
MANTINGAN MENIKMATI tehnya. Ia tidak cukup lapar untuk memesan makanan. Sedangkan Bidadari Sungai Utara, tentu saja, memesan banyak hidangan berupa daging dan sayur mayur. Mantingan memperbolehkan gadis itu memesan apa saja di kedai ini.
Beberapa kali Mantingan menghela napas panjang. Ia tak tahu kapankah angin muson timur tiba, tetapi ia melihat belakangan ini hujan lebih sering turun. Tanda angin muson barat masih berseliweran melintasi Dwipantara. Mantingan tidak tahu hal ini merupakan tanda penghujung muson barat atau malah pertengahan muson barat.
Mantingan ingin Bidadari Sungai Utara cepat-cepat kembali ke negerinya di Champa. Bukan karena merasa tidak kuat direpotkan gadis itu. Menurut Mantingan, semakin cepat gadis muda itu pergi dari tanah Javadvipa maka semakin baik. Mantingan tidak berani membayangkan apa yang selanjutnya terjadi jika Bidadari Sungai Utara tertangkap.
Bidadari Sungai Utara memecah lamunannya. “Man, apakah kau benar-benar yakin tidak mau menceritakan kisah perjalananmu?”
“Kurasa aku berubah pikiran, Saudari.” Mantingan menukas.
Mantingan kembali berpikiran bahwa menceritakan sedikit mengenai perjalanannya kepada Bidadari Sungai Utara sebenarnya tidak masalah, bahkan sedikit menguntungkan. Bidadari Sungai Utara dapat mengetahui apa saja yang telah terjadi di Javadvipa, cara bercocok tanam, sekaligus cara bertahan hidup.
Mantingan mulai bercerita. Panjang lebar tanpa terputus. Dengan tutur kata indah, Mantingan berhasil menghanyutkan Bidadari Sungai Utara ke dalam ceritanya. Gadis muda itu tampak begitu memperhatikan Mantingan bercerita, seolah-olah setiap kata yang Mantingan ucapkan adalah bagian terpenting dari seluruh ceritanya.
Tentu saja Mantingan tidak menceritakan pertemuannya dengan Kenanga, namun ia sedikit menceritakan pertemuan dengan Rara. Hanya sedikit, tetapi memberi kalimat akhir yang mencengangkan Bidadari Sungai Utara. Mantingan berkata bahwa ia mencintai Rara, tak peduli apakah gadis itu dalam keadaan hidup atau mati.
Tak lupa Mantingan bercerita mengenai pertemuannya dengan Ki Dagar hingga sampai Perguruan Angin Putih. Selera dan minat Bidadari Sungai Utara menurun sejak Mantingan menyinggung tentang cintanya dengan Rara. Namun demi menjaga perasaan Mantingan, Bidadari Sungai Utara tetap mendengarkan ceritanya sampai habis.
Kejadian di pasar bersama Paman Bala waktu itu, Mantingan merasa tidak perlu menceritakannya. Hanya akan membuat gadis itu mencemaskan hal yang tidak perlu.
Segala sesuatu tentang pencarian Kembangmas oleh Mantingan tidak terlalu dipedulikan oleh Bidadari Sungai Utara. Di akhir cerita, gadis itu tidak bertanya alasan mengapa Mantingan sampai rela mencari bunga dongeng itu.
__ADS_1
“Jadi, kau mencintai orang mati?” Hanya itu pertanyaannya, yang singkat namun padat sekali.
Mantingan mengangkat alisnya dan tersenyum hangat. “Bisa dibilang begitu. Tetapi aku merasa dia masih hidup dan akan tetap hidup. Aku merasa seolah-olah dia duduk di sampingku saat ini juga.”
Mantingan melirik tempat di sebelahnya. Terlihat Rara tersenyum manis padanya. Masih dengan senyum hangat, Mantingan meneruskan, “Kurasa, beginilah yang dinamakan cinta.”
Bidadari Sungai Utara tersenyum nanar. Harus ia terima kenyataan pahit ini. Bagaimanakah rasanya mengetahui orang yang disukainya ternyata menyukai orang lain? Tidak dapat dipungkiri, dirinya sakit hati. Kecewa. Dan cemburu.
