
BETAPAPUN ITU hanyalah dendeng tawar yang diberi air. Mantingan punya banyak uang untuk membelinya, mungkin Kina juga mengetahui hal itu setelah melihat cara berpakaian Mantingan. Namun, anak itu tetap berbagi tanpa melihat kekayaan Mantingan.
Itulah yang disebut sebagai kebebasan untuk berbuat kebaikan. Jika Kina ingin berbuat kebaikan, Mantingan tidak boleh menghalanginya, sebab hal itu merupakan kebebasan Kina sebagai manusia. Jika ia tidak menerimanya dendeng dari Kina, itu sama saja bersikap sombong dan meremehkan orang yang di bawah tingkatannya.
Makanan hanyalah hal kecil yang akan dirasakan sekejap mata saja. Sedangkan perasaan khas setelah berbuat kebaikan akan bertahan lebih lama.
“Kak Maman, ini lezat sekali!” Kina bersorak nyaring. “Kina sudah lama tidak merasakan dendeng. Terakhir Kina makanan dendeng saat Bapak membelikannya untuk Kina dan Kak Kana, tapi sekarang Bapak sudah tiada.”
Mantingan tersenyum hangat dan mengelus kepala Kina. “Bukankah ada Kakak Kana?”
“Kakak Kana tidak seperti Bapak.” Kina mendengus sebal. “Kakak Kana ingin dirinya dipanggil ‘Kanda’. Katanya, biar terdengar gagah dan berani. Padahal Bapak tidak menuntut seseorang harus memanggil dirinya seperti apa."
Mantingan tertawa pelan. “Panggil saja dirinya seperti itu jika dia mau.”
“Kak Maman membela Kakak Kana?”
“Bukanlah seperti itu.” Mantingan menggeleng. “Bukankah Kanda Kana memang gagah dan berani? Nyatanya, dia telah membawa Kina sampai di sini. Padahal, Kanda baru berusia dua belas tahun. Menurut Kakak, dia itu anak yang hebat.”
“Awalnya Kina juga berpikir seperti itu. Tapi terkadang, Kakak mengesalkan." Kina mendengus. “Nanti Kina akan mencobanya.”
Mantingan mengangguk, tersenyum semakin lebar. “Apakah Kina tidak apa ditinggal sebentar di sini? Kakak ingin melihat pekerjaan Kanda Kana di bawah.”
“Ya. Boleh saja. Kina tidak takut sendirian.”
“Bagus. Kalau begitu, Kakak akan pergi.” Mantingan bangkit berdiri. “Kalau Kina menginginkan sesuatu, jangan ragu memanggil Kakak di bawah.”
Setelah Kina menganggukkan kepala, Mantingan segera berjalan ke bawah.
__ADS_1
***
MANTINGAN MENGANGGUKKAN kepalanya sambil tersenyum lebar. “Engkau memang pintar.”
Kana yang sedang mengikati rumput-rumput hanya menyunggingkan senyum untuk membalas pujian Mantingan. Terlihat begitu keras dalam bekerja. Mengikati semak belukar yang ditebang Mantingan. Bukan untuk dibakar atau dibuang, melainkan untuk dijual.
“Apakah kau butuh bantuan?”
“Tidak perlu, Kakak.” Kana menggeleng. “Ini bagianku.”
Sekali lagi Mantingan mengangguk. “Besok, kita akan membersihkan rumah. Selesaikan semuanya malam ini jika engkau bisa. Kakak pergi akan pergi ke pasar, beli lauk untuk makan malam dan barang-barang untuk membetulkan rumah. Jaga adikmu.”
Kana kembali mengangguk. Mantingan berkelebat menghilang dari tempat itu. Tepat sekali ia masih memakai baju yang tadi dibelinya di pasar, sehingga saat ini Mantingan masih dalam keadaan menyamar.
***
Jadi, kembalilah Mantingan ke dalam kediamannya bersama sebuah gerobak kerbau. Ia membayar kusir kerbau untuk membantunya menurunkan barang belanjaan. Dapat dilihat kusir itu agak ketakutan saat Mantingan memintanya untuk masuk ke dalam rumah pemuda itu.
Kemudian Mantingan bertanya saat kusir itu tidak bergerak dari tempatnya, “Ada apa?”
“Maafkan daku, Saudara. Akan tetapi, setahu diriku yang berwawasan sempit ini, rumah yang dituju oleh Saudara adalah rumah yang sudah lama kosong.”
