
MEREKA memang bukan sedang menyamar menjadi masyarakat awam yang tidak mengenal ilmu silat. Sekiranya mereka hanya menyamar sebagai pendekar penyoren pedang, yang betapa pun juga telah menjadi pemandangan yang biasa bila melihat pendekar-pendekar berkeliaran di jalanan kotaraja dengan sangat percaya diri dan tanpa niat mengendap-endap maupun bersembunyi.
Penampilan Mantingan dan Chitra Anggini saat ini memang telah memenuhi penampilan pendekar awam yang berkeliaran di jalanan kotaraja. Bukan lagi pakaian ringkas.
Mantingan tidak hanya mengenakan celana senteng longgar dengan baju berlengan pendek yang pula longgar. Chitra Anggini tidak lagi membiarkan perutnya terbuka dengan bagian dada yang terbungkus serapat-rapatnya. Jenis pakaian ringkas seperti itu memang dapat memudahkan pendekar untuk berkelebat dan berkelit dalam pertarungan antara hidup dengan mati.
Namun, yang digunakan keduanya saat ini sedikit berkebalikan daripada itu.
Mantingan mengenakan celana yang panjangnya hampir menyentuh mata kaki, tidak selonggar celana yang biasanya ia pakai. Baju yang dikenakannya saat ini tidak lagi berlengan pendek, melainkan berlengan panjang yang memang diperuntukkan melawan udara dingin kotaraja. Ditambahlah pula dengan sehelai jubah berwarna hitam yang panjangnya telah sedikit melebihi batas lututnya.
Pun dengan Chitra Anggini, gadis itu tidak jauh berbeda penampilannya dengan Mantingan. Dia mengenakan pakaian yang serba panjang; celana, baju, serta jubah. Sepintas orang akan menganggapnya sebagai lelaki, bilamana tidak melihat kejelitaan tak tertawarkan di wajah Chitra Anggini, sebab memang seluruhnya adalah pakaian lelaki. Di kotaraja, perempuan lazimnya mengenakan gaun dengan warna memikat mata, tidak seperti Chitra Anggini biasanya yang tampak serba kusam dan gelap.
Di kotaraja seperti ini, pakaian ringkas bagi pendekar sebenarnyalah tidak terlalu dibutuhkan, sebab tujuan dari penciptaan pakaian ringkas itu sendiri adalah untuk memudahkan para pendekar menghadapi serangan mendadak yang sama sekali mematikan.
Namun di kotaraja, yang dengan ketatnya segala aturan tak tertulis telaga persilatan, pertarungan antara sesama pendekar tiadalah dapat dilakukan dengan sembarangan.
Kotaraja bukanlah tempat yang tak memiliki aturan sebagaimana rimba belantara luas. Aturan tak tertulis dunia persilatan, yang betapa pun memang tetap dibiarkan tidak tertulis, senantiasa berlaku di kota sebesar ini.
Tidaklah diperkenankan bagi seorang pendekar menyerang pendekar lain tanpa memberi peringatan atau penantangan terlebih dahulu. Bahkan tak jarang, pertarungan tidak dilaksanakan dengan serta-merta di waktu dan tempat yang sama, melainkan dijadwalkan pada saat-saat tertentu di tempat tertentu pula.
Bila aturan itu terpenuhi, maka kedua belah pihak telah sama-sama dalam keadaan tersiap yang dapat mereka miliki. Tidaklah perlu mengenakan pakaian yang sedemikian ringkasnya, sebab penyerangan mendadak sangat kecil kemungkinannya dapat terjadi.
__ADS_1
Namun jikalau aturan itu dilanggar, maka pendekar-pendekar terkuat di kota akan turun tangan memberi pengadilan, yang setegak-tegaknya keadilan adalah mata dibalas mata dan gigi dibalas gigi!
Itulah yang dinamakan telaga persilatan. Penuh dengan peraturan yang meskipun tidak tertulis tetapi tetap ditaati. Berbeda dengan rimba persilatan yang benar-benar liar tanpa satupun aturan yang wajib ditegakkan. Lebih mengerikan lagi dengan jaringan bawah tanah persilatan yang sama sekali tidak terikat aturan maupun kehormatan sebagai pendekar penghuni dunia persilatan!
“Kau masih mencari perempuan bayangan itu, bukan?”
Tetiba Chitra Anggini membuka suara, yang sudah tentu pula membuka percakapan. Mantingan terbuyar dari perenungannya, tepat di saat ia memikirkan tentang jaringan bawah tanah persilatan yang sama sekali tidak terikat pada aturan maupun wibawa kependekaran. Mungkinkah jaringan Puan Kekelaman begitu pula?
