Sang Musafir

Sang Musafir
Hukuman yang Dirasa Pantas


__ADS_3

JILID 8: "Meruntuhkan Langit Persilatan" dimulai.


MANTINGAN membuka mata ketika kepulan asap hitam menyengat hidungnya. Perlahan tetapi pasti, kesadarannya kembali dengan sempurna. Dirinya diikat pada sebuah tiang di tengah lapangan luas. Api unggun mengepulkan asap hitam yang bukan main banyak dan pekatnya tak terlalu jauh dari tempatnya, itulah pasal mengapa ia dapat terbangun dari ketidaksadaran.


Di sekeliling lapangan itu, tampak berjejer rumah-rumah berpenampilan kuno. Beberapa orang di sana melakukan satu-dua pekerjaan, beberapa lainnya tampak sedang memantaunya. Orang-orang itu mengenakan pakaian bergaya lama, yakni bila lelaki hanya bercawat maka perempuan hanya berkain dari pinggul ke bawah.


Untuk sejenak, Mantingan tanpa sadar melupakan kematian Chitra Anggini, yang demikian membuatnya hampir saja menyentakkan kedua tangan untuk berlepas diri dari ikatan itu.


Namun, sejurus ketika diingatnya kembali betapa perempuan kawan seperjalanannya itu telah gugur, terlebih-lebih di tangannya sendiri, Mantingan segera kehilangan hasrat kebebasan. Kembali kepalanya tertunduk dalam-dalam. Pandangan matanya menjadi hampa.


Salah seorang dari mereka berjalan menghampirinya. Barangkali dia merasa heran tentang mengapa Mantingan tidak sedikitpun memberontak meski jelas dirinya telah sadarkan diri.


“Buat apa kamu datang ke pulau ini?” tanyanya.


Mantingan tidak memberi balasan semacam apa jua. Bahkan sekadar lirikan mata pun segan diberikannya.


Merasa kesal, orang yang hanya bercawat itu mulai mengeluarkan bilah golok dari sarungnya. Diarahkan saja tepat pada leher Mantingan.


“Jawablah, atau kau akan mati menyusul kekasihmu itu.”


Mantingan bagai tersiram air dingin dari tidurnya. Tersadar. Bukan sebab ia khawatir pada ancaman tersebut, melainkan diingatnya betapa jasad Chitra Anggini masih berada di tangan orang-orang pulau ini.


“Di manakah engkau kuburkan tubuhnya?” Mantingan menjawab sambil menatap orang itu. Tampangnya tak kurang menyedihkan meski telah kering seluruh air matanya. Tatapan mata itu tetap menyiaratkan kedukaan yang dalam teramat. Siapa pun yang melihatnya bagai akan selalu menyumbang iba meski tak diminta.


“Untuk apakah aku harus menjawab pertanyaanmu sedang kau sendiri belum menjawab pertanyaanku?” Orang itu sedikit melunak, tetapi tidak jua menurunkan goloknya.


“Tolong antarkan daku ke perkuburannya. Selepas itu, daku akan berserah pada kalian. Mohon turutilah, lepaskan ikatanku.”

__ADS_1


Menatap Mantingan dari atas hingga bawah, pandangan mata orang pedalaman itu akhirnya menunjukkan rasa iba pula. Belum pernah dilihatnya seorang muda berpenampilan amat menyedihkan seperti Mantingan.


“Datuk kami ingin berbicara kepadamu, sehingga memang ikatan itu akan kulepaskan segera. Tetapi biar aku peringatkan lebih dulu padamu untuk tidak berbicara pada siapa pun di pulau ini tanpa perbolehan dariku. Bahasa kami berbeda, tidak banyak yang bisa mengerti bahasamu. Salah paham berhadiah terbangnya nyawa.”


Lantas kemudian pria suku menggunakan goloknya untuk memotong tali yang mengikat tubuh Mantingan. Pemuda itu terbebas, tetapi tidak tampak berhasrat ingin bebas sama sekali, termenung saja di tempatnya.


“Ikutilah aku, dan saranku tundukkan saja pandangan matamu terus seperti itu. Kami tidak pernah menyukai tatapan orang asing.”


Maka berjalanlah mereka berdua meninggalkan lapangan itu. Memasuki kawasan  permukiman yang memiliki banyak pepohonan rimbun. Sebagai yang dikatakan tadi, Mantingan terus menundukkan kepalanya. Memang hanya atas kehendak batin sendiri. Isi kepalanya dipenuhi oleh Chitra Anggini seorang, dan memang tiada lain kecuali Chitra Anggini saja.


Air matanya telah kering. Tidak lagi dirinya dapat menangis meski kesedihannya telah mencapai tingkat yang paling tak terpikirkan.


Tidak lagi diingatnya betapa amat mungkin Bidadari Sungai Utara sedang menunggunya saat ini pada suatu tempat di Javadvipa. Pula dilupakannya betapa Kembangmas telah menyerahkan diri, sehingga tujuan dari pengembaraan yang alangkah panjang nian ini akan segera terselesaikan.


