Sang Musafir

Sang Musafir
Ketujuh Cakra yang Terisi Tenaga Dalam


__ADS_3

MANTINGAN BERHENTI sejenak di sebuah kaki bukit. Bukan dengan niat beristirahat, melainkan untuk memulai samadhinya. Ketika Mantingan berjalan di dekat bukit tersebut, ia merasakan banyak tenaga dalam yang tersimpan di dalamnya. Mantingan memilih sebuah batu besar menjadi alas duduknya. Dibaringkanlah Bidadari Sungai Utara pada batu yang sama.


Mantingan bersila dengan kedua telapak kaki menghadap ke langit. Menarik napas panjang sebelum mengembuskannya lebih panjang lagi. Dipejamkanlah kedua kelopak matanya.


Sesaat setelah Mantingan memejamkan matanya, tenaga dalam menyeruak begitu derasnya masuk dari dalam batu yang menjadi tempatnya bersamadhi. Begitu derasnya sehingga Mantingan memutuskan untuk tidak menerima semua tenaga dalam yang berhimpit-himpitan itu. Jikalau ia tidak melalukan itu, maka sebuah keniscayaan bahwa tubuhnya itu akan meledak menjadi ribuan bagian.


Tersenyumlah Mantingan setelah merasakan tubuhnya kembali terisi tenaga dalam. Kesegaran yang dirasakannya sama seperti saat ia diguyur air terjun pegunungan. Rasa yang terecap selezat ayam panggang beroleskan madu buatan Bidadari Sungai Utara. Luar biasa. Sulit untuk menjelaskan kenikmatan yang tengah Mantingan rasakan ketika ini.


Kurang dari seperempat waktu peminuman teh, inti tenaga dalamnya telah terisi penuh tanpa tersisa kekosongan. Tetapi seakan saja tubuh Mantingan belum merasa puas juga. Ia masih kelaparan. Atas kehendak naluriah tubuhnya sendiri, Mantingan tidak berhenti menghisap tenaga dalam dari bukit tersebut. Bahkan kecepatan menghisapnya naik hingga dua kali lipat.


Entah apa yang terjadi pada tubuhnya, Mantingan sendiri tidak mengerti. Sangat jarang tubuhnya itu berkehendak sendiri di luar kendalinya. Sebelumnya Mantingan selalu bisa menahannya, tetapi tidak kali ini.


Pemuda itu lekas mencari cara untuk menghentikan tenaga dalam yang masuk ke tubuhnya itu. Secepat mungkin. Sebab jika tidak, tubuhnya akan meledak karena menampung terlalu banyak tenaga dalam!


Namun kemudian, Mantingan menemukan bahwa bahwa tenaga dalam yang diserapnya tidak mengalir ke inti tenaga dalam melainkan ke tempat lain. Mantingan menajamkan seluruh inderanya untuk mengetahui ke mana perginya tenaga dalam sebanyak itu.


Dan betapa tercengangnya ia ketika menemukan tenaga dalam sedang mengaliri tujuh cakra dalam tubuhnya. Mantingan pula merasakan bahwa setiap cakranya memiliki ruang luas yang dapat diisi lebih banyak tenaga dalam.


Mantingan baru dapat merasakannya sekarang, ketika dirinya menjumpai sebuah tempat yang memiliki banyak sekali kandungan tenaga dalam.


Apakah tujuh cakranya itu baru dapat menciptakan ruang setelah dipicu dengan tenaga dalam yang teramat besarnya?


Apa pun penyebabnya itu, Mantingan sungguh bergembira. Dengan keadaan ketujuh cakranya yang dapat menampung banyak tenaga dalam, merupakan sebuah keunggulan tersendiri ketika sedang menghadapi musuh yang berat. Bahkan, Mantingan dapat berkelebat jauh lebih lama dan lebih panjang ketimbang pendekar-pendekar lainnya. Bukankah itu teramat menakjubkan?

__ADS_1


Derasnya tenaga dalam yang terserap membuat tujuh cakra miliknya terisi penuh dalam waktu singkat. Saat itulah dengan sendiri, tubuhnya berhenti menyerap tenaga dalam. Mantingan membuka mata dengan pandangan berbinar-binar penuh semangat.


Jelas besar rasa senangnya saat ini, tetapi bukan karena dapat membunuhebkhb banyak musuhnya dengan kekuatan itu,- melainkan karena dapat melindungi lebih banyak orang-orang terkasihinya. Diingatnya kematian Ibu Wira dan Rara. Ia masih merasa bahwa itu semua dapat terjadi karena ia terlalu lemah, tidak cukup kuat untuk melindungi mereka semua.


Diliriknya Bidadari Sungai Utara. Kini hanya gadis itu, Kana, dan Kina saja yang benar-benar dijaga olehnya. Maka akan sungguh-sungguh ia jaga sekalipun harus ditukar dengan nyawanya.


