Sang Musafir

Sang Musafir
Latihan untuk Kana


__ADS_3

KANA MENGANGKAT bahunya. “Daku membaca banyak karya sastra semasa berada di kereta kuda. Lalu kurasa, akan lebih sopan lagi jika memanggil Kakanda dengan sebutan ini. Apakah Kakanda menahanku yang baru saja hendak tidur hanya untuk menanyakan hal ini?”


Mantingan menggeleng pelan. “Bukan. Aku ingin mengajakmu berlatih untuk malam ini, tetapi aku tidak tahu apakah kaumau atau tidak.”


Mata Kana tiba-tiba saja melebar. Tubuhnya bangkit dengan cepat dari alas tidurnya. “Ya! Daku sudah lama menanti Kakanda melatihku! Jangankan dini malam seperti ini, tengah malam pun daku bersedia. Marilah, marilah.”


“Baiklah.” Mantingan beranjak berdiri dari alas kasurnya pula. Ia berjalan ke arah jendela sebelum membukanya. Membiarkan angin kering malam membawa kedinginan musim kemarau ke dalam kamar penginapan itu.


Kana menelan ludahnya ketika melihat kegelapan hutan di luar jendela. Dengan raut wajah ketakutan, Kana bertanya kepada Mantingan, “Kakanda ... kau tidak bermaksud untuk ....”


“Kurasa ruangan ini terlalu sempit untuk berlatih ilmu bela diri. Jadi, kita harus mencobanya di luar.”


“Kakanda, ini sudah malam. Bagaimana jika kita berjumpa dengan penyamun di luar sana? Bukankah itu akan—”


Belum sempat Kana menyelesaikan ucapannya, Mantingan tiba-tiba menariknya keluar jendela, berkelebat ke arah hutan. Kana berteriak keras meski suaranya itu hanya terdengar sayup-sayup. Terbawa angin.


Mantingan berhenti di sebuah puncak bukit besar. Setelah memastikan tidak ada pertanda bahaya di sekitarnya, Mantingan menurunkan Kana dari gendongannya. Anak itu menggigil hebat, entah disebabkan oleh udara malam yang dingin atau justru oleh ketakutannya sendiri.


“Kakanda, tempat ini terlalu gulita. Daku tidak dapat melihat apa pun selain kegalapan!” Kana berteriak setengah histeris.


“Kau jangan membuat alasan, bulan purnama jelas-jelas menggantung di langit.”


Mantingan menunjuk purnama yang memancarkan sinar keperakan di atas langit. Kana kembali meneguk ludahnya.

__ADS_1


“Kakanda, engkau sungguh berdosa dengan membawaku ke tengah hutan seperti ini. Bagaimanakah jika kita dicari oleh rombongan? Atau, bagaimanakah jika rombongan tiba-tiba membutuhkan kita?”


Mantingan beralih menunjuk ke sebuah arah jauh di bawah bukit. Yang ditunjuknya merupakan sebuah titik-titik cahaya di antara lautan kegelapan hutan. “Kau kembali membuat alasan, jarak kita dengan penginapan tidak terlalu jauh. Jika terjadi sesuatu pada rombongan, kita dapat dengan mudah menyadarinya dan sampai di sana dalam hitungan jari.”


Kana semakin gelisah. Meskipun gulita malam tidaklah terlalu kentara, sebab purnama sedang memancarkan terang sinarnya yang indah keperakan, tetapi Kana tetap merasa dirinya diliput kegelapan di antara marabahaya yang mengancam.


Mantingan tidak mengerti jalan pikir anak itu. Ia merasa bahwa malam ini sangat indah, terlebih mereka berada di atas puncak bukit tinggi sehingga dapat menikmatinya lebih-lebih lagi. Namun, Kana justru menanggapinya dengan ketakutan berlebih. Mantingan merasa perlu untuk merubah sikap anak itu, yang dari ketakutan menjadi berani.


“Kita pulang sajalah, Kakanda, daku lupa tidak membawa pedang ....”


“Tidak perlu khawatir.” Mantingan mengulurkan sebatang benda panjang berbentuk pipih kepada Kana. “Ini, aku bawakan pedangmu.”


Mantingan memanglah sempat memapas pedang Kana sebelum dirinya berkelebat keluar jendela. Ia mengetahui bahwa Kana pasti akan beralasan bahwa pedangnya tertinggal, padahal dalam masa latihan, menggunakan sebatang kayu sebagai pengganti pedang pun bukanlah masalah.


