
BEGITULAH KESEMPURNAAN hidup. Ketika manusia saling menambal kekurangan manusia lain. Namun, kesempurnaan hidup ini hanyalah sepotong kue dari kesempurnaan hidup yang sebenarnya.
Kesempurnaan hidup yang sebenarnya terjadi pada seseorang tatkala dirinya bersatu dengan Sang Pencipta. “Bersatu” bukan dalam hal fisik. Fisiknya tidak akan menyerupai dewa sakti yang turun ke bumi memberantas kejahatan. Fisiknya akan tetap seperti manusia fana biasa. Namun perilaku dan perkataannya adalah cerminan dari Sang Pencipta.
Sehingga apa yang dituturkannya adalah ucapan Sang Pencipta. Apa yang diperbuatnya adalah perbuatan Sang Pencipta. Itulah kesempurnaan hidup yang sebenar-benarnya. Namun, dibutuhkan pengabdian yang luar biasa untuk mencapai kesempurnaan hidup ini. Sedangkan Mantingan, masih jauh dari kata kesempurnaan hidup.
Namun setidaknya, Mantingan telah memahami jalan kesempurnaan hidup para pendekar adalah salah.
Masih melesat di bawah bayang-bayang rembulan, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara telah jauh meninggalkan desa. Kini memasuki wilayah pesawahan yang teramat luas. Pesawahan inilah yang membuat Desa Lonceng Angin dapat bertahan bahkan berkembang dari waktu ke waktu. Dan menurut kabar yang beredar, pesawahan di Desa Lonceng Angin semakin meluas tatkala Punawarman memperhatikan soal irigasi air.
Namun, tak ada waktu memikirkan soal kesejahteraan ataupun irigasi air. Mantingan harus memikirkan bagaimana mereka dapat sampai tujuan tanpa diikuti pendekar lain!
***
MANTINGAN DAN Bidadari Sungai Utara memperlambat lajunya setelah pasangan Lontar Pelacak menunjukkan tanda-tanda berwarna merah padam. Mengartikan bahwa tempat tujuan sudah teramat sangat dekat.
Mantingan melambaikan tangan pada Bidadari Sungai Utara lalu menunjuk ke bawahnya. Serentak mereka turun ke bawah. Berhenti dan berdiri sejenak sebelum bersembunyi di balik batang pohon.
Mantingan melirik Bidadari Sungai Utara yang bersembunyi tak jauh darinya. Meskipun ini malam hari, namun sinar rembulan cukup sebagai penerang. Hutan itu tidak terlalu lebat. Dilihatnya Bidadari Sungai Utara menganggukkan kepala.
Mantingan kemudian beralih menuju Lontar Pelacak-nya. Warna merah padam di sebagian besar guratannya itu tampak jelas di malam hari. Jika lontar yang sekarang Mantingan pegang ini berjarak sangat dekat dengan lontar pasangannya, maka seluruh guratan di atas permukaan lontar itu akan berwarna merah cerah.
__ADS_1
Mantingan mengintip dari balik batang pohon persembunyiaannya. Betapa sunyi dan sepi di sekitarnya. Hanya terdengar suara serangga malam—sesekali terdengar suara burung hantu dan lolongan anjing hutan. Sinar rembulan yang berwarna keperakan menembus rindangnya daun dan reranting pepohonan. Tidak banyak kabut tipis yang terlihat di sana.
Mantingan memastikan sekali lagi keamanan di sekitarnya. Memberi tanda kepada Bidadari Sungai Utara untuk bergerak. Namun, kali ini mereka tidak berkelebat. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berjalan cepat, tetapi tetap memakai ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Tidak sedikitpun jejak maupun suara yang dihasilkan.
Jika mereka berkelebat selayaknya pendekar biasa, maka mereka akan lebih mudah terlacak oleh pendekar musuh. Kelebatan tetap saja menimbulkan desau angin yang keras. Bagi pendekar yang memiliki ilmu pendengaran yang tinggi, mudah bagi mereka untuk mengetahui gerakan seorang pendekar—lebih-lebih dua orang pendekar.
Namun dengan mereka berjalan, tiada suara yang harus ditimbulkan. Bukan tanpa risiko. Jika ada pendekar yang meronda, maka keberadaan mereka jelas dapat dilihat. Berbeda saat mereka sedang berkelebat. Namun, hanya cara inilah yang teraman.