Tiada lagi yang dapat dipikirkannya selain Chitra Anggini. Penuh sudah kepalanya.


Mantingan menegakkan kepalanya dan melihat sebuah bangunan besar di hadapannya. Bangunan itu tersusun dari bahan kayu saja, tidak terlihat sedikitpun bahan bebatuan. Meski tampak amat tertinggal, siapa pun yang melihatnya akan menyadari bahwa bangunan itu tetap kokoh dan bahkan boleh jadi jauh lebih nyaman dihuni.


“Masuklah ke dalam. Datuk sudah lama menunggumu, jangan kau buat dirinya bertambah marah.”


Mantingan tidak perlu diperintah dua kali untuk kemudian melangkahkan kakinya memasuki bangunan tersebut. Rupa-rupanya, bagian dalam bangunan itu berbentuk seperti bangsal pertemuan, dengan singgasana kedatuan yang ditinggikan pada salah satu sisi bangsal tersebut.


Mantingan terus berjalan menuju singgasana sang datuk tanpa rasa gentar sama sekali, sebab memang tiada perasaan lain yang dirasakannya saat ini selain perasaan sedih, membuat pria tua berkulit gelap itu memincingkan mata atas keberaniannya.


“Berlututlah di hadapan datuk!” Seorang pengawal membentaknya keras-keras.


Mantingan tidak menghiraukan, atau mungkin saja tidak mendengar. Dirinya tidak berlutut, dan terus saja berjalan ke arah singgasana sang datuk. Untuk itu, seorang pengawal lain datang dan langsung menendang lutut Mantingan hingga terjatuh dan berlutut. Pemuda itu tidak tampak berusaha untuk bangun kembali, sekadar berniat pun tidak!

__ADS_1


“Kau pendekar dari dunia luar, bukan?”


Mantingan menatap orang tua di atas singgasana itu, membuatnya seketika teringat akan Datuk Koying di kotaraja yang telah tewas itu. Barulah kini ia sadari betapa permasalahannya bisa menjadi sangat genting, sebab Sepasang Pedang Rembulan tidak berada dalam jangkuannya saat ini!


Pemuda itu segera mengambil sikap. Dirinya tahu bahwa ini adalah saat yang amat tepat untuk kembali menunda kesedihan. Bukankah ia pernah berhasil melakukan itu sebelumnya ketika Kiai Guru Kedai dan Tapa Balian mati di Istana Koying?


“Segera saja pada intinya, Datuk.” Mantingan masih berkata dengan sopan setelah berhasil menahan segala ingatannya tentang Chitra Anggini.


Sang datuk tersenyum lebar. Dirinya tidak merasa tersinggung sama sekali dan justru menganggap perkataan Mantingan sebagai bentuk dari keberanian seorang pria.


Maka berkatalah dia, “Dikau tahu bahwa pulau ini terlarang untuk dikunjungi, bukan?”


Terdiam beberapa saat untuk melawan kecamuk pikiran, Mantingan akhirnya menjawab, “Sahaya terpaksa, Datuk.”


“Ah, terpaksa. Itu adalah alasan lama yang digunakan orang-orang ketika kami menemukan mereka berada di pulau kami. Entah kapalnya tenggelam, entah terbawa badai, entah salah alamat; kami tidak pernah peduli.”


Mantingan memilih untuk diam.


“Hukuman adat kami sangatlah jelas, anak muda. Bilamana dikau berada di tempat ini, lebih-lebih setelah melihat terlalu banyak hal yang ada pada kami semua, maka leher harus menjadi bayaran. Biarlah dikau membayar kematian kekasihmu itu.”


Mendengar itu, Mantingan kembali menundukkan kepala. Seolah saja kesedihan yang berhasil ditahannya untuk beberapa saat itu kembali membuncah keluar. Betapa buruk pikirannya ketika menyangka bahwa hukuman pancung dari sang datuk adalah suatu kepantasan atas kematian Chitra Anggini di ujung pedangnya!


Diingatnya kembali betapa ia telah meneteskan darah di atas lontar perjanjian bersama Chitra Anggini, berjanji bahwa sebagai kawan seperjalanan mereka sanggup saling melindungi sepanjang pengembaraan. Namun, Mantingan telah gagal telak melindunginya. Amat gagal, sebab perempuan itu mati di ujung pedangnya sendiri!


“Jalankan hukuman!”


Seorang algojo datang dengan membawa sebilah kelewang panjang. Wajahnya tertutupi topeng kayu dengan bentuk amat menyeramkan, terlebih bila kemudian topeng tersebut diberi warna merah darah! Dia datang bagaikan malaikat maut yang menuntut penebusan dosa dari Mantingan.

__ADS_1


Algojo itu berdiri tepat di sampingnya dengan kelewang terangkat tinggi-tinggi. Mantingan tidak bergeser dari tempatnya meski hanya untuk sejari saja, padahal telah amat jelas bahwa kematian berada tepat di hadapannya saat ini!


__ADS_2