
SI PRIA tua mengangguk pelan. “Baiklah, sesungguhnya itu lebih baik sedaripada Anak menantang maut, mencari mati.”
Mantingan tersenyum canggung. “Terima kasih atas pengertiannya, Bapak. Sekali lagi, saya memohon maaf karena tidak bisa membantu desa ini terlalu banyak.”
“Ya, ya. Tidak mengapa. Tidak perlu dipikirkan. Justru saya merasa tindakan Anak sudah betul-betul bijaksana.” Si pria tua kemudian tertawa getir. “Jadilah saat ini saya boleh memohon diri? Ada banyak hal lain yang menuntut saya selesaikan.”
Mantingan merentangkan tangannya ke samping. “Silakan saja, Bapak. Maafkan telah mengganggu waktu Bapak yang berharga.”
“Tidak. Tidak mengganggu sama sekali." Pria tua itu mengibaskan tangan. "Selamat tinggal. Semoga dewa melimpahimu dengan kesehatan.”
Mantingan hanya mengangguk sebagai balasan. Kemudian, pria tua itu pergi. Mantingan menutup pintunya kembali dan masuk ke dalam. Bidadari Sungai Utara langsung menghampirinya.
“Daku mendengar perbincanganmu sedikit-sedikit. Yang membuatku heran adalah sikapmu yang tak mau menolong penduduk desa.”
Sebelum mengeluarkan jawaban, Mantingan lebih dahulu menduduki kursi di dekatnya. “Dia berkata bahwa dirinya berasal dari jawatan desa.”
“Ya, aku mendengar itu.”
“Dan dia berkata pula bahwa setiap gerai harus membayar 10 keping emas setiap bulannya.”
“Dan harga aslinya adalah 5 keping perak saja, setelah terjadi perampokan maka mereka ....”
“Di Desa Lonceng Angin, penyebutan kedai berdagang lebih sering dialihkan ke ‘toko’ ketimbang ‘gerai’. Bahkan pengucapan itu juga berlaku di balai desa.”
“Jadi Saudara, bermaksud menuduhnya atau apa?”
“Aku tidak menuduh orang tanpa kepastian.” Mantingan menggeleng ragu.
“Saudara, engkau tidak bisa menuduh seseorang hanya karena penyebutan kata yang berbeda ....”
“Apakah Saudari mendengar saat orang tua itu menjelaskan tentang kedatangan para perampok ke desa ini?”
Bidadari Sungai Utara mengangguk pelan. “Daku dapat mendengarnya cukup jelas. Perampok-perampok itu datang ke balai desa bersenjatakan kelewang berlapis racun.”
__ADS_1
Kemudian Mantingan mengangguk pelan. “Dan dari mana dirinya bisa tahu bahwa kelewang-kelewang itu beracun? Terlebih-lebih dia mengatakan bahwa racun tersebut sangat mematikan. Dan ada hal lain yang membuatku curiga. Mengapakah dirinya seakan sangat khawatir bahwa daku akan menyerang para rampok itu? Padahal, daku belum pernah mengatakan akan menyerang mereka. Dia juga mengatakan bahwa diriku akan binasa jika berani menyerang mereka. Dugaanku saat ini, meminta pajak hanyalah kedok orang tua itu, dia hanya ingin memastikan diriku dan memastikan aku tidak menyerang.”
Tiba-tiba saja Bidadari Sungai Utara memucat. “Saudara, apakah dirinya ....”
Mantingan menghela napas panjang. “Diriku awalnya berpikiran seperti itu juga. Namun, daku tidak bisa menuduh orang tanpa bukti yang pasti. Diriku merasa perlu menyelidiki masalah ini sampai tuntas.”
“Saudara, jika yang pria tua itu adalah salah satu dari perampok yang menyerang desa, maka engkau berada dalam bahaya. Segala gerak-gerik Saudara pastilah diawasi. Sebelum dikau bisa menyerang mereka, mereka akan menyerang dikau. Janganlah cari bahaya. Lupakan saja masalah ini. Dikau memiliki banyak uang, bayarlah pajak yang akan memuaskan mereka. Pasti mereka tidak akan mengganggu Saudara. Ingatlah bahwa setiap langkah yang dibuat Saudara memiliki akibat yang besar.”
“Diriku memang memiliki banyak uang, Saudari. Tapi bagaimanakah dengan yang tidak memiliki uang? Bukankah pajak dari para rampok itu akan mencekik mereka sampai mati?”
“Apakah Saudara tidak memikirkan nyawa Saudara sendiri?”
