
“Apa yang terjadi di sini?”
PENANGGUNGJAWAB kedai akhirnya datang pula dengan pedang di tangan kirinya. Ia menatap pemuda-pemudi itu bergantian.
“Jangan ada yang berani buat keributan di sini, atau jangan salahkan jika aku ikut campur.”
“Paman penanggungjawab kedai yang terhormat, sahaya dan kawan-kawan di sini hanya memiliki keinginan untuk menangkap murid-muridnya Pendekar Cakar Emas. Kami tidak mau membuat keributan, tetapi mereka tidak mau ikut bersama kami. Paman penanggungjawab kedai yang terhormat, kita sama-sama mengetahui betapa sangat membahayakannya Pendekar Cakar Emas beserta murid-muridnya.” Salah satu murid perempuan dari Perguruan Dara Putih menimpali sopan, ia tahu bahwa penanggungjawab kedai itu bukanlah pendekar tandingannya dan memiliki hubungan langsung dengan Kelompok Purnama Merah.
Ekspresi penanggungjawab kedai itu berubah setelah mendengarnya, ia kemudian menatap tajam sekelompok pemuda yang ada di hadapannya. “Jika kalian sungguhan murid dari pendekar laknat itu, maka aku sendiri tidak akan sungkan membunuh kalian.”
Pemuda-pemuda itu mengetahui bahwa situasi sedang tidak berpihak pada mereka, maka dari itu dengan tenang mereka menjelaskan. “Sungguhan kami bukan murid dari pendekar itu, kami hanyalah murid dari sebuah perguruan yang tidak boleh kami sebut namanya di sini.”
“Lalu untuk apa kalian datang ke kedai ini selain untuk mencuri Cakar Buaya Purba?”
Mantingan tersenyum, akhirnya ia mengetahui juga barang incaran Pendekar Cakar Emas, semakin terang pula bahwa pendekar licik itu yang sengaja membuat keributan agar jalan masuknya terbuka lebar.
Mantingan memutuskan untuk membantu pihak yang benar, tetapi Mantingan masih belum mau ikut campur kecuali situasi benar-benar buruk.
“Kami sungguh tidak mengetahui apa itu Cakar Buaya Purba. Kami kemari hanya untuk makan dan istirahat sejenak, lalu Saudari-Saudari ini tiba-tiba mendatangi dan menuduh kami.”
Penanggungjawab kedai itu melirik perempuan-perempuan Perguruan Dara Putih. “Dari mana kalian menyimpulkan orang-orang ini adalah murid dari pendekar laknat itu?”
“Kami tentu tidak sembarang mengambil kesimpulan, Paman yang terhormat. Kami mencium bau emas yang menjadi ciri khas Pendekar Cakar Emas pada tubuh mereka.”
Penanggungjawab kedai mendekati para pemuda dan menghirup udara dalam-dalam, matanya lalu melebar. “Ini benar-benar aroma Pendekar Cakar Emas! Aku kenal aromanya! Benar-benar, siapa yang kalian hendak tipu?!”
__ADS_1
“Jika kalian semua memang mencium aroma emas dari tubuh kami, itu bukan berarti kami adalah murid dari pendekar itu. Bahkan kami tidak mencium apa yang kalian cium.”
“Tidak perlu banyak bicara lagi.” Penanggungjawab kedai menarik hulu pedangnya. “Sekarang terserah kamu semua, apakah ingin ditangkap dan tidak melawan atau mati terbunuh di sini.”
Para pemuda tiba-tiba saja mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian mereka, yang ternyata merupakan belati atau pisau lempar. Mereka naik ke atas meja dan menodongkan senjatanya ke arah penanggungjawab kedai dan perempuan-perempuan di sana.
“Kami tidak takut mati demi membela harga diri dan kehormatan, tetapi biar aku katakan sekali bahwa kami tidak memiliki hubungan dengan Pendekar Cakar Emas sama sekali!”
“Ya! Jika itu pilihan yang kalian ambil, maka bersiap-siaplah untuk mati!”
