Sang Musafir

Sang Musafir
Kematian Cagak Kesatu


__ADS_3

“Jalan persilatan bukanlah seperti mendaki gunung tinggi,” katanya pada saat yang sama. “Melainkan seperti menyelam ke samudra tak berdasar dan tak berujung. Semakin engkau menyelam ke dalam, semakin engkau sadar bahwa telah terlambat untuk kembali ke permukaan, sehingga engkau akan terus menyelam hingga mati kehabisan napas.”


Mantingan menarik napas panjang.


“Pembunuhan dalam dunia persilatan dianggap sebagai sebuah jalan kesempurnaan; tetapi dalam kehidupan igama, pembunuhan justru dianggap sebagai dosa terkejam jika yang dibunuh bukanlah yang semestinya harus dibunuh; dan dalam kehidupan kenegaraan, pembunuhan yang tidak memiliki alasan jelas akan diterapkan hukum nyawa dibalas nyawa.”


***



DAPAT dipastikan bahwa Mantingan tidak akan dihukum mati oleh kerajaan, malahan diberi penghargaan tinggi atas bantuan besarnya dalam memerangi musuh.


Dan mungkin saja igama tidak akan menyalahkan Mantingan, sebab yang pemuda itu lakukan adalah penumpasan kejahatan. Justru dari situlah nama Pahlawan Man akan semakin dianggung-anggungkan.


Namun bagaimanakah dari dalam diri Mantingan sendiri, yang tetap saja menganggap bahwa apa yang telah diperbuatnya itu menghasilkan dosa yang tak terhitung besaran dan jumlahnya?


Betapa pun orang menganggapnya sebagai pahlawan, tetapi dirinya sendiri justru berpendapat lain, hasilnya tetap akan sia-sia belaka.


Namun, Mantingan menyadari bahwa bukan seharusnya dirinya menyesali apa yang telah diperbuatnya. Justru sebaliknya, Mantingan harus melihat apa yang telah dihasilkan dari perbuatannya itu.


Lihatlah betapa Bidadari Sungai Utara—yang akan menjadi kunci keberhasilan Tarumanagara—masih dapat terselamatkan.


Nyawa seribu pengacau ditukar dengan nyawa satu warga tak bersalah bukanlah suatu harga yang terlalu mahal.


Mantingan pun memahami bahwa dalam peperangan, pilihannya hanya ada dua. Yang pertama ialah mati karena terbunuh; dan yang kedua ialah hidup karena membunuh.


Mantingan kemudian menengadah, melihat bangunan penginapan yang telah hancur sebagian. Terlihat pula beberapa tubuh pendekar yang menempel di tembok kayu dengan pedang menembus dadanya. Sama sekali tidak terlihat kehidupan di atas sana.


Mantingan mengernyitkan dahi. Di manakah sisa Pasukan Topeng Putih yang tadi dilihatnya?

__ADS_1


Maka Mantingan melentingkan tubuhnya ke atas hingga sampai di atap penginapan. Betapa dilihatnya mayat-mayat Pasukan Topeng Putih bergelimpangan tak tentu bentuk. Ketika melihat itu, Mantingan berlutut tanpa disadarinya.


“Kalian telah berjuang hingga titik darah penghabisan.” Mantingan berucap pelan, yang seolah akan terlihat sedang berkata pada dirinya sendiri. “Penghormatan seperti apakah yang kiranya pantas diberikan atas pengorbanan kalian?”


Mantingan tahu bahwa sisa pendekar yang bertahan telah berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan Penginapan Bunian Malam, meski itu terlalu keras untuk seukuran tubuh manusia. Manakala musuh telah dihabisi Mantingan, dan perjuangan mereka telah tuntas, maka saat itulah pula nyawa mereka merenggang.


Namun betapa Mantingan mengetahui, bahwa mereka meninggal dalam keadaan tenang, sebab kemenangan telah dapat dipastikan.


Mantingan kemudian berdiri dan menebar pandang ke sekitarnya. Beberapa bangunan di pelabuhan terlihat terbakar. Dermaga hancur porak-poranda. Secara garis besar, seluruhnya tampak sangat kacau.


Di lautan sana, pertempuran antar-kapal agaknya telah berakhir dengan kemenangan di pihak Padepokan Angin Putih. Di bawah biasan cahaya rembulan yang menggantung di langit bersih, terlihat belasan kapal berbendera Perguruan Angin Putih sedang bergerak ke arah dermaga.


Mantingan sebenarnya ingin menyarungkan pedang dan sebagai tanda berakhir sudah pembunuhan yang ia lakukan malam ini. Namun diingatnya bahwa Satya masih bertarung dengan gurunya.


Kembali Mantingan menebar pandang. Kali dengan lebih seksama. Pergerakan para pendekar jauh lebih cepat ketimbang laju burung elang sekalipun, terlebih-lebih lagi jika sedang terlibat dalam sebuah pertarungan.


Hingga tampaklah kelebatan-kelebatan dan kilatan cahaya dari mantra sihir. Dari yang Mantingan lihat, pertarungan masih berlangsung cukup sengit.


Meskipun Satya terlihat lebih unggul ketimbang Cagak Kesatu, tetapi Mantingan tahu bahwa Satya dapat saja langsung terbunuh ketika gurunya itu berhasil mengejarnya.


