Sang Musafir

Sang Musafir
Perguruan Angin Putih dan Ajaran Sesat


__ADS_3

Perpustakaan hampir tutup ketika Mantingan keluar dari gedung perpustakaan. Mantingan lalu berjalan ke halaman. Langit sudah menggelap sejak tadi, tetapi jalanan di depan perpustakaan tidak juga sepi oleh lalu-lalang. Banyak kereta kuda yang melintas perlahan, banyak pula orang-orang yang berjalan kaki di tepian jalan.


Saat Mantingan melihat ke sekitarnya, ia menemukan petugas wanita yang telah membuat janji dengannya siang tadi. Petugas itu sedang duduk di salah satu bangku taman yang sepi, maka lekaslah Mantingan menghampiri wanita itu.


“Maaf telah membuatmu lama menunggu.”


Petugas wanita yang tadi sedang memandangi jalanan itu kini menoleh pada Mantingan. “Sahaya tidak terlalu lama menunggu, tetapi sahaya tidak memiliki banyak waktu, jadi mohonlah duduk dan dengarkan penjelasan sahaya agar engkau tidak menuntut ilmu di perguruan itu.” Petugas itu lalu melirik seorang wanita muda yang berdiri di belakang Mantingan, ia ternganga. “Nyai Dara! Astaga, apakah itu benar-benar dirimu?!”


Mantingan menoleh ke belakang dan menemukan Dara yang tersenyum malu.


“Betul, tetapi janganlah panggil aku dengan sebutan itu ...," katanya lalu.


Petugas wanita itu berdiri dan menatap Dara dengan tatapan tidak percaya. Mantingan sendiri sejujurnya masih belum mengetahui seberapa terkenalnya Dara, tetapi jika melihat tanggapan dari petugas perpustakaan itu, maka Mantingan sekiranya dapat memperkirakan sudah seberapa terkenalnya Dara.


Mantingan juga melihat bahwa Dara sepertinya memang perempuan yang digemari banyak lelaki, entah karena rupanya atau karena pekerjaannya sebagai pembawa acara pelelangan.


Jika benar begitu, Mantingan tidak akan terheran kalau tadi Dara memaksanya untuk tetap menerima pedang dan hadiah tidur malam bersamanya. Sepertinya Dara juga merupakan orang penting dalam pelelangan, hingga pelelangan sendiri menyertakan pendekar untuk menjaganya.


Kini Mantingan melihat petugas wanita itu hendak memeluk Dara kuat-kuat, tetapi sepertinya ia menahan diri karena tahu hal itu sangat memalukan di depan Mantingan. Walau begitu, petugas wanita tidak dapat menahan dirinya untuk tidak bertanya.


“Bagaimana Nyai bisa ada di sini? Sahaya tidak melihat Nyai masuk perpustakaan, padahal sahaya berjaga sepanjang hari di belakang meja tamu.”

__ADS_1


“Aku memang tidak masuk melalui pintu depan, melainkan masuk lewat pintu belakang. Ada lelang yang harus kubawakan sore tadi.”


“Ah, jadi Nyai mengisi lelang di lantai dua perpustakaan ini?!”


“Tentu.” Dara kembali tersenyum malu.


“Astaga, bagaimana sahaya tidak memiliki perasaan untuk merasakan keberadaan Nyai Dara di perpustakaan ini? Hingga sahaya tidak bisa mengikuti lelang yang dibawakan Nyai Dara, padahal sahaya sudah mengidam-idamkan melihat Nyai di atas panggung lelang yang menjual barang-barang dengan harga jauh lebih tinggi! Karena cara pembawaan Nyai Dara begitu mengagumkan!”


Mantingan menggeleng pelan. Jika memang yang dikatakan petugas itu benar, maka Kitab Tapak Angin Darah yang dibelinya itu sebenarnya memiliki harga jauh lebih murah ketimbang 70 keping emas. Mantingan sedikit kecewa melihat cara-cara licik yang digunakan banyak orang hanya untuk mencari kepingan emas.


Memangnya untuk apa kepingan itu? Jika Mantingan bayangkan, maka uang yang dicetak saat ini adalah kepingan-kepingan yang bahannya berasal dari tanah. Misalnya keping emas, biji emas diambil dari dalam tanah. Mengambil emas sendiri bukanlah perkara mudah, haruslah membutuhkan pertambangan untuk mengeruknya di dalam tanah. Dan tambang itu sendiri berdiri karena memiliki keping emas untuk membeli berhasta-hasta tanah atau bahan bangunannya. Lalu emas-emas itu dicetak menjadi mata uang, dan mata uang itulah yang diperebutkan banyak orang.