“Ajal pasti akan menjemput setiap manusia, cepat atau lambat. Ada dihidupkan sampai dia tua dan pikun, ada pula yang dimatikan semasih ia muda. Karena kematian sudah pasti akan menjemput, maka seorang manusia akan dihitung berdasarkan perbuatannya semasa hidup.”
“Berulang kali Saudara mengatakan ini.” Bidadari Sungai Utara mendesah pelan. “Tapi jikalau Saudara mati sebagai pahlawan tanpa seorangpun yang mengetahuinya, bukankah itu hanya sia-sia saja?”
Mantingan tersenyum. “Maka manfaatku yang akan abadi.”
Bidadari Sungai Utara tampak setuju dengan itu, namun di sisi lain ia tidak bisa membiarkan Mantingan berjalan menghampiri kematian. Mengingat pula, Mantingan masih berada dalam bayang-bayang kelam Racun Tidak Bernama. Mantingan tidak boleh menggunakan banyak tenaga dalam jika tidak mau celaka.
“Diriku akan mengubah jati diri, sehingga kau, Kana, dan Kina akan aman-aman saja.”
“Bagaimana jika Saudara ditangkap, disekap, dan dipaksa mengakui semuanya?”
“Jika itu akan membahayakan orang-orang yang kusayangi, maka diriku memilih mati saja.”
“Penderitaan akan membuat seseorang mau melakukan apa pun demi terlepas darinya.”
“Kupastikan diriku tidak akan melakukan itu.”
Bidadari Sungai Utara menggigit bibirnya. Ia dapat melihat keyakinan Mantingan, tetapi biar bagaimanapun juga ia tak bisa membiarkan Mantingan pergi begitu saja. “Lalu bagaimana dengan janjimu terdahulu? Kau berjanji akan mengantarkanku sampai di pelabuhan?”
“Tentu aku akan mengantarkanmu jika seluruh urusan ini selesai.”
__ADS_1
“Bagaimana jika kau tidak kembali?”
“Maka gunakanlah Kitab Teratai dan seluruh hartaku untuk kembali ke Champa. Atau pergilah ke Perguruan Angin Putih. Temui Ketua Rama, katakan bahwa engkau adalah sahabatku. Sampaikanlah pula bantuan yang engkau inginkan.”
Bidadari Sungai Utara menarik napas khawatir. Kini ia tidak memiliki alasan lain untuk membantah Mantingan. Dan memanglah sebenar-benarnya tidak ada alasan yang tepat untuk menghalangi niat baik Mantingan. Bidadari Sungai Utara hanya khawatir akan keselamatan pemuda itu, tidak lebih.
“Kalau begitu, aku akan ikut denganmu. Membunuh semua musuh.”
“Daku khawatir Saudari hanya akan merepotkanku saja.”
Bidadari Sungai Utara melebarkan matanya. “Ingatkah dirimu tentang kemampuanku membasmi sembilan pendekar jahat di Pasar Lelang waktu itu?”
“Kali ini jumlah mereka lebih dari sembilan pendekar.”
Bidadari Sungai Utara semakin melebarkan matanya. “Dan Saudara berniat maju sendirian?”
Mantingan hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Tidak biasanya diriku melihat sikap bodoh seorang Mantingan.” Bidadari Sungai Utara berkata lemah sambil menggeleng.
“Tentu saja diriku tidak akan maju tanpa perencanaan matang.” Mantingan tersenyum tipis. “Apakah Saudari tidak ingat bahwa diriku masih bisa memanfaatkan Lontar Sihir?”
Bidadari Sungai Utara seakan tersadar, tetapi sesaat kemudian menggeleng. “Lontar Sihir tetap membutuhkan tenaga dalam untuk membuka mantranya.”
“Mungkin itulah pengorbanan yang harus kulakukan demi Desa Lonceng Angin yang indah nan damai ini.”
“Diriku bisa mendonorkan tenaga dalam untukmu. Jelas kutahu cara melakukan itu.”
Mantingan menatap mata gadis itu sejurus. Kembali berkata, “Daku khawatir dikau hanya merepotkanku.”
Tersinggung juga diri Bidadari Sungai Utara. “Merepotkan dalam artian apa?”
“Dalam artian banyak,” balasnya. “Engkau tidak bisa bergerak cepat dan tepat. Dalam sebuah pertarungan jarak dekat, yang paling dibutuhkan adalah kecepatan dan ketepatan. Tiga hari yang lalu saat kita berlatih menangkap lalat, engkau kalah dariku.”
__ADS_1
“Diriku perlu lebih banyak latihan. Apakah Saudara pikir seseorang bisa menjadi ahli dengan sekali latihan saja?”