi Paman Bala mengetuk pintu di ujung lorong sebanyak lima kali.
Tak berselang lama kemudian, pintu di hadapan Paman Bala itu berderit dan terbuka sedikit. Hanya sedikit saja, namun cukup bagi orang yang di dalam untuk mengintip orang yang di luar, melalui sedikit celah yang tercipta.
Paman Bala berkata dengan suara yang dingin. “Apa benar toko ini yang menjual manusia hidup?”
Keheningan tercipta dalam rentang waktu yang cukup lama sampai terdengar suara balasan dari balik pintu.
“Kami sebenarnya tidak jual manusia hidup, tapi kami ada manusia yang masih hidup. Kalian punya berapa uang?”
Dengan suara yang masih dingin, Paman Bala kembali berkata, “Aku akan membayar tinggi jika yang kalian jual itu adalah wanita muda.”
“Yang masih hidup hanyalah wanita. Cepat katakan kau berani membayar berapa?”
“Tergantung jumlah harga yang kalian pasang.” Paman Bala mendengus.
“Kau yang tua, masuk ke dalam. Yang wanita menunggu di luar.”
__ADS_1
“Tidak bisa jika kalian berniat menjebakku.” Paman Bala berkata tajam. “Aku bisa beralih ke tempat lain jika kalian memiliki niat buruk padaku.”
“Kami tidak suka ada banyak orang yang masuk ke dalam tempat kami. Sebutkan apa kepentingan wanita itu atas perdagangan ini?"
“Dia adalah wanita pertama yang aku beli. Aku ingin dia melihatku membeli wanita baru. Apakah perbuatanku ini terlalu kejam untuk kalian?”
Segera terdengar balasan dari dalam. “Tidak ada yang terlalu kejam bagi kami. Kalian berdua masuk.”
Pintu dibukakan sedikit lebih lebar lagi. Memperlihatkan ruangan di dalamnya yang terbias cahaya kuning dari obor. Mantingan dan Paman Bala melangkah maju, masuk ke dalam ruangan setelah mendorong pintu.
Pemandangan yang selanjutnya terlihat sungguh mengguncang dada Mantingan. Membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Bahkan latihan pernapasan yang telah lama ia kuasai pun tidak dapat menguasai dirinya yang tidak tenang.
Terdengar suara pintu tertutup di belakangnya. Tingkat kepanikan Mantingan meningkat pesat setelah mendengar suara itu. Bagaikan merasa dirinya telah terjebak di dalam sini tanpa ada jalan keluar lagi.
“Tenangkan dirimu, Mantingan!”
Sedangkan Paman Bala sendiri terlihat sangat pandai mengatur raut wajah dan gerak tubuhnya. Sehingga ia tidak terlihat terkejut sedikitpun.
Di depan mereka adalah pemandangan tidak manusiawi. Bagian-bagian tubuh manusia terpencar hampir di seluruh bagian ruangan. Bercak darah menodai tembok ruangan secara keseluruhan. Dan selebihnya, Mantingan merasa tidak perlu untuk melihatnya lebih jelas.
Di pojok ruangan sebelah kanan, terlihat beberapa orang bertopeng aneh yang tidak perlu dijelaskan lagi sedang melakukan apa. Sedangkan di pojok ruangan sebelah kiri terdapat jalan masuk ke ruangan lain yang ditutup-tutupi tirai.
“Di mana wanita yang kalian maksud?” Paman Bala berkata setelah tidak menemukan putrinya di seluruh ruangan.
“Ada di dalam,” balas orang yang tadi membukakan pintu, orang itu mengenakan topeng aneh yang sama.
“Bawa dia ke sini. Dan jika keperawanannya telah tiada lagi, aku hanya akan bayar setengah harga.”
__ADS_1
“Kau datang tepat waktu.” Orang itu berkata datar sambil dirinya berjalan menuju ruangan yang tertutup tirai.
Orang itu menyibak sedikit tirai untuk memasukkan kepalanya. “Bawa wanita itu.”
“Jangan sentuh! JANGAN SENTUH! PERGI KAU BAJINGAN!”
Jelas suara wanita itu adalah suara dari putri Paman Bala! Mantingan mempersiapkan dirinya untuk menyerang jika penawaran dibatalkan. Telah ia pastikan kait pengunci antara gagang dan sarung Pedang Kiai Kedai telah terbuka.
“PERGI!”
Orang bertopeng itu menggelengkan kepalanya berulang kali sebelum menyibak tirai dan masuk ke dalamnya.
“AAAHHHH!”
Benar-benar mencekam saat-saat itu. Biarpun Paman Bala bersikap tenang, namun degup jantungnya tetap berpacu cepat. Mantingan menelan ludahnya saat membayangkan apa yang sedang terjadi di balik tirai ruangan itu.
Selanjutnya adalah suara sunyi. Tidak ada suara selain suara bacokan daging dari kegiatan di pojok kanan ruangan. Jantung Paman Bala dan Mantingan semakin berdegup kuat dan kencang. Sebentar lagi saja, mereka akan berkeringat dingin. Dan seandainya seorang pendekar mengetahui bahwa keringat dingin boleh jadi disebabkan oleh ketakutan, maka saat ini mereka berada dalam ancaman besar.
Beruntunglah di antara keduanya ada yang berkeringat dingin, tirai di sudut kiri ruangan kembali tersibak. Orang bertopeng yang sama terlihat sedang menyeret seonggok tubuh kaku seorang wanita muda. Tentu saja Mantingan mengenali wanita muda itu sebagai anak dari Paman Bala!
“Harga berkurang kalau dia sampai lecet.”
Orang bertopeng itu berhenti dan menatap Paman Bala. Terlihat dari balik topengnya, dua mata memandang dengan tajam.
“Kau suka sekali memotong harga, kami tidak suka ada tamu yang bersikap seperti itu.”
Paman Bala tidak membalas dengan ucapan, namun membalas dengan tatapan sedingin halimun gunung.
__ADS_1
Orang bertopeng itu kembali menyeret tubuh putri Paman Bala dan berhenti setelah sampai tepat di depan kaki pria paruh baya itu. Mantingan menatap perempuan muda itu dengan iba. Malang sekali nasibnya, harus menghadapi kegilaan pendekar-pendekar aliran hitam.