Namun, pertanyaan dari Chitra Anggini itu membuat Mantingan berpikir lebih keras daripada sebelumnya. Tentulah yang dimaksud “perempuan bayangan” oleh Chitra Anggini adalah Puan Kekelaman. Tidak salah lagi!
Ia memang telah memiliki janji bertemu dengan Puan Kekelaman, atau lebih tepat adalah janji temu dengan jaringannya saja, sebab Puan Kekelaman sendiri telah bersumpah untuk tidak mengangkat kakinya dari istana sebelum kitab-kitabnya didapatkan kembali. Namun, bagaimanakah caranya Mantingan dapat menemukan jaringan Puan Kekelaman di dalam kotaraja yang sedemikian luas dan besarnya ini?
“Kita akan mencarinya,” ujar Mantingan untuk menjawab pertanyaan Chitra Anggini, “harus dapat hari ini pula.”
Tetapi sekalipun ternyata percakapan mereka dihiraukan, sulitlah bagi siapa pun untuk dapat mengerti apa yang dibicarakan oleh keduanya. Segala sesuatu yang diucapkan bagaikan bahasa sandi, hanya dapat dimengerti Mantingan dan Chitra Anggini belaka.
“Ke mana kita akan mencarinya? Kotaraja ini sangatlah luas, tidak mungkin kita selesai menyelusuri setiap seluk-beluknya hanya dalam waktu satu hari. Itu akan menjadi hal yang sangat mustahil, kecuali jika kita berkelebat.”
“Akan lebih mustahil lagi kita menemukan perempuan itu jika berkelebat. Tetap berjalan seperti ini, dan betapa pun yang terjadi jangan pernah berkelebat tanpa tanda-tanda dariku.”
“Aku mengerti.” Chitra Anggini menganggukkan kepala. “Tetapi kurasa, bukan tindakan yang bijaksana bila kita berjalan terlalu lama di sini tanpa tujuan. Kautahu, betapa pun terlihat lazim, pendekar-pendekar yang ada di kotaraja tetap mendapatkan perhatian khusus dari jaringan mata-mata pemerintahan yang tersebar di mana saja. Aku khawatir mereka akan salah paham dengan kita.”
__ADS_1
“Benar. Tidak akan terlalu baik bila kita terlalu lama berjalan tak tentu arah. Tetapi, kurasa tidak akan menjadi masalah bila kita berjalan seberapa lama pun asal memiliki tujuan.”
Chitra Anggini menoleh dengan kernyit bingung di dahinya. “Apa maksudmu?”
“Kita selalu dapat menentukan tujuan, bukan?” Mantingan tersenyum lebar. “Adakah suatu tempat yang sekiranya menarik di dekat sini? Aku ingin melihat kotaraja lebih jauh lagi.”
Chitra Anggini mengangkat kedua alisnya dengan pandangan sedikit berbinar. Agaknya dia telah mengetahui maksud dari permintaan Mantingan yang satu ini, ialah bahwa jaringan bawah tanah persilatan selalu ada di tempat-tempat keramaian atau di tempat yang sekiranya menarik untuk dikunjungi orang banyak. Bukan tidak mungkin jaringan Puan Kekelaman juga ada di tempat-tempat seperti itu!
“Tentulah ada,” jawab Chitra Anggini yang kini tersenyum lebar pula. “Ikuti aku.”
Perempuan itu lantas melangkahkan kaki lebih cepat lagi. Mendahului Mantingan, hingga kini pemuda itu berada tepat di belakangnya.
Mereka berjalan di antara keramaian. Melebur, menjadi satu dengan kehidupan awam di kotaraja yang penuh dengan kesemarakan.
Dalam beberapa kesempatan, Mantingan dapat mendengar kumandang syair serta lantunan lagu yang menceritakan tentang dirinya. Pahlawan Man menghilang tepat ketika orang-orang hendak membalas segala kebaikannya.
Setiap syair atau lagi itu terdengar, Chitra Anggini akan menoleh ke belakang hanya untuk sekadar melirik Mantingan. Namun, selalu dibalas dengan senyum canggung yang sekadarnya saja. Chitra Anggini tidak dapat menahan diri lagi untuk tidak berkata.
“Nama Pahlawan Man banyak sekali disebutkan. Hampir di setiap tempat. Selalu saja bernada sama, bahwa Javadvipa menantikan kepulangannya untuk dapat membalas budi. Tetapi seperti yang kaudengar, Pahlawan Man masih menghilang hingga sekarang. Aku jadi tidak tahan untuk tidak bertanya-tanya, alasan semacam apakah yang membuatnya tidak mau pulang dan menerima semua penghargaan itu?”
___
__ADS_1
catatan:
Seni Bela Diri Sejati di NovelToon telah tersedia 10 episode. Ini lebih banyak daripada yang tersedia di kedai, yakni 9 episode. Silakan dibaca sembari menunggu Sang Musafir update.