Sang Musafir

Sang Musafir
Dua Lorong


__ADS_3

MANTINGAN MENEKUK Lontar Sihir itu sampai mengeluarkan bunyi. Keluar aksara demi aksara keluar dari dalam lontar. Berputar-putar di sekitarnya. Lalu aksara-aksara itu bercahaya putih. Selayaknya sinar mentari.


Mantingan tertawa puas. Bagaimana ia tidak senang? Mantera yang dikarangnya berhasil. Ia berhasil mendapatkan cahaya sebelum obor mulai padam. Terlebih cahaya yang dihasilkan Lontar Sihir Cahaya itu lebih terang ketimbang obor. Terang, tetapi tetap nyaman di mata.


Selama aksara-aksara itu terus berputar mengelilingi lontar, selama itu cahaya masih ada. Mantingan mengangkat lontarnya seperti mengangkat obor, lalu melirik Bidadari Sungai Utara di sampingnya. Dengan tatapan jelas, mari melanjutkan perjalanan.


Mereka kembali berjalan, setengah membungkuk agar tidak terbentur atap batu yang bukan main kerasnya. Mantingan masih memimpin di depan, Bidadari Sungai Utara berjalan tepat di belakangnya.


Laba-laba beraneka ukuran menyingkir tatkala melihat cahaya terang. Lebihnya, mereka tak percaya ada manusia yang menjelajah sampai ke sini. Dasar manusia, di mana tempat itu bisa dipijak, di situlah ia menjelajah, entah menjelajah atau menjajah. Seakan tidak ada bedanya dua hal itu.


Selama perjalanan, Mantingan menemukan beberapa batuan berharga di dalam gua, seperti emas dan intan. Emas tidak terlalu berharga, tetapi intan sangatlah berharga. Banyak senjata yang bilahnya merupakan intan. Intan memang terkenal keras dan tak mudah dipatahkan. Mampu dipakai ratusan kali untuk menghancurkan batu besi.


Namun, memotong intan di situasi seperti ini bukanlah hal yang mudah. Mantingan ingat ia tidak membawa pacul atau alat gali semacamnya. Adalah tindakan konyol jika ia memaksa ingin mengambil intan-intan itu. Tujuan mereka ada lari pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini, atau bahkan Javadvipa sekalipun.


Dalam beberapa kesempatan, Mantingan berhenti untuk memasang beberapa Lontar Sihir Penjebak pada celah-celah kecil di lorong. Jika seandainya ada orang yang berhasil mematahkan mantera sihir yang dipasang Mantingan di mulut lubang, maka Lontar Sihir Penjebak yang ia pasang di sini akan menjadi perlindungan berlapis.


***

__ADS_1


HINGGA PADA suatu ketika yang tidak diketahui waktunya. Dua orang yang berjalan di lorong-lorong sempit itu berhadapan dengan persimpangan. Mereka lelah berjalan terus menerus di dalam lorong yang seakan tak berujung, persimpangan di hadapan mereka sungguh membuat kepala semakin pusing memikirkannya.


Mantingan duduk bersila di antara dua sisi jalan. Ia merapatkan mata, dua tangannya direntangkan ke samping—tanda sedang mempergunakan Ilmu Pengendali Angin. Di antara dua jalan yang berbeda itu, Mantingan mengalirkan masing-masingnya sedikit angin. Itu membutuhkan pemusatan pikiran yang luar biasa.


Sedangkan Bidadari Sungai Utara hampir habis gerakan. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan di ruangan yang sangat sempit ini. Hanya bisa membayangkan betapa menakutkannya jika ada sekumpulan laba-laba dipadukan kelabang yang berani menyerang, sedang mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mati digerogoti secara perlahan-lahan. Dan sangat menyakitkan, tentunya.


Mantingan menemukan beberapa persimpangan lainnya di sebelah kiri. Ia semakin meragukan penalarannya. Apakah benar ataukah justru menyesatkan. Pada awal sebelum berangkat dan saat dirinya menelusuri lorong, Mantingan hanya merasakan ada satu lorong pendek saja. Kini nyatanya lorong yang mereka hadapi adalah lorong panjang, berliku-liku, banyak simpangan juga. Bukan tidak mungkin penalaran Mantingan saat ini adalah salah besar.


Lontar Sihir Cahaya masih terus bekerja. Aksara-aksara bercahaya masih terus berputar pelan mengelilingi induknya. Diletakkan di tengah-tengah antara Mantingan dan Bidadari Sungai Utara. Terangnya cukup membuat lorong yang gelap dan dingin itu menjadi terang benderang. Bahkan cahaya-cahayanya dipantulkan sampai jauh ke dalam lorong-lorong yang gelap. Batu-batu di sini terkadang memang bekerja selayaknya cermin.


