
MANTINGAN KEMUDIAN menemui Kana yang baru saja menyelesaikan makan malamnya di lantai pertama. Kana lekas menyapa Mantingan dengan hangat.
“Selamat malam, Kaka Man. Ada suatu hal apakah yang sedang terjadi hingga Kaka turun malam-malam seperti ini menemuiku?"
Mantingan menunjukkan senyum hangatnya. “Daku ingin menjumpai engkau, Kana.”
Kana mengangkat alisnya. “Tidak biasanya Kaka ingin menjumpaiku, apakah ada sesuatu yang penting?”
“Ya. Ini penting sekali. Penting dan genting.”
Raut wajah Kana segera berubah. “Cepat katakanlah, Kaka Man, jika itu memang penting lagi genting!”
“Diriku ingin mendengarmu berpuisi. Lekaslah engkau berpuisi di depanku!”
“Kaka Man tidak sedang bergurau, bukan? Daku ini bersungguh-sungguh, cepatlah katakan hal yang penting lagi genting itu, Kaka Man!”
“Tidak.” Mantingan melebarkan senyumnya. “Sudah terlalu lama aku tidak memperhatikan dirimu dan Kina. Tentulah aku merasa sangat bersalah. Dan untuk menebus rasa bersalah, maka aku memohon pada kau untuk berpuisi di depanku. Bukankah Ibu Wira telah mendengar puisimu? Maka aku harus mendengarnya.”
Kana mengerutkan dahinya. "Kaka tidak sedang bercanda, bukan?"
Mantingan menggeleng pelan. "Tidak kali ini, Kana."
Kana terdiam beberapa saat sebelum kembali berkata, “Sungguh Kaka tidak perlu merasa bersalah. Walau diriku memang merasa perhatian Kaka pada kami telah berkurang, tetapi tanpa Kaka kehidupan kami tidak akan seperti ini. Aku bisa berpuisi pun karena Kaka telah banyak memberiku karya-karya sastra bernilai tinggi. Kaka sudah terlalu banyak membantu dalam hidup kami berdua. Jikalau Kaka merasa bersalah, maka aku akan lebih merasa bersalah lagi.”
“Diriku akan merasa bersedih jika engkau tidak mau berpuisi di depanku.”
__ADS_1
Kana mengembuskan napas panjang. “Aduhai, Kaka Man. Janganlah engkau bersedih, walau daku tak bisa membacakan puisi di depanmu sekarang juga.”
Mantingan mengernyitkan dahinya sedikit. “Mengapakah begitu, Kana?”
“Diriku menyadari ada beberapa kesalahan makna di dalam puisiku. Sehingga sungguh, diriku tidak bisa berpuisi di depan Kaka saat ini juga. Namun aku berjanji, esok malam akan kuselesaikan puisi ini. Karena bagiku, puisi ini belum selesai jika aku belum juga memperbaiki kesalahan maknanya.”
Mantingan mengelus dagunya dan mengangguk pelan. “Kau harus menetapi janji esok malam, Kana. Maka dengan ini, aku hanya ingin kau membaca kitab ini.”
Mantingan mengeluarkan sekeropak kitab dari dalam kantung bajunya. Menyerahkannya pada Kana.
“Apakah isi kitab ini, Kaka?”
Mantingan tersenyum lalu menjelaskan, “Ini adalah kitab berisi ilmu meringankan tubuh tanpa tenaga dalam, dan ilmu tapak tanpa tenaga dalam. Kau pasti akan senang.”
Mata Kana melebar. “Sungguhan ini untukku, Kaka?”
“Pasti akan kulaksanakan, Kaka Man!” Kana benar-benar tidak dapat menahan rasa senangnya. Ia melompat-lompat kecil. Namun, Kana tetap menahan sorakannya. “Setulus hati aku berterimakasih padamu, Kaka Man. Kitab ini pasti akan sangat berguna bagiku. Sesekali aku ingin merasakan rasanya menjadi pendekar. Dapat melompat amat tinggi, tetapi amat lambat ketika kembali ke tanah. Seolah tubuhnya hanyalah helai kapas saja. Dan daku ingin punya jurus tapak yang hebat, walau tak kuketahui untuk apa kugunakan. Sekali lagi, terima kasih Kaka Man!”
“Tidak perlu seperti itu.” Mantingan mengibaskan lengannya. “Aku harap engkau dapat menggunakan ilmu itu untuk tujuan yang baik. Jangan sesekali menggunakan ilmu itu untuk perbuatan yang jahat, gunakanlah ilmu lain selain ilmu yang kuberikan padamu ini.”