Mantingan melirik ke samping kirinya. Tempat di mana Bidadari Sungai Utara berjalan ringan. Walau wajahnya tertutup cadar, tetapi matanya menyiaratkan keberanian. Tidak seperti dahulu kala. Diam-diam, Mantingan tersenyum dalam benak. Senang melihat perubahan pesat pada diri Bidadari Sungai Utara.
Dalam gelapnya hutan, dua muda-mudi itu terus berjalan. Mereka bukan berjalan di atas jalan setapak. Mereka berjalan di atas tanah yang belum pernah terinjak. Orang-orang awam sudah pasti tidak menyangka keberadaan Mantingan dan Bidadari Sungai Utara di tengah hutan sepi itu. Mereka akan lebih tidak percaya pada keberadaan pendekar-pendekar di atas pucuk pohon yang mengawasi hutan sepi—yang bahkan seekor celeng saja sangat diwaspadai.
“Kita berharap saja perampok-perampok itu bukan pendekar.” Mantingan berbisik melalui Ilmu Bisikan Angin. “Jika yang terlihat adalah mereka bukan pendekar, maka tetap jalankan rencana! Jangan bertindak gegabah, dan jangan pula terpancing.”
Mantingan mengangkat tangannya dengan telapak terbuka. Mereka telah sepakat bahwa itu adalah tanda untuk berhenti. Maka berhentilah keduanya. Serentak. Mantingan mempertajam pendengarannya menggunakan jurus. Hingga terdengarlah semakin jelas dan nyata. Tapak kuda!
Mantingan menurunkan lengannya setinggi dada. Diluruskan ke depan. Telapaknya masih terbuka. Tanda untuk berjongkok. Setelah dirinya dan Bidadari Sungai Utara menunduk, Mantingan menunjuk semak belukar tak jauh di depannya. Maka bergeraklah mereka ke sana.
Suara tapak kaki kuda itu semakin kentara. Bahkan dapat didengar tanpa merapalkan jurus. Mantingan menggunakan Ilmu Pengendali Angin untuk menyamarkan suara napas keduanya. Sehingga kini, keadaan keduanya benar-benar senyap. Detak jantung pun tak terdengar.
Derap langkah kuda itu semakin mendekat. Begitu dekatnya hingga Mantingan merasa ada tiga kuda berjalan di balik semak belukar persembunyiaannya itu. Bidadari Sungai Utara dilanda ketegangan hebat sehingga memejamkan mata.
__ADS_1
Suara tapak kuda itu lenyap. Tetapi bukan karena mereka telah menjauh, melainkan kudanya-lah yang berhenti!
Mantingan mengatur napasnya. Hanya dengan mengatur napasnya ia bisa tetap tenang.
“Benar di sini?”
“Benar, Tuan. Memang benar di sini.”
Telah terjadi percakapan antara dua orang. Satu orang dengan nada memerintah, dan satu orang lainnya dengan nada ketakutan.
“He! Kami tidak melihat tanda-tanda berupa bendera merah yang engkau sebutkan itu!” Terdengar suara orang lain. Agaknyalah itu penunggang kuda ketiga.
“Sahaya tidak mengetahuinya, Tuan! Sungguh tidak mengetahui apa pun! Sahaya hanya mendapat kabar dari Bapak Kades, bahwa harta karun itu dikubur di bawah bendera berwarna merah.”
“Lalu mengapa engkau membawa kami ke sini? Bukankah hanya itu kabar yang kaudapat?!”
“Tuan, sesekali saya pernah diajak Bapak Kades berburu melewati jalan setapak ini. Setiap melintasi jalan ini, Tuan, Bapak Kades menunjukkan bendera merah itu kepada sahaya. Yang sahaya lihat sebenarnya ada di sini, Tuan, tepat di bawah kaki kuda yang sahaya tumpangi ini.”
Terdengar suara tamparan keras. Disusul suara teriakan yang tak kalah kerasnya. Membuncah kesunyian hutan. Bidadari Sungai Utara membuka matanya dengan waspada. Meraba gagang kelewangnya. Mantingan mengangkat tangannya pelan. Menahan gadis itu melakukan sesuatu yang gegabah.
“Ampuni sahaya, Tuan! Ampuni sahaya!”
__ADS_1
“Tiada akan kuampuni diri engkau jika ketahuan berdusta! Cepat gali tanah yang kaukata adalah tempat bendera merah itu ditancapkan! Gali dengan kuku-kukumu yang hina dina itu!”