Mantingan membuka matanya setelah beberapa lama waktu berlalu. Ia menghela napas panjang. Jalur di sebelah kanannya-lah yang kemungkinan besar adalah jalan keluarnya. Mantingan tidak tahu pasti. Ia meragukan penalarannya. Sedangkan di jalur kiri, Mantingan malah merasakan lebih banyak persimpangan lagi.


“Apakah jalur ini yang benar? Kira-kira berapa lama lagi kita akan terus terjebak di sini?”


Mantingan menatap Bidadari Sungai Utara dan menggeleng pelan. Ia tak bisa memberi jawaban. Setidaknya tidak untuk sekarang. Jalan di depan, ia tak tahu sama sekali. “Berdoa saja penalaranku kali ini tidak salah.”


Mendengar itu, Bidadari Sungai Utara bukannya berdoa. Ia cemas. Cemas jika harus tinggal selama-salamnya di sini. Ia pasti akan jadi gila. Bahkan jika ada Mantingan sekalipun.

__ADS_1


Tetapi biar bagaimana pun keraguan menyerang, mereka tetap berjalan. Menyusuri lorong-lorong yang tak pernah ditelusuri. Mengungkap kegelapan abadi. Sampai kapankah mereka akan terus abadi gelapnya?


***


PERJALANAN YANG sungguh melelahkan. Terlebih saat mereka tidak dapat melihat sinar matahari. Tidak tahu apakah sudah malam, atau justru sudah pagi lagi. Sungguh itu mengganggu waktu tidur mereka.


Mantingan baru memutuskan untuk mengambil rehat sejenak setelah merasa otaknya membutuhkan rehat. Belum lagi Bidadari Sungai Utara yang berjalanannya sudah tidak semangat lagi. Mantingan bisa melihat mata kantuk Bidadari Sungai Utara, ia juga bisa melihat bagaimana Bidadari Sungai Utara merasa dirinya tidak mengantuk.


Maka di waktu ini, mengantuk atau tidak mengantuk, mereka harus tidur. Mantingan memasang Lontar Sihir di sekitar mereka yang akan memberi peringatan saat ada yang mendekat. Dengan begitu, mereka bisa beristirahat dengan tenang.


Posisi tidur mereka adalah memanjang di lorong. Mantingan atasnya Bidadari Sungai Utara. Memang gadis itu tidak mau terlalu jauh dari Mantingan. Dan Mantingan juga tidak mempermasalahkannya, tindakan yang dilakukan Bidadari Sungai Utara dapat dikatakan sebagai tindakan yang benar.


Bidadari Sungai Utara langsung tertidur sekali merebah. Jubahnya dilepas dan digunakan sebagai selimut, membuat tidurnya semakin nyaman saja dengan jubah pemberian Kenanga itu. Sedang bundelannya dijadikan bantal.


Mantingan juga memilih untuk memejamkan matanya. Namun ia tidak bisa. Kewaspadaannya akan selalu membuatnya tetap terjaga.


Entah kewaspadaan pada apa. Pada hewan buas tak terduga di dalam goa, atau pada manusia pendekar yang tiba-tiba menyerang mereka? Semua kewaspadaan itu berhasil membuatnya tetap terjaga. Walau kantuk sudah merayapi sampai pada seluruh tubuhnya, Mantingan tetap tidak bisa tidur.

__ADS_1


Mantingan juga merasa peperangan yang ia pernah jalani turut berperan membuatnya tetap terjaga. Perang yang mencekam dan penuh darah. Mantingan adalah manusia biasa. Bukan manusia yang haus akan darah. Membunuh banyak secara brutal membuat kondisi kejiwaannya terganggu. Mantingan ingat bagaimana ia menyerbu musuh dengan ratusan serangan Tapak Angin Dara yang membunuh banyak orang. Mantingan ingat bagaimana ia membunuh pendekar-pendekar yang berusaha menghalanginya.


Terlebih, Mantingan mengingat bagaimana 13 prajurit muda pemberani yang harus gugur di medan pedang. Terbunuh oleh pedang. Mantingan ingat Rara, yang harus mati pula dengan pedang. Itu semua membuat suatu trauma di dalam kepalanya. Dicampur-adukkan menjadi suatu bentuk lain yang meresahkan jiwa.


__ADS_2