
BIDADARI SUNGAI Utara mencoba gaya serang yang lain. Tubuhnya meliuk-liuk indah seolah sedang menari. Tongkatnya bergerak dengan sangat cepat, berubah rupa menjadi bayangan kabur saja, langsung menghantam musuh tanpa kenal ampun.
“Mundur! DIA PENDEKAR!” Pimpinan mereka berteriak lantang, menyuruh para anak buahnya untuk menyingkir jauh-jauh dari Bidadari Sungai Utara.
Saat musuh-musuhnya mulai mundur, Bidadari Sungai Utara menghentikan gerakannya meskipun berhasrat besar untuk mengejar mereka. Bidadari Sungai Utara tahu, bahwa penyamun-penyamun seperti mereka tidak mungkin mundur tanpa terlebih dahulu menyiapkan rencana jika lawan mengejar balik. Bisa jadi, telah banyak jebakan yang terpasang pada dua bukit itu. Siap menikam.
Seluruh penyamun yang masih bisa berdiri menghilang ditelan hutan. Sedangkan ada sekitar dua belas penyamun yang terkapar di tanah, setengah mati.
Bidadari Sungai Utara tersenyum lebar saat menatap lawan-lawannha yang terkapar tak berdaya. Ia bergumam, “Biasanya aku yang tidak berdaya.”
Ratusan panah mendesing. Melesat ke atas langit. Terbang jatuh menuju jalan yang melewati lembah itu. Mantingan melirik Bidadari Sungai Utara, beruntungnya gadis itu telah lebih dulu menyadari serangan panah yang datang sehingga bisa berwaspada sebelumnya.
Bidadari Sungai Utara menebaskan tongkat kayunya ke atas. Angin bergulung. Puluhan panah yang mengincar tubuhnya segera terempas tanpa satupun yang berhasil mencapai sasaran. Kembali gadis itu tersenyum lebar.
Panah-panah bertancapan di sekitar tempat Bidadari Sungai Utara berdiri. Sebagian menancap tanah, sebagian lainnya menancap di tubuh penyamun yang tidak bisa bangkit. Mereka mati, dibunuh panah kawan mereka sendiri.
“Orang-orang bodoh, mereka membunuh teman mereka sendiri.” Bidadari Sungai Utara menggeleng pelan sambil tetap mempertahankan senyum lebarnya.
Namun menurut Mantingan, penyamun-penyamun itu tidak bodoh. Mereka membunuh anggotanya yang lumpuh di jalanan agar markas mereka tidak diketahui tentara kerajaan. Tentu saja anggota mereka yang lumpuh itu akan ditangkap prajurit jalanan yang meronda, lalu akan ditanya-tanyai dengan cara yang menyakitkan. Mereka juga tidak bodoh menggelontorkan banyak sumber daya untuk mengobati mereka yang hanya memiliki sedikit harapan hidup.
__ADS_1
Membunuh para anggotanya dengan singkat, ringkas, dan hemat adalah cara yang dipilih oleh para penyamun ketimbang harus menggunakan cara yang lebih manusiawi. Dengan begitu, Mantingan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Bidadari Sungai Utara yang tadinya hampir dijarah sekarang mulai bergerak menjarah. Ia mengambil segalanya yang bisa ia ambil dari kekalahan para penyamun. Bidadari Sungai Utara mengambil beberapa perbekalan mereka dan sebuah kelewang panjang yang masih terlihat baru. Setelah memastikan tidak ada yang diperlukannya lagi, gadis itu mulai melangkah pergi.
Mantingan tersenyum bahagia melihatnya. Meskipun musuh yang berhasil dikalahkan oleh gadis itu hanyalah sekumpulan manusia biasa yang bersenjata, namun tetap saja perlu disyukuri oleh Mantingan karena gadis itu mulai mengerti arti sebuah keberanian. Sehingga nantinya, Bidadari Sungai Utara dapat memanfaatkan kekuatannya dengan penuh.
***
MALAM ITU. Hujan turun cukup lebat. Kali ini Bidadari Sungai Utara memutuskan untuk tidak kembali berjalan. Gadis muda itu sepertinya sudah malas membersihkan lumpur pada pakaiannya, sehingga memilih beristirahat di dalam sebuah goa sampai hujan berhenti.
