Sang Musafir

Sang Musafir
Gerakan di Bawah Air


__ADS_3

TANGAN MANTINGAN bergerak menggenggam Pedang Kiai Kedai. Kepalanya berputar, mencari tanda-tanda musuh. Mungkin saja, saat ini Mantingan terlihat oleh musuh. Dan mungkin saja pula, Mantingan bisa mendapat serangan dadakan. Ancaman itu juga mengenai Bidadari Sungai Utara, maka saat ini tidak ada alasan lagi bagi Mantingan untuk bersantai.


Sangat cepat Mantingan bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya. Secepat petir, namun senyap bagai burung hantu mengincar mangsa. Setiap kaki Mantingan menyentuh dahan pohon, maka sesungguhnya dahan pohon itu tidak bergoyang sedikitpun, seolah-olah tubuh Mantingan hanyalah sehelai kapas kering.


Gerakan Mantingan yang cepat, senyap, dan lembut itu tentu tidak berhasil dilihat Bidadari Sungai Utara. Walaupun gadis itu terlihat memasang kewaspadaan penuh, tidak sedikitpun ia menyadari kehadiran Mantingan.


Mantingan masih terus berkeliling dengan sangat-sangat cepat. Di telinganya saat ini hanya terdengar desiran angin. Penglihatannya diisi oleh bayangan pohon yang kabur. Begitu cepatnya ia melintas, hingga seekor tupai yang dilewatinya pun tidak menyadari keberadaan Mantingan.


Setelah memastikan daerah timur tidak dihuni manusia, Mantingan bergerak ke sisi barat. Ia mengentakkan kakinya pada sebuah padang pohon dan terbang cepat di atas sungai. Menyeberanglah Mantingan tanpa disadari Bidadari Sungai Utara di bawahnya.


Mantingan kembali mendarat di sebatang dahan sebelum kembali melesat melanjutkan penyisirannya.


Sampai saat matanya melihat sesuatu yang berkilauan di bawah, Mantingan lekas-lekas mengurangi kecepatan lajunya dan mendarat turun ke bawah. Ia berjalan mendekat pada sesuatu yang memantulkan sinar mentari sehingga berkilau itu.


Benda yang dilihatnya nampak seperti logam. Bagian tengah hingga bawahnya terbenam di dalam tanah, sehingga tidak diketahui bentuk logam itu yang sebenarnya. Pandangan Mantingan menyorot di sekitarnya untuk memastikan tidak ada jebakan, sebelum memberanikan diri untuk menarik logam tersebut dari dalam tanah. Tanpa kesulitan berarti, Mantingan berhasil mengeluarkan logam itu.


Ternyata adalah panci. Sekilas terlihat seperti panci tua, bekas pengembara yang sengaja atau tidak sengaja meninggalkan pancinya, lalu karena hujan atau apalah sampai panci itu bisa terbenam ke dalam tanah. Namun, itu hanya yang terlihat sekilas mata. Jika dicermati lebih jauh, dugaan bahwa panci di tangan Mantingan itu adalah bekas pengembara dapat terbantahkan.


Jika yang ada di tangan Mantingan saat ini adalah panci lama yang sudah terbenam di dalam tanah, sudah pasti tanah dan air hujan akan membuat badan panci berkarat dan berlubang. Namun panci yang sekarang Mantingan pegang ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda karat, bahkan tidak ada lubang sama sekali di badan panci.

__ADS_1


Lebih-lebih, panci itu terasa hangat saat bersentuhan dengan jari Mantingan. Padahal, hanya sedikit bagian panci saja yang terpapar sinar matahari, sisanya berada di dalam tanah yang dingin. Mantingan mengernyitkan dahinya dengan curiga.


“Ini ... pengalihan!”


Panci itu sengaja ditanam, Mantingan yakin itu. Pula sengaja tidak ditanam seluruhnya, menyisakan sedikit untuk memantulkan sinar mentari. Jika maksud dari si penanam panci adalah untuk menarik perhatian Mantingan, maka orang itu berhasil.


Mantingan tidak menunggu lebih lama lagi untuk segera bertindak. Bergerak dengan laju dua kali kecepatan petir. Kecepatan tinggi seperti itu pun masih membutuhkan waktu beberapa lama untuk sampai di tempat Bidadari Sungai Utara, sebab sebelumnya Mantingan telah berkeliling cukup jauh dari sungai itu.


