Sang Musafir

Sang Musafir
Nenek Genih dan Denting Pedang


__ADS_3

"Lalu, siapakah wanita yang kau ambil?”


MANTINGAN TERSENYUM, lalu menjawab, “Kau. Siapa lagi?”


“Sekarang coba lihat ke samping kananmu.”


Mantingan sebenarnya agak bingung dengan perintah mendadak dari Rara, tetapi ia secara tidak sadar ia telah terlebih dahulu menoleh ke samping kanannya sebelum banyak berpikir. Mata Mantingan membeliak tak percaya. Pada apa yang tersaji di depannya, ia sulit untuk percaya. Mulutnya terbata-bata saat ingin mengucap sesuatu, tak pernah bisa terkatakan.


Bagaimana bisa ia tidak terkejut, tidak membeliak, dan tidak terbata-bata? Rara ada di hadapannya. Berdiri dengan gaun biru-putihnya. Begitu nyata senyumnya, begitu nyata pula wujudnya. Mantingan tidak bisa berkata-kata, sungguh ia tidak tahu harus mengatakan apa. Seolah ada sejuta kalimat yang hendak keluar bersamaan melalui mulutnya, hingga tidak ada satupun yang berhasil keluar.


“Tetapi, Mantingan. Aku telah tiada.” Rara mengatakan itu, lalu tersenyum, lalu bayangannya pudar, lalu ia menghilang. Bagaikan sinar rembulan yang tiba-tiba ditutupi kelamnya awan. Menghilang tanpa bekas sedikitpun. Bagai Mantingan yang pergi tanpa meninggalkan apa pun. Selain ingatannya, tidak ada.


Mantingan masih termangu. Apa yang telah dilihatnya itu masih sulit untuk dipercayai. Bagaimana bisa Rara yang telah tiada menjadi ada tepat di sampingnya pula. Mantingan bergerak meraba kendi abu Rara yang dijadikan kalung olehnya. Jelas Rara selalu ada di dekatnya. Itu tidak salah.


***


DALAM WAKTU lima hari, kondisi Mantingan pulih secara signifikan. Mantingan mulai bisa menggunakan tenaganya untuk bergerak, tidak perlu disuapi Bidadari Sungai Utara tiga kali setiap harinya. Mantingan juga dapat berjalan-jalan ke sekitar rumah Nenek Genih yang ternyata bersisian dengan sungai. Beberapa kali juga Mantingan berjalan-jalan masuk sedikit ke dalam hutan.


Nenek Genih menahan Mantingan untuk pergi. Katanya, kondisi Mantingan masih belum pulih sepenuhnya. Bidadari Sungai Utara juga berkata seragam. Mantingan hanya bisa setuju dan berterimakasih, ia juga memahami kondisi tubuh sendiri yang masih belum pulih sepenuhnya.


Selama lima hari itu, Nenek Genih memperlakukan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara seperti cucunya sendiri. Walau tidak satupun dari kedua muda-mudi itu yang tahu siapakah cucu sebenarnya dari Nenek Genih, keduanya pun tidak berniat bertanya jika harus menyinggung perasaan Nenek Genih.


Suasana yang tenang. Pagi itu. Mantingan duduk bersila di atas kasurnya dengan lontar kosong di hadapan. Ada banyak kisah yang harus ia tulis. Sebenarnya Mantingan sudah terbangun dini hari tadi, tetapi baru sekarang ia putuskan untuk menulis saat ingatannya benar-benar segar.


Mantingan menulis mulai dari bagian mereka melarikan diri dari penginapan. Ia juga menyertakan alasan jelas mengapa harus kabur ketimbang menghadapi orang yang mengawasi Bidadari Sungai Utara. Alasannya sudah jelas dan sudah pasti, Mantingan tidak mau mengganggu ketenangan penduduk desa. Mantingan juga khawatir jika pendekar tua yang ia temui saat kedatangan pertamanya di desa itu akan ikut campur jika terjadi pertarungan. Urusan tambah runyam lagi jika kabar tentang keberadaan Bidadari Sungai Utara sampai tersebar.


Mantingan juga menyertakan bahwa risiko paling berbahaya sebenarnya terletak pada jaringan-jaringan rahasia yang kemungkinan sedang mencari keberadaan Bidadari Sungai Utara. Jaringan-jaringan rahasia itu biasanya dapat mencari dan menemukan seseorang walau orang itu bersembunyi di balik kelamnya goa sekalipun. Hanya dengan menyebutkan nama kota saja, orang yang dicari bisa langsung ditemukan.

