Sang Musafir

Sang Musafir
Sirep Pelepasan Jiwa


__ADS_3

MANTINGAN sama sekali tidak berkutik ketika Chitra Anggini meraih kedua tangannya. Perempuan itu mengajaknya bergerak mengiringi lagu yang melantun.


“Bergeraklah sesuai kata hatimu, Mantingan. Biarkan jiwa dari tarian ini mengendalikan ragamu sepenuhnya.”


Mantingan sulit mengerti. Segala sesuatu yang dilakukannya sampai kini, jarang sekali yang hanya berdasarkan kata hati belaka. Semisal ketika sedang bertarung menghadapi lawan-lawannya, meski ia membiarkan seluruh tubuhnya bergerak begitu saja, tetapi itu berkat segala latihan kerasnya bersama Kiai Guru Kedai hingga menancap ke dalam alam bawah sadar, sehingga tubuhnya dapat bergerak tanpa dikehendaki sama sekali.


Dan sekalipun ilmu membaca pertanda, itu sama sekali bukan menuruti kata hati.


Namun, lain halnya dengan tarian. Mantingan sungguh tidak pernah berlatih tarian semacam apa pun. Bagaimanakah kiranya ia dapat membiarkan tubuhnya bergerak sesuai kata hati dengan tepat dan benar?


“Ikuti saja.” Chitra Anggini kembali berkata, tetapi kini dengan suara yang jauh lebih lembut.


Demi mendengar suara yang sedemikian lembut itu, sangat lembut, begitu lembut, bahkan terlalu lembut, hingga hampir-hampir menyerupai suara Bidadari Sungai Utara, Mantingan memejamkan mata dan membiarkan pikirannya berpusat pada lantunan bebunyian.


Kemudian dahinya berkerut. Pada awalan, tiada satupun yang aneh dari bebunyian tersebut. Namun lama-kelamaan, larut-melarut, bebunyian itu mulai terdengar berbeda. Begitu meresap, seolah saja seluruh lantunan itu ada di dalam kepalanya dan bukan didengar oleh telinganya. Tak lama semenjak itu, Mantingan mulai kehilangan penguasaan raga.

__ADS_1


“Apakah yang kaurasakan?”


Suara Chitra Anggini muncul. Bukan, suara itu bukan berasal dari mulutnya, melainkan benaknya.


“Ini sirep?” Mantingan balas dengan bertanya.


"Ya." Terdengar balasan dari Chitra Anggini. "Sihir ini berasal dari lantunan bebunyian itu."


Pikiran Mantingan lekas mengarah pada keberadaan raganya saat ini, yang barang tentu bergerak sendiri tanpa sekehendaknya, sebab telah dikendalikan oleh sihir dari bebunyian itu sendiri.


Dalam pada itu, kewaspadaannya tentu telah berganti menjadi kelengahan. Mereka bagaikan sepasang rusa yang terlalu banyak minum tuak, berjalan tiada tentu arah, sehingga amat mudah bagi pemburu untuk memanahnya.


Chitra Anggini seolah dapat menebak jalan pemikiran Mantingan, sehingga dirinya berkata, "Satu-satunya hal yang perlu kita lakukan saat ini adalah percaya pada mereka. Kau mungkin menjadi risau, bahkan sangat risau, sebab bagaimana juga kau adalah buronan seluruh Dwipantara termasuk Kedatuan Koying ini, tetapi percayalah mereka tidak akan menyerangmu begitu saja. Wajahmu telah tersamarkan dengan teramat sempurna hingga bahkan aku sendiri tidak dapat mengenalimu sama sekali."


Mantingan memilih untuk percaya. Perkataan Chitra Anggini terdengar cukup masuk akal. Tidak ada yang perlu dirisaukannya terlalu berlebihan, sebab pihak Koying sendiri tidak benar-benar berniat membunuh Pahlawan Man, mereka hanya ingin Pemangku Langit itu berada di istana dan melindunginya.

__ADS_1


"Sirep ini bernama Pelepasan Jiwa." Suara Chitra Anggini kembali terdengar. "Siapa pun yang terlalu lengah saat mendengar bebunyian sihir ini, maka jiwa mereka seolah-olah meninggalkan raga. Mereka tidak lagi memiliki kendali atas tubuhnya sendiri, dan justru yang memiliki kendali adalah pemain dari bebunyian itu."


Jadi tubuhnya, tubuh Chitra Anggini, dan tubuh seluruh pasangan pendekar yang ada di tempat ini berada dalam kendali para pelantun itu? Bukankah dengan kuasa mereka, semua pendekar di sana bisa saling menyerang dan bebunuhan hingga tiada seorangpun tersisa?


"Lantas mengapa kita bisa berbicara tanpa mulut maupun tatapan mata seperti ini?" Mantingan bertanya, memilih untuk melupakan segala pemikiran buruk di dalam kepalanya.


"Bila raga kita menyatu, maka jiwa kita menyatu pula," balas Chitra Anggini.


Di luar alam bawah sadar Mantingan maupun Chitra Anggini, tubuh keduanya sedang berpelukan dan berjalan kecil-kecil mengiringi lantunan lagu. Betapa tak terbayangkan apa yang mereka lakukan saat ini!


"Untuk apa kiranya istana melakukan hal ini?" tanya Mantingan sekali lagi. Tak habis rasa penasarannya.


"Sayangnya, jawaban untuk pertanyaanmu yang satu ini tidak dapat kujelaskan sama sekali menggunakan kata-kata. Kakakku Kartika pernah mengikuti tarian ini bersama bekas kekasihnya, dan dia menjelaskan sesuatu yang tak bisa terbayangkan sama sekali olehku. Dan, sayang sekali kita bukan pasangan kekasih yang sebenar-benarnya, melainkan pasangan kekasih dalam selimut sandiwara, maka tiada satupun dari kita berdua mengetahui apa yang sesungguhnya dirasakan oleh kakakku maupun pasangan-pasangan pendekar lain di tempat ini.”


Adakah itu berarti tarian ini diperuntukkan agar kedekatan pasangan-pasangan pendekar itu semakin erat? Mantingan tidak sungguh mengetahuinya, dan tidak pula berani mengambil kesimpulan berdasarkan perkiraan semata, sebab betapa pun ia belum merasakan apa yang dirasakan oleh pasangan-pasangan pendekar lain di sekitarnya.

__ADS_1


Chitra Anggini pun agaknya memahami hal itu, maka berkatalah dia, “Tidak perlu memusingkannya sama sekali. Istana tidak akan mencoba membunuh kita lagi hanya karena kita berdua tak tampak mesra saat melakukan tarian ini."


Untuk perkataan itu, Mantingan sama sekali tidak membalasnya. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan perempuan itu adalah kebenaran, tetapi ditangkapnya sedikit nada kecewa dari ucapan batin itu. Bagaimanakah ia tidak terdiam bila memikirkan tentang apa kiranya yang dikecewakan oleh Chitra Anggini?


__ADS_2