“Apakah kau masih takut, Kana?” Mantingan bertanya dengan santai.


“Tidak, kurasa sudah tidak.” Kana menjawab dengan dusta, jelasnya ia masih ketakutan setengah mati.


“Sekarang, lihatlah ke sekitar. Apa yang kaulihat?” Kembali Mantingan bertanya.


Menelan rasa takutnya, Kana menjawab, “Daku hanya melihat batang-batang pepohonan yang tertutup bayang-bayang, Kakanda.”


“Dan katakan secara jujur, apa yang kaupikirkan ketika sedang melihat itu?”

__ADS_1


Kana terdiam beberapa saat. Apakah dirinya harus berterus terang bahwa ia membayangkan makhluk halus yang bersembunyi di balik batang pepohonan? Adakah Mantingan, pendekar yang dijadikannya sebagai tuntunan, harus mendengarkan ketakutannya?


Pada akhirnya, Kana memilih untuk berterus terang. Tak peduli Mantingan akan menganggapnya seperti apa, toh dus memang itulah kenyataannya. “Daku membayangkan makhluk halus di balik batang-batang pohon besar di sana. Atau hewan malam yang sedang mencari makan, atau keberadaan pendekar sakti bersamadi yang tidak ingin diganggu sama sekali, atau semacamnya dari yang telah kusebutkan. Inilah kejujuranku, Kakanda. Yang kukatakan, ialah kenyataan.”


Mantingan menganggukkan kepalanya beberapa kali sebelum berucap, “Bagus jika kau bisa mengakuinya. Kau telah menerima segala kekurangan itu. Aku menaruh sedikit bangga padamu. Tetapi saat ini, kau tidak lebih dari seorang bocah jujur yang lemah dan ketakutan.”


Raut wajah Kana berubah menjadi buruk. Ia tak menyangka sebelumnya bahwa Mantingan akan mengeluarkan perkataan yang menyakiti perasaannya.


“Aku berniat mengubah ketakutanmu menjadi keberanian, kelemahanmu menjadi kekuatan, tetapi tidak serta merta mengubah kerendahan hati menjadi kesombongan diri. Tetapi itu baru akan aku lakukan jika engkau setuju.”


Kana dapat merasakan bahwa Mantingan tidak bermain-main dengan ucapannya. Pemuda itu tampaknya benar-benar tulus ingin merubah sifat buruk Kana, tanpa mengharapkan sesuatupun darinya. Maka dada Kana dipenuhi gelora semangat.


“Daku jelas setuju, Kakanda! Ajarilah diriku dengan ilmu-ilmu yang Kakanda miliki, daku akan menurut di bawah bimbingan Kakanda!”


Mantingan menggelengkan kepalanya pelan. “Adalah salah jika engkau menganggap diriku begitu tinggi. Ilmu-ilmu yang telah berhasil kupelajari bukanlah milikku, sekalipun aku yang membuatnya. Itu adalah kepemilikan Gusti. Mungkin kauanggap ini omong kosong semata dari orang tidak berilmu, tetapi kau akan menyadarinya sendiri suatu saat nanti.”


“Diriku salah ucap!” Kana berkata berdasarkan ketulusannya. “Maafkan daku, tiada kuanggap ucapan Kakanda hanyalah omong kosong belaka. Kakanda bukanlah orang bodoh, kutahu bahwa Kakanda menyimpan banyak ilmu. Maka bagikanlah sedikit kepadaku.”


Mantingan tersenyum lebar. “Ucapanmu nyaris benar.”


Kana meneguk ludahnya, merasa sia-sia telah mempelajari banyak karya sastra. Di depan Mantingan yang jauh lebih pandai, ia tidak bisa berkutik.


“Kali ini, akan kuajari dirimu sedikit mengenai ilmu berpedang. Maafkanlah, mungkin aku tidak bisa mengajarkanmu ilmu lain sampai kita berpisah. Sebab untuk melindungi dirimu sendiri dan Kina, paling tidak engkau harus menguasai ilmu berpedang yang memumpuni. Untuk ilmu-ilmu lain, engkau bisa mempelajarinya setelah tiba di Champa.”

__ADS_1


Kana menganggukkan kepalanya dan berkata mantap, “Karena mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi, daku akan mempelajari ilmu yang Kakanda berikan dengan sungguh-sungguh. Sekarang, berikanlah daku ilmu tersebut.”


__ADS_2