
“Pusat penampungan terletak di sebelah utara, sengaja dibangun dekat dengan pelabuhan. Betapa pun, karantina lebih dimaksudkan pada pendatang asing yang kebanyakan dari mereka datang menggunakan kapal layar.” Chitra Anggini menyandarkan punggungnya di pinggiran pedati. Dengan khidmat memandangi segala kegiatan di jalanan kotaraja. “Dengan kecepatan kita sekarang, seharusnya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai di sana.”
Mantingan mengepalkan tangannya. Betapa dirinya telah teramat dekat dengan Tapa Balian, tetapi masih tetap diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk menyelamatkannya.
Chitra Anggini bisa melihat kegelisahan Mantingan, sehingga dirinya berkata, “Bersabarlah, Mantingan. Kita telah benar-benar dekat dengan tujuan, jadi janganlah kita merusak segala-galanya hanya karena tidak sabar.”
Mantingan mengangguk pasti. “Perjuangan kita baru saja akan dimulai. Ini semua belum apa-apa.”
***
MANTINGAN, Chitra Anggini, dan Munding Caraka sampai di pusat penampungan sementara pagi pendatang luar. Namun sebelum masuk ke dalamnya, mereka mesti berbanjar terlebih dahulu di luar gerbang utama bersama puluhan pedati lain, menunggu petugas-petugas mencatat riwayat mereka, di sanalah mereka akan mendapatkan lencana pengenal.
Mereka telah cukup lama menunggu di sana, membuat siapa pun akan merasa bosan serta letih, dan mungkin rasa bosan itulah yang membuat Chitra Anggini kedapatan sedang menguap panjang beberapa kali.
“Ini juga akan memakan waktu yang lumayan. Barisannya tidak pernah sepanjang sekarang, dan petugas-petugas itu sepertinya mengerjakan tugas mereka dengan bermalas-malasan.” Chitra Anggini berkata malas. Sama seperti para petugas pencatat riwayat pendatang baru yang dikatainya sedang bermalas-malasan. Menopang dagunya dengan punggung tangan. “Lihatlah di pinggir jalan itu. Banyak kedai minum tuak, untuk juragan-juragan yang bosan menunggu di dalam pedati. Mereka enak saja, tinggal menitipkan pedati dan kerbau pada budaknya, lantas bermabuk-mabukan bersama wanita-wanita penghibur itu.”
...****************...
[EPISODE BELUM DIREVISI]
“Kota ini sangat teratur dan indah, tetapi mengapa masih ada perempuan-perempuan penghibur yang menjual tubuh mereka?”
CHITRA Anggini mengembuskan napas panjang sebelum berkata, “Sadar atau tidak sadar, mereka juga dibutuhkan di sini. Kotaraja teramatlah besar, diisi oleh orang-orang berduit yang selalu merasa tidak puas dengan istri-istri mereka. Menyewa bunga raya adalah pilihan terbaik bagi mereka yang ingin mendapatkan kepuasan dari wanita lain tanpa menikahinya. Pemerintahan tidak memusnahkan wanita-wanita penghibur ini, sebab telah menganggapnya sebagai salah satu daya tarik tersendiri yang membuat pendatang asing rela singgah lebih lama di kotaraja, tetapi pemerintahan tetap menerapkan aturan untuk mereka. Segenap aturan itu merujuk pada Arthasastra yang ditulis Kautilya di Jambhudvipa.”
Mantingan turut mengembuskan napas panjang-panjang. Merasakan sesal.
“Dahulunya, daku juga sama seperti mereka.”
Mantingan menganggukkan kepalanya. Tetapi, tunggu! Apa yang Chitra Anggini katakan tadi? Mantingan menoleh cepat ke arahnya. Mata melebar, menatap perempuan muda itu tajam-tajam!
Chitra Anggini menanggapinya dengan santai. Tertawa pelan sambil mengalihkan pandang, tidak berani bersitatap langsung dengan mata Mantingan. “Kau pastinya mengetahui bahwa diriku pernah berkecimpung di dunia hitam, bukan? Saat itu, aku benar-benar membutuhkan uang untuk membeli segala keperluanku sebagai pendekar. Saat, aku benar-benar telah terbutakan oleh keadaanku yang memang sudah hitam, menyangka bahwa diri ini tidak memiliki keahlian semacam apa pun yang dapat mendatangkan keping-keping uang selain dengan menjual tubuh.” Chitra Anggini menggeleng pelan. Kini perempuan itu memberanikan diri untuk menatap Mantingan. “Kau kecewa, ya?”
__ADS_1
Mantingan sempurna terbungkam. Butuh beberapa saat baginya sampai akhirnya mengerti betapa seluruh perkataan Chitra Anggini itu adalah kebenaran yang tak dapat terbantahkan.
Menjawab pertanyaan Chitra Anggini, Mantingan berkata lembut sambil tersenyum hangat, “Aku sama sekali tidak berhak kecewa. Dan sekalipun berhak atas itu, aku tetap tidak akan kecewa.”
“Tapi mengapa?” tanya Chitra Anggini setengah tidak percaya.
“Karena sekarang, kau telah berubah. Itu saja.” Mantingan melebarkan senyumnya. “Bukankah setiap orang selalu memiliki waktu untuk berubah menjadi apa pun yang diinginkannya?”
Dari wajahnya, tampak bahwa Chitra Anggini tersentuh oleh perkataan Mantingan. Perempuan jenaka itu memanyunkan bibir, seolah segala ucapan Mantingan itu hanyalah gombalan tiada berarti, tetap terlihat dengan sejelas-jelasnya bahwa matanya telah menjadi basah.
