Sang Musafir

Sang Musafir
Perhelatan Diundur


__ADS_3

MANTINGAN kembali menatap Chitra Anggini dengan segenap pertanyaan di dalam kepalanya yang seolah meluncur saja tanpa pernah dikehendaki: seperti apa bentuknya? Bagaimana cara dia menatap? Apa warna pakaiannya? Tertutup atau tidak? Sedang duduk atau berdiri? Sendiri atau bersama kawannya?


Beruntunglah Chitra Anggini dapat menangkap seluruh pertanyaan dalam tatap mata itu dengan cukup baik, sehingga dapatlah pula dirinya membalas dengan tepat: bentukan badannya bila kulihat secara sekilas tadi, mirip dengan lelaki. Rambutnya panjang, dibiarkan tergerai begitu saja. Selain itu, tidak ada hal lain yang sekiranya dapat kuterangkan kepadamu.


Dia menatap kita dengan tenang-tenang saja, tetapi aku merasa ada maksud tertentu yang hendak disampaikan dalam tatapan itu. Sepertinya bukan maksud yang buruk, tetapi tidak pula maksud yang terlalu baik. Mungkin bila kau melihatnya langsung dengan mempergunakan kemampuan membaca pertanda, kau akan mengetahui maksud terselubung itu.


Warna pakaiannya terlihat hitam bila dari kejauhan, tetapi bisa saja abu-abu atau warna lainnya. Dia duduk di bawah bayang-bayan atap tenda, akan cukup sulit menentukan warna kulit atau pakaiannya.


Di sampingnya adalah pasangan-pasangan pendekar lain, tetapi tidak satupun dari mereka tampak berkawan dengannya. Sungguh mengherankan, dia sama sekali tidak membawa pasangan, padahal ini adalah Perhelatan Cinta yang mengharuskan setiap pengikutnya membawa pasangan.


Maka begitulah Chitra Anggini baru mengedipkan matanya setelah selesai menjawab seluruh pertanyaan Mantingan. Berbicara dengan tatap mata sama saja dengan tidak mengedipkan kelopak sampai pembicaraan itu selesai.


Mantingan menganggukkan kepalanya sambil berkata pada Chitra Anggini dalam tatapan matanya untuk tidak menunjukkan gelagat mencurigakan sampai dirinya melihat sendiri orang yang sedang mengintai itu. Tentulah dengan pertimbangan bahwa kemampuan membaca pertanda yang dimilikinya akan amat banyak membantu.


Namun, Mantingan masih mencari cara untuk dapat melihat sang pengintai tanpa tampak telah menyadari keberadaannya. Atau jika tidak begitu, maka berkemungkinan besar sang pengintai melarikan diri!


Mantingan tidak mengapa bila dirinya diintai, tetapi ia harus mengetahui terlebih dahulu maksud dan niat dari orang yang mengintainya itu. Bila nyata-nyatanya buruk, maka Mantingan tidak akan segan-segan mengambil tindakan mematikan.


Sementara ia masih berpikir keras untuk menemukan cara tersebut, dari panggung perhelatan tampaklah seorang wanita berbadan kekar selayaknya lelaki yang berjalan ke muka panggung.


Di punggungnya tersoren sepasang pedang panjang yang sama sekali tidak tersarung, memperlihatkan mata bilahnya yang berkilauan dipantul sinar terik matahari. Ditebarkannya pandangan mata menuju ke arah para tamu pendekar berpasangan yang telah hampir mengisi seluruh bangku perhelatan.


Lantas setelah berdeham beberapa kali, wanita itu mengeluarkan suara lantang yang jelas saja terisi penuh oleh tenaga dalam!

__ADS_1


"Tuan dan Puan yang terhormat, terima kasih karena telah menyempatkan sedikit waktu untuk mengikuti sekadar perhelatan kecil kami. Sayangnya, ada kabar buruk yang harus kami sampaikan dengan sangat tidak enak hati."


Tamu-tamu perhelatan mulai bergumam dengan suara rendah. Bertukar pandangan dengan pasangannya. Bertanya-tanya kabar buruk apakah kiranya yang benar-benar harus disampaikan oleh pihak perhelatan meski itu berarti sama saja dengan mempermalukan nama mereka. Menjawab dengan menebak-nebak. Ada yang sekadar basa-basi untuk menghangatkan suasana, ada pula yang menganggapnya berat dengan kewaspadaan tinggi.


