Sang Musafir

Sang Musafir
Para Penyamun di Sebuah Lembah


__ADS_3

MAKA UNTUK sekarang ini, Mantingan hanya akan terus memantaunya. Meskipun Bidadari Sungai Utara tersesat sekalipun, itu tidak akan berpengaruh terlalu buruk karena angin muson timur masih jauh waktu tibanya, bahkan gadis itu akan mendapat banyak pelajaran dari pengembaraannya.


Keduanya bergerak setelah Bidadari Sungai Utara menyelesaikan sarapan paginya. Gadis itu tampak sangat bersemangat, masih tersisa banyak harapan yang menghiasi mata cermelangnya. Namun Bidadari Sungai Utara tidak mengetahui bahwa dirinya bukan bergerak ke arah utara melainkan ke arah barat, jika saja dia mengetahuinya maka Mantingan tidak bisa menebak keputusasaan gadis itu akan seperti apa.


***


JALANAN YANG Mantingan dan Bidadari Sungai Utara lewati sudah mulai mengering siang itu, setelah malam tadi habis-habisan diguyur hujan. Terik matahari terasa sangat menyengat kulit. Di bawah sana, Bidadari Sungai Utara terlihat sangat gelisah akibat suhu yang luar biasa panas.


Memang gadis itu tidak mengenakan atau membawa jubah ajaib Mantingan. Padahal dengan jubah itu, teriknya matahari akan terasa sejuk seperti halimun gunung. Bidadari Sungai Utara meninggalkan jubah itu di kamar penginapan bersama pedangnya, dua benda itu sekarang ada di tangan Mantingan.


Sedangkan Mantingan, terlihat tidak terlalu terganggu dengan teriknya sinar matahari. Ia telah terbiasa, bahkan tanpa jubah pemberian Kenanga pun ia masih bisa menikmati perjalanan. Terlebih kedudukan Mantingan saat ini berada di atas pohon membuatnya menikmati angin sepoi-sepoi walau itu berarti terpapar sinar matahari tanpa ada penghalang.


Selama di perjalanan itu, Bidadari Sungai Utara berhenti beberapa kali untuk beristirahat. Ia tidak membawa kantung wadah air, sehingga hanya bisa mengandalkan air embun untuk minum. Walau memang dapat terlihat, air embun tidak dapat memuaskan dahaga gadis itu.


Air di kantung wadah Mantingan masih banyak, namun Mantingan tidak tega untuk meminum itu sedangkan Bidadari Sungai Utara minum air embun. Maka pemuda itu mengikuti cara Bidadari Sungai Utara; juga cara para pendekar ahli lainnya. Makan udara, minum air embun.


Lagi pula, Mantingan pernah melakukan hal seperti ini sewaktu ia belum ditugaskan untuk mencari Kembangmas. Jikalau tidak air embun, Mantingan akan minum air hujan yang tertampung di dalam batok kelapa. Jikalau tidak ada pula air di batok kelapa, maka Mantingan akan mencari jenis tumbuhan yang dapat memberikannya air. Begitulah cara bertahan hidup di rimba, Mantingan sangat berharap Bidadari Sungai Utara sudah paham tentang ini sebelumnya.


Namun, agaknya tidak. Mantingan dengan jelas melihat Bidadari Sungai Utara berdiri di samping pohon beringin—yang mana pohon besar itu selalu memiliki cadangan air di bawahnya, namun Bidadari Sungai Utara tetap minum air embun pada dedaunan pohon beringin tanpa berusaha menggali ke dalam tanah.

__ADS_1


Ingin rasanya Mantingan turun dan menjelaskan secara baik-baik pada gadis itu tentang pohon beringin, namun sekali lagi hal itu tidak mungkin untuk dilakukan. Bisa saja gadis itu malah berlari, yang kemudian entah akan menginjak reranting atau menginjak udara kosong—terperosok ke dalam jurang. Itu perkiraan buruk yang sama sekali tidak bisa ditepis Mantingan.


***


BIDADARI SUNGAI Utara berusaha merapatkan dirinya ke tepian jalan dengan cepat, namun ia sudah terlambat. Segerombolan penuh penyamun turun saat Bidadari Sungai Utara melintasi sebuah lembah di antara dua bukit. Penyamun-penyamun bersenjatakan kelewang panjang itu menyergap Bidadari Sungai Utara dari segala arah sambil tertawa panjang.


