Sang Musafir

Sang Musafir
Kota yang Mendapat Serangan


__ADS_3

Dua hari setelah pertemuannya dengan Chitra Anggini, Mantingan sampai pula di wilayah Agrabinta. Di perbatasan wilayah tidak terjadi peperangan, tetapi ditemukan beberapa benda bekas peperangan.


Setelah Mantingan melewati perbatasan, sekiranya setengah hari kemudian Mantingan menemukan sebuah kota ukuran sedang.


Jika dilihat dari luarnya, kota itu tak lama telah diserang. Sebuah lubang besar di tembok kota.


Meskipun kota terlihat seperti sudah berhasil dibobol penyerang, tetapi kota itu terlihat sedang melakukan perbaikan pada bagian tembok kota. Puluhan prajurit dan masyarakat setempat terlihat saling bahu-membahu membawa batu-batu besar dan mengangkatnya ke atas menggunakan rangkaian tali.


Mantingan berdiri dan memandangi mereka sambil berdecak kagum. Jika tenaga kerja yang dikerahkan sebanyak itu, Mantingan yakin tembok kota selesai diperbaiki dalam waktu singkat.


“Anak Muda, kau terlihat seperti pengembara yang membutuhkan uang, apakah dikau mau bekerja bersama kami?”


Mantingan tersadar dari lamunannya. Ia lengah sampai-sampai tak menyadari ada orang yang mendekat. Walau kali ini tidak berbahaya, tetapi kebiasaan ini akan sangat berbahaya nantinya. Mantingan melihat orang yang menawarinya pekerjaan. Seorang prajurit yang terlihat seperti pengawas pembangunan, memasang wajah datar saat berbicara pada Mantingan.


“Ah, Saudara, saya hanya ingin singgah di kota ini.”


“Aku menawarimu pekerjaan yang upahnya lumayan, sungguhan engkau tidak mau?” tanyanya lagi.


Mantingan menggeleng pelan. “Maaf, Saudara, saya hanya singgah sebentar di sini, tidak bisa berlama-lama.”


Prajurit itu mengangguk lalu menghela napas panjang. “Jangan anggap tadi aku memaksamu, Anak Muda, kami sedang mencari tenaga kerja tambahan agar kota ini siap menghadapi serangan berikutnya.”

__ADS_1


“Apakah ada ancaman penyerangan, Saudara?”


Dirinya mengangguk. “Karena kami berhasil memenangkan pertempuran, mereka yang kalah jadi tidak puas dan mengancam akan menyerang lagi dengan kekuatan lebih besar. Kami tidak tahu harus bagaimana, prajurit kami kurang untuk mengatasi orang-orang aliran hitam itu.”


“Saudara, tidak adakah pendekar-pendekar di dalam kota yang bisa dimintai pertolongan?” Mantingan mengerutkan dahinya, menurutnya pasukan manusia biasa melawan pasukan pendekar adalah sesuatu yang tidak seimbang, sudah pasti pasukan manusia biasa akan kalah.


“Anak Muda, kau percaya dengan keberadaan pendekar? Aku tidak pernah mempercayainya, yang aku percaya orang-orang seperti itu memakan ramuan mujarab khusus hingga bisa menjadi sakti. Tidak ada orang seperti itu di dalam kota, Anak Muda.”


Mantingan menggeleng pelan. “Sampai manakah Saudara memeriksa kota?”


“Aku tanyakan saja pada penduduk kota, katanya tidak ada orang sakti di dalam kota sama sekali, yang ada orang sakit.”


“Saudara, memang selalu seperti itu jika dikau bertanya pada warga. Kebanyakan pendekar lebih suka hidup sembunyi-sembunyi sedaripada memamerkan kekuatannya di depan khayalak luas.” Mantingan mengembuskan napas panjang. “Mungkin saya bisa membantu Saudara dalam urusan menemukan mereka.”


“Kita lihat saja kedepannya.” Mantingan tersenyum sebelum melangkah pergi.


Gerbang kota terbuka lebar, tetapi para tamu yang hendak masuk tetap harus menunjukkan tanda pengenal pada prajurit penjaga di sana. Setelah menunjukkan pengenalnya, Mantingan diperbolehkan untuk masuk ke dalam kota.