Biar bagaimanapun, Bidadari Sungai Utara tidak dapat menyewa penginapan untuk tidur malam. Dirinya terpaksa tidur di dalam sebuah goa walau tidak menyukainya. Tentu saja, Bidadari Sungai Utara tidak melihat adanya penginapan sepanjang perjalanan tadi, dan meskipun dirinya menemukan penginapan ia tetap tidak dapat membayar harga sewa kamar.
Pemuda itu tidak perlu takut sakit oleh karena derasnya hujan. Bahkan badai ganas yang menerjangnya pun tidak dirasa akan menimbulkan sakit. Mantingan sudah sangat terbiasa dengan hujan deras sebelumnya, ditambah latihan keras bersama Kiai Guru Kedai yang membuat badannya semakin kebal terhadap hujan deras dan udara dingin.
Di sana, dengan berdiri di atas pohon asam setinggi tiga depa, Mantingan akan menjaga Bidadari Sungai Utara dari segala macam marabahaya. Mantingan juga akan terus terjaga selama gadis itu tidur nyenyak di dalam goa.
Marabahaya yang mungkin saja datang dan harus diperhatikan oleh Mantingan adalah marabahaya yang berasal dari alam. Karena di hutan ini, sudah jauh dari kegiatan manusia. Dan tidak mungkin pula jikapun ada manusia yang melintas lalu menemukan Bidadari Sungai Utara di sini. Pada umumnya, hewan-hewan buas akan lebih suka tinggal di dalam goa selama hujan turun di malam hari. Mantingan berharap tidak ada seekor pun hewan buas yang datang masuk ke goa tersebut.
Atau bahkan, goa itu adalah tempat perlintasan air ke dalam tanah. Jika terjadi banjir bandang maka keberadaan Bidadari Sungai Utara akan jadi sangat berbahaya.
__ADS_1
Maka dari seluruh persoalan itulah Mantingan benar-benar bersiaga kali ini. Telebih hujan semakin turun lebat.
***
UNTUNGNYA, malam itu tidak terjadi hal yang Mantingan khawatirkan. Tidak ada hewan buas yang masuk atau melintas di sekitaran mulut goa, tidak ada pula banjir bandang yang menerjang masuk ke dalam goa. Bidadari Sungai Utara keluar dari goa pada pagi harinya, gadis itu terlihat baik-baik saja.
Sedangkan Mantingan sudah tidak tidur selama lebih dari tiga hari. Walaupun Mantingan adalah seorang pendekar, tetapi tetap saja ia adalah manusia yang membutuhkan tidur. Matanya berkantung, merah, dan pedas. Belum lagi rasa kantuk yang menyergapnya, membuat Mantingan sangat malas bergerak. Namun dari yang terlihat, Bidadari Sungai Utara akan melanjutkan perjalanan.
“Pagi yang cerah, tanpa si br*ngsek Mantingan.” Bidadari Sungai Utara merenggangkan dua tangannya ke atas dan mengedarkan pandang.
Tentu saja Mantingan dapat dengan jelas mendengar perkataan Bidadari Sungai Utara, namun ia tidak merasa tersinggung sedikitpun. Dilihatnya Bidadari Sungai Utara menoleh ke arah matahari terbit, dari dahinya yang mengernyit ia tampak kebingungan.
“Kemarin aku berjalan ke arah kiri, lalu bergerak ke kanan untuk mencari tempat berteduh.” Terdengar suara gumaman Bidadari Sungai Utara. “Jadi setelah sekian lama ini, aku bukan bergerak ke arah utara tapi ke barat?!”
Mantingan menghela napas lega. Ia senang gadis itu akhirnya menyadari ketersesatannya. Dengan begitu, mereka tidak perlu menantang bahaya di sebelah barat. Entah marabahaya seperti apa yang telah menanti jika mereka berdua terus bergerak ke sebelah barat.
Karena ini merupakan kabar cukup menggembirakan, kantuk Mantingan seolah berkurang. Pemuda itu jauh lebih semangat ketimbang beberapa saat yang lalu.
Bidadari Sungai Utara mengangkat tangannya dan menunjuk ke sebelah selatan dengan wajah keras. “Seharusnya aku bergerak ke sana, ke arah utara!”
__ADS_1