
LAPANGAN yang menjadi tempat berlangsungnya Perhelatan Cinta Kotaraja memiliki ukuran yang cukup besar. Secara keseluruhan, terdapat seratus baris bangku yang menghadap ke sebuah panggung luas, setiap baris tersebut terdiri atas seratus bangku. Itu berarti, terdapat seribu bangku yang dikhususkan kepada para tamu perhelatan.
Sedangkan di bagian tepi, terdapat tribun-tribun panjang dan tinggi. Berbanjar mengelilingi perhelatan. Tidaklah sembarang penonton yang dapat menempati tribun tersebut, sebab biaya untuk mendapatkan satu kursi di tribun bolehlah dikata mahal, yakni seratus keping emas.
Adapun keluarga bangsawan bebas menempati tirbun tanpa perlu membayar, tetapi mereka mesti memesan tempat paling tidak satu malam sebelum perhelatan.
Mantingan dan Chitra Anggini mendapatkan tempat duduk agak jauh dari panggung utama. Itu dapat berarti bagus, sebab dapat menghindari sorotan dari pandangan pendekar mata-mata kerajaan yang teramat jeli hampir terhadap segala sesuatu.
Sebenarnya, Mantingan hendak melepas topengnya sebab berpikiran bahwa hal itu justru akan memancing kecurigaan. Tetapi kemudian dilihatnya banyak pula pasangan-pasangan pendekar mengenakan topeng yang bahkan menutupi seluruh wajahnya tanpa terkecuali. Hal itu membuatnya segera mengurungkan niat.
Tiba-tiba saja Chitra Anggini mengangkat lengannya dan menunjuk sesuatu. Mantingan memincingkan mata untuk melihat apa yang ditunjuk oleh gadis itu, yang nyata-nyatanya ialah sebuah lentera berukuran cukup besar yang memancarkan cahaya biru. Mantingan mengerutkan dahi, tidak mampu memahami maksud Chitra Anggini yang menunjuk lentera tersebut.
“Itu berarti perhelatan akan dimulai sekitar satu penanakan nasi lagi,” kata Chitra Anggini dengan nada tidak enak terdengar, “tidak datang terlalu cepat.”
“Tidak ada pemberitaan tentang waktu pasti dimulainya perhelatan ini. Aku memang sengaja mengajakmu datang lebih cepat, agar tidak terlambat,” jawab Mantingan dengan senyum serba salah.
“Berada terlalu lama di tempat ini pun sebenarnya tidak terlalu baik.” Chitra Anggini melanjutkan, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Mantingan. “Kita sedang menyambangi kandang harimau.”
“Inilah tujuan kita, bukan?”
“Daku tidak datang untuk mati sia-sia.”
Mantingan mengernyitkan dahi sambil menatap Chitra Anggini dengan tatapan heran. Mengapakah tiba-tiba saja gadis itu menjadi begitu serius?
“Caramu terlalu konyol, Mantingan. Kamu sama sekali tidak memiliki perencanaan yang matang. Tidak hanya membawa bahaya untukku, kamu juga dapat membawa bahaya untuk orang banyak.”
__ADS_1
Mantingan terpekur dalam diam. Hampir-hampir ia tidak dapat mempercayai bahwa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Chitra Anggini. Bagai tanpa perasaan tidak enak saat mengatakan itu. Namun betapa pun adanya, Mantingan sadar betul bahwa perempuan itu tidak salah.
Dirinya memang belum memiliki perencanaan yang matang, bahkan hingga saat ini, dan hal itu tentulah dapat membahayakan Chitra Anggini sekaligus pula khayalak luas.
Perlulah diingat bahwa tujuan Mantingan pergi ke Kotaraja Koying bukan saja untuk menyelamatkan Tapa Balian yang ditawan, tetapi pula untuk merebut Sepasang Pedang Rembulan di Tengah Kesenyapan Malam yang dapat kembali mengharu-biru dunia persilatan sekaligus dunia awam apabila sampai jatuh ke tangan pendekar yang salah.
Sehingga setelah benar-benar memahami bahwa Chitra Anggini tidak salah dalam perkataannya, Mantingan hanya dapat menjawab, “Bila kau memang merasa ini terlalu berbahaya, maka aku sungguh tidak mengapa jika kauingin pergi. Perkara sepasang pedang itu, aku akan tetap berusaha mendapatkannya, dan bila telah menjumpai keberhasilan tentulah akan kuantarkan pedang itu kepadamu.”
Seketika setelah Mantingan mengatakan itu, Chitra Anggini menoleh ke arahnya. Matanya memancarkan keheranan sekaligus keterkejutan, berbeda dengan tatapan Mantingan yang penuh kepastian tanpa keraguan sama sekali.