Mantingan mengangkat alisnya dan kembali bertanya, “Kenapa?”
Kusir kuda itu terlihat menelan ludahnya sekali sebelum akhirnya menjawab, “Saudara, rumah yang sudah lama kosong pastilah akan ditinggali suatu makhluk lain. Daku takut ....”
“Ya, memang ada makhluk lain di sana.” Mantingan melanjutkan, “mereka adalah ular, kelabang, tikus, dan bermacam-macam serangga. Setahuku yang juga berwawasan sempit ini, seorang pria sejati tidak seharusnya takut dengan hewan-hewan seperti itu.”
__ADS_1
“Bukan seperti itu, Saudara ....” Kusir itu menggeleng, sedikit tersinggung. “Daku hanya ingin memberi peringatan pada Saudara untuk tidak tinggal di rumah itu. Apakah Saudara sudah melihat isinya?”
“Diriku akan tetap tinggal di sana, dan diriku juga telah melihat isinya. Tidak buruk sebenarnya.” Mantingan tertawa pelan sambil memandangi rumah bertingkat dua itu. “Jadi, apakah dikau mau membantuku atau diam saja di sini?”
Mendengar itu, sang kusir hanya bisa mengangguk tanpa bisa menolak lagi. Mantingan telah memberikannya lima keping perak. Padahal harga sewa gerobak dan kerbau hanya sebesar dua perak. Itu lebih dari kata pantas. Tampak ia takut jika menolak maka Mantingan akan mengambil tiga keping perak lainnya.
Mulailah saat itu mereka masuk melalui gerbang. Mantingan berdecak kagum melihat lingkungan di sekitar rumah sudah jauh rapi daripada yang terakhir ia lihat. Kana bekerja dengan sangat cepat, seluruh semak belukar habis tanpa tersisa. Agaknya sudah diambil oleh peternak sapi.
Mantingan membuka pintu rumah dan meminta sang kusir untuk menaruh barang di tengah aula. Kusir itu tampak melihat ke sekitar, lalu buru-buru masuk, ingin menyelesaikan pekerjaannya cepat-cepat.
Mantingan turut membantu dengan kecepatan pendekarnya. Maka dengan sangat cepat, semua barang telah turun dari gerobak. Sang kusir tampak tidak percaya melihat Mantingan yang ternyata adalah salah satu dari sedikitnya pendekar, dirinya baru dua kali pergi-kembali dari rumah itu untuk menurunkan barang, akan tetapi Mantingan membuat segalanya menjadi jauh lebih cepat.
Sang kusir cepat-cepat meninggalkan kediaman Mantingan bersama gerobak dan kerbaunya. Mantingan menutup pintu gerbang dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Di sana Kana dan Kina telah turun dari lantai dua, dengan penasaran melihat apa yang telah terjadi.
“Wahai, Kina." Mantingan menyapa. “Kina sudah pulih?”
Kina menoleh dan menunjukkan senyum manisnya. “Ya, berkat Kak Maman kini keadaan Kina jauh lebih baik.”
Kana berdeham. Menunjukkan raut wajah ketus dengan bibir dikerucutkan. Seakan tidak terima.
“Dan berkat Kanda Kana juga.” Kina tertawa pelan.
Melihat itu, Mantingan hanya bisa tersenyum hangat. Melihat kedua bocah di depannya itu, ia merasa lebih nyaman. Andai saja keadaan di Taruma tidak kacau seperti hari itu, maka Kana dan Kina tak akan kehilangan orangtuanya. Dan andai saja dunia persilatan tidak sekejam hari itu, mungkin saja suatu hari nanti Mantingan akan memiliki dua anak yang seperti Kina dan Kana bersama Rara.
“Aku tahu apa yang kamu sedang pikirkan.”
Mantingan menoleh, Rara berdiri tepat di sampingnya. Memandangi dua bocah di depannya, dan dengan sekilas melirik Mantingan.
__ADS_1
“Sebenarnya, tidak ada yang perlu aku sesali.” Mantingan membalas, dengan suara yang hanya dapat terdengar di dalam benaknya seorang. “Karena semua kekacauan ini telah digariskan oleh Sang Pencipta. Aku tidak berhak mengumpati atau bersedih hati. Namun saat aku lihat sisi baiknya, ternyata banyak yang bisa kutemukan. Aku menemukan banyak jodoh dari kekacauan ini."