Sang Musafir

Sang Musafir
Perundingan dengan Gandhi


__ADS_3

MELINDUNGI PERMAISURI, apakah Mantingan pernah menyangka ini akan terjadi dalam hidupnya? Sama sekali tidak!


Punawarman dan permaisurinya, Prameswari, disebut-sebut sebagai Bhatara Wisnu dan Dewi Laksmi. Dikatakan pula bahwa kesepasangan mereka melambangkan kesempurnaan percintaan. Bersama Prameswari, Punawarman dianggap sempurna sebagai penguasa Tarumanagara. Kecantikan Prameswari disebut-sebut menyerupai purnama di langit bersih. Bertutur kata lembut dan menghangatkan di telinga. Dia adalah putri Raja Agrabinta, keturunan dari Raja Salakanagara.


Sudah pantas rupa jika perjalanan ini dirahasiakan ketat-ketat. Namun mengingat bahwa telah terjadi pengkhianatan pada rombongannya, maka ada kemungkinan bahwa perjalanan ini telah diketahui setidaknya oleh jaringan rahasia dunia persilatan.


Betapapun, perjalanan sang permaisuri dan perjalanan Mantingan adalah dua perjalanan yang sama-sama dijaga kerahasiaannya. Dan kedua belah pihak pun sama-sama tidak menyangka akan saling bertemu.


Malam itu, Prameswari diusungkan menggunakan tandu ke dalam wilayah perkemahan. Tentu setelah memberikan setetes darah miliknya, begitu pula dengan para prajurit pengawalnya, agar tidak terkena imbas buruk dari Lontar Sihir yang terpasang. Sedangkan kereta kuda disembunyikan di dalam hutan dan ditutupi semak belukar.


Langkah selanjutnya adalah menghilangkan bekas roda kereta. Dua prajurit diutus untuk sesegera mungkin menghilangkan jejak roda menggunakan alat seadanya berubah reranting dan dedaunan kelapa.


Api dan segala sumber cahaya terpaksa dimatikan untuk menyembunyikan keberadaan, sehingga tidak termakan pula jamuan malam itu.


Semuanya dilakukan dengan sangat cepat dan senyap. Mantingan harus mengakui bahwa prajurit-prajurit itu bukanlah sembarang prajurit. Meskipun ia tidak merasakan aliran tenaga dalam di tubuh mereka, tetapi tetap saja tidak bisa menampikkan bahwa mereka adalah prajurit terlatih. Mereka dapat merubah rencana dan melaksanakannya dengan cepat dan tepat, mereka juga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitar seolah telah mengenalnya sejak lama.


Suasana malam itu benar-benar sepi namun tegang. Seluruh prajurit bersembunyi di balik semak belukar dan pepohonan. Tidak ada percakapan sama sekali sejak saat itu. Seluruhnya diharapkan untuk diam sampai pagi menjemput. Kelemahan dari pasukan ini adalah jika mereka diserang pada malam hari.


Maka Mantingan pun hanya bisa bersembunyi di balik pepohonan. Sesekali ia memandangi ujung jalan, sesekali pula ia melihat bintang-bintang yang terhampar di langit malam. Banyak pertanyaan yang terpaksa dipendam olehnya.


Mengapakah Anaj mengetahui tanda-tanda Perguruan Angin Putih? Siapa-siapa sajakah yang telah berkhianat pada rombongan permaisuri? Apakah yang terjadi di Sundapura sampai-sampai permaisuri harus diungsikan?


Suasana Sundapura tentu akan mempengaruhi kegiatan pelayaran di Pelabuhan Kalapa. Apakah keberangkatan Bidadari Sungai Utara masih dapat dipastikan keselamatan dan kelancarannya?


Jika saja Sundapura telah jatuh ke tangan musuh, maka bukan tiada mungkin seluruh serangan musuh akan dipusatkan ke Tanjung Kalapa sebagai kota terbesar kedua setelah Sundapura. Entah itu melalui serangan laut maupun serangan darat. Ketika itulah, keamanan seluruh pelayaran di Sunda Kalapa tiada dapat terjamin. Inilah yang Mantingan khawatirkan.

__ADS_1


***


MANTINGAN MENOLEH. Semburat jingga mentari tampal di ufuk timur. “Terang tanah,” gumamnya.


Lalu terdengar teriakan, “Semuanya berkumpul!”


Satu per satu prajurit mulai keluar dari persembunyiaannya. Mereka berkumpul di dekat tandu permaisuri yang letaknya tak jauh dari tenda Bidadari Sungai Utara. Mantingan pun berkelebat turun.


