
Mantingan memutuskan untuk bergerak masuk. Pertimbangan yang tadi ia lakukan bukan atas dasar menuruti sifat takutnya. Bukan itu. Mantingan tidak lagi penakut sekarang. Mantingan melakukan pertimbangan tadi adalah untuk menghindari keributan tidak perlu.
Jika saja keributan pecah, dan Mantingan bertarung dengan pendekar di desa ini, dan seandainya Mantingan terpaksa membunuh lawannya, maka bukan tidak mungkin masalah itu akan berbuntut panjang.
Lagi pula, Mantingan sangat tidak ingin membunuh manusia. Entah itu manusia aliran putih ataupun manusia aliran hitam. Sebisa mungkin ia hindari hal itu. Maka dilakukanlah pertimbangan.
Orang-orang melihat Mantingan hanya berhenti beberapa kedip mata saja, padahal Mantingan berpikir sangat banyak tadi. Berpikir secepat itu agaknya mustahil bagi orang-orang, tetapi bagi Mantingan yang telah biasa mengatur napas maupun pikirannya.
Mantingan masuk ke dalam desa, disapa pria-pria pemanggul cangkul dengan ramah. Mantingan membalas sapaan itu tidak kalah ramahnya dari mereka. Pada salah satu dari mereka Mantingan bertanya.
“Bapak, di manakah letak kedai?”
“Kedai tidaklah jauh dari sini, sesampainya di rumah itu kau bisa belok ke kanan, nah di sanalah ada kedai kecil. Makanan di sana murah, tapi segalanya terasa nikmat.”
“Terima kasih, Bapak.” Mantingan tersenyum sebelum melangkahkan kaki ke arah yang ditunjukkan.
Benar sesuai dengan petunjuk dari petani itu, terdapat sebuah kedai kecil. Benar pula sepertinya, bahwa semua makanan di sana terasa enak, terlihat banyak orang-orang di dalam maupun di luar kedai itu sedang makan.
Mantingan melangkah mendekat lalu masuk ke dalam kedai. Di dalam kedai nyatanya telah penuh, sehingga Mantingan hanya diperkenankan memesan makanan sebelum nantinya dimakan di meja luar. Mantingan memesan nasi beserta lauk-pauk, sudah lama sekali dirinya tidak makan makanan yang berbumbu seperti ini.
Hidangan cepat disajikan di atas piring, Mantingan membayar makanan-makanan itu sebelum membawanya untuk makan di depan. Di depan kedai sendiri masih terdapat beberapa bangku dan meja yang kosong, Mantingan tanpa kesulitan bisa mendapatkan satu bangku dan meja kecil.
__ADS_1
Mantingan menaruh makanannya di atas meja lalu duduk. Mantingan pula melepas buntelan dan pedangnya. Baru saja Mantingan ingin menyantap makanannya, sebuah bayangan hitam cepat berkelebat di depannya.
Benar sesuai dugaan Mantingan. Terdapat pendekar di dalam desa ini. Yang ia lihat tadi jelaslah sesosok pendekar. Orang-orang di sekitar Mantingan belum tentu bisa melihat bayangan itu dengan jelas, tetapi Mantingan bisa melihat rupa pendekar itu cukup jelas.
Dia adalah lelaki, usianya mungkin saja di bawah empat puluh tahun, jika dilihat dari wajahnya. Pendekar itu jelas ingin menunjukkan keberadaannya pada Mantingan, tetapi entah apa maksudnya dari itu.
Mantingan melihat ke sekitar, pendekar itu sudah tidak terlihat. Mantingan tahu, bahwa meskipun pendekar berpakaian hitam itu tidak terlihat, tetapi pendekar itu sedang mengawasi Mantingan sekarang. Mantingan mengangkat bahunya sekali sebelum mulai menyantap makanan.
Pendekar itu sepertinya tidak mengetahui bahwa Mantingan merupakan pendekar, tetapi Mantingan adalah orang yang patut diwaspadai sebab dirinya membawa pedang. Maka bukan tidak mungkin pendekar itu hanya ingin memastikan Mantingan benar-benar bukan pendekar. Mantingan memilih seakan-akan hanya melihat bayangan kabur saja, tanpa pernah mengira bahwa yang melintas di depannya adalah sosok pendekar.
