
Mantingan semakin terheran-heran. Kini bahkan dahinya telah mengerut. Jika dalam perjanjian jual-beli antara mereka tidak menggunakan keping uang sebagai nilai tukar, maka sudah pasti bahwa keterangan yang dijual oleh Pendekar Kelewang Berdarah adalah keterangan yang teramat sangat penting, sebab termasuk ke dalam sesuatu yang tidak ternilai.
“Kami akan mengganti rugi dengan satu Batu, yang dikau tahu bahwa itu bernilai seribu keping emas. Tetapi jika dikau tidak mau ….”
Terdengar keraguan dalam ucapan Kartika hingga kalimatnya mesti terhenti.
“Jika daku tidak mau, lantas apa?”
“Kami akan menyajikan Tarian Daun Jatuh kepada kalian!”
***
MANTINGAN terus menampakkan diri seolah tidak mendengarkan percakapan itu sama sekali, dengan terus mengusap punggung Munding Caraka, yang sebenarnyalah membuat kerbau itu pun menjadi kebingungan.
Suasana kembali hening setelah Kartika berkata bahwa rombongan pemain wayangnya akan memainkan suatu tarian bernama Tarian Daun Jatuh. Mantingan tidak terlalu mengerti dengan makna sekadar tarian bagi pendekar-pendekar dunia persilatan bawah tanah, sebab seharusnyalah mereka jarang membuang waktu untuk urusan yang tidak memiliki kepentingan, tetapi dirinya tahu bahwa Tarian Daun Jatuh tersebut bukanlah tarian biasa sehingga mampu membuat Pendekar Kelewang Berdarah meluangkan waktu guna berpikir.
Di sela-sela keheningan itulah Mantingan kembali menangkap percakapan di dalam tenda yang dilangsungkan dengan berbisik-bisik. Mantingan segera mengalihkan pendengarannya menuju percakapan itu.
“Mengapakah Kakak Ketua berkata seperti itu? Bukankah Tarian Daun Jatuh adalah harta kelompok kita yang teramat sangat berharga sehingga tidak sepantasnya dibagikan kepada orang-orang di luar kelompok kita?”
“Daku juga tidak tahu, tetapi kutahu bahwa Kakak hanya mengambil keputusan terbaik dari yang terbaik untuk kita semua. Lebih baik kita ikuti saja apa yang Kakak putuskan. Bukankah kita telah berjanji untuk mempercayakan hidup kita pada Kakak?”
“Daku hanya khawatir jika Kakak melakukan itu hanya untuk melindungi kita. Tarian Daun Jatuh menyimpan ilmu persilatan yang teramat sangat tinggi, itu terlalu berharga untuk diberikan kepada sekelompok orang yang sulit dipercaya seperti mereka.” Suara itu terdengar tanpa daya. “Jika diriku harus bertarung sampai mati untuk melindungi ilmu itu, maka daku rela.”
__ADS_1
Mantingan diam-diam mengerutkan dahinya. Jika perempuan itu berkata bahwa dirinya bersedia bertarung meski sampai mati, bukankah itu telah menandakan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk bertarung?
“Sama seperti dikau, diriku pula rela menggunakan segala kemampuan meski harus berakhir mengenaskan!”
Kini telah terang bagi Mantingan bahwa kelompok pemain wayang ini bukan saja hanya sekumpulan perempuan-perempuan penghibur yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Dengan mereka berkata tentang Tarian Daun Jatuh yang menyimpan ilmu persilatan tinggi, yang ditambah lagi dengan tekad mereka untuk bertarung hingga mati, telah menjadi jelas bahwa kelompok pemain wayang itu berisi pendekar!
Saat makan malam tadi, Chitra Anggini memberi isyarat kepadanya bahwa kelompok pemain wayang itu adalah satu dari sekian banyaknya kelompok yang memburu dirinya. Mantingan segera menyadari dengan telak, para pemain wayang ini adalah pembunuh bayaran yang menyembunyikan jati dirinya dalam balutan topeng dan selendang wayang!
Dan menjadi jelas pula penyebab mengapa rombongan sebesar mereka masih tetap utuh meski melewati jalur yang dipenuhi penyamun.
Lantas demikian, untuk apakah Kartika membiarkan Mantingan bergabung ke dalam rombongannya jika bukan untuk melindungi para perempuan wayang dengan segala benda di dalamnya? Mantingan yakin, bahwa pendekar jaringan bawah tanah seperti Kartika tidak akan pernah kesulitan untuk menemukan Lembah Balian, sehingga sungguhlah tidak diperlukan seorang Mantingan untuk menuntun mereka ke tempat itu.