“Itu omong kosong. Lelaki selalu mengucapkan kata-kata manis meski itu bukan kenyataannya, hanya untuk meluluhkan hati perempuan pujaannya. Kamu tidak ada ubahnya dengan kebanyakan lelaki!”
Mendengar itu, Mantingan hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyum pahit tercetak di bibirnya. Menghadapi wanita sungguh membuatnya menjadi serba salah.
“Tetapi terima kasih, Mantingan, kau-lah yang telah mengeluarkanku dari dunia hitam yang sungguh tidak kusadari teramat menyesatkan.” Chitra Anggini tersenyum tulus. “Kau masih ingat kejadian itu, bukan?”
“Ah, kejadian itu. Aku tidak melakukan apa-apa.”
Menanggapi itu, Mantingan hanya bisa tersenyum.
***
PUSAT penampungan kotaraja sungguh amat sangat megah dan mewah. Jalanan berbatu-bata putih membentang dari timur ke barat dan dari utara ke selatan, membentuk semacam kisi-kisi di antara asrama-asrama penampungan.
Begitu Mantingan dan Chitra Anggini masuk setelah menyelesaikan pencatatan riwayat diri, mereka harus berpisah dengan Munding. Aturannya teramat jelas, hewan semacam apa pun dilarang memasuki penampungan.
Namun, pemerintahan kotaraja telah menyediakan istal dan perawatan untuk hewan-hewan pendatang asing yang sedang menjalani karantina. Petugas di gerbang penampungan telah berkata bahwa Munding akan diurus oleh tenaga ahli, sehingga Mantingan tidak perlu khawatir.
Kini keduanya memasuki sebuah bangunan asrama dan menunjukkan selembar lontar kepada petugas yang ada di sana. Selembar lontar itu berisi keterangan tentang kamar yang akan mereka tinggali. Petugas menganggukkan kepala dan mempersilakan mereka masuk.
Kamar yang akan ditinggali Mantingan dan Chitra Anggini selama tiga hari kedepan terletak di lantai teratas, yang dengan kata lain adalah lantai ketiga.
__ADS_1
Dengan ukurannya yang lumayan luas, kamar itu dilengkapi kamar mandi dan sebuah perpustakaan. Benar-benar luar biasa. Dilengkapi dengan obor-obor bercahaya redup, sebagian hidup dan sebagian lainnya mati. Terdapat lukisan dan hiasan dinding lainnya. Dan sebuah jendela menghadap tepat ke utara, bersitatap dengan lautan biru yang bagai tiada memiliki ujung.
Dari kamar ini, mereka bisa melihat kegiatan-kegiatan di pelabuhan, dan itu merupakan suatu pemandangan yang cukup menarik bagi Mantingan. Bukankah ini terasa seperti berada di Penginapan Bunian Malam ketika dirinya masih bersama dengan Bidadari Sungai Utara?
“Kamar ini sungguh luar biasa,” kata Mantingan sambil memandangi sekitarnya. “Kamar mandi di dalamnya, itu sudah sangat luar biasa, dan ditambah lagi dengan perpustakaan, maka itu tambah sangat luar biasa. Pemerintahan Koying benar-benar tahu bagaimana cara memanjakan pengunjung-pengunjung asing.”
Chitra Anggini tersenyum sebagai balasan. Matanya tidak lepas membaca gulungan lontar di tangannya. Lembar-lembar lontar itu berisi tata-aturan di penampungan sementara ini.
“Kita akan mendapatkan jatah makan tiga kali satu hari, tetapi makanannya tidak terlalu melezatkan, hanya tiga butir kentang saja. Jika kita menginginkan sayuran dan lauk-pauk lain, maka kita harus membelinya dengan uang sendiri.”
Mantingan menganggukkan kepala. Itu bukan masalah besar.
Chitra Anggini kembali membacakan isi gulungan lontar itu. “Di sini tertera bahwa kita bisa mempersingkat waktu karantina dengan membayar lima ratus keping emas untuk satu orang, jadi hanya akan dikarantina selama satu hari saja.”
“Duhai, aturan macam apa itu?” Mantingan menggeleng pelan sambil tersenyum miris. “Tetapi itu berarti, kita bisa keluar lebih cepat dari tempat ini dengan membayar uang lebih.”
“Sangat tidak kusarankan kau melakukan hal itu, Mantingan. Sedari awal, kita sudah berpenampilan seperti pedagang kecil yang jelas saja mustahil mengeluarkan uang sebesar 500 keping emas hanya untuk mempersingkat waktu karantina. Jangan mengira bahwa pemerintahan kotaraja tidak memiliki jaringan mata-mata untuk mewaspadai orang-orang mencurigakan.”
“Jadi menurutmu?”
“Kita tetap di sini. Jalani karantina selama tiga hari penuh.”
“Tetapi bagaimana jika kita berdua sampai terlambat menyelamatkan Tapa Balian?”
Sungguh, itulah yang sedari tadi Mantingan khawatirkan. Ia tidak bisa membantah pikiran-pikiran buruk yang menyangkut keadaan Tapa Balian saat ini. Bisa saja ia terlambat menyelamatkan pria tua yang telah begitu berjasa dalam hidupnya itu!
“Jangan terburu-buru. Sedikit saja kita salah langkah, maka kematian Tapa Balian akan datang lebih cepat.”
“Kau jangan asal berbicara!” Mantingan membentak keras. Tetapi Chitra Anggini bergeming di tempatnya, menatap Mantingan dengan berani.
“Kau akan menyadari betapa kata-kataku itu adalah benar, Mantingan. Tenangkan dirimu dan biarkan kepalamu tetap dingin.”
__ADS_1