Saat penanggungjawab kedai, perempuan-perempuan Perguruan Dara Putih, dan pendekar kedai bergerak, di saat itulah Mantingan melesat dan berhenti tepat di antara mereka. Kehadiran Mantingan yang seakan muncul dari ruang hampa itu sangat mengejutkan mereka, hingga tidak ada yang tak menahan serangannya.
“Saudara-Saudari, ini hanya salah paham saja.” Mantingan tersenyum kaku. “Sebagai pendekar, kita tidak boleh bertindak terlalu gegabah. Hanya dengan mencium aroma emas dari tubuh mereka, kalian menyimpulkan hal yang bukan-bukan. Apakah kalian tak sadar bahwa tidak semua tubuh mereka beraroma emas?”
“Saudara yang datang tanpa diundang, apakah yang engkau maksud itu?”
Penanggungjawab kedai tampak seperti sadar akan sesuatu. Ia segera menyarungkan pedangnya dan menyuruh pendekar-pendekarnya menjaga mereka, lalu ia turun ke lantai bawah.
Pemuda-pemuda itu tersenyum pada Mantingan. “Terima kasih, Saudara.”
Mantingan hanya mengangguk dan tersenyum. Selanjutnya terdengar suara pekik teriakan di lantai pertama, itu sungguh membuat raut wajah mereka berubah menjadi buruk.
“CAKAR BUAYA PURBA HILANG!”
Suara penanggungjawab kedai terdengar kalap mengisi seluruh bangunan. Mantingan menghela napas panjang, dirinya sudah menebak hal seperti ini akan terjadi.
__ADS_1
“Apa Pendekar Cakar Emas yang mencurinya?” Salah satu pemuda berkata cemas. “Jika pendekar itu sudah masuk ke dalam sini, tidak mungkin jika dirinya tidak membunuh paling sedikit satu orang.”
“Apa itu kebiasaannya?” Mantingan menimpal.
“Benar, itu adalah kebiasaannya yang membuat banyak orang takut menyebut namanya. Ia selalu meninggalkan tiga cakaran panjang pada tubuh korban.” Kini giliran murid perempuan yang membalas, mereka seolah mengubur rasa malu setelah tuduhannya tidak terbukti.
Tidak ada yang menanggapi ucapannya, bahkan Mantingan malas berbicara dengan perempuan-perempuan itu.
“Saudara-Saudara sekalian, lebih baik kalian mengurus masalah ini lebih lanjut sampai kesalahpahaman bisa diluruskan.”
“Terima kasih atas sarannya, Saudara. Dan jika boleh aku tahu, siapakah nama Saudara agar kami bisa membalas budi di hari esok?”
Mantingan berpikir beberapa saat sebelum berkata, “Kalian bisa memanggilku Mantingan.”
“Ah, nama yang bagus.” Orang itu menganggukkan kepalanya. “Kami pasti akan mengingatnya.”
Mantingan berdeham beberapa kali. “Jadi, kapan kalian akan turun dari meja itu?”
***
Terdapat dua kamar di lantai ketiga, dengan masing-masing ruangan berukuran besar. Jendela di sana adalah sebagian kecil dari atap bangunan, sehingga tatkala membuka jendela itu sama saja membuka sedikit atap. Suhu di kamar itu masih tergolong sejuk walau bersentuhan langsung dengan atap, Mantingan dapat merasakan keberadaan Lontar Sihir yang mampu membuat suhu ruangan menjadi sejuk.
Di kamar sebelah Mantingan telah ditempati juga, tetapi pengurus kedai memberi saran pada Mantingan untuk tidak mengganggu penghuni di sana jika tidak ingin membuatnya tersinggung.
Sebelum merebahkan diri ke atas kasur, Mantingan lebih dahulu menulis kisah perjalanannya di atas lontar-lontar. Selama perjalanan, ia sama sekali tidak menyempatkan waktu untuk menulis, maka ia berpikir bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk menulis.
__ADS_1
Tidak banyak yang dapat ia tulis. Perjalanan panjang dua hari lamanya, kalau ditulis hanya mengisi beberapa lontar saja dan hanya memakan waktu sepeminuman teh.
Tetapi Mantingan tahu bahwa itu adalah hal yang wajar, karena tulisannya adalah saripati dari perjalanannya.