Tetapi yang terjadi berikutnya adalah di luar dugaan Mantingan. Bayangan itu kembali melintas, kali ini tangannya menyambar piring makanan yang sedang disantap Mantingan. Terbanglah piring gerabah beserta isinya itu ke udara. Bayangan itu menghilang kembali jauh sebelum piring jatuh pecah berhamburan.
Orang-orang serentak melihat ke arah Mantingan dengan tatapan penuh tanda tanya. Mantingan tersenyum canggung dan berkata, “Maaf, sahaya tidak sengaja menyenggolnya.”
Orang biasa tentu tidak bisa melakukan gerakan seperti itu, yang dapat dengan cepatnya menangkap bilah besi tajam tanpa terluka. Maka kepura-puraan Mantingan sudah pasti diketahui orang itu.
Sepertinya memang tidak ada pilihan lain selain berhadapan dengan orang itu. Berhadapan bukan berarti harus bertarung. Mantingan akan berhadapan, untuk bicara pada pendekar itu, dan menanyakan apa maunya. Jika terpaksa, Mantingan akan bertarung dengannya.
Tidak ada niat lagi untuk kembali menyantap makanan. Setelah selesai membersihkan pecahan piring, Mantingan kembali ke dalam kedai untuk membayar piring yang pecah. Walau warga piring itu hanya beberapa perunggu, tetapi Mantingan tetap membayarnya dengan sekeping emas, karena keberadaannya telah membahayakan pelanggan kedai tadi.
Mantingan keluar dari kedai, memasang buntelan dan pedangnya kembali, lalu berjalan ke sembarang tempat.
__ADS_1
Dengan pendengarannya yang cukup tajam, Mantingan dapat mengetahui bahwa pendekar itu sedang membuntutinya dari belakang. Mantingan terus berjalan ke tempat yang sepi, hingga berhentilah ia saat sampai di salah satu sela di antara dua rumah. Mantingan berbalik menghadap ke belakang.
“Apakah yang dikau kehendaki?” tanya Mantingan pelan.
Pendekar itu tiba-tiba saja muncul dalam jarak sedepa di depan Mantingan, berujar juga ia dengan pelan, “Dikau jelas ancaman di desa ini, sudah tugasku menghalangimu.”
“Apa yang membuat dikau berkata seperti itu?” Mantingan bertanya lagi.
“Daku sudah mencium aroma ilmu hitam dari badanmu itu, dikau sudah jelas adalah pendekar aliran hitam.” Pendekar itu berkata sambil menggeram.
Mantingan menggeleng pelan dan menghela napas. “Aku bukanlah pendekar golongan hitam, tetapi aku memang mempelajari ilmu silat aliran hitam.”
“Jangan banyak alasan, sudah jelas kau ini pendekar aliran hitam!” Pendekar itu menyiapkan kuda-kuda.
“Jangan menyerang, biarkan aku menjelaskan lebih banyak pada dikau.”
Tetapi sayang, pendekar itu menghiraukan ucapan Mantingan. Dirinya dengan cepat menjadi bayangan, meluncur cepat ke arah Mantingan sambil tangannya membentuk tapak. Mantingan mengimbangi kecepatan itu dengan bergerak ke belakang, akan tetapi buntelan dan pundi-pundinya sungguh membuat gerakannya tidak secepat pendekar lawannya itu.
Tapak itu hampir mencapai tubuh Mantingan saat Mantingan membelokkan arah ke kiri. Kini mereka telah keluar dari sela antara dua rumah itu, dan bertarung di jalanan umum dengan kecepatan tak kasat mata.
Pendekar lawan Mantingan itu terus menerus mengirim serangan tapak. Mantingan tidak membalas serangan itu, juga tidak menangkisnya, ia hanya menghindar saja. Mantingan masih mencari tempat yang aman untuk melepas buntelan serta pundi-pundinya, tetapi tempat itu tidak kunjung ditemukan, terlebih Mantingan berada dalam tekanan pendekar itu.
__ADS_1
Hingga Mantingan lengah. Sedikit saja lengah, tetapi sangat berbahaya akibatnya. Mantingan sedikit terpeleset saat ia hendak menghindar, hingga akhirnya terkena serangan tapak juga di bagian perutnya.