Sang Musafir

Sang Musafir
Tanda Bahaya Kedua


__ADS_3

SETELAH beberapa saat berlalu, pelabuhan akhirnya menjumpai kesunyiannya. Tidak terlihat seorangpun yang berlalu-lalang.


Orang-orang awam telah pergi untuk mengungsi sesegera mungkin, karena mereka kenal betul bahwa pendekar-pendekar aliran hitam akan berlaku amat sangat buruk hingga para korbannya akan merasa sangat bersyukur jika diberikan kematian.


Sedangkan para pendekar di Padepokan Angin Putih telah pergi ke tempatnya masing-masing dan bersiap berkorban nyawa untuk menghadapi musuh, sebab mereka juga sangat mengetahui hal buruk seperti apakah yang akan menimpa orang-orang tak bersalah jika gempuran serangan musuh tidak berhasil mereka tahan. Harapan semua orang di pelabuhan tertumpu pada mereka.


Mantingan pun akhirnya menyadari, bahwa besar kemungkinannya bahwa hanya dirinya, Bidadari Sungai Utara, serta Kana dan Kina saja yang masih bertahan di Penginapan Bunian Malam. Sebab ketika ia menyisir seluruh bagian penginapan menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun, Mantingan tidak dapat mendengar suara tanda-tanda keberadaan manusia di dalamnya.


Kemudian Mantingan tersenyum tipis. Mungkin saja tindakannya memang tergolong gila; membiarkan anak-anak dan seorang gadis cantik jelita di bawah ancaman kelompok pendekar aliran hitam yang menyerang. Jikalau serangan ini tidak dapat ditangguli, maka Mantingan tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukan musuh terhadap Bidadari Sungai Utara serta anak-anak yang bersamanya.


Maka meski Mantingan terlihat tenang-tenang saja di atas bangkunya, jantung pemuda itu sebenarnya berdebur teramat kuat.


Hal yang sama pun terjadi pada diri Bidadari Sungai Utara. Meskipun dia sedang mengisahkan sebuah dongeng indah pengantar tidur dan tampak nyaman di bawah selimut hangat bersama Kana dan Kina, tetapi sebenarnyalah telapak tangan gadis itu berkeringat dingin akibat rasa resah dan gelisah yang teramat tinggi.


***


ENTAH sudah berapa lama. Mantingan merasakan waktu berlalu begitu lambatnya, tetapi ia sadar bahwa waktu yang telah dilewati sebenarnya hanya sebentar saja.


Begitulah waktu dirasakan seorang pendekar akan amat sangat lambat jikalau dirinya sedang berwaspada penuh.


Dengan kewaspadaannya, seorang pendekar mampu melihat sesuatu yang bergerak cepat menjadi begitu lambatnya selambat-lambatnya, bagai tiada yang lebih lambat daripada itu.


Namun jikalau sedang tidak berwaspada, alias dalam kelengahan, seorang pendekar akan merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh orang-orang awam. Sesuatu yang bergerak cepat akan tetap dilihatnya sebagai sesuatu yang bergerak cepat; yang berlangsung sekedip mata maka akan tetap dilihatnya sekedip mata saja.


Maka dari itu, disebutkanlah bahwa kelengahan merupakan sesuatu yang amat sangat berbahaya bagi seorang pendekar.

__ADS_1


Mantingan terus duduk di bangkunya, dan terasa waktu berlalu begitu lama baginya. Padahal, Bidadari Sungai Utara masih belum menyelesaikan satu kisah dongeng yang dibacakannya kepada Kana dan Kina.


Hingga sampailah ketika telinga Mantingan menggunakan Ilmu Mendengar Tetesan Embun-nya berhasil menangkap sayup-sayup dari kejauhan beragam suara yang terdengar amat mengerikan.


Seketika itu pula, raut wajah Mantingan berubah menjadi buruk. Bagaimanakah tidak begitu jikalau suara yang didengarkannya itu ialah suara menyeramkan dari pertempuran di laut sana?


Dengan kemampuan pendengarannya yang teramat tajam hingga mampu menjangkau suara yang sangat jauh sekalipun, Mantingan dapat mendengar hampir semua suara pertempuran. Dengung panah. Desing pedang. Hantaman logam beradu logam. Kobaran api. Bacokan pada daging. Kata makian. Hingga raungan sebelum kematian.


Itu semuanya terdengar lebih mengerikan lagi jika mengetahui bahwa dirinya hanya duduk diam saja. Tidak sedikitpun dirinya bergerak membantu saudara-saudara seperguruan yang mungkin saja sedanga membutuhkan bantuannya.