Kana mengangguk cepat. “Selayaknya manusia biasanya, diriku tidak bisa melepaskan diri dari kesalahan. Tetapi aku berjanji, hanya akan menggunakan ilmu yang terkandung di dalam kitab ini untuk tujuan mulia. Bisakah Kaka memberitahu nama kitab ini padaku?”
Mantingan mengangkat bahunya. “Aku belum menemukan nama yang cocok untuknya. Apakah kau memiliki saran, Kana?”
“Jadi, kitab ini dibuat sendiri oleh Kaka?” Kana memasang wajah heran.
__ADS_1
“Bisa ya dan bisa juga tidak.” Mantingan memasang senyum canggung. “Diriku hanya mengambil inti sari dari kitab-kitab persilatan yang ada, lalu dipadukan sedikit dengan Kitab Teratai. Jadilah seperti ini.”
Kana terdiam beberapa saat sebelum mengangguk dengan takjub. “Ini sangat luar biasa. Kaka bisa menciptakan ilmu persilatan yang mestinya berguna bagi khayalak luas. Salinlah kitab ini, Kaka, sehingga bisa dijual di toko Kaka. Sudah pasti banyak orang yang berminat.”
Namun Mantingan justru menggeleng. “Pergolakan masih terjadi di Bhumi Java, Kana. Jika kitab ini sampai tersebar, hanya akan memperkeruh keadaan saja.”
Kana kembali diam sebelum akhirnya ia mengerti. Bagaimanapun, kitab itu memungkinkan seseorang yang bukan pendekar dapat menguasai ilmu meringankan tubuh. Jika kitab itu tersebar luas karena banyaknya peminat, Mantingan tidak dapat menjamin semua orang yang mempelajari kitabnya memiliki niat baik.
“Baiklah kalau begitu, Kaka Man. Izinkanlah daku pergi ke kamarku untuk membaca kitab dan tidur.”
“Silakan.” Mantingan mengulurkan tangannya ke samping. “Jangan lupa akan janjimu.”
Kana mengangguk sekali lagi sebelum pergi berlalu. Sedangkan itu, Mantingan kembali ke kamarnya di lantai dua. Dapat dilihatnya Bidadari Sungai Utara sedang duduk di depan meja belajar, berhadapan dengan sebuah kitab yang Mantingan kenal betul itu adalah Kitab Tapak Angin Darah.
Bidadari Sungai Utara menyadari kehadiran Mantingan, buru-buru ia menutup kitab yang tengah dibacanya itu. Dengan tampang gugup, ia tak dapat berkata-kata.
“Baca saja, Saudari. Bukankah aku sudah mengizinkannya?”
Masih dengan tampang gugup, gadis itu menjawab, “Daku merasa Kitab Tapak Angin Darah terlalu berharga untuk kusentuh. Maafkanlah, diriku terlalu lancang.”
Mantingan hanya menggeleng pelan dan memintanya meneruskan bacaan. Mantingan juga menekankan bahwa Tapak Angin Darah akan sangat dibutuhkan dalam pertempuran nanti. Maka dengan tidak enak hati, Bidadari Sungai Utara tetap membacanya.
Sedangkan itu, Mantingan duduk di pinggiran kasurnya. Membaca ulang kitab tentang kewaspadaan seorang pendekar. Kitab itu bernama Kitab Lalat. Sebagaimana sifat seekor lalat yang selalu terbang tatkala ada yang mendekatinya. Diperumpamakan sebagai bentuk kewaspadaan tingkat tinggi. Selain waspada, seekor lalat juga dapat terbang dengan cepat, menghindar dengan tepat pula. Sehingga penamaan kitab ilmu kewaspadaan itu mengambil nama lalat.
Kitab Lalat adalah kitab yang wajib dikuasai seluruh murid Perguruan Angin Putih. Pembuat kitab tersebut juga berasal dari Perguruan Angin Putih. Sehingga Kitab Lalat hanya dipelajari oleh murid-murid di perguruan itu. Dijaga ketat pula, sehingga kitab tidak bocor keluar perguruan.
__ADS_1
Memanglah banyak yang mengincar Kitab Lalat dari Perguruan Angin Putih. Tetapi kesetiaan murid-murid turut berperan banyak dalam keterjagaan ilmu di dalam Kitab Lalat. Mantingan pun sebenarnya tidak boleh menyebarkan pada orang-orang yang tidak bisa dipercayai.