“Tetapi sebagai pendekar, aku tidak ingin memusingkan soal cinta, Saudari.” Mantingan tiba-tiba kembali berkata. “Karena cinta yang aku rasakan tidak seperti cinta yang dirasakan orang awam pada umumnya. Aku berkecimpung ke dunia persilatan, cinta yang aku tempuh diiringi oleh tumpahnya darah. Sebagai pendekar, aku terlalu berani bermain-main dengan cinta.”
Bidadari Sungai Utara mematung. Ucapan Mantingan itu dirasanya sangat benar. Cinta seorang pendekar berbeda dengan cinta manusia awam pada umumnya. Pendekar yang mengalami cinta harus siap menerima tumpahan darah kekasihnya.
Selayaknya ia sendiri, yang darahnya hampir tertumpah di tanah Javadvipa. Kekasihnya di Champa pasti akan merasakan hal yang sama dengan yang Mantingan rasakan. Sebagai pendekar, mereka harus bersiap dengan itu.
Memang pada saat itu Mantingan belum menjadi pendekar. Namun dapat dihitung dirinya telah berkecimpung di dalam dunia persilatan. Jika dirinya tidak melawan pendekar di Penginapan Tanah saat penyelamatan Arkawidya, maka Rara tidak akan mati terbunuh di rumah Birawa.
Penyesalan tiada gunanya. Mantingan hanya bisa menghela napas panjang.
Bidadari Sungai Utara tertunduk. Saat ini ia tidak berselera melakukan apa pun. Bahkan tidak bersela untuk diam saja, tidak juga untuk bergerak. Perasaannya kacau.
Tanpa secara langsung, Mantingan memperingati Bidadari Sungai Utara. Mereka tidak boleh bermain-main dengan cinta.
__ADS_1
***
SETELAH MEMBAYAR seluruh makanan yang tadi dipesan, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara kembali melanjutkan perjalanan. Tanpa seorang pun yang mencurigai mereka, beranggapan bahwa dua muda-mudi itu hanya pelancong biasa.
Siapakah yang ingin melancong di tengah kekacauan seperti ini?
Seperti biasa, siang itu langit dipenuhi gumpalan awan-awan kelabu. Mantingan membuka capingnya, menikmati belaian angin yang membawa udara dingin. Bidadari Sungai Utara berjalan tak jauh di belakangnya, bukan di sampingnya lagi. Tak mengapa, gadis itu memang membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan.
Mereka melintasi padang rumput yang cukup luas, terlihat hamparan jajaran bukit-bukti tinggi di sebelah timur. Bukit-bukit itu berada di Agrabinta ataupun Karang Sindulan, terlihat sampai Tanjung Kalapa jauhnya.
Sedangkan jalur yang mereka lewati saat ini berbentuk dataran rendah. Jarang dijumpai perbukitan. Paling-paling, dataran yang bergelombang saja.
Nan jauh di sebelah utara sana adalah hamparan laut biru. Namun, itu masih sangat jauh. Kira-kira, membutuhkan waktu satu sampai dua hari lagi untuk mencapai garis pantai.
Kata orang-orang, keramaian di pesisir utara Tanjung Kalapa hampir menyamai Sundapura. Seolah-olah Tarumanagara beribu kota di Tanjung Kalapa. Pelabuhan Kalapa menjadi tempat perdagangan. Orang-orang dari seluruh kerajaan di Negeri Atap Langit sering bersinggah. Tetapi mungkin saja saat ini tidak seramai yang diceritakan orang-orang, tentunya keamanan di Taruma saat ini membuat pedagang lintas samudra berpikir dua kali untuk singgah.
Mantingan dan Bidadari Sungai Utara terus melangkah. Perlahan, mereka meninggalkan padang rumput. Jalanan yang saat ini dipijak membawa mereka masuk ke dalam hutan lebat.
Suasana jalan yang sunyi dan tenang membawa Mantingan untuk bersantai. Di dalam perjalanan panjang, inilah bagian yang paling Mantingan suka. Hutan selalu bisa membawanya masuk ke dalam kedamaian sejati.
Udara segar. Desiran angin. Gersak dedaunan. Sahutan binatang hutan. Sungguh telah lama Mantingan merindukan ini. Rasa-rasanya, seperti kembali lagi ke perkemahannya dulu.
__ADS_1
Jalanan terus membawa mereka semakin masuk ke dalam hutan, melewati bagian-bagian hutan yang dianggap tidak berbahaya bagi pengguna jalan.