Sang Musafir

Sang Musafir
Kelegaan Benak


__ADS_3

TIDAK lain dan tidak bukan, Mantingan mengincar mata siluman ular itu! Dan perhitungannya menemui ketepatan yang luar biasa, kedua pedangnya menancap dalam-dalam di salah satu mata Sang Siluman, yang langsung saja membuatnya menjerit-jerit sedemikian rupa hingga mengalahkan deru suara angin!


Tidak berhenti sampai di sana saja, Mantingan merapalkan sebuah mantra yang langsung membuat bilah kedua pedangnya menyala-nyala terang. Ia hendak memainkan Jurus Seribu Rembulan Melahap Bintang!


Dalam sekejap mata setelah kedua pedangnya itu menyala terang nian, tubuh Mantingan menghilang dari tempatnya. Digantikan oleh ratusan lingkaran bercahaya yang langsung mengerumuni mata siluman ular itu.


Tetapi agaknya hal itu masih belum menemui kata cukup bagi Mantingan yang ingin segera menuntaskan hidup siluman itu agar tidak menimbulkan masalah besar di masa mendatang. Muncullah lagi tapak-tapak bercahaya berjumlah ribuan yang langsung saja menyerbu mata yang tersisa dari Sang Siluman yang tidak terlindungi sama sekali !


Itu adalah jurus baru yang Mantingan ciptakan pada saat ini pula, berdasarkan apa yang diserapnya dari pertarungan dengan Hanung di pertempuran laut utara Javadvipa berbulan-bulan yang lalu. Diberilah sebuah nama untuk jurus ini, yakni Seribu Tapak Kunang-Kunang!


Tentulah dapat dimengerti mengapa jurus itu dinamai sedemikian, sebab tapak-tapak itu tampak bercahaya kuning-kemuning oleh bara api, sehingga memang sangat menyerupai kunang-kunang di malam gulita.


Siluman ular itu menjerit keras, sekeras-kerasnya sebuah jeritan, sebab memanglah segalanya yang sedang berlangsung itu terasa amat sangat menyakitkan. Tetapi apalah daya, Sang Siluman tidak dapat berbuat apa pun. Seluruh tubuhnya telah dikendalikan oleh angin badai. Usaha melawan semacam apa pun hanya akan menambah penderitaan saja.


Setelah beberapa saat berlalu di bawah gempuran Seribu Rembulan Melahap Bintang dan Seribu Tapak Kunang-Kunang, jeritan siluman ular itu berhenti pula pada akhirnya. Kehabisan tenaga, hanya butuh beberapa saat lagi sampai ajal menjemputnya.


Mantingan mencabut kedua pedangnya dan menghentikan seluruh serangan. Ia berniat membiarkan siluman itu hidup untuk beberapa saat, sehingga dapatlah ia menanyainya tentang Kembangmas yang seolah memiliki hubungan dengan siluman itu.


Tepat setelah pedangnya tercabut dari mata Sang Siluman, Mantingan kehilangan pegangan, tubuhnya kembali terpapas angin. Melayang terbang jauh ke belakang, meninggalkan siluman ular itu. Terombang-ambing tak tentu arah dan tujuan. Sungguh, dirinya bagai hanya sebutir debu tiada berarti di hadapan alam semesta. Apalah maknanya Pemangku Langit bila dirinya sendiri sama sekali tidak berdaya di hadapan langit?


Mantingan menyelimuti tubuhnya dengan tenaga dalam dan tenaga prana. Mencegah luka dan cidera. Hanya itulah yang dapat dilakukannya saat ini. Dibiarkan saja angin membawa tubuhnya.


Petuah di atas langit selalu ada langit adalah kebenaran yang tidak akan pernah dapat terbantahkan. Hingga kini Mantingan berpikir. Bila di atas langit nyatanya masih ada langit, lantas langit manakah yang benar-benar menjadi titik tertinggi dari semua langit sehingga sungguh tiada langit lain setelahnya?


Diingatnya kembali perkataan Kiai Guru Kedai:


“Bila di kemudian hari dikau mulai meragukan keberadaan Gusti, maka ingatlah selalu perkataan yang akan kusampaikan ini. Kutanyakan kepadamu, dari manakah pohon berasal?”

__ADS_1


“Dari benih, Kiai Guru.” Mantingan menjawab dengan kepercayaan tinggi bahwa ucapannya itu akan menjadi jawaban yang teramat telak.


“Lantas dari manakah benih itu berasal?” Kiai Guru Kedai kembali bertanya.


“Dari pohonnya.”


“Dari manakah pohon itu berasal?”


“Dari benihnya.”