Banyak perampok-perampok yang dengan liciknya mencuri kepingan emas dari banyak pedagang yang lewat di jalanan, bahkan mereka tidak segan untuk membunuh. Jadi, apakah biji emas yang berasal dari dasar tanah itu lebih berharga ketimbang nyawa seseorang?


Bukan hanya pedagang-pedagang saja yang banyak mati disebabkan oleh biji emas itu, banyak pula orang-orang miskin yang mati akibat tidak memiliki keping emas untuk ditukarkan dengan air dan beras. Untuk apa pula benda yang tidak bisa dimakan seperti keping uang itu dapat ditukarkan dengan banyak sayuran-sayuran yang dapat dimakan?


Hal serupa dapat pula ditemukan dalam dunia pekerjaan. Untuk apa pula orang sudah bekerja keras hanya untuk mengharapkan upah keping emas. Biar bagaimanapun, itu hanyalah benda kecil saja, tidak seharusnya sepadan dengan jerih payah yang dikeluarkan para pekerja.


Sayangnya, untuk hal ini Mantingan masih belum terpikirkan solusi atas permasalahan keping uang tersebut. Karena dirinya sendiri masih sangat mengandalkan kepingan untuk bertahan hidup. Maka yang dapat dilakukannya sekarang adalah mengembuskan napas panjang, ketika mengetahui bagaimana cara Dara memperoleh uang itu tergolong cukup curang.


Sedangkan Dara saat ini sedang salah tingkah di depan Mantingan, memang benar bahwa dirinya menaikkan harga Kitab Tapak Angin Darah hampir dua kali lipatnya, kini dirinya berharap saja Mantingan tidak terlalu memusingkan hal itu.

__ADS_1


Mantingan lalu berdeham sekali, segera menyadarkan petugas perpustakaan akan keberadaan dirinya. Lalu petugas itu berkata pada Dara dengan sedikit sedih, “Nyai, jika Nyai berkenan, bisakah Nyai bercakap-cakap denganku setelah aku bercakap-cakap sebentar dengan pemuda bodoh ini?”


Dara terlihat menghiraukan ajakan petugas itu, karena memang dirinya sudah terbiasa menolak tawaran serupa. Dara jauh lebih tertarik, bahkan terheran, pada ucapan petugas itu yang menyebutkan bahwa Mantingan adalah pemuda bodoh.


“Memangnya dia bodoh karena apa?”


Petugas itu berkata sedikit kesal, “Tentu dia bodoh, Nyai, ingin belajar silat di perguruan angin sesat itu ....”


Mantingan tidak bisa menahan diri kali ini. Tak seharusnya hal tentangnya didengar sampai ke telinga Dara.


“Maaf, tetapi seharusnya hal ini engkau rahasiakan. Bukankah engkau sendiri yang siang tadi berbisik-bisik padaku seolah kata-katamu sangat terlarang didengar orang lain?”


“Sahaya tidak masalah jika harus memberitahukan hal ini pada Nyai Dara, jika engkau tidak suka maka pergi sajalah!”


Mantingan hampir-hampir tidak menyangka apa yang baru saja dikatakan petugas wanita itu, tetapi kemudian Mantingan sadar bahwa wanita ini adalah penggemar berat Dara, maka bukan hal yang mengejutkan jika petugas itu berkata apa pun juga pada Dara.


Kini giliran Dara yang berkata seolah mencairkan suasana yang menegang. “Tidak mengapa, daku akan merahasiakannya rapat-rapat. Tidak perlu khawatir dan tidak perlu diributkan. Tetapi daku juga menyarankanmu untuk tidak berguru di Perguruan Angin Putih. Perlu engkau ketahui, wahai pria yang bodoh, bahwa perguruan sesat itu tidaklah benar-benar habis tak tersisa dimusnahkan oleh kerajaan. Mereka tetap ada, tetapi keberadaan mereka tidaklah diketahui sampai saat ini. Jadi engkau jangan mencari mereka, jika engkau tidak ingin sesat pula seperti mereka.”


Mantingan mengernyitkan dahi. “Apakah yang membuat mereka disangka sesat?”


Dara melihat ke sekitar terlebih dahulu sebelum berkata, “Mereka ingin menggulingkan roda pemerintahan, dan menggantinya dengan aturan pemerintahan yang mereka anggap benar. Mereka menyebarkan ajaran mereka pada masyarakat luas, dan pemerintahan tidak suka akan hal itu, lalu singkatnya perguruan itu mendapat serangan besar-besaran dari kerajaan, serangan itu menumpas pendekar-pendekar maupun murid-murid di sana tanpa ampun. Walaupun seluruh anggota perguruan mereka telah mati, tetapi diyakini orang-orang yang telah menerima ajaran sesat itu tetap mempertahankan tujuan Perguruan Angin Putih, yaitu menggulingkan roda pemerintahan.”

__ADS_1


__ADS_2