
RAMA KEMUDIAN menjelaskan bahwa saat ini laut Taruma sedang tidak dalam keadaan aman. Armada baru bisa membawa Bidadari Sungai Utara ke Champa setelah laut Taruma bersih, maka penyergapan itu benar-benar dibutuhkan.
Tarumanagara tidak akan terlalu melibatkan kapal yang ditumpangi Bidadari Sungai Utara ke dalam medan peperangan. Kapal Bidadari Sungai Utara akan membuang sauh di tengah laut sampai penyerangan dinyatakan usai dan laut dinyatakan bersih pula. Ketika itulah, mereka baru dapat melanjutkan perjalanan.
“Kita akan melewati Jalur Sutra Malaya,” kata Rama kemudian, “yang meskipun berjarak amat sangat jauh dari Hujung Kulon—yang merupakan sarang para penyamun laut, tetap saja akan berbahaya jika para penyamun laut itu tidak segera dibasmi. Kapal-kapal mereka dapat bergerak amat sangat cepat.”
Mantingan mengangguk pelan sambil mengelus dagunya. Untuk sejenak, dirinya berpikir. Kemudian hasil dari pemikirannya itu, ditemukan bahwa ia tidak memiliki pilihan lain.
“Asalkan itu tidak membuat Bidadari Sungai Utara, Kana dan Kina terbunuh, daku tidak mengapa. Justru, bukankah itu bagus?”
“Benar, Anak Man.” Rama tersenyum tipis. Masih tertinggal kecemasan pada wajahnya. “Tetapi harus kukatakan bahwa Bidadari Sungai Utara akan tetap terancam jiwanya. Sebab betapa pun, dirinya berada di sekitaran medan pertempuran.”
Mantingan menganggukkan kepalanya. “Ucapan Ketua sangat tepat. Tiada keamanan selama dirinya berada di gelanggang pertempuran. Maka dari itulah, Ketua, izinkan daku mengikuti pelayaran setidak-tidaknya sampai laut dinyatakan aman dari penyamun. Daku ingin mengangkat pedang, berjuang bersama pendekar yang lainnya.”
“Taruma tidak menjatuhkan kewajiban kepadamu dan Bidadari Sungai Utara untuk mengikuti peperangan itu, tetapi geladak kapal masih cukup lebar jika engkau ingin mengikuti perang.” Rama berkata dengan khidmat, betapa pun ia tidak akan menghalangi seseorang yang ingin berjuang demi orang-orang tersayangnya. “Tetapi kuberitahu kepadamu, bahwa peperangan ini tidak akan menjadi peperangan yang kecil-kecil saja. Ini perang yang sangat berbeda dengan perang-perang lain yang pernah engkau ikuti. Apakah engkau yakin akan keputusanmu, Anak Man?”
Mantingan kembali menganggukkan kepalanya. “Daku betul-betul yakin, wahai Ketua Rama.”
Pak tua Rama tersenyum lebar. Dalam benak, ia merasa sedang melihat dirinya di waktu muda. Keberanian Mantingan sama seperti keberaniannya sewaktu ia masih muda. Pantang mundur meskipun ancaman kematian bagaikan debu yang melayang bebas bersama angin kemarau.
“Agaknya, percuma saja daku memintamu tetap di sini, bukan? Tapi ingatlah, bahwa akan banyak sekali murid-murid perempuan yang menangisimu jika engkau mati.”
Rama menatap Mantingan penuh arti. Pemuda itu hanya mengembuskan napas panjang dan menggeleng pelan. Sampailah di mana Rama tertawa selepas-lepasnya.
“Asah pedangmu, Anak Man!” Berkatalah Rama setelah berhasil mengendalikan tawanya. “Dalam waktu dekat, daku akan menghampirimu untuk minum secangkir dua cangkir di tepi danau itu lagi.”
Mantingan tersenyum tipis. “Ketua bisa menghampiriku kapan saja, daku selalu siap untuk minum teh.”
“Ya. Saat itu terjadi, kupastikan dirimu tidak akan menghabiskan lebih dari tiga cangkir teh.”
Mereka tertawa lepas bersama-sama dan berbasa-basi barang sejenak sebelum akhirnya Rama berpamitan dan pergi dari kediaman Mantingan.
