
MANTINGAN MENUNDUKKAN kepalanya, sedikit menyamping ke kanan. Ia lolos dari ujung ekor berbisa kalajengking besar itu. Sedikit saja telat bergerak, Mantingan akan kehilangan kepala dan hidupnya. Sedangkan saat ia berhasil menghindari serangan, tubuh Mantingan masih melaju ke depan. Di akibatkan kepalanya menunduk, Mantingan tidak bisa menyerang dengan arah yang jelas, sehingga ia memilih untuk berputar beberapa kali di udara sebelum mempersiapkan diri untuk kembali menyerang.
Kini Mantingan menghadapkan diri pada batang ekor raja kalajengking, sedang ujung ekor itu jauh berada di belakang tubuh Mantingan. Dengan gerakan luar biasa cepat dan tepat, Mantingan menebas batang ekor itu. Hingga terpisah dua. Kejadian yang amat sangat cepat tetapi lambat dalam penglihatannya, sehingga setelah dipotong ekor itu belum juga jatuh ke bawah.
Mantingan berputar lagi di udara, kakinya kini berada di atas sedangkan kepalanya berada di bawah. Mantingan menatap tajam mata raja kepala kalajengking yang luar biasa menunjukkan kemarahan besar. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mantingan mengayunkan Pedang Kiai Kedai hingga mengiris kepala kalajengking sampai bagian terdalamnya.
Mantingan melayang sebentar di udara sebelum kakinya kembali menyentuh bebatuan dingin. Ekor kalajengking besar itu jatuh tanpa mengeluarkan darah akibat potongan pedang Mantingan sangat cepat dan begitu rapi. Raja kalajengking itu berhenti bergerak, dan tak akan pernah bisa bergerak dengan sendirinya lagi.
Kini ia menatap ke depan. Di mana terdengar desis-desis kalajengking kecil lainnya yang marah atas kematian pemimpin mereka. Tentu saja kemarahan itu ditunjukkan pada Mantingan, yang dengan jelas membunuh pemimpin mereka dengan pedangnya.
Mantingan menghela napas panjang beberapa saat kemudian. Ia sebenarnya tidak suka melakukan ini.
Para kalajengking ini sebenarnya tidak bersalah, mereka hanya merasa terancam dengan keberadaan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara. Termasuk pemimpin kalajengking ini, ia tak salah jika menyerang Mantingan, raja kalajengking yang satu ini telah berani maju demi melindungi kalajengking di bawah kepemimpinannya.
“Dengan segala hormatku dan dengan segala maafku, aku izinkan kalian maju.” Mantingan berkata pelan, mengancungkan Pedang Kiai Kedai ke muka.
Seperti mengerti apa yang Mantingan katakan, walau sebenarnya tidak pernah mengerti, ratusan kalajengking berukuran kecil maju bersamaan. Mantingan bergerak cepat menempelkan selembar Lontar Sihir pada pedangnya. Laksana api yang bertemu minyak, pedangnya mengobarkan api yang meletup-letup. Mantingan tetap berdiri tegap menunggu ratusan kalajengking itu semakin mendekat padanya.
***
__ADS_1
Tidak terlalu sulit memanggil Bidadari Sungai Utara di dalam lorong yang sepanjang jalannya hampir tidak bercabang. Mantingan hanya perlu berteriak kencang sekali, dan dengan ilmu pendengaran tajamnya ia dapat mendengar suara langkah Bidadari Sungai Utara mendekat.
Tak berselang lama dari itu, batang hidung Bidadari Sungai Utara tampak pula. Ia melihat ke sekitar Mantingan dengan tatapan cemas, menemukan sesuatu yang sama sekali tidak berbahaya. Lalu arah matanya memperhatikan kondisi Mantingan sendiri, yang nyatanya baik-baik saja pula. Tanpa ragu lagi Bidadari Sungai Utara berlari mendekat, tetapi ia tidak berhenti, langsung saja mendekap Mantingan dengan eratnya.
Mantingan hanya bisa menahan napasnya. Lagi-lagi ini terjadi. Bidadari Sungai Utara memang sulit ditebak jalan pikirannya. Kemarin-kemarin yang lalu, ia mengatakan ingin pulang hanya untuk kekasihnya di Champa. Namun kini, gadis itu malah memeluk Mantingan, untuk yang kedua kalinya pula.