Namun, Mantingan tetap berkepala dingin. Dalam keadaan di mana dirinya dapat diserang kapan saja dan dari pihak mana saja, memanglah sepatutnya ia menjaga kepalanya agar tetap tenang. Ia percaya diri dengan kemampuannya, tetapi rasa percaya diri saja tidak cukup.
Pendirian Manusia dengan ketiga sikap bertarungnya juga akan memberikan Mantingan banyak dampak menguntungkan di dalam pertarungan, sebab seluruh gerakan dari ilmu tersebut memang sulit terkirakan oleh siapa pun.
Lebih-lebih lagi, dirinya masih memiliki Ilmu Savrinadeya yang pada awalnya sama sekali tidak bisa digunakan.
Namun, kini Mantingan mampu menciptakan sekumpulan angin setajam pedang, memotong ujung rambut hingga menjadi tujuh bagian, dan membelah pedang maupun perisai pusaka semudah memotong daun gedong sampai tingkatan tertentu.
Dengan semua kemampuan yang Mantingan miliki, rasa-rasanya amat mustahil dirinya terkalahkan oleh pendekar mana pun. Lain kata, Mantingan telah menjadi pendekar tak terkalahkan, sehingga memang sungguh layak untuk mendapatkan wibawa Pemangku Langit. Tetapi meskipun seperti itu, Mantingan tidak mengetahui pendekar-pendekar dengan kekuatan semacam apa sajakah yang menghuni Suvarnadvipa.
Jika diandaikan bahwa anak-anak di Suvarnadvipa telah menganggap ilmu sihir sebagai mainan, lantas bagaimanakah dengan orang-orang dewasanya? Di Javadvipa, pendekar yang menguasai ilmu sihir tidaklah banyak, dan anak-anak di pulau itu hanya berpikir untuk bermain bersama kawan-kawannya saja, tanpa sama sekali sempat memikirkan ilmu sihir dengan segala kerumitannya.
__ADS_1
Bukankah kenyataan itu sama saja telah menandakan bahwa kebanyakan masyarakat di Suvarnadvipa mempercayai dunia persilatan sebagai suatu wujud yang benar-benar nyata? Dan bukankah dari sekian banyaknya masyarakat yang mempercayai dunia persilatan, maka akan banyak pula orang-orang yang memutuskan untuk masuk ke dalamnya, yang sama melahirkan ahli-ahli baru dalam dunia persilatan?
Maka dengan segala pertimbangan itu, Mantingan tidak akan pernah merasa dirinya berada di atas angin. Betapa pun, di atas langit masih ada langit.
Tidak satu orang pun pernah mencapai puncak dunia persilatan dan menjadi yang terkuat di atas segalanya, sebab dunia persilatan bukanlah memiliki puncak.
Sementara itu, percakapan antara Kartika dengan Pendekar Kelewang Berdarah kembali berlanjut.
“Meski itu masih terhitung rugi bagi kami yang telah kehilangan dua orang dalam perjalanan, kami akan tetap menerimanya. Tetapi untuk semua yang telah kalian lakukan pada kami di tempat ini, Kelompok Kelewang Darah tidak akan pernah menganggap kalian bersahabat.”
“Kami, Kelompok Penari Daun, membebaskan siapa pun untuk berpendapat apa pun terhadap kami.” Kartika mengencangkan suaranya. “Jika memang tamu-tamu sekalian menganggap kami tidak bersahabat, maka kami tidak peduli. Kami tidak pernah mengedepankan perasaan, melainkan kepentingan.”
“Baiklah! Baiklah! Perempuan tidak pernah berubah; selalu banyak bicara. Kami akan menonton tarian kalian, lalu urusan kita di sini selesai sudah. Baiknya dikau menyiapkan segala sesuatunya dengan secepat mungkin. Kami tidak suka menunggu,” kata Pendekar Kelewang Berdarah pada akhirnya. “Tetapi sebelum itu, diriku akan bertanya.”
Mantingan menahan napas pula gerakannya. Dengan kemampuannya dalam membaca tanda, sungguh telah ia ketahui apa yang akan ditanyakan oleh orang itu!
“Kelompok kalian terkenal tidak pernah menerima pria untuk bergabung, tak peduli seberapa banci pria yang memohon kepada kalian agar dimasukkan ke dalam Kelompok Daun Jatuh. Lantas mengapakah kulihat ada pria bersama kerbau di kejauhan sana? Tadi kulihat pula dirimu memberi tanda kepadanya, seolah meminta untuk tidak mendekat.”
Mendengar hal itu, maka sesegera mungkin Mantingan kembali menggosok punggung kerbaunya. Bersikap seolah tiada tahu-menahu tentang percakapan itu.
“Dia memang bagian dari rombongan kami, tetapi dia bukan dari kelompok kami. Lelaki itu adalah penyoren pedang biasa yang kusewa untuk penyamaran.”
__ADS_1