Sang Musafir

Sang Musafir
Arti dari Kawan Seperjalanan


__ADS_3

MANTINGAN termenung barang sejenak, sedangkan Chitra Anggini telah berlari kecil ke arah kawan-kawannya.


Teman seperjalanan?


Barang tentu Mantingan mengerti maksud dari itu. Teman seperjalanan hakikatnya jauh lebih tinggi ketimbang teman biasa. Teman seperjalanan berarti teman sehidup-semati. Susah senang dilewati bersama. Marabahaya ditaklukkan bersama. Ketakutan dihadapi bersama. Semua-semua bersama.


Terkadang begitulah hubungan teman seperjalanan lebih erat dari hubungan saudara kandung, lebih erat dari sepasang kekasih muda, bahkan lebih erat pula dari sepasang suami-istri.


Hubungan teman seperjalanan biasanya berakhir dengan saling menikahi atau saling mengangkat satu sama lain menjadi saudara. Namun, dalam dunia persilatan hal seperti itu terlalu indah dan amat sangat jarang terjadi; teman seperjalanan mesti selalu berakhir pada kematian.


Mantingan menarik napas panjang sebelum kembali melangkah pendek-pendek. Kembali pikirannya tenggelam dalam perenungan.


Diingatnya kembali, bukan hal yang jarang jika beberapa pendekar membentuk suatu hubungan teman seperjalanan. Biasanya, pendekar mengambil teman seperjalanan setelah berhasil menguasai jurus berkepasangan, dan teman seperjalanan yang akan diambilnya itupun harus pula menguasai jurus berkepasangan yang dikuasainya.


Mereka akan mengembara tak tentu arah. Mencari pendekar-pendekar di rimba hijau persilatan untuk ditantang bertarung. Sama seperti pendekar lainnya, mereka mencari kesempurnaan hidup dalam pertarungan, meski kali ini tidak lagi seorang diri.


“Beberapa pendekar tidak tahan menapaki jalan persilatan yang sunyi dan sepi, beberapa lainnya merasa bahwa dunia persilatan akan lebih mudah ditaklukkan dengan berdua.” Begitulah Kiai Kedai menjelaskan secara singkat tentang mengapa sebagian pendekar memilih untuk mengambil teman seperjalanan untuk menempuh sukarnya rimba hijau persilatan.


Namun dunia persilatan bukanlah tempat yang ramah bagi pertemanan dan cinta untuk bertumbuh. Suatu saat, cepat atau lambat, pastilah kandas dengan mengenaskan. Begitu pula nasib pendekar-pendekar yang mengambil teman seperjalanan.


“Jika sudah mengembara dari ujung pulau hingga akhirnya tiba di ujung lain dari pulau itu, maka di sanalah hubungan pertemanan sehidup-semati mereka kandas,” tambah Kiai Kedai. “Mereka akan saling menantang satu sama lain untuk bertarung. Karena mereka belum pernah terkalahkan selama pengembaraan, maka haruslah kawannya sendiri yang akan mengalahkan. Pada akhirnya, salah satu dari mereka akan mati. Atau justru kedua-duanya, sebab yang masih hidup merasa tidak lagi mampu melanjutkan hidup tanpa kawan yang baru saja dibunuhnya itu.”


Dikisahkan bahwa setelah membunuh kawan seperjalanan yang telah menemani selama bertahun-tahun malang melintang di rimba persilatan, maka kebanyakan dari mereka akan langsung tersungkur. Menangis. Memeluk tubuh tak bernyawa kawannya yang masih hangat.


Sebagian lainnya akan langsung berkelebat pergi, meski satu-dua kedip mata kemudian mereka akan jatuh tersungkur. Menangis pula dengan sejadi-jadinya.


Namun, sebagian kecil dari mereka tidak akan menangis. Tidak akan meratapi tubuh kaku kawan seperjalanannya yang telah dibunuh dengan kedua tangannya sendiri. Namun, tersungkur pula di atas tanah, dengan bersimbah darah. Mereka itulah yang mengambil putusan untuk langsung mengakhiri riwayat diri tanpa basa-basi. Tanpa mengucap kalimat perpisahan pada kawannya, sebab mereka tahu akan segera menyusul dan bersua kembali.


“Pertarungan di bibir pantai. Dengan deburan ombak menenangkan. Semilir angin yang terkadang hangat dan terkadang dingin. Di ufuk barat sana, matahari siap ditelan samudera. Bukankah itu indah sekali, muridku?”

__ADS_1


Pikiran Mantingan kembali menyasar Chitra Anggini. Kiranyakah kisah mereka berdua akan berakhir dengan seperti apa yang telah diceritakan oleh Kiai Kedai? Mati di bibir pantai? Menatap hamparan biru air laut yang seolah tiada memiliki batas?