__ADS_1


Hal itu bisa berlaku juga pada Bidadari Sungai Utara yang saat ini masih terus bergerak secara sembunyi-sembunyi. Jika nama Bidadari Sungai Utara menyebar dan salah satu jaringan rahasia mengetahuinya, maka dirinya bahkan Mantingan sekalipun tidak luput dari marabahaya


Sebenarnyalah Nenek Genih masih Mantingan bayang-bayangi dengan kecurigaan. Mantingan tidak mengetahui jati diri dari perempuan tua itu. Nenek Genih jarang menceritakan tentang jati dirinya. Di antara Mantingan dan Bidadari Sungai Utara pun tidak berniat menanyakannya.


Mantingan sering melihat Nenek Genih berjalan masuk ke dalam hutan dengan langkah ringan. Mantingan maupun pendekar lain dapat mengenali langkah ringan Nenek Genih sebagai langkah seorang pendekar ahli. Di atas tanah yang dipijaknya, hampir tidak ada jejak yang ditinggalkan.


Sepertinya Bidadari Sungai Utara pun juga mengetahui kependekaran Nenek Genih, tetapi tidak mau membicarakannya secara terang-terangan. Namun sikap Bidadari Sungai Utara menunjukkan bahwa dirinya juga mengetahui hal itu.


Meskipun masih membayang-bayangi dengan kecurigaan, Mantingan tetap bersikap baik pada Nenek Genih, dan mengawasinya sekaligus.


Ceritanya sampai di pertengahan saat pintu diketuk dan suara Bidadari Sungai Utara terdengar di baliknya. “Mantingan, bisakah aku masuk sekarang?”


“Masuk saja, Saudari, pintunya tidak dikunci.”


Pintu terbuka, Bidadari Sungai Utara masuk dan langsung menutup pintunya kembali. Saat wajahnya menatap Mantingan, dapat terlihat ada sedikit rasa cemas yang membayang-bayanginya. Mantingan yang melihat itu segera merubah sikap menjadi lebih serius.


“Ya, itu sudah biasa. Lalu?”


“Aku mendengar suara denting pedang dari kejauhan, hanya beberapa dentingan saja, tetapi itu cukup membuatku risau.”


Mantingan terdiam beberapa saat sebelum mengembuskan napas panjang-panjang. “Saudari Sungai Utara, agaknya kita sudah sama-sama mengetahui sisi kependekaran Nenek Genih.”


“Aku sudah menyadarinya sejak awal sebelum kau sadar. Nenek Genih bisa menggendongmu di punggungnya, padahal saat itu kau masih memasang bundelan berat.” Bidadari Sungai Utara lalu berkata dengan cemas, “lalu, apakah yang harus kita lakukan sekarang?”


“Kau di sini, aku akan mencarinya.”


Bidadari Sungai Utara semakin cemas. “Bagaimana jika rumah ini yang akan disergap?”

__ADS_1


“Kemungkinannya lebih kecil ketimbang kemungkinan kau tidak selamat saat berusaha mencari Nenek Genih.”


“Tapi aku takut jika ditinggal sendirian di sini.”


Mantingan menarik napas dalam-dalam sebelum meraih bundelannya. Ia mengeluarkan belasan Lontar Sihir Penjebak, sengaja memperlihatkannya pada Bidadari Sungai Utara agar gadis itu mengerti maksudnya.


“Tetapi, tetap saja akan berbahaya.”


“Saudari Sungai Utara, lebih berbahaya jika kau mengikutiku.” Mantingan masih berkata lembut.


Wajah Bidadari Sungai Utara tampak gelisah. Ia meremas jari-jemarinya sendiri, dengan gelisah pula. Pandangan matanya mengarah ke luar jendela.


“Dengan semua Lontar Sihir ini, kau akan sangat aman sampai aku kembali.” Mantingan berusaha meyakinkan. “Kau memiliki kemampuan bela diri juga, untuk apakah kemampuan itu jika tidak dimanfaatkan?”


Bidadari Sungai Utara diam beberapa saat sebelum menghela napas panjang. “Entahlah, Mantingan, aku hanya tidak bisa bertarung sendirian. Tapi tidak mengapa, sekarang kau harus cepat cari Nenek Genih sebelum terlambat.”


Mantingan mengangguk lalu berdiri, meraih pedangnya. Ia berpandangan sebentar dengan Bidadari Sungai Utara. “Aku akan secepatnya kembali.”


“Lekaslah kembali.”


Mantingan tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan satu pijakan di tanah, Mantingan melesat keluar melalui jendela, menjadi kelebatan bayang-bayang.


____


catatan:


Tanggapan teman-teman sungguh luar biasa! Terima kasih telah memberi saya alasan untuk tetap menulis.

__ADS_1


__ADS_2