***
__ADS_1
Sepeminuman teh berganti sepenanak nasi. Fajar berganti petang. Petang berganti hari. Hari berganti pekan. Pekan berganti bulan. Dan bulan berganti bulan.
Mantingan melewati hari-hari yang damai dan asri di dalam Perguruan Angin Putih. Selama di perguruan itu, benaknya selalu saja merasa tenang. Tidak seperti ketika dirinya berada di belantara luas, di mana kesiagaan dan kewaspadaan harus senantiasa dipasang jika tidak mau mati.
Setiap pagi buta hingga tengah hari, Mantingan melatih Kana ilmu tenaga dalam, betapa pun, anak itu harus memiliki kekuatan setingkat pendekar. Lalu dari siang hingga petang, Mantingan akan menulis kitab perjalanannya. Dan dari petang hingga larut malam, ia akan bersama Rama di kedai pinggiran danau, membahas berbagai ilmu filsafat pula ilmu persilatan.
Dari larut malam hingga mendekati pagi buta, Mantingan mempelajari kitab yang diberikan Pendekar Sanca Merah kepadanya.
Soal kitab itu, Mantingan memberikan perhatian khusus kepadanya. Kitab itu dapat dikatakan merupakan kitab yang berasal dari golongan hitam. Mantingan amat sangat tertarik, sebab tubuhnya akan lebih menerima ilmu golongan hitam ketimbang golongan putih.
Kitab yang memiliki yang memiliki nama “Tangan Pengendali” itu memiliki beberapa ilmu mengendalikan golek di dalamnya.
Beberapa di antaranya yang tengah Mantingan pelajari adalah Ilmu Golek Penikam, Ilmu Golek Tanah, Ilmu Golek Air, Ilmu Golek Langit, dan yang merupakan ilmu pamungkas adalah Seribu Tangan Pengendali Golek.
Untuk saat ini, Mantingan hanya bisa mempelajari kitab itu tanpa bisa mempraktikkannya. Mengingat bahwa saat ini dirinya masih berada dalam Perguruan Angin Putih, sebuah perguruan aliran putih yang jelas akan menolak ilmu aliran hitam.
Lagi pula, untuk dapat mempraktikkan ilmu pengendali golek, Mantingan membutuhkan paling tidak sebuah golek. Untuk membuat sebuah golek, dibutuhkan keahlian dan pengalaman yang tinggi. Sedangkan untuk membeli sebuah golek, harganya tidak murah.
Di pasar jaringan bawah, satu buah golek berkualitas rendah dihargai sebesar 1 Batu. Sedangkan yang berkualitas sedang, dihargai mulai dari 5 Batu.
Mantingan berencana untuk membeli sebuah golek berkualitas sedang setelah dirinya keluar dari Perguruan Angin Putih. Tetapi ini masih dalam perencanaan, dan sewaktu-waktu dapat dibatalkan.
Membawa sebuah golek seukuran orang dewasa pergi berkelana bukanlah tanpa kesulitan tersendiri. Ini berarti, Mantingan harus menggendong golek itu di punggungnya selama dirinya mengembara mencari Kembangmas.
Dalam beberapa kesempatan pula, Mantingan kembali mempelajari Kitab Teratai. Menemukan banyak ilmu baru yang dapat diterapkan menjadi jurus persilatan.
Dengan mempelajari Kitab Teratai, Mantingan mulai dapat menguasai jurus-jurus aliran putih yang sebelumnya tidak dapat dikuasainya.
Atau lebih tepatnya, Mantingan mengubah ilmu aliran putih menjadi ilmu aliran hitam sehingga ia dapat mempraktikkannya.
***
KETIKA MANTINGAN tengah melatih Kana di halaman kediaman, ia melihat sesosok perempuan berpakaian serba putih, mengenakan cadar dan caping, menghampirinya sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
“Sedang melakukan apakah kalian?” Bertanya Bidadari Sungai Utara setelah berjarak cukup dekat dengan Mantingan.
“Daku sedang melatih Jurus Membelah Angin, Kaka Sasmita!” Kana menjawab penuh rasa bangga. Sudah berhari-hari ia melakukan ini bersama Mantingan. “Kakanda sampai tak berdaya menghadapiku.”
Mantingan menunjukkan senyum masamnya sebelum berkata, “Apakah engkau ingin sekali mencicipi kekuatan asli dariku, Kana?”
