
Kedai turut tertawa. Kesunyian goa pecah oleh gelak tawa dua laki-laki beda usia itu.
Kedai kembali pada pembahasaan tentang Perguruan Angin Putih, kembalilah ia berujar.
“Perguruan Angin Putih itulah yang mempertahankan Kebenaran. Karena sudah sedari dahulu kala, Dwipantara mengenal Kebenaran dan mempertahankannya pada anak-cucu mereka. Sehingga ketika waktu kekuasaan Kebenaran tiba, anak-cucu mereka bisa menerima kekuasaan itu dengan suka-cita, bukan malah memeranginya.
“Tetapi tetaplah saja akan terjadi hal seperti hari ini, di mana ajaran Kebenaran itu malah dianggap sebagai ajaran yang sesat. Entah siapa yang telah mengubah keyakinan masyarakat hingga Kebenaran dianggap sebagai jalan Kesesatan. Perguruan Angin Putih berusaha mengembalikan keyakinan orang-orang Dwipantara, agar mereka tidak menjadi orang buta yang tidak bisa melihat Kebenaran sejati. Namun, Perguruan Angin Putih dalam masa penyebaran ajaran itu mendapat serangan berupa berita bohong dan tuduhan bohong. Entah dari siapa tuduhan itu berasal, tuduhan dan berita bohong itulah serangan paling mematikan bagi Perguruan Angin Putih.
“Dengan macam-macam berita bohong dan tuduhan itulah yang membuat masyarakat menyerang Perguruan Angin Putih. Sedangkan pendekar-pendekar di Perguruan Angin Putih tentu tidak mau melawan yang lebih lemah, sehingga ramai-ramai mereka berpindah tempat.
“Perguruan Angin Putih membangun kembali perguruannya di tempat yang cukup jauh dari khalayak luas, untuk mengatur lagi siasat menyebarkan ajaran Kebenaran ini. Tetapi tanpa diduga-duga, serangan gabungan dari perguruan aliran putih yang bersekutu dengan perguruan aliran hitam meluluh-lantakan perguruan itu.
“Kekuatan Perguruan Angin Putih tidaklah cukup banyak untuk melawan serangan gabungan itu, apalagi dalam kondisi terkepung. Maka dari itulah, hampir seluruh pendekar dari perguruan pusat itu tewas. Mereka berpikir bahwa itu adalah hari terakhir bagi Perguruan Angin Putih, tetapi mereka tidak mempertimbangkan keberadaan padepokan-padepokan kecil Angin Putih.
“Padepokan-padepokan Angin Putih inilah yang kemudian berkumpul, membangun kembali Perguruan Angin Putih di tempat tersembunyi yang masih ada sampai sekarang ini.”
“Kiai, sahaya mendapat kabar bahwa Perguruan Angin Putih ditumpas pula oleh kerajaan.”
“Ya, itu salah satu berita bohongnya. Kerajaan bahkan berusaha mengalangi keributan itu.”
Begitulah perbincangan mereka tentang Perguruan Angin Putih yang bermuara pada Kebenaran dan Kesesatan itu selesai.
__ADS_1
Pada hari itu Mantingan menerima pelatihan tingkat ketiga. Masih dengan melatih melatih pernapasan, tetapi kali ini Mantingan harus melakukannya bersama gerakan-gerakan silat. Mantingan pula harus melakukannya sembari menghindari serangan Kedai.
Tingkat ketiga inilah yang merupakan pelatihan paling menyakitkan. Sudah banyak kali Mantingan menerima pukulan akibat tidak bisa menghindar, dan beberapa kali pula tangan Mantingan terkilir akibat salah melakukan gerakan.
Pelatihan di tingkat-tingkat berikutnya adalah pelatihan gerakan silat dan jurus silat. Dari tingkat empat sampai tingkat delapan, pelatihan memakan waktu sampai satu tahun. Itu merupakan waktu yang cukup lama bagi Mantingan, tetapi ia tidak bosan tinggal di goa seperti itu. Bahkan gua itu telah diubah menjadi tempat yang layak huni.
Dan dikarenakan setiap hari melatih diri, baik itu fisik maupun pikirannya, Mantingan seolah-olah keluar dari cangkang telurnya, menjadi pribadi dan bentuk yang baru.
