Sang Musafir

Sang Musafir
Tulis dengan Tulus; Jalan Sunyi Dunia Persilatan


__ADS_3


MANTINGAN SEBENARNYA telah menduga bahwa Bidadari Sungai Utara akan membaca naskahnya itu cepat atau lambat. Padahal, di sana tertulis kata-kata indah tentang gadis itu yang sungguh dirasa akan mencoreng harga dirinya. Maka dari itulah, ketika melihat Bidadari Sungai Utara datang, Mantingan bergerak secepat mungkin untuk merapikan naskah-naskahnya di atas meja. Tetapi tindakan itu justru berhasil membuat Bidadari Sungai Utara curiga.


Kini gadis itu melirik Mantingan dengan senyum menggoda di sudut bibirnya. Mantingan masih terus memalingkan wajahnya, tak tahu harus berbuat apa dan berkata apa.


Sebagai seorang lelaki sejati, adalah hal memalukan jika dirinya menulis kalimat-kalimat yang begitu puitis yang ditunjukkan kepada seorang wanita.


“Dikaukah yang menulis ini, Mantingan?”


“Daku belajar dari Kana.” Pemuda itu lekas membantah.


“Tidak. Ini adalah gaya bahasamu sendiri.” Gadis itu tertawa pelan. “Masihkah engkau akan mengelak, Mantingan?”


Mantingan menarik napas dingin sebelum mengarahkan pandangan matanya kepada Bidadari Sungai Utara. “Tidak dapat kuhindari lagi, Saudari. Memang dirikulah yang menulis itu.”


“Tanpa bantuan siapa pun?”


“Tanpa bantuan siapa pun.” Mantingan mengulang.


“Dan tanpa sandiwara?”


“Daku tulis itu dengan tulus.”

__ADS_1


Senyum Bidadari Sungai Utara semakin mengembang. Lalu tangannya bergerak menyisipkan dua lontar itu pada sabuk di pinggangnya. “Engkau akan mudah menulis ulang apa yang tertulis pada dua lontar ini. Tetapi tidak akan mudah bagiku untuk mendapatkan dua lontar yang telah engkau tulis dengan tulus, Mantingan. Biarkanlah daku membawanya ke negeri Champa, menyimpannya baik-baik sepanjang hidupku.”


Mantingan terdiam tanpa bisa melarang gadis itu. Betapa pun, mudah baginya untuk menulis ulang kata demi kata yang ada di dalam dua lontar tersebut. Ia dapat mengingatnya dengan jelas. Tetapi memang tidak mudah bagi Bidadari Sungai Utara mendapatkan dua lontar itu. Meskipun gadis itu telah mengingat kata demi kata yang ada pada lontar-lontar tersebut, tetap saja dirinya tidak bisa menuliskannya ulang. Tulisan itu tidak akan menjadi sebuah ketulusan. Hanya Mantingan seorang yang dapat membuatnya.


“Jadikah kita berjalan-jalan, Saudara?” Bidadari Sungai Utara memecahkan lamunan Mantingan. Membuat pemuda itu serta merta menganggukkan kepalanya.


Mereka langsung berkelebat melalui jendela yang telah terbuka di kamar itu. Mantingan dengan Jurus Tapak Angin Darah, menutup jendela itu ketika dirinya sedang melesat di udara.


***


PADA KENYATAANNYA, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara bukannya berkeliling di Perguruan Angin Putih. Mantingan tidak menyarankannya. Sebab dengan begitu, keduanya akan menarik terlalu banyak perhatian dan mengganggu jalannya pelatihan.


Mantingan dan Bidadari Sungai Utara memilih untuk berjalan-jalan di wilayah Gunung Kubang. Mengunjungi banyak tempat-tempat yang indah. Sambil pula meningkatkan penguasaan pada ilmu meringankan tubuh.


Beberapa kali mereka menjumpai penyamun yang sedang mencegat orang di jalan. Sebanyak itu pula mereka melancarkan serangan guna melumpuhkan penyamun-penyamun tersebut.