Mantingan tersenyum tipis melihat apa yang terjadi. Tidak seorangpun dari penyamun-penyamun itu merupakan pendekar. Bidadari Sungai Utara semestinya sudah dapat menggunakan kekuatan tenaga dalamnya dan mengalahkan mereka semua semudah memotong rumput halaman.


Akan tetapi dari yang Mantingan lihat, Bidadari Sungai Utara justru merasa takut saat penyamun-penyamun itu datang. Tidak seperti sikap pendekar kebanyakan yang percaya diri saat penyamun-penyamun manusia biasa datang.


Mantingan telah merasakan sendiri seberapa besar kekuatan Bidadari Sungai Utara. Gadis itu hampir mengimbangi Mantingan, merupakan salah satu dari segelintir pendekar berbakat. Akan tetapi saat ini, Bidadari Sungai Utara sama sekali tidak mendapatkan kepercayaan diri.


Bagi para pendekar, ketidakpercayaan diri sebelum atau selama terjadinya pertarungan sama saja dengan kelengahan.


“Aha! Lihatlah kawan-kawan, ada bidadari kahyangan yang nyasar sampai hutan ini. Sepertinya dia telah meninggalkan jimatnya di telaga sehingga tidak dapat pulang. Kasihan, marilah ikut kami, nanti kami berikan rumah yang nyaman untuk dikau!”


Bidadari Sungai Utara dengan sigap memasang kuda-kuda dan sikap silat. Menunjukkan penolakan. “Menjauh atau jangan menyesal nantinya.”


“Heh, gadis bercadar!” Penyamun lainnya mengancungkan kelewang. “Di tempat ini dikau tidak punya banyak pilihan. Biarkanlah daku sendiri yang menyebutkan. Pilihan pertama, dikau menurut dengan kami dan kami berjanji tidak akan main kasar padamu. Pilihan kedua, dikau menolak dan kami akan sedikit kasar padamu. Pilihan ketiga, kau melawan dan kami bunuh!”

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara tersenyum di balik cadarnya. “Daku memilih pilihan yang terakhir.”


Para penyamun itu saling berpandangan. Terdiam. Lalu tertawa keras. Sementara itu, Mantingan sedang menghitung kekuatan musuh baik yang terlihat maupun yang bersembunyi.


“Aduhai, aduhai. Sepertinya engkau masih belum paham. Lihatlah kami semua yang membawa kelewang tajam di sini, sedangkan engkau hanya seorang diri saja tanpa membawa persenjataan apa pun!”


“Daku tidak peduli!” Bidadari Sungai Utara membentak dingin. “Jika aku harus mati di sini, maka setidaknya beberapa dari kalian harus mati bersamaku. Dan aku, akan mati terhormat."


“Untuk apakah daku harus mati bersama dikau sedangkan daku bisa bermalam bersama kau!”


Bidadari Sungai Utara tersulut api amarah. Wajahnya merah padam. Napasnya menggebu-gebu. Ada sesuatu di dalam dirinya yang mendorongnya untuk melakukan suatu tindakan perlawanan.


“MATILAH KALIAN!”


Bertepatan dengan itu, Mantingan selesai menghitung seluruh musuh yang ada di lembah itu. Semuanya berjumlah tiga lusin orang. Dua lusin orang bersenjata kelewang yang turun langsung ke jalanan, sedangkan selusin lainnya adalah penyamun bersenjata panah yang bersembunyi pada dua belah bukit.


Saat Bidadari Sungai Utara maju menyerang dengan tangan kosong, Mantingan segera menyiagakan jarum beracun dan Lontar Sihir untuk melumpuhkan musuh. Mantingan akan menunggu sampai Bidadari Sungai Utara benar-benar dalam bahaya sebelum melancarkan serangan senyap.


Namun kali ini Bidadari Sungai Utara tidak lagi mengecewakan Mantingan. Gadis itu dengan cepat menyerang penyamun di dekatnya dengan serangan tapak tangan, lalu menghindari segala macam serangan dengan gesit dan terukur.

__ADS_1


Tak sampai di sana saja, Bidadari Sungai Utara mulai mengambil sebatang kayu panjang yang kemudian digunakan untuk memukuli lawannya. Tak jarang batang kayu yang dipegangnya itu berbenturan dengan kelewang musuh, namun tidak terbelah ataupun patah. Karena sebenarnyalah sebatang kayu itu telah dijadikan senjata sekuat pedang oleh Bidadari Sungai Utara dengan memanfaatkan sebuah ilmu persilatan yang jarang dikuasai pendekar lain.


Mantingan yang tadinya berniat membantu kini mulai terpukau.


__ADS_2