Jakawarman menghampiri Mantingan dan berjalan bersamanya hingga mereka sampai di antara para prajurit. Mereka terus berdiri di sana sampai dipastikan seluruh prajurit telah berkumpul. Mantingan menatap seorang prajurit yang tadi malam berbicara padanya. Agaknya, dialah pemimpin rombongan ini.


“Selamat pagi. Malam telah kita lalui, Gusti Permaisuri berada dalam keadaan yang aman. Ini juga berkat kerja keras kalian semua, wahai prajurit yang gagah berani. Pagi ini beristirahatlah sebentar, siang nanti kita lanjutkan perjalanan ke Tanjung Kalapa. Beberapa prajurit yang masih kuat, siapkanlah sarapan untuk Gusti. Apakah ada pertanyaan?”


Seluruh prajurit tetap terdiam. Beberapa di antara mereka menggeleng. Pemimpin rombongan mengangguk sekali sebelum berkata, “Bubar!”


“Saudara Mantingan,” kata pemimpin rombongan itu. “Perkenalkanlah, namaku Gandhi, julukanku adalah Gading Gajah dari Taruma. Aku hanyalah prajurit biasa, sudah terlambat bagiku untuk menjalani kehidupan para pendekar. Bolehkah aku meminta sedikit waktumu untuk berbicara sebentar?”


“Itulah yang sahaya harapkan, Saudara Gandhi. Di manakah kita bisa memulai percakapan?” Mantingan menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah.


“Di mana pun bisa, Saudara. Tetapi kusarankan untuk di sini saja, supaya Gusti Permaisuri juga bisa mendengar.”


Sekali lagi Mantingan mengangguk. Disilangkan kedua tangannya ke belakang.


“Mulanya sahaya ingin bertanya, ke manakah Saudara Man ini bertujuan?”


“Sahaya bertujuan ke Perguruan Angin Putih, Saudara.”

__ADS_1


Gandhi menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Hmm ... apakah benar bahwa Bidadari Sungai Utara bersamamu?”


“Benar, Saudara. Sahaya juga membawa dua orang anak bernama Kana dan Kina yang akan diikutsertakan ke Champa olehnya.”


Gandhi kembali bergumam singkat sebelum berkata, “Kabar ini telah tersiar ke mana-mana, tetapi perjalananmu masih belum diketahui. Apakah Saudara benar-benar tidak keberatan jika rombongan kami ada bersamamu sampai beberapa saat meski itu memiliki tanggungan buruk?”


“Sahaya sama sekali tidak keberatan, Saudara, tetapi bukankah arah tujuan kita bertentangan?”


“Benar. Saat ini kita berada di ujung utara Agrabinta. Setahuku, Perguruan Angin Putih berada di antara lembah-lembah perbukitan di wilayah Gunung Kubang. Sedangkan tujuan kami adalah Tanjung Kalapa. Jelas ini bertentangan, bukan? Kami akan berjalan ke sebelah barat, Saudara akan berjalan ke sebelah timur.”


“Benar, Saudara. Tetapi mengapakah Saudara harus berputar sampai ke Agrabinta padahal Sundapura dan Tanjung Kalapa sebenarnya bersebelahan?”


“Daerah perbatasan sedang terjadi perang, Saudara. Wilayah barat Sundapura telah jatuh ke tangan musuh, kami tidak bisa melewati jalur itu.”


Sekali lagi Mantingan mengangguk. “Lalu, bagaimanakah kita seterusnya Saudara? Maafkanlah, tetapi agak tidak mungkin bagiku untuk memutar arah.”


Mantingan mengatakan yang sebenarnya, tak peduli jikapun permaisuri sedang mendengarkannya.


“Tetapi, Saudara ... jika kami tidak mendapatkan perlindungan, aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Gusti Permaisuri.”


Mantingan terdiam beberapa saat. Terbenam di alam pikirnya untuk mencari pemecahan masalah. Betapa urusan ini sebenarnya sangat menyulitkan. Berjalan bersama rombongan permaisuri pun bukan tanpa bahaya, lebih-lebih jika harus memutar arah tujuan kembali ke Tanjung Kalapa.


Tetapi menolak untuk melindungi permaisuri juga akan berdampak buruk. Sudah tentu tujuan musuh mengincar permaisuri bukanlah untuk membunuhnya, tetapi untuk menyanderanya. Jika itu sampai terjadi, maka tak dapat dibayangkan betapa seluruh kekuatan Taruma bisa lumpuh!


“Sahaya ingin bertanya, musuh mana sajakah yang mengincar permaisuri?”

__ADS_1


__ADS_2