Sang Musafir

Sang Musafir
Pagi di Kotaraja


__ADS_3

“Aku berjanji tidak akan melanggar segala peraturanmu lagi, Mantingan, tidak akan pernah ....”


MANTINGAN mengembuskan napas perlahan. “Dan pada saat kau melanggarnya, maka begitukah kau akan kembali berjanji lagi?”


“Jika aku melanggarnya, maka aku akan pergi ... pergi sejauh-jauhnya, hingga tiada lagi dikau akan dapat melihat wajahku yang telah menjadi teramat hina ini.” Terdengar dari suaranya, perempuan itu bersungguh-sungguh. Tanpa menggunakan kemampuan membaca pertanda sekalipun, Mantingan dapat merasakan kesungguhannya.


“Daku pegang kata-katamu, Chitra. Sekarang kamu tidurlah.”


“Tetapi, malam masih dini ....”


Mantingan berhenti menggurat lontar. Menoleh ke arah Chitra Anggini. Melempar tatapan teramat tajam. Dengus napas dingin terembus dari hidungnya. Bukankah perempuan itu baru saja berjanji tidak akan melanggar segala peraturannya? Namun betapa pun, Mantingan masih mencoba untuk bersabar.


“Sadarilah bahwa kau telah mabuk sepanjang hari penuh, Chitra.”


“Aku tidak mabuk seharian penuh, Mantingan.” Chitra Anggini berkelit. “Bagaimanakah kiranya aku bisa mencarimu sepanjang hari dalam keadaan mabuk? Ketahuilah pula, hampir seluruh penginapan besar dan mewah di kotaraja telah kudatangi hanya untuk bertanya apakah mereka melihat seorang pria berjubah panjang yang memakai caping lebar serta menyoren sepasang pedang panjang, yang tiada lain dan tiada bukan adalah dirimu sendiri? Tidak kusangka-sangka kamu  justru memilih Penginapan Barisan Malam, yang jika bukan karena tuntutan Munding tidak akan pernah kukunjungi."


Mantingan kemudian membalas setengah menggeram, “Jika tidak suka, maka kau bisa keluar dari kamar ini.”


Chitra Anggini tercekat. Kembali ia menyadari betapa dirinya datang dengan perasaan bersalah untuk meminta maaf kepada Mantingan. Namun setelah permintaan maaf itu diterima, dia seolah saja ingin segera menghancurkannya!


Maka tanpa berkata-kata lagi, Chitra Anggini segera berkelebat ke atas ranjang. Merebahkan tubuh di sisi kiri ranjang, sehingga sisi kanannya dapat ditiduri oleh Mantingan. Namun agaknya, pemuda itu enggan terlelap malam ini.


***


JALANAN pagi itu ramai oleh lalu-lalang. Penuh oleh orang-orang, baik yang berdagang di pinggir jalan maupun yang membawa beban dagangan menuju pelabuhan. Semarak oleh bunyi-bunyian dari para pelantun jalanan yang membunyikan pantun, syair, serta nyanyian. Dan kali ini Chitra Anggini tidak berbohong soal anak-anak yang mahir memainkan sihir; mereka benar-benar ada!


“Ayo, bentuk kupu-kupu!” teriak seorang gadis kecil yang begitu teramat senangnya melihat anak-anak lelaki memainkan sihir."


“Sesuai dengan permintaanmu. Lihatlah ini!”


Salah satu dari anak lelaki itu maju selangkah. Tangannya lihai memainkan penggurat di atas lembar lontar. Bahkan untuk menunjukkan kebolehannya, bocah itu sampai menutup mata sedang tangannya seolah memiliki mata sendiri sehingga dapat terus bergerak tanpa tampak salah sedikitpun.


Barang sekejap kemudian, dari lembar lontar itu melesatlah beberapa baris aksara bercahaya hijau. Terus terbang ke atas, membentuk serangkaian kupu-kupu. Berputar-putar sejenak di sekitar anak perempuan itu, membuatnya bertepuk tangan dengan girang. Kupu-kupu aksara itu terus terbang hingga beberapa lama lagi, sebelum akhirnya hilang melebur dengan udara.


Namun, pertunjukan belumlah selesai. Anak-anak lain pun tidak mau ketinggalan menunjukkan kebolehannya. Mencoba mengesankan bocah perempuan itu dengan sihir-sihir yang boleh dikata memang teramat memukau.


Sedangkan itu, pedagang-pedagang di pinggiran jalan pun tidak kalah mengesankan dari bocah-bocah pemain sihir itu. Cara mereka menawarkan dagangannya sungguh belum pernah Mantingan lihat di kota manapun selain Kotaraja Koying ini.

