Sang Musafir

Sang Musafir
Penguasaan Jurus Tapak Angin oleh Kana


__ADS_3

KANA menganggukkan kepalanya pelan. “Daku berhasil menciptakan gelombang angin, tetapi daku tidak tahu apakah itu mampu disebut sebagai sebuah keberhasilan atas penguasaan jurus, maka dari itulah diriku datang ke sini meskipun malam telah begitu larut.”


Mantingan menempelkan selembar Lontar Sihir pada dinding kamarnyw seraya berkata, “Kaubisa mencobanya sekarang, Kana.”


Kana kembali menganggukkan kepalanya sebelum mulai mempersiapkan kuda-kuda. Kaki kanannya dimajukan ke depan, sedang kaki kirinya ditarik ke belakang. Tangannya disilangkan ke depan dada.


Anak itu menarik napas panjang-panjang sebelum mengentak telapak tangannya ke hadapan. Gelombang angin melaju dengan kecepatan tak kasat mata dari tangannya itu, seketika menghamburkan segala barang yang dilaluinya, termasuk pula dengan lontar-lontar yang sudah dimantrai oleh Mantingan.


Gerakan anak itu tertahan dan punggungnya seketika berkeringat dingin. Napasnya tertahankan pula. Betapa ia mengetahui bahwa lontar-lontar itu bisa saja amat sangat disayangi Mantingan!


Namun pemuda yang dimaksudkan nyatanya tidak marah, justru sebaliknya, ia terlihat senang.


“Kukira engkau akan menghabiskan waktu satu atau dua pekan lamanya untuk menguasai Jurus Tapak Angin Darah, tetapi engkau dapat menguasainya hanya dalam satu hari saja. Pencapaian yang bagus!”


Kana merasa bahwa Mantingan hanya sedang menunda kemarahannya, maka dari itu dia segera bergerak cepat untuk merapikan lontar-lontar yang berhamburan di atas lantai.


“Engkau menginginkan lontar-lontar itu, Kana?” Mantingan justru melempar pertanyaan yang membuat anak itu terkejut.


“Kakanda, awalnya daku mengira bahwa Kakanda akan marah ....”


“Karena lontar-lontar itu?”


Kana terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dengan takut-takut.


“Tidak.” Mantingan mengibaskan tangannya, menjawab dengan santai. “Lontar-lontar itu tidak akan hancur hanya karena jurusmu.”


Kana tersenyum kecut dan memilih untuk terus membereskan Lontar Sihir milik Mantingan yang berserakan.

__ADS_1


“Tetapi diriku bersungguh-sungguh, Kana. Jika engkau menginginkan Lontar Sihir Cahaya itu, kaubisa mengambilnya beberapa.”


Kana meletakkan setumpukan lontar ke atas meja dibarengi dengan perkataan, “Kalau begitu, diriku akan ambil tiga lembar untuk berjaga-jaga.”


Kana tentunya masih belum mengetahui bahwa harga dari setiap lembar Lontar Sihir Cahaya yang dijual adalah sepuluh keping emas. Jika dia mengetahuinya, maka sudah sangat mungkin anak itu meminta untuk tiga lontar yang diambilnya ditukarkan saja dengan keping emas.


“Jika jurus tapakku bahkan tidak mampu menghancurkan daun lontar, bagaimanakah kiranya daku dapat melindungi Kina dan Kaka Sasmita dengan jurus ini?” Kana bertanya setengah kecewa sambil terus memandangi tangan kanannya yang tadi digunakan untuk menyerang.


“Kau baru saja menguasai jurus itu, bukan? Bahkan untuk sekadar menerbangkan lembar-lembar lontar itu sudah luar biasa.” Mantingan menepuk pundak anak itu dengan senyum hangatnya. “Dikau memang kecewa sekarang, tetapi kupastikan dikau tidak akan kecewa lagi setelah melatih jurus itu dengan giat. Tetapi jika kau bermalas-malasan, maka jangan mengeluh karena kecewa.”


Kana melirik Mantingan yang tengah tertawa lebar lalu mendengus pelan. “Percuma saja daku berlatih sampai bisa menghancurkan sebuah gunung sekalipun jikalau Kakanda tidak melihatnya.”


Mantingan menghentikan tawanya dalam sejurus. “Begitukah tujuan dikau mempelajari Jurus Tapak Angin Darah ini, Kana?”