“Kurasa pagi ini sudah cukup latihannya, Kakanda. Jadi Kakanda tidak perlu melakukan itu. Hi-hi-hi-hi.” Kana tertawa cekikikan sebelum menjura, tanda berakhirnya pelatihan. Lalu pandangannya beralih pada perempuan berpakaian serba putih yang tak berjarak sedemikian jauh darinya itu. “Kaka Sasmita, di manakah Kina?”
“Dia sedang membaca karya-karya sastra di perpustakaan Perguruan Angin Putih bersama murid-murid perempuan lainnya.”
“Baiklah, lebih baik daku menyusulnya saja. Penasaran pula diriku dengan apa yang tersimpan di dalam perpustakaan milik perguruan sebesar ini.”
Mantingan menyipitkan matanya ketika menatap Kana. “Jangan sampai dirimu menggoda murid-murid perempuan itu dengan kata-kata manismu, Kana.”
Kana kembali tertawa sebelum berlari sekencang mungkin sambil berkata, “Jika diriku tidak bisa menggunakan kata-kata indah untuk merayu satu-dua orang wanita, untuk apakah kiranya diriku banyak-banyak membaca karya sastra?”
Mantingan pun merasa tiada berguna mengejar anak itu, yang memang dirasa tidak akan pernah memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Didengarnya Bidadari Sungai Utara tertawa renyah.
“Engkau tidak mendukungnya bukan, Saudari?”
“Saudara, terkadang perempuan membutuhkan pria yang dapat merayunya dengan manis.”
Sebelumnya semuanya menjadi terlambat, Mantingan lekas-lekas mengalihkan pembicaraan. “Untuk apakah kiranya Saudari berpakaian begitu lengkapnya pagi-pagi seperti ini?”
“Awalnya diriku berjalan-jalan sejenak mengelilingi perguruan ini sendirian. Tetapi kupikir, akan sulit bagiku untuk berjalan tanpa kawan. Maka dari itu, daku pergi ke sini untuk mengajakmu berjalan-jalan.”
Mantingan menganggukkan kepalanya pelan. “Tunggu sebentar di sini, Saudari. Daku harus membereskan sesuatu di dalam terlebih dahulu.”
Mantingan berjalan cepat menuju kediamannya, yang kemudian bergerak lebih cepat lagi ke dalam kamarnya. Ketika pemuda itu baru saja membuka pintu, dilihatnya Bidadari Sungai Utara telah berdiri di samping meja tempatnya menulis. Mantingan menepuk dahinya.
“Engkau masih melanjutkan penulisan kisahmu, Mantingan?” Bidadari Sungai Utara berkata ketika sedang membaca selembar lontar di genggamannya.
Lalu bibir gadis itu menekuk senyum, seperti yang telah Mantingan duga.
__ADS_1
“Ketika pertama kali aku bertemu dengannya, dan hingga kini aku akan berpisah dengannya, waktu yang kurasakan seperti mampir minum teh sahaja. Begitu cepatnya.” Bidadari Sungai Utara membacakan lembar lontar itu dengan senyum merekah. “Betapa pun, telah kupahami bahwa pertemuan merupakan awal dari perpisahan yang memang begitu tiada dapat terhindarkan sama sekali. Bukankah memang takdirnya seperti itu? Tetapi mengapakah masih terendap rasa ketidakrelaan dalam benakku? Tetapi mengapakah masih mencuat rasa ingin tetap bersamanya hingga selama-lamanya? Bukan karena kecantikannya, tetapi oleh sesuatu hal lain yang betul-betul tidak dapat kujelaskan dengan perkataan.” Gadis itu mengambil selembar lontar lainnya yang tergeletak di atas meja tanpa bisa Mantingan menahannya. “Melihatnya, aku bagai melihat sepucuk mawar putih yang betapa pun pada akhirnya mawar itu dipetik seseorang yang bukan diriku. Karena biar bagaimanapun, mawar putih itu bukanlah milikku. Bukan aku yang pantas memetiknya dan menyimpannya. Haruskah diriku menjadi penyamun agar bida kupapas dirimu, wahai Bidadari Sungai Utara?”
Mantingan memalingkan wajahnya yang kini telah benar-benar bersemu merah akibat rasa malu!