Situasi kota tidaklah terlalu ramai atau terlalu sepi. Tidak banyak tamu yang masuk ke dalam kota, tentu saja mereka berpikir dua kali untuk masuk ke dalam kota yang pertahanannya lemah seperti ini. Rata-rata yang berlalu-lalang di depan Mantingan adalah pekerja-pekerja bangunan.


Debu-debu berterbangan bersamaan dengan menyengatnya mentari siang hari. Mantingan membeli caping yang dijual di dekat pintu masuk kota sebelum melanjutkan perjalanannya menelusuri kota.

__ADS_1


Bangunan-bangunan di pinggiran kota terlihat rusak dan terbakar, pastilah dampak dari serangan itu. Mulai masuk ke dalam, tidak lagi terlihat bangunan-bangunan yang hancur, tetapi bangunan-bangunan itu digunakan demi kepentingan balatentara.


Semakin ke dalam, kawasan balatentara telah dilewati dan kini berganti dengan kawasan pemukiman. Tetapi karena sebagian bangunan kota hancur dan sebagian lainnya dipakai untuk kepentingan militer, maka kawasan pemukiman ini terlihat jauh lebih padat.


Jalanan yang awalnya lenggang kini mulai menyempit disebabkan oleh keberadaan tenda-tenda darurat. Anak-anak berkeluyuran dengan tampang dekil, entah kapan terakhir mereka mendapatkan air bersih untuk mandi. Jemuran-jemuran melintang di mana-mana, saling berebut mendapat sinar mentari agar cepat kering.


Aroma tidak sedap mulai tercium di kawasan pemukiman padat seperti ini. Bau badan, pesing, makanan busuk, jamur yang lembab, aroma lapuk bercampur menjadi satu. Namun, Mantingan tidak terlihat terganggu dan tetap berjalan di tengah aroma-aroma tidak sedap itu, tentu saja itu berkat kebiasaannya menghirup aroma Bunga Aroma Kematian yang lebih menyedapkan.


Sampai di pemukiman padat ini, Mantingan mulai merasakan hawa keberadaan beberapa pendekar. Letak pasti pendekar-pendekar itu tidak diketahui, tetapi besar kemungkinan mereka menyamar menjadi masyarakat biasa yang mengungsi. Membaur adalah cara terbaik untuk menyamar, sangat sulit ditemukan.


Mantingan memutuskan berhenti tatkala ia melihat sebuah kedai kecil di tengah tenda-tenda kumuh. Mantingan masuk ke dalamnya tanpa penolakan dari siapa pun, bahkan kedatangannya disambut baik pemilik kedai.


“Pelanggan pertamaku, silakan duduk.” Seorang laki-laki setengah baya tersenyum lebar pada Mantingan. “Anda ingin pesan apa? Katakan saja, katakan saja.”


“Satu porsi makan siang, bawakan saja sesuai dengan apa yang ingin Bapak sajikan.” Mantingan membalas dengan senyum hangat.


“Ah, baiklah-baiklah. Bapak akan ke dapur sebentar saja dan menyajikan makanan untuk Anak, jangan berubah pikiran dan jangan ke mana-mana.” Untuk alasan yang tidak jelas, laki-laki setengah baya itu berjalan cepat menuju dapur, sedangkan Mantingan duduk di kursi panjang.


Mantingan melihat kondisi kedai tempatnya akan makan. Sungguh miris melihat kondisi kedai yang masih baik sedang di luar kedai sedang tidak baik-baik saja. Lantai kedai sepertinya dibersihkan setiap saat, hingga tampak seperti batu akik yang mengilat. Dinding kedai yang juga bersih mengilap. Bagaikan surga tersembunyi di tengah kekumuhan yang ada.


Hidangan datang tak lama berselang dari itu. Pria paruh baya itu datang membawa sepiring makanan berisi nasi dan sayuran. Mantingan sedikit heran karena hidangan siap dalam waktu yang terlalu singkat. Hidangan di depan Mantingan itu tampak seperti dihangatkan saja.

__ADS_1


Menyadari perubahan ekspresi Mantingan, pemilik kedai itu berkata sambil tersenyum canggung, “Itu ... maafkan kami, di sini tidak ada bahan makanan kecuali yang diberikan kerajaan sebagai sumbangan, ini hanya kami hangatkan saja dan beri sedikit bumbu.”


__ADS_2