Menghadapi situasi seperti ini, Mantingan tentu tidak membalas dekapan Bidadari Sungai Utara. Gila kalau seandainya ia membalas dengan dekapan. Biarlah gadis itu menuntaskan apa yang ingin ia tuntaskan, tetapi tidak dengan Mantingan. Masih ada Rara yang tidak boleh mati di pikirannya. Jangan sampai Rara—yang selama-lamanya mencintainya—menjadi cemburu.
Tak lama kemudian Bidadari Sungai Utara melepas pelukannya. Tidak seperti saat pertama ia memeluk Mantingan, kini gadis itu tidak sungkan menatap langsung mata Mantingan. Bidadari Sungai Utara tersenyum lebar, lalu menepuk pundak Mantingan beberapa kali tanpa melepas pandangannya.
“Kau memang hebat. Entah bagaimana jika kau tidak ada, aku sudah mati berkali-kali. Terima kasih, Mantingan."
Bidadari Sungai Utara mengangkat dua alisnya dan tertawa kecil. "Bolehkah aku memelukmu?”
Sekarang senyum Mantingan berubah menjadi senyum ngeri. “Bukankah tadi sudah?”
“Sekarang lagi.”
“Tapi untuk apa?”
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara kembali tertawa kecil. “Karena tubuhmu hangat dan enak dipeluk.”
Mantingan bergerak mundur beberapa langkah. Mengingat betapa mereka tidak sendirian di dalam goa ini, ada Gusti yang memperhatikan mereka.
Kiai Guru Kedai sudah mengatakan, bahwa Gusti tidak terletak pada suatu tempat tertentu. Tidak juga berwujud. Tidak memiliki suara. Tetapi Gusti itu ada, berupa aturan di alam semesta. Jika kau melakukan itu, maka ganjarannya adalah itu. Itulah yang disebut aturan, sehingga alam semesta selalu berada dalam posisi setimbang.
Maka jika Mantingan melakukan sesuatu yang berlebihan dengan Bidadari Sungai Utara, dengan Gusti melihat atau tidak, ia akan mendapat ganjarannya. Dan ganjaran yang ia dapatkan pastilah tidak baik.
“Saudari Sungai Utara, kita tidak boleh berlama-lama diam, tetaplah berjalan.” Hanya itu yang Mantingan katakan sebelum ia berbalik dan berjalan.
Bidadari Sungai Utara tersenyum lebar dan berjalan cepat mendekati Mantingan. Mereka melewati tumpukan-tumpukan kalajengking gosong yang berhasil Mantingan kalahkan hampir semuanya. Bidadari Sungai Utara menatap ngeri ratusan kalajengking yang gosong, tubuh mereka menyatu dengan tubuh lain dalam keadaan yang sudah tidak berbentuk. Aroma hangus memenuhi penciumannya.
Membutuhkan waktu beberapa lama sebelum keduanya berhasil melewati semua kalajengking gosong itu. Mantingan berjalan dengan pandangan murung, Bidadari Sungai Utara cukup dewasa untuk mengerti tatapan itu, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menatapnya iba.
Beberapa lama kemudian mereka berjalan dalam keheningan, kembali menjumpai dua persimpangan. Kali ini Mantingan jelas mengetahui jalan mana yang haru sia pilih.
“Jalur kiri adalah sarang para kalajengking tadi, mungkin hanya tersisa kalajengking muda di sana.” Mantingan berhenti sebentar, berkata dengan suara pelan sebelum kembali berjalan.
Suara Rara kembali terdengar di dalam benaknya. “Mantingan, kau selalu menyalahkan dirimu sendiri atas kematian makhluk lain. Ketahuilah bahwa tanpa engkau melawan, maka dirimu dan Bidadari Sungai Utara akan dihabisi mereka. Aku yakin jika tadi kau tidak melawan, kau akan lebih menyesal.”
__ADS_1
Mantingan hanya memberi senyum tipis tanpa membalas apa pun. Pikirannya saat ini sedang tidak enak untuk diajak bicara, bahkan pada Rara sekalipun. Betapa ia memikirkan banyaknya kalajengking yang telah ia bunuh, dan betapa tidak menentu nasib kalajengking muda yang tersisa di sarang mereka.