
SESAMPAINYA mereka di sebuah bangunan yang tinggi menjulang bagaikan pagoda, dua pendekar yang mengawal Mantingan dan Chitra Anggini langsung mengirimkan pisau-pisau terbang untuk membunuh prajurit-prajurit yang berjaga di sana.
Namun, semuanya tidak dapat terbunuh dengan pisau-pisau itu. Ada yang luput, tetapi ada pula yang memang tidak menjadi sasaran. Sebagian dari mereka yang masih hidup segera berkelebat untuk menyambut kedatangan dua prajurit pendekar yang berkhianat itu, sedangkan sisanya berkelebat menuju puncak pagoda untuk membunyikan tanda bahaya.
Mantingan bertindak cepat dengan langsung melesatkan belasan pisau terbang yang seolah saja datang dari ruang hampa untuk merontokkan mereka yang hendak menyerang sekaligus mereka yang hendak membunyikan tanda bahaya. Begitu mudahnya ia melakukan itu hingga istilah membalikkan telapak tangan pun tidak akan pantas disematkan padanya.
Ketika mereka kemudian mendarat tepat di hadapan pintu bangunan tinggi itu, Chitra Anggini tiba-tiba menyentuh lengan Mantingan. Dalam cahaya temaram dari lentera-lentera berwarna kuning-keemasan yang tergantung di beberapa tiang, tampaklah wajah gadis itu yang risau.
“Bukankah ini semua terlalu mudah?” bisiknya.
Mantingan kemudian melirik dua pendekar yang telah jauh mengantarkannya sampai di sini. Mereka menganggukkan kepala untuk meyakinkan.
“Kita tidak memiliki pilihan lain. Percayalah saja pada jaringan Puan Kekelaman.”
Setelah Mantingan berkata begitu, dua pendekar tersebut serentak menancapkan pedang mereka pada gagang pintu sebelum mulai merapalkan mantra-mantra sihir. Dalam seketika, pola-pola cahaya berwarna hijau memenuhi pintu tersebut. Meskipun terang tidak begitu pekat, tetapi tampak jelas keringat bercucuran dari wajah kedua pendekar itu. Mereka tidak tampak seperti hendak membukanya mantra yang wajar, melainkan membobolnya!
Mantingan memendarkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun sejauh yang dirinya bisa, maka dapatlah ia menemukan beberapa pendekar yang sedang bergerak cepat menuju tempat mereka!
__ADS_1
“Chitra, kaujagalah tempat ini. Apa pun yang terjadi, jangan pernah menyusulku.” Mantingan menatap perempuan itu dengan sedikit hawa pembunuh, sungguh sebenarnya ia tidak ingin melakukannya tetapi berdebat dengan Chitra Anggini adalah sesuatu yang justru jauh lebih buruk.
Dalam pertarungan antara pendekar, waktu sekedip mata dapat menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Sedangkan itu, kecepatan berbicara tidaklah dapat menandingi kecepatan mengedipkan mata. Jika mesti pula meladeni penolakan Chitra Anggini dengan bercakap-cakap melalui mulut, mereka semua dapat mati di tempat ini!
Namun tanpa disangka-sangka, Chitra Anggini mengangguk pasti. Benar-benar pasti. Anggukan yang bukan saja karena hawa pembunuh yang diberikan Mantingan, melainkan pula karena ketetapan hatinya sendiri. Dia memang telah memutuskan begitu.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mantingan segera berkelebat menuju puncak pagoda. Pendekar-pendekar itu datang dari beragam arah yang benar-benar berbeda satu sama lain, sehingga akan sangat sulit bila harus menghampiri mereka satu demi satu. Mantingan mengambil puncak wuwungan dari pagoda itu sebagai pijakannya, sebelum mulai melesatkan pisau-pisau terbang yang muncul begitu saja dari telapak tangannya.
Kecepatan pisau-pisau itu telah melebihi kecepatan pikiran. Sungguh. Tak terbantahkan seluruh serangan itu mengenai sasaran dengan tepat dan begitu sempurna, sehingga bahkan mereka tidak mengetahui apa yang menjadi penyebab kematian mereka, atau boleh jadi tidak pula mengetahui betapa mereka telah mati!
Meskipun serangan dengan kecepatan pikiran memang terdengar seperti tidak akan bisa dihindari sama sekali, tetapi bagi para pendekar yang telah melatih naluri bertarungnya hingga sampai pada tingkat tak terbayangkan, yang barang tentu pelatihan seperti itu tidak akan memakan waktu satu-dua tahun saja, maka serangan dengan kecepatan pikiran masih memungkinkan untuk dihindari.