Tidak perlu diragukan lagi bagaimana cara berpikir Mantingan menanggapi masalah. Dan tidak perlu juga diragukan bagaimana bentuk badan Mantingan yang merupakan dambaan bagi banyak lelaki.
Meskipun telah terlihat sebagai pesilat yang matang, tetapi masa pelatihan Mantingan belumlah selesai. Mantingan masih harus mempelajari kanuragan, ilmu mengolah tenaga dalam.
Mantingan mengangguk.
“Saat ini, engkau baru saja menjadi pendekar. Engkau telah bisa mengolah tenaga dalam untuk membantumu dalam kehidupan. Ingat, jangan selalu beranggapan tenaga dalam untuk bertarung saja.” Kedai terdiam beberapa saat sebelum mengembuskan napasnya perlahan. “Daku akan mengajarimu ilmu silat tenaga dalam sampai dua tahun ke depan, saat itulah engkau bisa pergi sesuka hatimu.”
Mantingan tahu, bahwa memang akan ada perpisahan dengannya dan Paman Kedai, maka tanpa bersedih sedikitpun ia mengangguk.
“Kiai Guru, sahaya akan giat berlatih.”
***
__ADS_1
Genap sudah dua tahun pasca Mantingan pertama kali menjadi pendekar. Maka genaplah sudah tugas Kiai Guru Kedai dalam mengajarkan Mantingan ilmu persilatan juga ilmu kebaikan. Hanya tiga tahun Mantingan menjalani masa pelatihan, tetapi bakat tinggi Mantingan itu membuat membuat masa pelatihannya setara dengan sepuluh tahun masa pelatihan pendekar biasa.
Kiai Guru Kedai juga terkejut dengan bakat Mantingan yang mengerikan itu, tetapi ia tidak ingin membangga-banggakannya, dan menganggap Mantingan hanyalah pendekar dengan bakat rata-rata saja. Mantingan pula tidak merasa kekuatan itu sebagai kelebihan untuk membuatnya sombong atau malas berlatih.
Ilmu-ilmu persilatan yang Mantingan pelajari adalah ilmu persilatan aliran hitam. Pendekar yang menuruni darahnya pada Mantingan ternyata mempelajari dan menguasai hampir seluruh ilmu persilatan aliran hitam, sehingga Mantingan dimudahkan mempelajari ilmu silat hitam yang cocok dengannya.
Tetap saja itu hal yang mengerikan bagi Mantingan yang belajar ilmu hitam.
Banyak ilmu yang Mantingan telah pelajari, mulai dari ilmu racun, jarum rahasia, belati rahasia, sirep penjebak, ilmu meringankan tubuh, hingga ilmu menggerakkan boneka bersenjata. Semua ilmu-ilmu itu akan Mantingan gunakan untuk kebaikan.
Penguasaan Mantingan pada ilmu-ilmu itu luar biasa. Sehingga Mantingan bisa menciptakan caranya sendiri menggunakan ilmu-ilmu hitam itu, menjadi cara yang baik.
Mantingan menamakan pedangnya dengan nama Kiai Kedai, sesuai dengan nama gurunya yang aneh itu. Untuk mengingat jasa Kedai terhadap Mantingan. Agar tidak lupa untuk membalas jasa sang guru, jika memungkinkan. Bertepatan dengan pengangkatan Pedang Kiai Kedai sebagai senjata utama, maka Mantingan meninggalkan tombak rapuhnya di dalam goa.
***
Malam itu. Mantingan telah lama tertidur di atas ranjang di dalam goanya. Esok adalah hari keberangkatannya, sedangkan Kiai Guru Kedai tadi pagi telah meninggalkan dirinya.
Mantingan tahu, dirinya sedang bermimpi. Mimpi inilah yang dahulu sering ia takutkan; mimpi bertemu dengan Rara. Tetapi kali ini tidak, Mantingan justru tersenyum.
Di tepi pantai, berdekatan dengan rumah Birawa. Matahari di batas cakrawala, menciptakan senjakala yang sungguh luar biasa mengiringi suara ombak dan desir angin. Jubah Mantingan dan Rara berkibar-kibar, begitu juga dengan rambut panjang mereka.
__ADS_1