Mantingan tersenyum tipis sambil terus berjalan. Chitra Anggini menyatakan bahwa mereka adalah teman seperjalanan. Itu telah membuktikan kesungguhannya. Dia siap mati.


Mantingan terus melangkahkan kakinya. Pendek-pendek, tetapi pasti. Kedua lengannya masih tersilang di belakang punggung. Di kala itulah, dengan menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, ia menyimak suatu percakapan.


“Wanita tadi menyebut pemuda itu sebagai Mantingan. Apakah dirinya merupakan Pahlawan Man dari Tarumanagara, pendekar muda berbakat yang mendapat kursi kehormatan Pemangku Langit itu?”


“Eh, kupikir tidak begitu. Ada begitu banyak nama Mantingan di Javadvipa. Bahkan dari kabar yang kudapatkan pagi tadi, nama Mantingan yang termasyhur itu telah digunakan oleh banyak pemuda untuk menggantikan nama awal. Mereka rela mengganti nama yang diberikan orang tua, hanya karena begitu terkagum-kagum dengan sepak terjang Pahlawan Man.”


“Jadi mereka mengubah namanya menjadi Mantingan?”


“Benar.”


“Aih, lagi pula siapakah gerangan yang menyukai nama pemberian orang tua? Selalu penuh harapan yang terlalu sulit digapai.”


“Lupakanlah tentang namanya. Apalah arti sebuah nama. Ada yang hendak kutanyakan kepadamu, tetapi apakah akan berbahaya jika daku turut menyinggung Yang Mulia Raja?”


Percakapan itu terhenti sejenak. Mantingan tetap menunggu, tetapi kakinya terus melangkah. Lajunya jalannya tidak berkurang barang sedikitpun. Bukankah hal itu akan membuat pendekar-pendekar yang menguntit di belakangnya menjadi curiga?


“Apakah raja kita akan menganggap Pahlawan Man sebagai ancaman? Bukankah telah jelas sekali bahwa kita sedang mempersiapkan seorang pendekar berbakat untuk menempati Pemangku Langit?”


“Yang Mulia Raja tidak menganggapnya sebagai ancaman sama sekali. Justru dia berharap Pahlawan Man turut bergabung dengan Koying. Dia membuka pintu istana lebar-lebar untuknya.”


“Waduh! Bagaimana jika dua Pemangku Langit itu justru bertengkar di dalam istana? Bukankah tidak akan ada yang cukup cepat dan kuat untuk menghentikan mereka?”


“Mana bisa seperti itu! Antara sesama Pemangku Langit dilarang terjadi pertarungan. Merekalah yang akan menjaga keseimbangan dunia persilatan. Apalah yang akan terjadi jika mereka sampai bertarung? Pasti akan terjadi kekacauan yang teramat sangat di dunia maupun dunia awam.”


“Hmmh. Benar juga. Lagi pula, kurasa tidak akan ada yang bisa mengalahkan Pemangku Langit.”

__ADS_1


“Kurasa ada.”


“Apakah itu?”


“Tentu saja cinta.”


Mendengar itu, Mantingan hanya dapat tersenyum pahit.


***


GELANGGANG menari telah selesai disiapkan. Itu merupakan sebuah tanah lapang dengan garis tengah lima depa. Bentuknya lingkaran sempurna.


Di bagian pinggir lingkaran itu telah diberi penerangan, tetapi bukan dari batang obor, melainkan dari celupak, yakni pelita yang dibuat dari mangkuk tanah liat kecil dengan berbahan bakar minyak kelapa. Cahayanya temaram, memberi perasaan tenteram.


Tepat di tengah lingkaran, telah dibangun sebuah api unggun berukuran sedang. Berbeda dengan celupak-celupak di pinggir lapangan yang sinarnya remang-remang, sinar dari api unggun justru terang-benderang. Memberi perasaan semangat yang berpadu dengan gairah.


Rangkaian pencahayaan api di bawah kegulitaan malam itu membentuk suatu tatanan yang menyegarkan mata.


Dupa-dupa dibakar. Menyebar aroma wangi yang samar sebab sebagiannya terembus angin malam.


Mantingan duduk di atas pohon dengan dahan-dahan besar sebagai pijakannya sekaligus sandarannya. Tanpa berniat sembunyi sama sekali. Siapa pun akan memahami bahwa dirinya tidak mau duduk bersama seribu prajurit Koying di atas tikar, sehingga memang bukan termasuk hal yang patut dipermasalahkan. Pendekar-pendekar yang semula membuntutinya pun menjadi urung.


___


Untuk yang menanyakan akun IG dan FB saya, maka ini dia:


IG: @westreversed


FB:WestReversed

__ADS_1


Hahahaha.



__ADS_2