Beberapa orang yang telah ditolong Mantingan dan Bidadari Sungai Utara itu menyembah-nyembah di tanah, menganggap bahwa dewa telah turun tangan memberantas kejahatan. Namun, masih ada pula orang-orang yang telah mengetahui bahwa itu merupakan perbuatan tangan pendekar, yang dengan lantas menjura ke sembarang arah sebagai tanda berterimakasih.


Begitulah hingga malam hari, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berpetualang bagai sepasang pahlawan pemberantas kejahatan yang sering dikisahkan di dalam naskah-naskah khayalan.


Pada sebuah batu pipih di puncak bukit, keduanya berdiri tegak memandangi rembulan. Meskipun rembulan hanya bersinar seperdua bagiannya saja di malam itu, dan tiada seindah ketika purnama.


Angin malam membawa dingin yang menusuk hingga tulang belulang meski yang dibawanya adalah udara kering kerontang. Pakaian dan rambut panjang keduanya berkibar.

__ADS_1


“Esok adalah hari keberangkatanku,” kata Bidadari Sungai Utara dengan senyum nanar. “Daku tidak lagi menemani dalam perjalananmu, Saudara.”


Mantingan pun tersadar akan hal itu. Esok adalah hari keberangkatan Bidadari Sungai Utara. Setelah enam hari menunggu di Perguruan Angin Putih, Bidadari Sungai Utara akhirnya berjumpa dengan hari keberangkatannya.


Mantingan terdiam. Bukannya tidak mengetahui perkataan seperti apakah yang harus diucapkannya untuk membalas Bidadari Sungai Utara. Banyak sekali perkataan yang sebenarnya ingin ia sampaikan semuanya. Tetapi betapa lidahnya menjadi begitu kelu. Tiada mampu mengucapkan barang sepatah kata pun.


“Ketika itu, mungkin engkau akan berjalan tanpa beban lagi.” Bidadari Sungai Utara tertawa pelan. Namun, betapa sinar rembulan telah membias garis air mata pada pipi seputih pualam itu.


Mantingan terus saja terdiam. Semakin banyak kata yang ingin diucapkannya, semakin kelu lidahnya.


“Lihatlah bintang gemintang yang menjadi penuntun arah itu, Saudara. Mungkin saja, bintang gemintang itu akan menjadi penuntun Saudara menuju Kembangmas. Dan diriku akan terus mengikuti perjalananmu dengan memandangi bintang gemintang di langit malam, kutahu di mana engkau sedang dan akan melangkah.”


Mantingan tetap terdiam ketika air mata Bidadari Sungai Utara semakin deras mengalirnya.


“Sebagai pendekar, kita mengetahui bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan kesepian. Selama kita masih berjalan di jalan ini, kesepian memang tidak bisa dihindarkan. Andaikan kata kita berhasil menepisnya untuk sementara waktu, tetapi kesepian akan datang kembali dengan cara yang teramat kejam.”


Mantingan tetap terdiam, namun betapa pun ia menyadari kebenaran dari kata-kata itu. Sekeras apa pun seorang pendekar melawan kesepian yang menghantui jalannya, sekeras itu pula kesepian akan memberinya pelajaran.


“Kuharap engkau tidak pernah merasa kesepian.”


Mantingan melirik Bidadari Sungai Utara di sebelahnya. Bagaimanakah kiranya ia tidak pernah merasa kesepian sedang jalan persilatan adalah jalan yang sungguh amat sangat sepi?


Bidadari Sungai Utara bergeser menghadap Mantingan. Membelakangi cahaya rembulan yang serta merta membuat air matanya tersembunyikan. Tangannya terulur ke hadapan. Telapak tangannya yang sedingin batu gunung itu menyentuh dada Mantingan.

__ADS_1


“Tidak peduli seberapa sunyi dan sepi jalan yang engkau lewati, selama cahaya terus menerangi jiwamu, maka dirimu akan baik-baik saja.”


Mantingan merasakan kegetiran. Bolehkah dirinya menangis sekarang? Menumpahkan air mata yang tidak biasa ditumpahkan seorang lelaki? Mantingan rasa tidak. Bukan sekarang. Tidak untuk saat ini.


__ADS_2