Satya harus terus berlentingan dari bangunan ke bangunan untuk menghindari kejaran gurunya, namun ia masih harus membagi pikirannya untuk melempar lontar-lontar dengan benar. Itu bukanlah hal yang mudah, dan kesalahan kecil seperti tergelincir atau sekadar terpeleset sudah mampu membuat nyawanya terpisah dari raga.


Mantingan ingat bahwa Cagak Kesatu akan bertarung dengannya jika Satya berhasil dikalahkannya. Meskipun Mantingan amat sangat tidak menginginkan hal itu terjadi, tetapi ia harus tetap menyiapkan diri untuk menghadapi pertarungan.


Satya terlihat melenting amat sangat tinggi dari atap sebuah bangunan. Membuat Mantingan merasa terkejut dan heran bukan main dengan tindakan itu, tetapi ia memahami bahwa Satya dapat saja memperoleh keberuntungannya meskipun memiliki risiko yang sangat tidak kecil.


Ketika Cagak Kesatu pula melesat ke atas sambil menghunus pedangnya, di sanalah Satya melemparkan Lontar Sihir dalam jumlah yang teramat sangat banyak. Puluhan Lontar Sihir yang dilesatkannya dalam satu waktu!


Satya cukup cermat dengan memperhitungkan bahwa seorang pendekar tidak akan mampu berkelebat menghindar ketika berada di udara. Puluhan Lontar Sihir yang dikirimkannya itu tidak lagi mampu dihindari Cagak Kesatu.

__ADS_1


Mantingan mengulas senyum lebar sebab merasa riwayat Cagak Kesatu akan segera berakhir. Akan tetapi senyumannya itu menghilang tiba-tiba setelah terdengar seruan dari pendekar tua itu.


“KENA KAU!!!”


Cagak Kesatu melepas pedangnya sebelum menendangnya kuat-kuat ke atas. Ketika pedang itu melesat ke langit, tubuhnya justru melesat ke bawah akibat daya dorong besar yang dihasilkan dari menendang pedangnya.


Pedang itu melesat amat sangat cepat. Lebih cepat ketimbang kecepatan kilat. Satya sungguh tidak dapat menghindar selama dirinya masih berada di udara.


Mantingan melakukan tindakan cepat. Ia melesatkan sebatang pedang yang tergeletak di atap penginapan. Pedang itu melesat pula dengan kecepatan yang melebihi petir!


Akan tetapi, agaknya Mantingan memang harus menerima kenyataan bahwa pedang yang melesat ke arah Satya amat sangat mustahil jika berhasil ditangkis betapa pun caranya.


Mantingan hanya bisa memejamkan matanya ketika pedang Cagak Kesatu menembus tepat di dada Satya.


Masih dalam keterpejamannya, Mantingan berkelebat cepat. Digunakannya Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk melacak keberadaan Cagak Kesatu, yang ternyata memang telah bersembunyi di balik bangunan yang terbakar. Dengan kecepatan tinggi, Mantingan melesat ke arahnya.


Cagak Kesatu hanya bisa bergerak mundur sebab dirinya tidak memegang senjata saat ini. Namun dapat dengan mudahnya dia menyambar sebuah pedang intan milik anggotanya yang tewas. Cagak Kesatu mengumpat di dalam benak sebab kualitas pedang yang didapatkannya berbeda jauh dengan pedang miliknya.


Pendekar tua itu memilih untuk terus bergerak mundur sambil menghunuskan pedangnya ke arah Mantingan, berjaga-jaga jika pemuda itu melempar senjata rahasia.


Mantingan kembali membuka matanya, yang langsung menyajikan tatapan tajam kepada Cagak Kesatu. Pedang Kiai Kedai mulai bersinar terang, Jurus Seribu Rembulan Melahap Bintang akan dimainkannya.


Dalam seketika, tercipta puluhan bayangan pedang bercahaya yang berputar-putar di sekeliling Mantingan. Cagak Kesatu meneguk ludahnya, dia tahu bahwa dari puluhan bayangan itu hanya satu yang benar-benar asli, namun dia tidak mampu membedakannya sama sekali.


Seluruh pedang itu secara mengejutkan terlontar ke depan. Cagak Kesatu segera mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan itu bagaimanapun caranya.


Dilihatnya puluhan bayangan pedang bercahaya yang melesat ke arahnya. Lalu kemudian Cagak Kesatu merasa terkejut lagi. Dalam waktu yang hanya seperkian kejap mata saja, dirinya mampu menentukan yang manakah pedang asli dengan pedang bayangan. Perbedaannya terlalu kentara.


Setelah berhasil mengetahuinya, Cagak Kesatu menghindari serangan pedang yang asli dan membiarkan tubuhnya dihunjam bayangan pedang palsu. Seulas senyum lebar tampak di bibirnya. Keadaan berbalik tajam, sebab betapa pun saat ini Mantingan tidak sedang memegang pedang!

__ADS_1


Namun, tanpa diduganya sama sekali, sebuah gelombang angin menabrak tubuh pendekar itu dengan teramat sangat keras. Dadanya serasa remuk dengan hantaman itu. Pedang terlepas dari tangannya, berbarengan dengan nyawa yang terlepas pula dari badannya.



__ADS_2