Namun memang begitulah ketetapannya, dan memang begitulah sebaiknya. Mantingan memang harus duduk dan tetap diam. Memang tidak diizinkan pergi ke mana pun juga kecuali keadaan telah benar-benar mendesak.


Mantingan menggertak giginya sambil memejamkan mata. Berusaha meyakinkan diri, bahwa pertempuran mungkin saja akan tetap terjadi dengan atau tanpa ada dirinya di pelabuhan itu. Ia tak dapat menyalahkan diri sendiri.


Suara kentungan dan canang kembali merebak udara untuk yang kedua kalinya! Saat ini lebih keras, lebih cepat, dan lebih ricuh daripada yang pertama. Jelas tanda bahaya yang amat sangat tinggi!


Tidak hanya Mantingan saja yang terkejut, Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina yang sedang di ranjang pun sama terkejutnya. Suara Bidadari Sungai Utara yang indah ketika sedang bedongeng itu seketika saja berganti dengan suara kentungan dan canang yang begitu mengerikan.


Mantingan lekas berdiri dari kursinya dan menjulurkan kepala keluar jendela untuk melihat apa yang terjadi.


Yang pertama-tama dilihatnya ialah lautan biru mahaluas yang seolah tampak tiada berujung yang terbias cahaya jingga senja. Tak jauh dari bibir pantai, asap hitam membumbung tinggi dari lima kapal musuh yang dikepung beberapa kapal Padepokan Angin Putih. Meskipun tampak kacau, tetapi pertempuran boleh dikata masih dalam kendali pasukan Padepokan Angin Putih.


Lalu, apakah kiranya yang membuat penjaga menara memukul kentungan dan canang sebagai tanda peringatan bahaya untuk kedua kalinya?


Mantingan melihat ke arah sebaliknya, yaitu arah selatan. Tempat di mana sebagian besar pelabuhan berada, dan sisanya adalah rimba belantara yang hijau. Seketika itulah Mantingan langsung buncah tiada terkira.

__ADS_1


“MUSUH DARI DARATAN!!!”


Teriakan penjaga menara itu menggema ke seantero pelabuhan. Memperingati siapa saja yang mungkin masih berada di dalam pelabuhan.


Tiga panah sendaren yang disulut api melambung tinggi ke arah pasukan yang berperang di lautan. Meraung-raung di udara dengan suaranya yang membawa tanda marabahaya. Meminta bantuan.


Mantingan tertegun barang sesaat. Kini segalanya mulai tampak jelas di kepala Mantingan, penyerangan di lautan hanyalah sebagai pengecoh untuk serangan di darat yang sebenar-benarnya!


Mantingan tidak menunggu lebih lama lagi. Untuk serangan seperti ini, dirinya tidak bisa tinggal diam lagi. Disambarnya Pedang Kiai Kedai dan pula caping yang tergantung di dinding kamar. Namun sebelum melesat pergi, Mantingan terlebih dahulu menghadap pada Bidadari Sungai Utara, Kana, dan Kina. Tatapan yang diberikannya sungguh tajam dan waspada!


“Sasmita, lindungilah anak-anak apa pun caranya. Kana, lindungi Kina betapa pun harganya. Dan Kina, jadilah alasan agar mereka tidak malas terus bertahan. Daku akan kembali lagi, itu janjiku. Tetapi jika daku tidak menepati janji, kalian harus tetap pergi ke Champa.”


Setelah mengatakan kalimat perpisahan itu, tubuh Mantingan sekejap menghilang dari pandangan mereka semua. Tirai jendela berkibar keluar, tanda bahwa sesuatu telah melewatinya dengan kecepatan tinggi.


***


“Saudara Man, engkau seharunya ikut mengungsi.”


Pendekar bertopeng putih yang tadinya menemui Mantingan kini berkelebat tepat di sampingnya.


“Tidak untuk kali ini,” kata Mantingan. Matanya menatap lurus ke depan. Beberapa pendekar Pasukan Topeng Putih lainnya melesat di sekitaran Mantingan menuju arah selatan.


Dalam waktu yang tergolong sangat singkat, Mantingan beserta puluhan Pasukan Topeng Putih lainnya mencapai pintu gerbang pelabuhan yang terbuka lebar. Ketika itu pula ratusan bayangan hitam melesat keluar dari dalam hutan!


__ADS_1


__ADS_2