“Dari manakah benih itu berasal?”


Mantingan sempat bingung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia menjawab, “Dari pohonnya, dan pohon itu berasal dari benihnya, lantas begitulah terus bagai tanpa henti. Tetapi kukira semuanya berasal dari tanah, termasuk pohon dan benih yang sedang Kiai Guru bicarakan. Dapatkah jawabanku ini memuaskan Kiai Guru?”


Saat itu, Kiai Guru Kedai mengangguk puas, tetapi kembali bertanya, “Dari manakah tanah itu berasal?”


“Dari manakah bumi berasa?”


“Dari matahari barangkali.”


“Dari manakah mentari berasal?”


“Mungkin dari bintang-gemintang di langit yang menularkan cahayanya hingga membentuk matahari.”


“Lantas dari manakah bintang-gemintang itu berasal?”


“Guru, pertanyaan seperti ini tidak akan pernah menemui kesudahan. Selalu saja setiap benda memiliki asal, dan asalnya itu juga memiliki asal. Ini tidak akan pernah berhenti.”

__ADS_1


“Siapakah yang berkata pertanyaan semacam ini tidak akan pernah berhenti? Tentulah setiap benda memang memiliki asal, dan asalnya itu pun memiliki asal pula. Tetapi, apakah kiranya yang membuat mereka semua itu ada? Tentulah bila tanah berasal dari bumi, dan bumi berasal dari matahari, dan matahari berasal dari bintang-bintang, sedangkan bintang-bintang itu mungkin saja berasal dari sebuah matahari mahabesar yang kemudian tercerai-berai, hingga sampai pada hal yang tak dapat kita bayangkan lagi, dari manakah asal semula mereka semua? Apakah yang menjadi asal pertama mereka?”


“Sang Gusti!” Mantingan langsung menjawab girang kala itu.


Kiai Guru Kedai mengangguk puas, teramat sangat puas kali ini. “Tiada asap tanpa api, Mantingan. Semua benda di alam semesta ini telah pasti ada yang menciptakannya meski tidak secara langsung. Semua itu berasal dari Sang Gusti, termasuk pula diriku dan dirimu.”


Maka pada saat ini, di atas langit yang membawahi Gunung Kelinci, Mantingan jadi tersadar bahwa ada begitu banyak hal yang masih perlu ia jelajahi di alam semesta. Bila di atas langit nyatanya masih ada langit, maka Mantingan berkehendak untuk naik ke langit di atasnya, lantas kembali naik ke langit di atasnya langit itu, dan begitulah seterusnya hingga kematian menjadi satu-satunya kata cukup.


Tepat setelah memikirkan hal itu, angin kencang tetiba saja mereda. Mantingan mulai melayang turun. Keluar dari gumpalan awan tebal yang membuat seluruh tubuhnya basah kuyup. Kejatuhannya itu diiringi hujan lebat serta petir yang menyambar-nyambar.


Perlahan-lahan, Mantingan memejamkan mata. Sehebat apa pun ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, ia tetap tidak akan selamat bila tiada sesuatu apa pun yang mampu menghentikan lajunya.


Mungkinkah ini adalah akhir baginya? Apakah takdir telah berkata cukup? Akankah langit yang dapat dicapainya hanya sebatas menjadi pendekar terkuat seantero Dwipantara saja?


Tentulah tidak begitu!


Tepat beberapa kejap mata sebelum membentur daratan, tetiba saja tubuh Mantingan disambar oleh sesuatu yang bergerak teramat sangat cepat dan tepat waktu. Hal tersebut benar-benar menyelamatkan Mantingan dari kematian!


Mantingan membuka mata dan mendapati tubuhnya sedang merebah di atas punggung Munding Caraka!


Mantingan tidak lantas bangkit. Ia terus merebah di sana. Lantas tertawa hebat!


Janganlah mengartikan bahwa Mantingan kehilangan akal sehatnya setelah dibawa berputar-putar oleh angin badai. Tawanya itu menandakan kelegaan benaknya. Betapa bahaya dan kegentingan telah berlalu, dan kabar baiknya adalah bahwa sekali lagi dirinya berhasil menyelamatkan Dwipantara dari ancaman serius di masa mendatang.


Bukankah dengan begitu, sehebat dan segila apa pun suara tawanya terdengar dapatlah selalu dimaklumi sebagai sebuah keharusan yang teramat wajar?


“Bisakah dikau membawaku ke tempat jatuhnya siluman itu, Munding?” Mantingan mengirim bisikan angin ke telinga kerbau itu.

__ADS_1


“Ongh!” Munding Caraka menjawab sebelum mengubah arah terbangnya.


__ADS_2