Seolah tidak pernah menyangka bahwa Mantingan akan berkata begitu.
Chitra Anggini meluruh. Perlahan, senyuman terbit di bibir manisnya, membuat lelaki manapun akan tergoda untuk lekas mengecupnya, akan tetapi begitulah Mantingan selalu masuk dalam pengecualian.
Mantingan mengernyitkan dahi. Kini, dirinya sungguh merasa sedikit tersinggung dengan perkataan Chitra Anggini yang bagai tidak berdasar itu. Bukankah dirinya selalu mandi setiap hari, baik itu dengan tenaga dalam atau dengan air? Bukankah pula dirinya selalu makan tepat waktu serta melatih otot-ototnya, sehingga sampai kini ia masih tampak cukup kekar? Lantas dengan semua kenyataan tersebut, hal apakah lagi kiranya yang menjadi landasan dari ucapan Chitra Anggini barusan?
Namun, Mantingan tetap terdiam tanpa membalasnya. Bukan karena ia merasa bahwa Chitra Anggini telah benar sepenuhnya, namun dirinya hanya merasa bahwa hal tersebut terlalu sepele untuk diperdebatkan. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, seharusnya mereka hanya mengucapkan hal-hal penting yang menyangkut tentang rencana penyusupan saja.
“Jangan terlalu dianggap berat ucapanku itu.” Chitra Anggini kembali mengalihkan muka ke hadapan. “Dan tiadalah yang dapat lebih baik daripada kita berbicara dalam diam.”
Mantingan mengangguk pelan. Itu berarti Chitra Anggini menghendaki pembicaraan dalam tatap mata.
Memang benar bahwa berbicara dengan suara bukanlah pilihan yang bagus sama sekali. Tidak ada satupun dapat menjamin bahwa di antara pasangan-pasangan pendekar yang menjadi peserta di perhelatan ini bebas dari jaringan mata-mata kerajaan.
Dan tentulah setiap pendekar mata-mata memiliki ilmu pendengaran tajam yang bukan sembarangan, sebab memang tugas seringkali menuntut mereka untuk dapat mendengar percakapan dari jarak jauh.
__ADS_1
Tidak ada pula yang dapat menjamin bahwa lapangan perhelatan ini bebas dari sihir yang mampu menangkap segala suara. Tetapi untuk hal ini, Mantingan dapat sedikit lebih tenang sebab seluruh sihir yang ada di istana telah berada dalam kendali jaringan Puan Kekelaman. Betapa pun liciknya orang itu, Mantingan masih tetap menganggapnya berada di pihak yang sama.
Chitra Anggini tetiba menatapnya, menyampaikan suatu pesan: seseorang menatap kita terlalu lama.
Di antara banyaknya pendekar-pendekar penyoren pedang yang tampak gagah di tempat perhelatan, serta lebih banyak lagi selir-selir cantik yang berbanjar di tribun penonton sambil bercanda-ria yang selalu menarik untuk dipandangi, maka akan terlalu mencurigakan bila kemudian diketahui ada orang yang menatap Mantingan dan Chitra Anggini terus-menerus.
Dengan bersegera, Mantingan membalas melalui tatap matanya: di mana?
Semakin tajam Chitra Anggini menatapnya, lantas begitu saja sebuah pesan tersampaikan: arah barat laut.
Mantingan tidak langsung mengalihkan tatapannya ke arah yang disebutkan oleh Chitra Anggini, sebab betapa pun hal itu akan membuat orang tersebut mengetahui bahwa Mantingan telah menyadari keberadaannya sebagai pengintai!
Maka hal pertama yang ia lakukan adalah menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun untuk dapat melihat pengintai itu tanpa menggunakan matanya, tetapi nyatanyalah orang itu terpisah sangat jauh darinya, sehingga tidak masuk ke dalam jarak jangkau penerjemahan bunyi menjadi bentuk yang dimiliki Ilmu Mendengar Tetesan Embun.
Mantingan masih tidak ingin gegabah dengan melihat langsung ke arah pengintai tersebut , tetapi itu hanya akan membuat rasa penasarannya kian menumpuk. Bagi seorang pendekar, rasa penasaran seringkali diartikan sebagai rasa waspada dan kecemasan tak berujung yang dapat saja membahayakan!
___
catatan:
Saya tidak dapat menamatkan Sang Musafir dengan secepat-cepatnya. Jika saya saya ingin, maka Sang Musafir boleh saja langsung tamat esok hari!
Tapi, saya tetap menginginkan Sang Musafir tamat dengan wajar, sebab saya memang telah menyiapkan outline untuknya.
Atas pengertiannya, terima kasih.
__ADS_1