Mantingan meletakkan sebelah tangannya ke pundak Bidadari Sungai Utara. Dialirkanlah sejumlah besar tenaga dalam pada gadis itu, sambil dirinya tetap menyerap tenaga dalam dari bukit. Dua hal itu dapat dilakukannya di waktu yang bersamaan.


Setelah beberapa saat berlalu, Bidadari Sungai Utara terlihat membuka matanya. Gadis itu memandangi sekitar sebelum mamandangi Mantingan dengan tatapan sejuta makna. Mantingan membalas pandangan itu dengan senyuman hangat sebelum menarik tangannya dari pundak gadis itu.


“Tenaga dalammu telah pulih, Saudari.”


Bidadari Sungai Utara berusaha bangkit duduk, Mantingan segera membantunya.


“Sekali lagi engkau menyelamatkan hidupku, Mantingan,” kata gadis itu. “Entah cara seperti apakah yang dapat kutempuh untuk membayar segala budimu.”


Bidadari Sungai Utara tersenyum tipis. “Jadi, hanya satu hari saja diriku tak sadarkan diri?”


“Benar,” jawabnya.


Gadis itu kemudian tertawa pelan. “Daku merasa telah terombang-ambing dalam ketidaksadaran selama beberapa pekan lamanya, ternyata kenyataannya tidak begitu.”


“Ada yang ingin kutanyakan padamu, Saudari, jika engkau tak keberatan.” Mantingan tiba-tiba berkata dengan wajah bersungguh-sungguh.

__ADS_1


“Engkau tidak perlu izin dariku untuk bertanya, Mantingan.”


Mantingan membetulkan bentuk duduknya sebelum bertanya, “Saudari, malam kemarin, diriku masih merasakan ada sedikit tenaga dalam yang tersisa pada tubuhmu. Tetapi mengapakah ketika sore hari menjelang malam ini, tidak kurasakan tenaga dalam barang sedikitpun pada tubuhmu? Apakah yang telah terjadi padamu hingga engkau kehabisan tenaga dalam?”


Bidadari Sungai Utara kembali tertawa. Tetapi kali ini jauh lebih lepas. Barulah ia berbicara, “Saudara, apakah engkau masih ingat kejadian setelah diriku menyeretmu dari kubangan air malam itu?”


Mantingan cukup terkejut mendengar Bidadari Sungai Utara yang begitu terang-terangan dalam bertanya. Ia diam karena tak tahu harus menjawab apa.


“Dikau terlihat terkejut, pastilah telah mengetahuinya. Tetapi kau mungkin tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.” Bidadari Sungai Utara tersenyum tipis. “Setelah kejadian itu, tiba-tiba saja engkau tak sadarkan diri. Daku takut bukan main. Napasmu berhenti, begitu pula dengan jantungmu. Dikau tahukah, Saudara, bahwa ketika itu daku berteriak begitu keras sambil memaki-maki langit bagai orang gila?


“Tetapi kemudian, aku mengingat sejumlah perkataan yang pernah engkau ucapkan kepadaku dulu. Berteriak seperti ini tidak akan berguna sama sekali. Daku berhenti berteriak dan bertindak secepat mungkin, berharap dapat menyelamatkan nyawamu. Daku edarkan segenap tenaga prana ke dalam tubuhmu, lalu kutemukan alasan mengapa napas dan detak jantungmu berhenti. Tenaga dalammu telah habis tanpa sisa.”


Kedua alis dan bahu Mantingan mengendur. Pemuda itu telah menebak jalan cerita selanjutnya.


“Kurasakan masih ada sedikit tenaga dalam di tubuhku, pastilah cukup untuk membuatmu kembali bernapas. Segera saja kualirkan seluruh tenaga dalam yang tersisa—”


“Engkau bodoh, Saudari.” Mantingan memotong tajam. “Kau hampir mati karena itu!”


Bidadari Sungai Utara tetap mempertahankan senyumnya, tiba-tiba saja suaranya menjadi sedih, “Daku akan lebih bodoh lagi jika membiarkanmu mati saat itu. Kusayangi dikau lebih dari kumenyayangi diriku sendiri.”


Mantingan ingin membantah dengan keras, tetapi segala bantahannya itu tertahan sampai di tenggorokannya saja. Tercekat. Melihat wajah Bidadari Sungai Utara yang memancarkan ketulusan besar dipadukan dengn kecantikan, Mantingan sungguh tidak tega mengeluarkan kata-kata yang akan menyakitkan baginya.


Maka sebagai gantinya, Mantingan tersenyum hangat. “Betapa yang kaulakukan itu telah menyelamatkan nyawaku tanpa kusadari. Apakah yang dapat kulakukan untuk menebus kebaikanmu ini, Sasmita?”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara tersenyum lebar. “Ketika segala utangku kepadamu telah tertebus, maka daku akan meminta sesuatu. Untuk kali ini, tidak kuminta apa pun.”



__ADS_2