Belasan tubuh pendekar penjaga kediaman raja harus jatuh dengan sebilah pisau yang menancap tepat di dahi mereka, tetapi keberadaan mereka segera digantikan dengan pendekar-pendekar lain yang pula berlesatan secepat mungkin untuk mencapai pagoda penyimpanan mestika-mestika kerajaan.
Bagi Mantingan, sama sekali tidak sulit melumpuhkan mereka sekaligus dalam sekejap mata. Pisau-pisaunya akan selalu melesat dengan pergerakan yang jauh-jauh lebih cepat dari yang tercepat. Pendekar-pendekar itu sama sekali tidak berdaya. Dan meskipun mereka tahu bahwa nyawanya akan melayang bila berani mendekati pagoda itu, mereka tidak peduli dan terus melesat maju.
Mantingan menghela napas panjang. Dirinya mesti kembali menghadapi lawan-lawan yang tidak peduli dengan kematian, sebab bagi mereka kematian adalah bagian dari perjalanan panjang meraih kesempurnaan dalam persilatan. Namun, betapa Mantingan harus meladeni orang-orang pencari kematian itu dengan membunuh mereka seluruhnya tanpa terkecuali. Mencabut ratusan hingga ribuan nyawa manusia bukanlah sesuatu yang tidak berdampak besar pada kejiwaan, bahkan untuk seorang Pemangku Langit sekalipun.
__ADS_1
“Pintu sudah terbuka!” Terdengar suara bisikan Chitra Anggini yang suaranya dapat Mantingan dengar begitu jelasnya dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun.
Segera pemuda itu menjatuhkan diri dari puncak pagoda sambil terus melesatkan pisau-pisau terbang ke arah musuh yang dapat dijangkaunya.
Sesampainya di bagian dasar pagoda itu, ia melihat dua pintu besar yang tadinya terkunci begitu rapat dengan mantra sihir kini telah menjadi serpihan-serpihan kayu yang setiap potongannya tidak lebih besar dari ibu jari. Dua pendekar yang berhasil membobolnya itu tampak tidak berdaya dengan bersandar lemas pada dinding, mereka jelas tidak dapat berbuat apa pun lagi selain mencoba untuk memulihkan diri.
“Masuklah! Sepasang Pedang Rembulan ada di dalam. Biar aku menjagamu di sini!” Chitra Anggini berkata sambil menatap sekitarnya dengan tajam.
Namun, Mantingan membantahnya dengan keras, “Mereka terlalu kuat untuk kauhadapi sendirian. Kita berdua masuk ke dalam setelah menghabisi semua musuh bersama!”
Kekhawatirannya sungguh jelas, Chitra Anggini tidak akan bisa menang menghadapi mereka seorang diri. Gadis itu masih belum bisa melancarkan serangan dengan kecepatan pikiran, sedangkan pendekar-pendekar penjaga istana sama sekali tidak bisa dianggap sebagai lawan yang enteng. Bila Chitra Anggini tidak dapat lebih cepat dari mereka, maka nyawanya seperti telah ditetapkan untuk melayang ke antah-berantah.
“Mereka tidak akan pernah habis!” katanya kemudian, “sedangkan nyawa kita berdua tidak lebih berharga dari senjata mestika itu. Cepat pergilah ke dalam, nasib dunia persilatan ada di tanganmu!”
Mantingan tidak sempat membantah ketika tiba-tiba saja Chitra Anggini berkelebat pergi. Bagaikan kelelawar yang mampu melempar biji bebuahan dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga marabahaya tidak lagi terhindarkan bagi siapa pun yang dikenainya, dia melesatkan puluhan daun terbang dari balik kegelapan malam. Bukan hanya itu, lentera demi lentera pula dipadamkan dengan tembakan daun-daun tersebut, menambah kegelapan malam yang memang sudah begitu kelam.
Mantingan segera mengetahui bahwa ketetapan hati gadis itu tidak lagi dapat dibantah, maka segeralah ia melesat ke dalam bangunan pagoda untuk mengambil Sepasang Pedang Rembulan di Tengah Kegelapan Malam beserta Tapa Balian sebelum kemudian membantu Chitra Anggini secepat mungkin.
__ADS_1
Namun di dalam sana, kejutan tidak terduga sudah menantinya sejak tadi.