Namun dalam benaknya, Mantingan terus berharap dirinya tidak telat sampai. Karena jika telat sedikit saja, Bidadari Sungai Utara bisa terbunuh atau yang paling buruknya adalah diculik.


Mantingan telah berjanji pada dirinya sendiri untuk bertanggungjawab penuh terhadap diri Bidadari Sungai Utara. Ia telah menganggap gadis itu adalah orang yang harus ia jaga keselamatannya. Jika hal-hal buruk itu terjadi, maka entah penyesalan apa yang akan datang kembali untuk menghancurkan dirinya.


Mantingan menembus lautan pepohonan, melayang bebas dua depa di atas air sungai. Mata Mantingan bergerak-gerak cepat memperhatikan isi sungai, bagaikan seekor elang yang mengawasi mangsanya.


Ada suatu wujud bertubuh besar yang sedang bergerak-gerak di bawah air, namun itu bukan buaya. Sebab air sungai cukup jernih untuk Mantingan melihat sampai dasaran sungai. Maka telah terpampang jelas apa yang tengah bergerak-gerak di dalam air itu.


Mantingan tidak bisa langsung menyerang meski menginginkannya sekalipun. Mengingat kecepatannya yang telah melebihi dua kali kecepatan petir, Mantingan tidak bisa berbuat banyak di udara. Maka dari itu, ia membiarkan tubuhnya melesat cepat. Sampai kakinya menginjak batuan sungai, barulah Mantingan bisa menghentikan dirinya sendiri.


Batuan sungai yang diinjak Mantingan mengeluarkan suara keras dan menyisakan dua kubangan berbentuk alas kaki. Itulah alas kaki yang dipakai Mantingan. Saking kerasnya ia menubruk batu.

__ADS_1


Mantingan mengentak kakinya. Kembalilah dirinya melayang di atas udara.


Bidadari Sungai Utara tampak terkejut mendengar suar keras yang dihasilkan Mantingan. Gadis itu terlihat menengok ke arah suara, namun tidak menemukan apa pun selain dua jejak alas kaki di atas batuan.


Memanfaatkan kebingungan Bidadari Sungai Utara, Mantingan segera melancarkan serangan pada wujud yang bergerak-gerak di bawah air. Dari kantung pundi-pundinya, Mantingan melemparkan jarum Cap Capung ke arah wujud itu. Sengaja Mantingan tidak melaburkan racun pada jarum yang diterbangkannya, karena itu akan mencemari air sungai sekaligus membahayakan Bidadari Sungai Utara.


Tetapi hanya dengan jarum-jarum yang dilemparkannya, musuh sudah cukup terkejut dan kemungkinan besar akan melarikan diri. Saat itulah Mantingan baru bergerak untuk melumpuhkannya.


Jarum-jarum itu memasuki air. Menciptakan sedikit percikan air. Jarum-jarum itu telak mengenai sasaran, sebab jarum Cap Racun memang dirancang sedemikian rupa untuk dapat tetap melesat lurus meskipun angin kencang menghadang, aturan itu berlaku pula pada air sungai yang deras.


Akan tetapi, lawan sama sekali tidak bergerak keluar. Hanya sedikit menunjukkan pergerakan tanda terkejut. Selebihnya, ia malah lebih cepat bergerak di bawah air mendekati Bidadari Sungai Utara.


Namun hal ini sudah masuk ke dalam hitungan Mantingan. Jika lawan tidak merasa terancam dan tidak mau mundur, maka Mantingan akan langsung melumpuhkannya.


Dari atas udara, Mantingan meluncur ke arah musuhnya. Pedang Kiai Kedai dihunuskan dalam kondisi bersarung. Bagaikan burung bangau yang masuk menusuk air untuk mengambil mangsa, Mantingan tidak ragu menceburkan dirinya masuk ke dalam air.


Pemuda itu tidak tahu reaksi apakah yang ditunjukkan Bidadari Sungai Utara setelah mendengar suara deburan kencang dan percikan air besar yang terjadi di dekatnya. Pusat perhatiannya dialihkan sepenuhnya pada musuh.


Gerakan tangan Mantingan sangat cepat saat ia mengayunkan Pedang Kiai Kedai di dalam air.

__ADS_1


____


Follow IG: @westreversed


__ADS_2