“Sama sekali tidak, tetapi daku ingin Kakanda melihatku berkembang hingga berjaya. Sehingga Kakanda tidak pernah menyesali keputusan untuk memungutku.”


“Jika memang kita telah berjodoh untuk bersama, bolehkah pula bahwa dikatakan kita telah berjodoh untuk cepat-cepat berpisah?” Kana mengangkat pandangannya ke arah Mantingan, yang betapa di dalam sorot matanya itu menyimpan kedukaan besar hingga seolah tiada yang lebih besar daripada kedukaan itu.


“Memang,” kata Mantingan sejujurnya, “setiap pertemuan akan selalu berujung pada perpisahan. Cepat atau lambat dan tak mampu dihindari.”


Kana paham betul apa yang Mantingan katakan. Perpisahan akan selalu menyusul setelah terjadinya pertemuan. Kiranya, benar-benar tiada mampu dihindari manusia.


Kana memalingkan wajahnya. “Ada dua jenis perpisahan di dunia ini, Kakanda,” katanya kemudian, “ada perpisahan terpaksa dan perpisahan disengaja. Kakanda, engkau pasti memahami perpisahan kita ini termasuk ke jenis yang sebelah mana, sebab betapa pun engkau bisa mengikuti kami ke Champa jika mau.”


Kana berlalu meninggalkan kamar Mantingan setelah mengatakan itu. Menyisakan Mantingan seorang diri yang masih terpaku di tempatnya sambil menatap bintang gemintang di atas lautan luas dengan penuh perenungan. Kiranya yang dikatakan Kana adalah sebuah kebenaran. Jika Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina tidak bisa tinggal di Javadvipa, maka dirinya bisa tinggal di negeri Champa. Tiada seorangpun yang akan menghalanginya, bahkan yang ada mendukungnya.


Mantingan memejamkan mata. Namun, apakah alasannya untuk pergi ke Champa? Hanya untuk Bidadari Sungai Utara yang betapa pun tetap saja merupakan kekasih orang itu? Mantingan yakin sekali jika dirinya tidak akan mampu melihat atau merasakan hal itu untuk waktu yang lama, lalu sudah ditebak bahwa kakinya akan kembali membawanya mengembara di negeri yang sama sekali asing baginya itu.

__ADS_1


Angin malam terus masuk. Angin timur ini mungkin akan berakhir sebentar lagi. Jika hal itu sampai terjadi, maka tiada lagi angin yang mampu meniup Bidadari Sungai Utara ke negeri Champa. Sehingga biar bagaimanapun jua, Mantingan harus menguatkan hati untuk melepas bidadari berparas nan jelita itu.


“Mulai cintakah engkau dengannya, Mantingan?”


Mantingan membuka mata lebar-lebar ketika didengarkannya selirih bisikan.


“Mulai kauberi hati wanita itu, Mantingan?”


Pandangan Mantingan seketika hampa. Ia tahu bahwa suara itu tidak berasal dari arah mana pun, melainkan dari dalam kepalanya sendiri. Dan ia pula jelas mengetahui siapakah yang telah bersuara sedemikan.


“Buang saja. Buang saja. Buang saja abuku di dalam kendimu itu! Tidak lagi daku sudi berkelana denganmu!”


Tangan Mantingan bergerak cepat merabai kendi abu Rara yang menjadi mata kalung di lehernya itu. Betapa kemudian diremasnya kendi itu kuat-kuat sambil memasang tekad untuk tidak membiarkan barang sebutir pun abu yang keluar dari sana.


“Buang saja, Mantingan! Buanglah seperti dikau membuang cintamu padaku!”


Jantung Mantingan berdebur kuat.


“Persetan pendekar berengsek! Jika pendekar seperti kalian tidak pernah ada di dunia, maka daku tidak akan pernah berakhir seperti ini!”


Mantingan kembali memejamkan matanya erat-erat. Dalam keterpejamannya itu, suara Rara semakin menguat bagai berteriak langsung bukan dari jauh maupun maupun di dekat telinganya, melainkan langsung di dalam pikirannya!


“Buang! Buang! Buang sajalah!”


Suara itu berulang. Mantingan terus memejamkan mata, hampir-hampir pemuda itu berteriak keras guna membuyarkan suara tersebut. Namun tibalah ketika suara Rara tidak lagi mengeras, tetapi justru terdengar lebih menyeramkan dengan lirih penuh kesedihannya.


“Jika daku menjadi pendekar seperti dirimu, takkan pernah daku bermain-main dengan cinta.”

__ADS_1



__ADS_2