Tidak hanya dari peserta perhelatan, tetapi hal sedemikian pula terjadi di panggung penonton. Selir-selir saling berunding sambil beberapa kali terkikik, sedangkan bangsawan lelaki tampak tidak senang raut wajahnya.


Maka seketika itu pula, halaman besar pada lapisan tembok ketiga istana bagai dipenuhi oleh lebah yang tak ada habisnya berdengung.


Mantingan dengan Chitra Anggini sendiri tidak banyak berpendapat. Mereka hanya saling melirik untuk sesaat, tanpa menyampaikan pesan apa pun dalam tatap mata maupun suara, sebab sungguh keduanya telah mengetahui hal apa yang benar-benar harus dilakukan.


Ketika Chitra Anggini tetiba saja berdiri, dan Mantingan segera menengok ke arah barat daya. Itu berlangsung hanya dalam sekedip mata saja, tetapi telah lebih dari cukup baginya untuk menemukan keberadaan sang pengintai!


Chitra Anggini duduk kembali sambil tersenyum lebar. Dirinya telah berhasil mengalihkan perhatian sang pengintai, membuat Mantingan memiliki cukup waktu untuk melihat langsung orang itu walau hanya sekedip mata. Tindakannya itu dapat dipastikan tidak akan membuat sang pengintai menjadi curiga, sebab betapa pun Chitra Anggini hanya terlihat seperti sedang meluruskan pinggang belaka.


“Tuan dan Puan, kami perlu sampaikan bahwa perhelatan mesti diundur hingga malam nanti oleh sebab beberapa hal.”


Ucapan perempuan itu mesti terpotong oleh sorakan-sorakan tamu perhelatan yang tidak terima.


“Buang-buang waktu saja kami di sini!”


“Apa kalian mengira bahwa itu adalah waktu yang sebentar?”


“Buat malu saja!”

__ADS_1


Mantingan mengusap wajahnya sambil tersenyum tipis. Mungkinkah Dara telah melancarkan siasatnya? Jika memang benar, maka sungguhlah tindakannya itu telah banyak membuat kegaduhan yang memang diperlukan bila ingin segera menyusup ke istana. Mantingan lekas mengirim bisikan angin pada Chitra Anggini, sebab tidak merasa yakin bahwa seluruh gagasan yang hendak disampaikannya dapat betul-betul dimengerti melalui tatapan mata.


“Kita harus bergerak sekarang.”


Chitra Anggini langsung menoleh ke arahnya dengan mata membeliak, disampaikannyalah suatu pesan melalui tatapan: kita sama sekali tidak memiliki rencana!


Mantingan membalas dengan tatapan pula: ketika tamu-tamu perhelatan menjadi tidak terkendali, kita menyusup. Puan Kekelaman akan membantu kita biar bagaimanapun.


Sambil terus menatapnya, Chitra Anggini menggeleng cepat. Tersampaikanlah sebuah pesan dalam tatap matanya yang cermelang itu: kau terlalu gila, Mantingan, kau hanya cari mati dengan cara terkonyol!


Mantingan balas menggeleng pula. Jelas dirinya tidak setuju dengan Chitra Anggini. Dirinya tidak cari mati, sebab memanglah Mantingan telah menganggap dirinya telah mati! Apakah lagi kiranya yang ditakutkan oleh orang mati?


Mantingan menggenggam gagang Pedang Kiai Kedai yang tersoren di pinggangnya dan bersiap untuk berdiri, tetapi beruntunglah perempuan kekar di tengah panggung perhelatan itu berhasil menghentikannya!


“Harap Tuan dan Puan tidak bersedih maupun marah, sebab kami akan mengganti waktu kalian yang terbuang dengan nilai yang sekiranya setimpal.”


Gemuruh penolakan itu tetiba saja berhenti sempurna. Tiada yang bersuara. Semuanya menyimak.


“Siang ini, seorang saudagar besar yang sekaligus pula pembawa lelang yang amat ternama, akan melangsungkan lelang hingga petang nanti. Tuan dan Puan semua yang hadir di sini akan mendapat potongan harga seperduapuluh untuk semua barang yang dilelang, tanpa terkecuali. Kerajaan akan menanggungnya.”


Seketika itu pula Mantingan membisu di tempatnya. Potongan harga seperduapuluh untuk semua barang lelangan Dara tanpa terkecuali tidak akan kecil jumlahnya, tetapi itu semua ditanggung oleh Kerajaan Koying?


Lekas saja Mantingan menyadari bahwa telah terjadi sesuatu yang benar-benar di luar rencana!

__ADS_1


__ADS_2