__ADS_1


“Makanlah selembar roti ini, mala kujamin awak akan kenyang hingga siang nanti. Kalau masih lapar pula, maka kembalilah lagi nanti. Niscaya awak tidak akan menemukanku di sini.”


“Hah? Mengapakah daku tidak akan menemukan awak di sini? Bagaimana cara awak mengganti rugi jika nyata-nyatanya daku masih tetap lapar setelah makan selembar roti yang awak jual?”


“Daku tidak berjualan di siang hari, sebab roti-rotiku yang lezat ini sudah pasti akan habis sebelum matahari menanjak naik hingga melampaui gedung-gedung itu. Jika tidak percaya, maka buktikanlah sendiri!”


“Ada-ada saja caramu berdagang. Kulihat sedari tadi belum ada orang yang mampir ke sini untuk mencicipi rotimu.”


“Ini adalah hari pertamaku, bagaimanakah orang-orang bisa tahu tentang kelezatan roti buatanku?”


“Heh, tadi awak berkata bahwa dagangan awak selalu habis sebelum matahari menanjak hingga melampaui tinggi gedung-gedung itu.”


“Memang benar, tetapi itu di kemudian hari. Apakah daku pernah berkata bahwa kejadian itu berlangsung di lalu-lalu?”


Pedagang itu tersenyum lebar. Mantingan yang melihatnya dari kejauhan pun tersenyum lebar, ia mengetahui bahwa siasat si pedagang baru akan dimulai.


“Awaklah yang akan membuat toko ini ramai di kemudian hari, sehingga roti-rotiku akan selalu habis terjual sebelum matahari menanjak naik hingga melampaui gedung-gedung tinggi itu.”


“Daku?”


“Benarkah sedemikian? Awak tidak sedang berbual, bukan?”


“Tentu saja daku tidak berbual.” Pedagang itu mengangguk sebelum memapas selembar roti hangat dari dalam pancinya. “Nah, daku akan memberikan roti ini kepada awak secara cuma-cuma untuk membuktikan kesungguhanku. Cicipilah!”


Calon pembeli yang merupakan seorang pria muda terpelajar itu pun menerima roti tersebut tanpa keraguan. Segera merobek sebagian dan kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyahnya perlahan, matanya melebar sedikit. Seketika itu pula wajahnya menjadi berseri-seri.


“Ini roti yang enak, sesuai dengan perkataan awak! Daku beli dua puluh lembar, sekalian untuk kubagikan kepada kawan-kawanku di pertemuan nanti."


“Kusiapkan segera!”


Mantingan menggelengkan kepalanya pelan. Pedagang itu teramat cermat dengan membuat pelanggannya merasa dibutuhkan. Lebih-lebih dengan memberikan dagangannya secara percuma. Meskipun ternyata roti buatannya sangatlah tidak lezat, pria muda yang tampak terpelajar itu akan tetap menyebarkan kabar bahwa roti yang ia makan teramatlah lezat.


Sedangkan itu, terdapat pula pelantun jalanan yang menjajakan pantun, syair, maupun nyanyian. Setelah Mantingan mendengarkan mereka dengan lebih saksama, senyumannya berubah menjadi pahit.


O, Pahlawan Man


Yang membela Yawabhumi

__ADS_1


Dari tangan-tangan kotor pemberontak


Ke manakah dikau


Ketika Taruma hendak membalas


Segala kebaikan dikau


O, Pahlawan Man


Nama dikau begitu besar


Begitu harum


Tetapi dikau lebih senang menjadi orang jelata


Membaur dengan kehidupan awam


Bagai bukan siapa-siapa


O, Pahlawan Man


Kiranyakah dikau ada di sampingku?


Kiranyakah dikau mendengarkanku melantun?


Kiranyakah dikau senang atau marah?


Kutaktahu, kutaktahu, kutaktahu.


___


catatan:


Maaf tidak update selama beberapa hari terakhir. Saya sedang meyiapkan naskah-naskah lain. Kedai Lakon akan kedatangan novel baru, sebab Seni Bela Diri Sejati terpaksa saya pindahkan ke sini untuk suatu alasan yang sungguh tidak mengenakan. Sebisa mungkin, saya akan mengirimkan pembaruan kabar di media sosial. Terima kasih.


P.S: Untuk tiga episode sebelumnya yang berjudul sama, sungguh itu adalah hal yang tidak disengaja.

__ADS_1


__ADS_2